
Pesawat yang di tumpangi Lika, Pak Ferry dan Wati tiba di Jogja pada pukul 11 siang. Mereka naik mobil Pak Ferry yang di titip di parkiran Bandara, dan Pak Ferry mengantar Lika dan Wati kerumah mereka masing-masing.
Setelah tiba di rumah kontrakan Lika, ternyata Lia sudah menyiapkan makan siang untuk mereka, dan akhirnya mereka mampir ke rumah Lika.
"Nenek sehat kan?" Tanya Lika sambil menaruh tasnya di dapur, Nenek yang sedang menyiapkan makanan di meja makan tersenyum melihat kedatangan cucunya itu.
"Kau sudah pulang sayang? Ayo ajak temanmu makan bersama...dari pagi Lia sudah sibuk memasak untuk kalian..."
"Iya Nek...trimakasih..." Sahut Lika.
Kemudian Lika mengajak Pak Ferry dan Wati makan siang bersama.
"Ternyata adiknya pintar masak juga..." Puji Pak Ferry. Lia yang duduk di samping Lika tersipu malu.
"Ah...bilang saja bapak lapar...!" Celetuk Wati. Kepala sekolahnya memang suka makan.
"Pak Ferry kalo lapar apapun di bilang enak..." Tambah Lika.
"Wah...kalian jangan bongkar rahasia dong...!" Sergah pak Ferry malu.
"Kak Lika setelah pulang dari Bandung kok ada yang beda ya...tapi apa ya...wajahnya kelihatan lebih cerah..." Kata Lia. Lika langsung tersedak dan segara meneguk air putih di depannya.
"Ya memang ada yang beda...lihat saja tingkah lakunya, sering senyum sendiri malah...maklum baru bertemu dengan..." Wati menghentikan perkataannya, dilihatnya wajah Lika yang merah seperti kepiting rebus.
"Jangan bilang kakak ketemu sama pak Ricky ya..." Tambah Lia.
"Nah...tepat sekali...pak Ricky namanya..." Cetus Wati. Lika semakin salah tingkah, Pak Ferry masih terlihat lahap menyantap makanannya.
************
Bandung
Di rumah sakit, Ricky berbicara dengan dokter di ruangannya, membicarakan tentang perkembangan kesehatan Sarah.
"Pak Ricky, sebenarnya kondisi ibu Sarah mulai stabil, tapi karena kejadian overdosis kemarin menyebabkan kesehatannya menurun, tapi kami sudah menanganinya dengan maksimal..." Jelas Dokter.
"Iya dokter...trimakasih..." Sahut Ricky.
"Kelihatannya ibu Sarah mudah stress, mohon jaga kondisi psikisnya...karena dia akan mudah melakukan hal-hal yang tidak terduga seperti kemarin..." Tambah Dokter.
"Sebenarnya...Sarah itu hanya mantan istri saya...saya membiarkan dia tinggal di rumah saya semata-mata adalah demi anak-anak saya...terus terang saya sudah tak memiliki perasaan apapun terhadapnya..." Ucap Ricky.
"Saya paham kondisi keluarga anda, walau bagaimana Ibu Sarah kondisinya dalam keadaan sakit yang butuh perhatian extra..."
"Tapi saya tidak bisa melakukan itu dokter...atau begini saja...dia akan di rawat disini saya akan membayar biaya perawatan, berapapun biayanya...biar nanti sesekali saya atau anak-anak menjenguknya disini...dari pada di rumah dia melakukan hal yang aneh-aneh...paling tidak di rumah sakit ada dokter atau suster yang akan merawatnya..." Kata Ricky. Dokter nampak berpikir.
__ADS_1
"Sebenarnya pasien yang dalam keadaan sakit seperti ini sangat butuh support dari keluarganya, namun karena anda menginginkan dia disini...baiklah, saya turuti permintaan anda..." Kata Dokter.
"Trimakasih Dokter...." Ucap Ricky sambil beranjak meninggalkan ruangan Dokter.
Ricky berjalan dan memasuki ruangan tempat Sarah di rawat, perlahan dia membuka ruangan yang nampak sepi, ada perawat pribadinya yang dengan setia menunggunya. Nampak Sarah sudah sadar, duduk dengan setengah berbaring di ranjang pasien, matanya memandang lurus kedepan.
"Sarah...kau sudah sadar? Lain kali aku tak ingin mendengar perbuatan bodoh itu lagi!" Kata Ricky. Sarah menoleh kearahnya.
"Kau masih perduli padaku? Aku senang setidaknya kau tidak cuek lagi padaku..." Sahut Sarah.
"Jangan besar kepala dulu...itu semata karena rasa kemanusiaan ku...aku tidak mau kau mati mengenaskan di rumahku..." Cetus Ricky.
"Ricky....aku mau kita rujuk..." Ucap Sarah. Ricky membulatkan matanya.
