Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Tahun Ajaran Baru


__ADS_3

Jogjakarta, Pertengahan Juli


Hari ini, semua kegiatan belajar mengajar baru akan di mulai. Jalan-jalan di kota Jogja pagi itu begitu ramai, dengan lalu lalang kendaraan, karena semester baru akan segera di mulai, banyak pelajar berseragam yang menuju ke sekolahnya masing-masing.


Lika mengayuh sepedanya cepat melintasi kerumunan pejalan kaki yang berlalu lalang hendak menuju tempat aktifitasnya masing-masing.


Jarak tempat tinggal ke sekolah yang begitu dekat membuat Lika cukup hanya memakai sepeda, selain lebih sehat juga lebih hemat.


Di sini, di sekolah ini Lika akan memulai kehidupannya yang baru, dengan senyum dia masuk ke ruangannya yang khusus, terpisah dengan ruangan guru yang lain.


Di sekolah ini Lika mengajar sebagai guru BK, memiliki ruangan khusus untuk konsultasi murid juga kegiatan konseling di sekolah.


"Slamat pagi Bu Lika... selamat menjalankan tugas..." Sapa seseorang di belakang Lika, Lika menoleh, ternyata pak Ferry kepala sekolah sudah ada di depan pintu ruangannya.


"Selamat pagi Pak..."


"Ayo gabung dengan guru-guru lain Bu...sekalian perkenalan...hari ini kita akan mulai dengan kegiatan upacara bendera..." Ucap Pak Ferry.


"Oh.. baik pak..." Segera Lika meletakan tasnya di meja, kemudian mengikuti pak Ferry berjalan menuju ke lapangan sekolah.


Di lapangan yang cukup luas ini, para murid SMU dan para guru berkumpul untuk upacara, Lika berjalan menghampiri beberapa guru yang mulai membentuk barisan.


"Halo...guru baru yang cantik...aku pak Joni guru matematika..." Seorang guru laki-laki yang nampak senior mendekati Lika dan menjabat tangan Lika, beberapa guru yang lain menyusul menyalami Lika.


"Aku Bu Wati...guru musik...selamat bergabung Bu..." Lika tersenyum menjabat tangan Bu Wati yang paling manis dan kelihatan masih sangat muda.


Suara toa mengingatkan semua untuk masuk barisan, dalam hitungan menit semua sudah rapi dan siap mengikuti upacara bendera.


************


Bandung


Di kediaman Ricky, mbok Narti sibuk membuat masakan di dapur, hari ini rencananya Sarah akan pulang, karena dia sudah di perbolehkan pulang dan menjalani perawatan di rumah.


Kezia dan Nando sudah berangkat ke sekolah sejak tadi, tinggal mbok Narti dirumah yang mempersiapkan kedatangan Sarah dan Pak Ricky dari rumah sakit.

__ADS_1


Suara klakson mobil di depan rumah mengagetkan mbok Narti di dapur, dengan tergopoh dia berlari kecil menuju ke depan.


"Bapak sudah datang? Mari saya bantu pak..." Kata mbok Narti yang melihat Ricky turun dari mobilnya dan membantu Sarah menaiki kursi rodanya. Kemudian Mbok Narti mendorong kursi roda Sarah, sementara Ricky berjalan mendahului mereka.


Setelah sampai di ruang tamu, Ricky menghempaskan tubuh lelahnya di sofa. Mbok Narti segera kembali ke dapur untuk melanjutkan aktifitasnya.


"Secepatnya akan ku pesankan tiket untukmu kerumah orang tuamu..." Kata Ricky datar. Matanya menatap kearah luar jendela.


Sarah masih duduk di kursi roda, matanya memandang lurus ke arah Ricky dengan pancaran yang sulit untuk diartikan.


"Aku tidak mau...!" Sahut Sarah.


"Lalu apa mau mu? Sudah cukup aku menemanimu selama di rumah sakit...aku capek! Kalo bukan karena kau ibu dari anak-anakku...aku sudah tak perduli lagi padamu...!" Cetus Ricky.


"Aku mau tinggal di sini saja...bersama anak-anak...juga dirimu..." Kata Sarah.


