
Pagi itu mendung menggantung di langit, cahaya matahari yang biasanya cerah kini seolah hilang di telan awan gelap. Lika membuka jendela kamarnya, angin dingin mulai berhembus, perlahan gerimispun mulai turun. Ia melirik ke arah suaminya yang masih duduk di hadapan laptopnya, wajahnya tidak seperti biasanya, ada raut kesedihan disana. Perlahan Lika mendekati suaminya itu.
"Papa...jadi jam berapa kita akan ketemuan dengan Pak Martin?" Tanya Lika.
"Jam 4 sore..." Jawab Ricky singkat.
"Baiklah....bisakah kau mengantarku dulu sekarang kesekolah? Aku mau memantau kinerja guru dan melihat sudah berapa orang yang mendaftar sekolah tahun ajaran ini..." Ajak Lika. Ricky hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia menutup laptopnya.
Mereka berdua turun ke lantai bawah. Lia nampak sedang menggendong Given, sementara Nenek masih duduk di kursi rodanya sambil menghadap ke TV, tapi terlihat matanya menatap dengan tatapan kosong. Kezia dan Nando sudah berangkat kesekolah sejak pagi tadi. Pagi ini wajah semua orang terlihat mendung, termasuk Given yang mulai rewel saat di gendong Lia.
"Lia...berikan Given Padaku...aku mau mengajaknya ke sekolah sebentar..." Kata Lika, Lia kemudian menyerahkan Given ke gendongan Lika.
"Kau tidak ada kuliah hari ini?" Tanya Lika lagi.
"Nanti kak jam 10..." Jawab Lia.
"Burhan yang mengantarmu?"
"Iya Kak..."
Lika berjalan menghampiri neneknya yang masih duduk di tempatnya.
"Nek...kami pamit mau ke sekolah sebentar..." Kata Lika.
"Ya...hati-hati...." Jawab Nenek singkat.
Setelah berpamitan, Lika segera masuk ke dalam mobilnya, Ricky sendiri yang menyetirnya.
"Papa kenapa? Sejak tadi kau selalu muram...lihatlah...aura wajahmu menular ke semua orang...." Kata Lika memulai pembicaraan.
"Entahlah sayang....aku juga bingung menggambarkan perasaanku..." Ungkap Ricky.
"Curahkanlah seluruh perasaanmu sayang...kalau itu bisa membuatmu lega...bebanmu juga adalah bebanku....kesedihanmu juga adalah kesedihanku...." Ucap Lika. Kemudian Ricky menghentikan mobilnya ke tepi jalan.
__ADS_1
"Aku...aku...takut kehilangan Nando anakku...." Ucap Ricky lirih. Matanya mulai Merah. Lika menggenggam tangan suaminya itu erat.
"Papa tidak sendirian...ada aku yang selalu setia mendampingimu....susah dan senang kita tanggung bersama....kita akan sama-sama memperjuangkan Nando, dia bukan hanya anakmu, tetapi juga anakku..." Ricky memandang wajah Lika dengan tatapan penuh cinta.
"Aku beruntung bisa menemukanmu Bu Guru...kau adalah pelabuhan terakhir cintaku...kita akan terus bersama mengarungi samudra kehidupan sampai maut memisahkan....terimakasih sudah menguatkan aku..." Kata Ricky. Bulir bening tak terbendung lagi jatuh ke pipinya.
Lika memeluk wajah suaminya, sementara Given ada di pangkuan Lika, Ricky membenamkan wajah tampannya di dada Lika, dia mulai menangis.
"Aku merawat Nando sejak kecil, aku curahkan segala kasih sayangku untuknya...tidak mudah bagi seorang laki-laki seperti aku merawat dua orang anak...sekarang...tiba-tiba dia datang...mengambil begitu saja anak yang sudah susah payah aku besarkan...." Ungkap Ricky. Lika membelai rambut suaminya itu dengan lembut.
"Aku mengerti perasaanmu...kita akan hadapi ini sama-sama...yuk kita jalan lagi...aku hanya sebentar ke sekolah, setelah itu kita pulang dan bersiap-siap bertemu dengan Pak Martin..." Kata Lika. Ricky menganggukkan kepalanya kemudian segera menegakkan duduknya dan kembali melajukan mobilnya menuju ke sekolah.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di parkiran sekolah, sekarang sekolah itu sudah ada security yang menjaga gerbang luar dan gerbang dalam, melihat kedatangan Lika dan Ricky, para security itu mengangguk hormat.
Lika dan Ricky masuk ke lobby sekolah, ada sebuah meja besar tempat pendaftaran siswa baru dan beberapa banner yang berdiri , para guru nampak sibuk mengurusi administrasi dan penyambutan orang tua murid yang mulai mendaftarkan anak mereka ke sekolah baru itu.
Melihat kedatangan Lika dan Ricky, Pak Wahyu dan Bu Maura menyambut mereka.
