
Usahaku di bidang properti semakin hari semakin maju, bahkan proyekku bukan hanya di Jakarta, namun berkembang di beberapa daerah yang mengharuskan aku untuk memantau proyek ke luar kota.
Sarah sepertinya tidak pernah keberatan aku tugas ke luar kota, bahkan dia malah mendukung supaya Bisnisku maju dan mengalami perkembangan, tentu saja aku senang dengan support nya ini.
Saat itu Kezia berumur 3 tahun, aku mulai memiliki proyek di luar pulau, Karena Kezia sudah agak besar, aku berencana akan mengajak istri dan anakku untuk ke Sulawesi memantau proyek properti di sana.
"Aku tidak mau ikut....aku di rumah saja...!" Kata Sarah malam itu saat aku mengajaknya ikut denganku.
"Apa kau tidak jenuh di rumah bersama Kezia...dia sudah cukup besar untuk kita ajak....sekalian kita jalan-jalan refreshing..." Bujuk ku.
"Pokoknya aku tidak mau ikut...kalau kau mau mengajak Kezia, kau ajak saja...aku lebih suka di rumah..." Tukas Sarah.
Karena dia terus menolak, aku tidak bisa memaksakan kehendak ku, akhirnya aku dan Kezia juga baby sitter nya ku ajak ke Sulawesi, sementara Sarah di rumah bersama dengan seorang asisten rumah tangga.
Rencana aku di Sulawesi selama 5 hari, namun entah mengapa pembangunan di sana cukup baik, dan aku sudah mempercayakan orang ku untuk mengawasinya, sedangkan aku berencana pulang lebih cepat ke Jakarta.
Saat aku baru sampai di rumah, Sarah yang melihatku nampak terkejut, dia mandang ku dengan gugup.
"Ricky...kau cepat sekali...katanya 5 hari?" Tanya Sarah.
"Apa kau tidak kangen dengan Kezia? Biasanya seorang ibu akan kangen dengan anaknya sehari saja tak bertemu...ini sudah tiga hari Sarah...."
Tin..tin...
Suara klakson mobil terdengar dari luar gerbang, aku segera menyuruh suster membawa Kezia masuk, sementara aku keluar untuk melihat siapa yang datang.
Sarah kelihatan panik, lalu segera menyusul ku ke luar.
Seorang pria yang pernah aku kenal muncul dari balik jendela mobil yang terbuka.
"Martin! Ada keperluan apa kau kemari?!" Tanyaku Ketus pada pria itu.
"Ricky...Martin hanya mau mengajakku ke rumah teman lama kami...kebetulan teman kami itu baru melahirkan..." Kata Sarah cepat.
"Oya, kenapa harus dia yang menjemputmu?" Tanyaku menyelidik.
__ADS_1
"Sarah tidak tau rumahnya bro...kau tenang saja...istrimu aman bersamaku..." Sahut Martin cepat.
"Ehm...Martin...suamiku sudah pulang, aku tidak jadi pergi denganmu...lain kali saja..." Ucap Sarah tiba-tiba.
"Oh...oke..." Martin langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah kami.
Setelah Martin pergi, aku segera menarik tangan Sarah naik ke lantai atas, ke kamar kami.
"Sarah! Jadi begini kelakuanmu saat aku pergi ke luar kota??" Tanyaku setengah membentaknya.
Sarah terdiam dan hanya menundukkan kepalanya.
"Ayo jawab aku!? Pantas saja kau selalu menolak saat ku ajak pergi denganku...!!" Dengusku kesal.
"Ricky...kau jangan salah paham...aku dan Martin tidak ada apa-apa..." Ucap Sarah lirih.
"Kau pikir aku percaya padamu?? Aku bisa saja menyelidiki kalian...tapi aku masih menghargai mu sebagai istriku...ibu dari anakku...!" Tegasku.
"Maafkan aku Ricky..." Ucapnya lagi.
Terus terang hatiku sangat kecewa. Laki-laki mana yang tak cemburu melihat istrinya ada janji dengan pria lain, walaupun itu teman lamanya.
"Ricky....sebenarnya...Martin itu adalah mantan pacarku dulu saat di sekolah...aku baru bertemu dengannya lagi ketika reuni waktu itu..." Jawabnya.