"Tidak! Itu tidak akan mungkin...kau pikirkan saja kesehatanmu...jangan berpikir yang aneh-aneh...kau tau kan saat ini siapa yang ada di hatiku? Kenapa tidak kau relakan saja aku menikahinya? Itu akan lebih baik...paling tidak aku lebih menghargai mu..." Jelas Ricky. Sarah terdiam, ada air mata yang menetes di pipinya.
"Apa kau tega berbahagia di atas penderitaan ku? Aku sungguh ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, bersama anak-anak kita..." Kata Sarah bergetar.
"Maaf...aku tidak bisa...ku mohon jangan pernah berharap apapun padaku..." Ucap Ricky sambil melangkah pergi meninggalkan Sarah.
"Ricky!!" Panggil Sarah. Namun Ricky tak menoleh lagi dan tetap berjalan keluar dari ruangan itu.
************
Malam itu Lika telah selesai mengerjakan tugas laporan seminar yang dia ikuti, setelah di print, Lika menutup laptopnya. Dia menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya, melepaskan rasa penat di tubuhnya.
Tok...tok...tok...
Pintu kamarnya di ketuk, kemudian Lia muncul masuk ke kamar Lika, langsung duduk di tepi tempat tidur.
"Kak...beneran di Bandung kakak ketemuan sama pak Ricky?" Tanya Lia ingin tau.
"Iya...dia yang datang mencari aku...padahal aku tidak berniat untuk bertemu dengannya..." Jawab Lika.
"Terus Mbak Sarah gimana kak? Kan waktu kita pindah mbak Sarah meminta kakak untuk menjauhi pak Ricky...?" Tanya Lia lagi.
"Aku juga tidak tau...tapi pak Ricky menghendaki kami berhubungan jarak jauh..." Sahut Lika.
"Hah? LDR an gitu?"
"Ya...gitulah...entah kenapa kakak juga gak bisa nolak...pak Ricky itu begitu sungguh-sungguh...hatiku sampai luluh...selalu lemah dihadapannya..." Jelas Lika.
"Kakak cepat menikah saja dengan pak Ricky...biar aku juga bisa cepat punya keponakan baru..." Cetus Lia. Lika mencubit perut Lia spontan, Lia meringis kegelian.
"Kamu sama saja dengan pak Ricky...dia juga meminta anak dariku...kalian sama-sama menyebalkan!" Sahut Lika sambil melempar bantal ke Lia.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Lika berdering, Lika hendak meraihnya, namun tangan Lia lebih cepat mengambil ponsel itu.
"Wah...pucuk di cinta ulam tiba...baru diomongin orangnya nongol...nih dari yang tersayang....ciyeee.. " Ledek Lia.
"Liaaa....kembalikan ponselku! Awas ya kamu!!" Hardik Lika sambil mengejar Lia. Lia berlari sambil tertawa cekikikan lalu menyerahkan ponsel itu pada kakaknya.
"Sudah! Keluar kamu dari kamar kakak...kerjaannya mengganggu saja!" Ketus Lika. Lia sambil tertawa keluar kamar dengan menutup pintunya kembali.
"Halo..."
"Halo sayang....kok lama angkat teleponnya? Aku pikir kamu lagi kenapa...jangan bikin aku kuatir dong..." Suara Pak Ricky yang nampak tegang.
"Oh.. ini pak biasa adikku jail...ponselku di sita...tapi sudah aman kok...oya ada apa telepon...baru kemarin ketemuan..."
"Lika sayang...Minggu depan aku mau ke Jogja...aku mau ajak Kezia dan Nando ke tempatmu..." Ucap Ricky.
"Apa? Minggu depan? Mau ngapain pak?" Tanya Lika beruntun.
"Aku ada proyek di Jogja, mau membuat perumahan elit di sana, makanya aku mau tinjau lokasinya...sekalian melepas rindu pada sang kekasih..." Kata Ricky.
"Ah...bapak bisa saja..."
"Akan ku buatkan satu rumah untukmu...untuk kita...untuk masa depan kita..."
"Jangan terlalu berlebihan pak...bahkan rumah yang dulu kau bayarkan buatku, ku tinggalkan begitu saja...maafkan aku ya pak..." Sahut Lika lirih.
"Aku tidak pernah marah padamu...aku juga akan bicara dengan Nenekmu...mengenai permohonan untuk melamarmu yang dulu pernah tertunda...aku harap kali ini tidak akan gagal lagi..."
"Bagaimana dengan mbak Sarah?" Tanya Lika.
"Sarah akan tetap di rawat di rumah sakit...dia tidak berpengaruh apapun mengenai pernikahan kita..."
"Ya sudah...terserah bapak saja..."
"Apa aku terlalu tua sampai kau memanggilku bapak?"
"Ah...aku senang dengan panggilan itu...pak Ricky..."
"Oke...sampai ketemu Minggu depan...I Love You..."
"I Love You too...." Sahut Lika sambil menutup ponselnya.
**************
Author ucapkan trimakasih untuk semua dukungannya...mohon maaf jika ada kata yang salah...🙏🤗❤️
__ADS_1