Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Perasaan Cemas


__ADS_3

Lika berjalan cepat menuju ke kamarnya, saat ia telah tiba di rumahnya, yang ada di pikirannya cuma satu saat ini, dia hendak menelepon Ricky.


Lika mengambil ponselnya yang masih ada di kamarnya, memencet nomor suaminya itu, namun telepon itu tidak kunjung di angkat, padahal telepon dalam keadaan aktif. Perasaannya mulai diliputi oleh kecemasan.


"Nenek...aku telepon suamiku kenapa tidak di angkat ya??" Tanya Lika sambil menuruni tangga, tangannya mencoba untuk memencet nomor kembali.


"Mungkin dia sedang menyetir Lika...kau ini kenapa sih...baru ditinggal beberapa jam saja sudah begini cemas..." Sahut Nenek yang sedang duduk membaca buku.


"Tapi ini penting Nek...ada yang mau aku tanyakan...ini orang kenapa sih...padahal biasanya kalau telepon dari aku langsung direspon...!" Sungut Lika. Dia mencoba menelepon kembali, anehnya ada suara telepon yang masuk tiap Lika menelepon Ricky.


"Lika...itu ponsel siapa ya yang berbunyi terus?" Tanya Nenek sambil menajamkan pendengarannya. Lika beringsut mendekati sumber suara itu. Suara itu menghilang, kemudian Lika mencoba menelepon Ricky lagi, suara itu muncul.


Akhirnya setelah di usut, ponsel Ricky tertinggal di meja makan. Lika membulatkan matanya dan wajahnya terlihat memucat.


"Nek! Ponsel suamiku tertinggal!!" Seru Lika sambil membawa ponsel Ricky ke hadapan Nenek.


"Lho....kok bisa sih? Tumben si Ricky itu teledor...lupa membawa ponsel..." Timpal Nenek.


"Nenek...bagaimana ini....bagaimana aku bisa menghubunginya....sedangkan ponselnya saja ada di sini..." Lika mulai panik. Kemudian mbok Narti datang tergopoh-gopoh mendengar suara keributan.


"Ada apa mbak Lika.. Nenek...ada apa??" Tanya mbok Narti ikutan panik.


"Mbok...ponsel Papa Ricky ketinggalan...bagaimana aku bisa menghubunginya...padahal dia sudah wanti-wanti mau menghubungi setiap saat..." Ungkap Lika.


"Ya ampun si Bapak....belum tua kok udah pikun sih...ponsel saja pakai ketinggalan..." Kata Mbok Narti.


"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Lika cemas.


"Tenang saja mbak...pak Ricky kan banyak uang...dia pasti akan beli ponsel baru dan menghubungi kita kalau sadar ponselnya ketinggalan..." Ujar mbok Narti.


"Betul itu Narti....kadang-kadang kau pintar juga...!" Celetuk Nenek.


"Mbak Lika sebaiknya istirahat saja...jangan terlalu capek karena perutnya sudah sangat besar...jangan stress juga...kasihan bayinya mbak..." Ucap mbok Narti.


"Iya Lika...kau istirahatlah di kamarmu...jangan terlalu mengkhawatirkan Ricky....dia pasti baik-baik saja...tunggu saja sampai dia mengabarimu..." Tambah Nenek.


Dengan langkah gontai Lika segera naik ke lantai atas menuju ke kamarnya sambil mengelus perutnya. Setelah tiba di kamarnya, Lika menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.

__ADS_1


"Tenang ya Nak... kita doain Papa...semoga Papa baik-baik saja....dan segera menghubungi kita..." Gumam Lika sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit besar.


Karena kelelahan di tambah dengan perasaan cemas, Lika tertidur di kamarnya, sampai tengah hari dia terbangun mendengar suara ponselnya yang berbunyi. Kemudian dia segera meraih ponselnya yang ada di sampingnya, kemudian segera mengangkat panggilan itu.


"Halo...."


Halo Kak Lika...aku ijin pulang agak malam ya...tolong bilang Nenek.. aku mau kerjain tugas bersama teman..." Kata Lia yang ternyata meneleponnya.


"Oh...ya sudahlah....kau hati-hati..." Sahut Lika.


"Kakak kenapa? Kok kurang semangat gitu? Jangan-jangan kangen nih sama papa Ricky....baru ditinggal sebentar kak..." Ujar Lia.


"Bukan....sudahlah....aku mau masak dulu, kau jangan terlalu malam pulangnya...jaga dirimu!" Ucap Lika. Kemudian dia langsung mematikan ponselnya.


Lika membuka ponsel Ricky, hendak mencari tau barangkali ada titik terang mengenai keberadaan Ricky. Setelah membuka layar ponsel itu, Lika terkejut ternyata di dalam ponsel Ricky banyak foto-foto dirinya yang entah kapan Ricky mengambilnya. Senyum tipis tersungging dari bibir Lika, merasa sangat di cintai suaminya, dalam ponselnya hanya ada gambarnya seorang dan gambar anak-anaknya.


