
Lika meneleponku dan mengatakan kalau anak-anak sudah ada di sekolah lagi, perasaan senang meliputiku sekaligus perasaan khawatir.
Sebenarnya aku tau dalam hati kalau ini ada hubungannya dengan Sarah mantan istriku, namun aku berusaha menepisnya, seakan akan bukan dia pelakunya, rasanya aku tidak sanggup lagi menerima kehadirannya lagi walaupun hanya untuk anak-anakku.
Di sini, di kota ini, aku baru menemukan cinta yang sesungguhnya, cinta yang membuat hatikku menghangat dan bahagia, cinta dari seorang guru sederhana, yang membuat hidupku penuh pengharapan.
Aku tidak ingin cinta itu pergi dariku, hanya karena munculnya masa laluku yang kelam, tidak, aku tidak akan sanggup kehilangan cinta yang sekarang ini sedang mekar-mekarnya tumbuh di hatiku.
Siang itu, ku lajukan mobilku cepat menuju ke sekolah. Aku harus sampai lebih cepat, sebelum anak-anakku menghilang lagi. Benar saja, saat aku datang bahkan anak-anak belum keluar dari kelasnya, aku datang 30 menit lebih awal. Aku berencana akan mengajak anak-anakku jalan-jalan, sekalian mengajak sang guru pujaan hatiku itu, Lika.
Pada saat aku menjumpai anak-anak yang langsung aku peluk erat, benar saja dugaanku, anak-anak mengatakan bahwa kemarin Mamanya menjemputnya. Ya Tuhan, kekhawatiranku jadi kenyataan, benar dugaanku, Sarah ada di balik menghilangnya anak-anakku.
"Nak, Papa akan berikan kasih sayang sebanyak yang Papa bisa...Mama sudah meninggalkan kita, dia tidak berhak merebut kalian dari Papa...." Ucapku sambil memeluk kedua anakku.
Ku tegaskan sekali lagi pada Nando dan Kezia, tidak boleh mereka pergi dengan siapapun termasuk Mama kandungnya, aku tidak ingin hal ini kembali terulang. Waktu Kezia menyodorkan kartu nama Sarah, dengan cepat aku membuangnya ke tempat sampah, aku sangat tidak ingin dia kembali datang untuk merebut semua yang aku miliki saat ini.
Saat aku menanyakan Lika, anak-anak mengatakan guru manis itu sudah pulang terlebih dahulu, padahal yang aku tau guru baru pulang setelah anak sekolah pulang, tetapi kenapa Lika pulang duluan? Apakah dia sengaja menghindariku?
__ADS_1
Aku tak putus asa, aku ajak anak-anakku untuk menjemputnya di rumah, mereka terlihat sangat antusias. Akhirnya kami kerumah Lika untuk menjemputnya jalan-jalan.
Saat kami sudah sampai di rumahnya, rumah itu kelihatan sepi, ternyata keluarga itu sedang beres-beres rumah dan barang untuk persiapan pindah ke rumah baru, rumah di salah satu proyekku.
Ah, syukurlah proses rumah baru mereka sudah selesai, aku memang menyuruh Marketingku untuk mempercepat prosesnya tanpa ada survey atau campur tangan bank, aku ingin menghadiahkan rumah itu, tanpa sepengetahuannya.
Karena dia begitu polos, dan mungkin belum pernah mengajukan rumah KPR sebelumnya, makanya dia percaya saja dengan apa yang kukatakan mengenai proses rumah yang begitu cepat, dia terlihat sangat senang, dan itu membuat hatiku bahagia.
Sang nenek yang sebelumnya jutek padaku, setelah mereka melihat Kezia dan nando, sikapnya jadi berubah manis, mungkin dia kasihan melihatku yang adalah seorang duda beranak dua, yang mengurus sendirian anak-anakku tanpa seorang ibu.
Mulanya Lika menolak ajakan kami, entah kenapa. dia seperti hendak menghindar dari aku, namun karena anak-anakku yang mendesaknya, akhirnya dia mau tidak mau ikut juga dengan kami, anak-anakku memang hebat, membantu setiap modus papa nya untuk mendekati guru itu.
*************
Ada pembangunan baru rumah subsidi di Kalimantan, sebagai developer yang sudah terpercaya, aku di minta pemerintah setempat untuk menghadiri acara launching nya, dan aku memang harus tinggal disana selama 3 hari untuk memantau pembangunan proyek disana.
Kebetulan pengasuh anak-anakku sedang pulang kampung, kalau aku tinggal lagi anak-anak di rumah seperti dulu, aku takut Sarah akan menculik mereka.
__ADS_1
Akhirnya siang itu aku menelepon sang guru, memohon kepadanya untuk menitipkan anak-anakku, mulanya dia sempat berpikir, namun mungkin karena tidak tega dengan kedua anakku yang sendirian, dia mau menjaga anak-anakku di rumahnya yang kini sudah pindah di rumah baru. Hatiku sangat lega, dia memang wanita idaman hatiku, dan ternyata hati ini memang sudah di miliki olehnya sepenuhnya, tidak ada lagi wanita yang lain selain dia di dalam hatiku.
Saat aku mengantarkan anak-anakku kerumahnya untuk menginap beberapa hari, anak-anakku nampak sangat senang dan bersemangat, seolah telah menemukan sosok ibu dalam diri guru manis ini, sedangkan aku menemukan sosok istri dalam dirinya. Istri? Mengapa kata itu muncul begitu saja dalam pikiranku?
"Terima kasih Bu guru...aku tidak tau bagaimana cara untuk membalasmu...." Ucapku sambil menatap dalam matanya. Dia tidak membalas tatapanku, wajahnya terlihat menunduk.
"Jangan terlalu berlebihan Pak...ini juga salah satu kewajibanku sebagai seorang guru..." Sahutnya lembut.
"Aku akan selalu berharap Bu Lika mau menggantikan posisi Mama yang hilang dari anak-anakku...tapi aku tidak akan pernah memaksamu..." Ujarku sambil menggenggam tangannya. Wajahnya bersemu merah.
"Pak Ricky...jangan seperti ini...." Ucapnya sambil menunduk menahan malu, kulihat wajahnya semakin merah. Ah, mengapa dia begitu menggemaskan, aku hanya menggenggam tangannya, bukan yang lain.
"Hanya Bu guru yang membuat aku tertawa...aku hanya memegang tanganmu...belum menciummu...kau sudah se gerogi ini...kalau seperti ini terus aku tidak akan mau jauh-jauh dari ibu guru...." Aku mencoba menggodanya.
Dia mendorong perlahan tubuhku menjauh darinya, rasanya saat itu aku sangat ingin menciumnya, dia begitu menggemaskan. Tapi aku harus bersabar menahan diriku, aku harus cari waktu yang tepat.
Kau lihat saja nanti Bu Guru manisku, suatu hari nanti, kau akan jatuh dalam pelukanku.
__ADS_1
************