"Selamat siang Bu Lika...Pak Ricky..." Sapa mereka hampir bersamaan.
"Lancar Bu...nanti saya kirimkan laporannya lewat email ibu..." Jawab Pak Wahyu.
"Sekolah ini prospeknya bagus Bu...karena terletak di tengah perumahan elit dan di sekitar sini belum ada sekolah yang lengkap seperti ini...apalagi yang bertaraf internasional..." Sambung Bu Maura.
"Bagus...tetap jaga kordinasi kalian sebagai sesama guru...ingat satu hal, uang bukan prioritas utama, tetapi pelayanan...berikan pelayanan yang terbaik....kita di sini pendidik, bukan pekerja..." Jelas Lika bijak. Pak Wahyu dan Bu Maura menganggukkan kepalanya.
Ricky dari tadi hanya diam mendengarkan tanpa komentar sambil menggendong Given, sesekali di ciumnya dengan sayang bayi mungil itu. Setelah Pak Wahyu dan Bu Maura berlalu, Lika dan Ricky duduk di kursi lobby. Tiba-tiba Bella datang menghampiri mereka dari lantai atas.
"Hai Pak Ricky...lama tak jumpa...mengapa wajahmu terlihat mendung?" Tanya Bella sambil tersenyum. Ricky hanya menoleh sebentar, kemudian dia kembali fokus pada Given yang kini ada di pangkuannya.
"Miss Bella...bagaimana? apakah kau sudah membuat kurikulum bahasa Inggris?" Tanya Lika mengalihkan.
"Beres Bu...untuk urusan itu aku bisa di andalkan...oya, apakah sekolah ini masih menerima tenaga guru lagi?" Tanya Bella.
__ADS_1
"Sebenarnya sih sudah tutup...tapi kalau masih ada yang melamar dan sesuai kriteria...mengapa tidak?" Jawab Lika.
"Siiip...besok orangnya datang Bu...Bu Lika kan yang langsung interview?"
"Baiklah...besok aku akan datang..." Jawab Lika. Kemudian Bella segera pergi meninggalkan mereka begitu saja.
"Huh...dari dulu Miss bella ini selalu misterius...kalau bukan karena Papa Ricky sedang sedih, sudah ku kejar dia!" Sungut Lika.
Setelah urusan di sekolah selesai, Lika dan Ricky bergegas meninggalkan sekolah dan kembali pulang kerumah. Sementara di rumah, suasana sedang sepi, anak-anak belum pulang sekolah, Lia sudah berangkat kuliah, hanya nampak Nenek yang sedang berbincang dengan Mbok Narti.
"Kalian sudah pulang? Makanlah...makanan sudah siap..." Kata Nenek yang melihat kedatangan Lika dan Ricky. Lika langsung menaruh Given yang tertidur di box bayinya. Kemudian ia menggandeng Ricky menuju ruang makan.
"Papa makan yang banyak ya...setelah ini kau istirahatlah...." Kata Lika sambil mengambilkan piring dan menaruh nasi dan beraneka lauk dan sayur yang sudah di masak Mbok Narti.
"Iya sayang..." Jawab Ricky lirih. Merekapun makan bersama.
"Nanti biar aku dan Burhan yang menjemput anak-anak ya Pa...Papa di rumah saja sama Given istirahat..."
"Tidak...aku mau menjemput Kezia dan Nando..." Kilah Ricky.
"Oh baiklah...tapi setelah ini kau istirahat dulu ya...masih ada dua jam mereka pulang sekolah..." Ujar Lika. Ricky mmenganggukkan kepalanya.
******************
Setelah anak-anak pulang sekolah, sehabis makan siang, Nando terlihat masuk ke kamarnya, Kezia pun masuk ke kamarnya. Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore, perasaan Ricky semakin tak menentu, dalam hatinya dia sangat takut kehilangan Nando.
"Pa...kau sudah siap?" Tanya Lika sambil menepuk bahu Ricky yang dari tadi mondar-mandir di kamarnya.
"Kalau aku bisa menukar seluruh hartaku, asalkan Nando masih bersamaku...aku akan melakukannya..." Ujar Ricky lirih.
"Iya Pa...aku mengerti perasaanmu...yuk kita jalan ke Cafe...semakin cepat semakin baik, agar kau tidak galau lagi...kita hadapi Pak Martin bersama-sama sayang..." Lika mengusap lembut pipi suaminya itu.
"Lika sayang...cium aku sebanyak yang kau bisa...aku butuh....aku sangat butuh saat ini..." Ucap Ricky lirih, ia terduduk di sisi pembaringannya. Perlahan Lika mendekatinya.
__ADS_1
"Papa Ricky...." Lika mencium kening pria itu, "I Love you...", kemudian beralih mencium kedua mata Ricky, "More and more..." , lalu Lika mencium bibir Ricky dengan lembut dan dalam, "Now and forever..."
*************