Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Menata Hidup Baru


__ADS_3

Jogjakarta


Matahari senja mulai turun, berganti warna menjadi jingga.


Di kota ini, Lika memulai kehidupannya yang baru, belajar melupakan apa yang pernah terjadi, di kota ini, lembaran baru akan mulai digores oleh pena kehidupan.


"Lia...tolong bereskan barang-barang kita, sementara kita tinggal di rumah ini dulu...biarkan Nenek beristirahat sejenak..." Kata Lika ketika mereka sampai di sebuah rumah kontrakan yang direkomendasi oleh Alan.


Rumah itu cukup luas, berada di tengah kota Jogjakarta, lokasi cukup strategis karena dekat dengan kampus dan sekolah. Di dalam rumah juga sudah tersedia perabot rumah tangga, seperti sofa, tempat tidur, kulkas, mesin cuci dan lemari yang cukup besar. Jadi Lika dan keluarga tidak perlu menambah barang apapun di rumah itu.


Alan merekomendasikan rumah itu untuk di tempati Lika dan keluarganya, rumah itu milik keluarga Alan yang disewakan.


Lika menata kamar barunya, kamar yang luasnya kurang lebih sama dengan kamarnya yang dulu, dia menata pakaiannya di lemari dan barang-barang kecil yang lain.


Seharian ini sungguh sangat lelah menempuh perjalanan yang panjang, Lika menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, matanya ingin sekali terpejam.


Lika meraih ponselnya dari dalam tasnya, seharian ini dia hampir tidak memegang ponsel itu, ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab di sana, Lika tidak ingin membaca pesan atau siapa yang menghubunginya, dia segera membuka sim card dari dalam ponselnya, kemudian menaruhnya di laci kamarnya, besok rencana dia akan membeli nomor baru.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu dari luar kamar, tak lama Lia muncul dari balik pintu.


"Kak...makan dulu...di tunggu nenek..." Kata Lia.


"Duluan aja deh...kakak masih capek...oya, kamu kapan mau liat kampus?" Tanya Lika sambil bangkit dari tidurnya.


"Besok kak..." Sahut Lia.


"Besok bareng kakak ya...sekalian kakak mau ketemu kepala sekolah..."


"Lho...kakak kapan melamar ke sekolah? Cepat sekali..." Tanya Lia heran.


"Ini rekomendasi dari Pak Alan...kepala sekolah itu adalah teman kuliahnya dulu, jadi besok aku dijanjiin ketemu sama beliau...kakak juga butuh pekerjaan Lia...gak bisa lama-lama nganggur..." Jelas Lika.


"Syukurlah kalo kakak sudah bisa ngajar lagi di semester depan...oya kak...kakak gak mau cari tau kabar pak Ricky dan anak-anak?" Tanya Lia. Lika tertegun mendengarnya.


"Aku malah sudah buang SIM card di ponselku...rencana mau ganti nomor besok..." Jawab Lika.


"Yah kak...kasian mereka pasti sedih kak...paling tidak kakak cari tau lah kondisi mereka..."


"Tiap kali kakak berhadapan dengan mereka...hati kakak sedih Lia..."

__ADS_1


"Ya sudah...nih aku pinjemin ponselku, siapa tau nanti malam kakak berubah pikiran...ayo kita makan dulu...nenek udah nungguin tuh..." Kata Lia sambil meletakan ponselnya di meja kamar Lika. Kemudian mereka keluar untuk makan malam bersama.


************


Malam itu benar saja Lika tidak bisa tidur, dia terus memikirkan Ricky, Kezia dan Nando, air matanya sedari tadi sudah mengalir membasahi bantal tidurnya. Dadanya begitu sesak, wajah ketiganya menari-nari di dalam pikirannya.


Dengan ragu-ragu Lika meraih ponsel Lia yang masih tergeletak di meja, Lika bingung akan menghubungi siapa untuk mencari tau, tiba-tiba Lika teringat mbok Narti, tapi di ponsel Lia tidak ada nomor telepon mbok Narti, kemudian Lika kembali mengambil ponselnya dan dia menghubungi nomor mbok Narti. Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Halo..." Suara dari sebrang.


"Halo...mbok Narti? Ini Lika mbok..."


"Oh...mbak Lika...ada apa mbak...?" Tanya mbok Narti.


"Mbok...sekarang mbok Narti ada di mana?"


"Ini di rumah pak Ricky mbak...ibu Sarah sama suster saja di rumah sakit...ini saya di suruh di rumah sama anak-anak..." Jelas Mbok Narti.