Kemudian dia mulai membuka chat. Ada beberapa kolega yang chat dengan Ricky, dan ada banyak sekali pesan masuk dan telepon masuk yang Lika sendiri tidak mengenal siapa yang menghubungi suaminya itu. Ada banyak nama yang Lika tidak kenal, namun yang membuat lega adalah semua nama itu adalah nama laki-laki, tidak ada nama perempuan disana.


Lika melanjutkan pencarian dengan nama Yono, namun di ponsel Ricky juga tidak ada nama Yono, padahal Ricky adalah orang yang menyuruh Yono mengantarkan mobilnya untuk di pakai ke luar kota. Lika mulai curiga. Kemudian dia segera menuruni tangga dan berjalan ke arah garasi hendak mencari Jun.


"Mas Jun...apa mas Jun pernah melihat orang yang namanya Yono itu?" Tanya Lika. Jun segera menghentikan aktifitasnya.


"Tau Bu...beberapa kali saya lihat, tapi saya tidak dekat dengan dia Bu...dia kan orang baru..." Jawab Jun.


"Hmm....ya sudahlah...lanjutkan pekerjaanmu...jangan lupa jemput anak-anak tepat waktu ya..." Tukas Lika.


"Baik Bu...ini juga sudah mau siap-siap..." Sahut Jun.


Kemudian Lika segera masuk kembali kerumahnya. Mood nya tiba-tiba hilang untuk memasak, perutnya dirasa agak keram, mungkin karena pikiran Lika sedang tegang. Lika bersandar di sofa sambil memegangi perutnya.


"Mbak Lika kenapa?" Tanya mbok Narti yang tiba-tiba muncul.


"Perutku agak keram nih mbok...minta tolong masakin anak-anak ya mbok..." Pinta Lika.


"Iya mbak...mbak Lika makanya jangan banyak bergerak...bawaannya kan sudah berat...sebulan lagi sudah lahir tho..." Ujar mbok Narti.


"Iya mbok...aku istirahat disini saja sambil menunggu anak-anak...." Kata Lika.

__ADS_1


"Mbak Lika, mbok buatkan jus ya...biar segar...biar dedeknya juga sehat..." Kata Mbok Narti. Lika Menganggukan kepalanya. Dengan sigap Mbok Narti segera menuju ke dapur.


Setalah Lika beristirahat dan minum jus buatan mbok Narti. Terdengar suara klakson mobil dari luar, ternyata anak-anak nya sudah pulang sekolah. Suasana rumah mulai riuh.


"Ibuuu....tadi aku ulangan dapat nilai 90 lho....!" Teriak Nando dari arah luar sambil berlari-lari masuk kerumah dan mendapati Lika.


"Wah...hebat anak ibu....makin lama makin pintar...!" Puji Lika sambil mencubit lembut pipi Nando yang gembul.


"Aku juga lho Bu...ulangan bahasa Inggris dapat 100, kata guruku aku paling tinggi satu angkatan..." Tambah Kezia yang mulai bergelayut di sebelah Lika sambil mengelus-elus perut buncit Lika.


"Kezia juga pintar...anak ibu pokoknya pintar-pintar deh..." Kata Lika.


"Bu...Dedek kapan lahir? Aku tidak sabar mau menggendongnya..." Cetus Nando.


"Iya Bu...Dedek juga pasti pintar....karena anak Bu Lika kan pintar-pintar...ayo dong dek cepet keluar..." Ujar Kezia sambil menciumi perut Lika.


"Iya...sabar ya kakak-kakak...dedek bentar lagi juga nongol kok...sekarang ganti baju dan cepat makan....mbok Narti sudah masakin lho buat kalian..." Ucap Lika. Kezia dan Nando bergegas ke kamarnya masing-masing.


Kring...kriiing....kring....


Suara telepon rumah berdering, Perlahan Lika beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah meja telepon rumah.


"Halo..."


"Halo...ini betul kediaman Bapak Ricky?"


"Iya betul...saya Lika istrinya...ini dari mana ya?" Tanya Lika.


"Ini dari rumah sakit Surya Medika Semarang, Pak Ricky mengalami kecelakaan, sekarang beliau sedang menjalani perawatan intensif di UGD...."


Deg...


Jantung Lika seolah berhenti berdetak, tubuhnya tiba-tiba lemas, telepon yang ia genggam pun jatuh ke lantai, dia menyangga tubuhnya dengan meja yang ada di depannya. Matanya tiba-tiba menjadi gelap.


"Nenek...! Mbok Narti....!" Teriaknya lemah.


************

__ADS_1


__ADS_2