Mendengar kata mantan pacar, hatiku memanas, walau hanya mantan tapi mereka pernah punya kisah.
"Lalu...mengapa kalian bisa putus??" Tanyaku ingin tau. Ku lihat Sarah mulai agak tenang.
"Orang tua kami tidak setuju karena kami berbeda...berbeda suku dan kebudayaan...juga profesi Martin yang berbeda denganku...Martin itu seorang seniman profesional, namun orang tuaku tidak menyukainya...." Jelas Sarah.
Aku terdiam memikirkan perkataan istriku, dulu mereka pernah saling mencintai, hanya karena orang tua.
Tiba-tiba hatiku diliputi perasaan khawatir, khawatir benih cinta itu akan tumbuh kembali diantara mereka. Mereka sudah saling mengenal sejak lama, tidak menutup kemungkinan kalau...ah, tidak....aku tak berani berpikir macam-macam.
"Sarah...mulai hari aku akan menemani kemanapun kau pergi..." Ucapku dengan nada bergetar.
__ADS_1
"Bagaimana dengan proyek-proyekmu? Dulu kau pernah hampir bangkrut karena sering menemaniku..." Jawab Sarah.
"Aku tidak perduli...aku tidak takut kehilangan Bisnisku...dari pada kehilangan istriku..." Gumam ku.
Selama aku di rumah, Sarah memang tidak banyak pergi keluar, tapi aku melihat ada perasaan tertekan dalam hatinya, hingga sikapnya yang tiba-tiba berubah dingin padaku.
Bahkan dia selalu menolak setiap kali aku mengajaknya berhubungan. Dengan alasan lelah atau datang bulan. Akhirnya lama kami tidak melakukan hubungan suami istri, sejak aku berangkat ke Sulawesi.
Karena Kezia yang sedang aktif-aktifnya, aku jadi sibuk menemani Kezia yang terlihat sangat dekat padaku. Sampai aku melupakan hasrat ku yang terpendam. Sementara Sarah masih dengan sikap cueknya yang entah apa penyebabnya.
Hooeeek....hoooeeekk...
Tiba-tiba pagi itu Sarah muntah-muntah, wajahnya kelihatan sangat pucat. Karena aku khawatir aku membawanya ke dokter.
"Istri anda sedang mengandung, kini usia kandungannya 5 Minggu..." Kata Dokter yang memeriksanya.
Sarah terlihat sangat kaget, aku pun demikian. Aku sudah lama tidak menjamah tubuhnya, selain karena sikap dinginnya yang selalu menolak ku, juga karena Kezia yang selalu tidak mau lepas dariku.
Namun aku menepis semua pikiran negatif, mungkin saat terakhir aku berhubungan dengannya saat itu Sarah mengandung.
Aku tetap merawatnya selama masa kehamilan, seperti saat dulu dia mengandung Kezia.
Anehnya sikapnya tetap dingin padaku, berbeda saat dia hamil Kezia, dulu dia sangat manja, sehingga membuat aku selalu menghangat.
Tapi kehamilan yang kedua ini, dia seolah menanggungnya sendiri, bahkan dia menolak untuk tidur denganku, benar-benar aneh.
Saat kandungan Sarah mulai membesar, Sarah meminta ijin padaku untuk bertemu dengan teman-temannya. Sepertinya reuni sesi ke dua. Seperti biasa aku mengijinkannya dengan catatan aku menemaninya, dan diapun menyetujuinya. Saat itu Kezia di titipkan pada baby sitter nya.
Reuni yang di hadiri hanya beberapa orang di sebuah restoran, membuat aku makin mengenal siapa teman-teman Sarah, diantara mereka aku melihat sosok Martin.
Aku memberanikan diri untuk menimbrung diantara mereka, kelihatannya Sarah begitu risih dengan kehadiranku. Sampai dia ijin ke toilet. Anehnya Martin juga ijin ke toilet selang beberapa menit istriku pergi.
Perasaanku mulai tidak enak, akhirnya akupun keluar dari kumpulan teman-teman Sarah, hendak menyusul istriku itu.
Saat sudah mendekati toilet, aku begitu terkejut saat melihat Sarah menangis dalam pelukan...Martin.
__ADS_1
*************