"Mbok...gimana kondisi bapak?" Tanya Lika pelan.


"Bapak belum mau makan mbak...seharian ini dia di kamar terus..."


"Anak-anak?" Tanya Lika cepat.


"Mbok...aku boleh minta tolong?"


"Iya mbak Lika...tolong apa ya..."


"Buatkan susu hangat buat bapak...nanti kalo sudah selesai, masuk saja ke kamarnya lalu kasih ke bapak...biasanya kalo susu hangat dia mau minum..."


"Baik mbak...nanti saya buatkan..."


"Mbok Narti..."


"Iya mbak..."


"Tolong jangan bilang aku menghubungi mbok Narti ya..."


"Iya mbak..."


"Trimakasih mbok Narti..." Lalu telepon di matikan.

__ADS_1


Lika duduk di tepi tempat tidurnya, hatinya tambah sedih mendengar Ricky yang mengurung diri sampai tidak mau makan. Biasanya Lika yang bisa meluluhkan hati laki-laki itu, sekarang malah Lika yang membuat laki-laki itu terluka.


'Pak Ricky....ku mohon jangan seperti itu...apa yang harus ku perbuat...apakah tindakanku padamu salah...pak Ricky....sabarlah dulu sayang...suatu saat aku akan kembali padamu...untuk sekarang aku masih harus menghilang darimu...maafkan aku pak Ricky...taukah kau aku sangat sayang padamu..." Batin Lika, sambil perlahan mengusap air matanya yang kembali mengalir.


**************


Pagi itu di depan sebuah gedung sekolah , Lika berjalan cepat memasuki gerbang sekolah tersebut.


Dia menyusuri koridor sekolah yang pagi itu lumayan sepi karena masih liburan sekolah. Lika berhenti di depan sebuah ruangan, diatasnya bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah'.


Perlahan Lika mengetuk pintu itu, kemudian membuka pintunya.


"Selamat pagi...bisa ketemu dengan Pak Ferry?" Sapa Lika sopan. Di hadapannya duduk seorang laki-laki yang sedang menatap layar laptopnya.


"Ya...saya sendiri...silakan duduk Bu..." Sahut pria itu sopan. Kemudian Lika segera duduk di hadapan Pak Ferry.


Pak Ferry adalah kepala sekolah di SMU swasta di kota Jogja, SMU yang cukup besar dan punya nama. Berbeda dengan Pak Johan, Pak Ferry ini jauh lebih muda, wajahnya cukup tampan, dan gaya bicaranya lebih gaul, mungkin karena usia masih muda untuk ukuran kepala sekolah SMU.


"Pak Alan merekomendasikan saya untuk mengajar di sini...ini berkas dan CV saya pak..." Kata Lika sambil menyerahkan berkasnya.


"Baik...pak Alan adalah teman kuliah saya dulu...saya percaya apa yang di rekomendasikan ke saya, jadi...mulai semester depan, ibu Lika sudah bisa mengajar di sekolah ini..." Jelas pak Ferry.


"Trimakasih pak..." Sahut Lika.


"Selamat bergabung di sekolah kami Bu guru..." Pak Ferry berdiri dan langsung menjabat tangan Lika.


Kemudian Lika segera undur diri dan keluar dari ruangan itu, dengan senyumnya yang merekah karena bisa dengan cepat mendapat pekerjaan.


Sambil terus berjalan Lika merogoh ponselnya yang sudah di isi dengan nomor yang baru, dia memencet nomor telepon.


"Halo...pak Alan...trimakasih...aku sudah di terima di sekolah ini..." Ucap Lika sambil tetap berjalan.


"Oh...syukurlah Lika...semoga kamu betah disana...oya...kalo kamu butuh apa-apa hubungi aku ya..."Sahut Alan.


"Pak Alan sudah banyak membantuku...oya pak...aku minta nomor ponsel Bu Ina dan Bu Tri dong...aku belum sempat pamit sama mereka..." Kata Lika.


"Siap Bu...nanti aku kirimkan nomornya..."


"Sekali lagi aku trimakasih banget lho pak Alan...kamu memang temanku yang the best deh..." Ujar Lika sambil tertawa.


"Sama-sama Lika...aku senang bisa membantumu..."

__ADS_1


***********


Trimakasih atas kesetiaan readers yang sudah membaca karya author ...mohon tinggalkan like, vote and comment ya untuk lebih memaksimalkan karya author... 🙏🤗❤️✨


__ADS_2