"Tidak...aku tak akan mengijinkannya...sadarkah kau...karena dirimu aku kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupku..." Ucap Ricky gamang, terlintas di benaknya wajah Lika yang selalu menghiasi mimpi indahnya selama ini.


"Lika maksudmu? Bahkan dia juga sudah meninggalkanmu... pokoknya aku akan tetap disini...dengan atau tanpa seijinmu!" Kata Sarah.


"Ijinkan aku tetap disini... aku tidak tau sampai berapa lama aku akan hidup...tidakkah kau mau memenuhi permintaan terakhirku... bersama dengan anak-anakku?" Rajuk Sarah yang mulai menangis.


"Lepaskan tanganku... terserah kalau kau mau tinggal di sini...kau boleh menempati kamar tamu, nanti akan ku carikan suster untuk merawatmu...dan satu lagi yang kau harus ingat...aku sudah tidak ada perasaan apapun terhadapmu...jadi jangan berharap lebih!" Ucap Ricky sambil berlalu meninggalkan Sarah yang masih menangis.


************


Malam itu di kota Jogja, terlihat gemerlapnya lampu jalan menerangi di sepanjang jalan marioboro.


Lika duduk di sebuah kedai makan yang cukup ramai, tak lama muncul seseorang menghampirinya.


"Halo ibu guru..." Lika menoleh.


"Pak Alan...! cepat sekali kau sampai..." Pekik Lika. Alan mengambil posisi duduk di depan Lika.


"Tadi dari sekolah, aku langsung meluncur cepat kemari...ini juga baru sampai...aku ijin 2 hari sama pak Johan...lagi pula awal masuk sekolah belum mulai olah raga kan..." Kata Alan.

__ADS_1


"Ah bisa saja kau beralasan..." Sahut Lika.


"Lho... apa salah aku mudik? Ini kan kampung halamanku..." Kilah Alan sambil tertawa.


"Oke lah terserahmu pak...oya, gimana kabar Kezia dan Nando? apa pak Alan bertemu mereka tadi?" Tanya Lika.


"Hmm...dari sekian murid, kenapa hanya mereka yang kau tanyakan..." Goda Alan. Lika meninju keras perut Alan sehingga dia meringis.


"Oke...oke... aku tau perasaanmu Lika... Mereka baik-baik saja...tadi mereka menanyakanmu....mereka sedih kau tidak mengajar di sekolah mereka lagi... terutama Nando, bahkan dia sampai menangis...Lika...tidakkah kau ingin berbicara dengan mereka...?" Jelas Alan.


Tiba-tiba Lika tertunduk sedih.


"Pak Alan...aku sangat ingin sekali bicara dengan anak-anak...sangat....tapi...." Lika menghentikan perkataannya.


"Tapi karena cintamu yang begitu kuat sama papanya...kau korbankan perasaanmu sendiri...apa itu namanya kalau bukan bodoh?" Kata Alan. Lika melirik tajam ke arah Alan.


"Pak Alan...bukankah kau tau situasiku saat itu?" Tanya Lika.


"Aku tau...kau selalu terbayang oleh mantan istrinya yang sakit itu kan... hei...sadarlah Lika...dia itu cuma mantan...mantan...bukan istri..." Ujar Alan.


"Tapi dia tetap Mamanya Kezia dan Nando...bukan mantan Mama..." Sahut Lika.


"Kalo itu memang benar....tidak salah... Lika, jawab aku jujur...kau sungguh mencintai pak Ricky??" Tanya Alan. Matanya menatap tajam ke arah Lika. Lika hanya menundukkan wajahnya.


"Entahlah...." Jawab Lika lirih.


"Fixed!....itu cinta namanya...melihat wajahmu yang seperti itu... sudahlah...aku tak mau tau lagi isi hatimu...bikin aku cemburu saja!" Gerutu Alan.


"Lah...bapak kan yang tanya..." Sergah Lika.


"Lalu...kau yakin pak Ricky mencintaimu...?"


"Entahlah...beberapa kali dia mengatakan itu..."


"Lika...aku sarankan padamu...jangan terlalu lama memendam...itu akan menyiksamu...kemanapun kau berlari dan bersembunyi...perasaan itu selalu mengikutimu...percayalah padaku...kau harus segera menyelesaikan ini..." Ucap Alan bijak.

__ADS_1


************


__ADS_2