
Pagi itu di sekolah, di ruang kantor guru nampak ramai, beberapa murid yang sudah datang juga berkerumun, Lika berjalan melewati ruang kepala sekolah yang sepi, kemudian memasuki ruang guru, beberapa guru nampak sedang ngobrol.
"Bu Lika sudah datang?" Sapa Pak Agus yang terlebih dahulu melihat Lika.
"Iya pak...ini ada apa ya kok rame-rame?" Tanya Lika keheranan. Karena suasana hari ini agak aneh dari biasanya.
"Itu Bu...pak Ferry tiba-tiba mengundurkan diri..." Kata Pak Agus.
"Hah? Mengundurkan diri? Kenapa?" Tanya Lika beruntun.
"Entahlah...untuk sementara Bu Wati yang menggantikannya... denger-denger sih dia semalam langsung pindah ke luar kota...nanti surat keputusannya menyusul...." Jelas pak Agus.
Lika terkesiap mendengar penjelasan pak Agus, padahal baru semalam dia bertemu dengan pak Ferry, mungkinkah karena kejadian semalam, membuat pak Ferry mengambil keputusan yang sebesar ini. Bukan Lika yang keluar tetapi Pak Ferry yang mundur.
"Bu Lika kenapa?" Tanya Pak Agus membuyarkan lamunan Lika.
"Eh...tidak pak...saya pamit keruangan dulu..." Ujar Lika sambil bergegas meninggalkan ruang guru.
Di dalam ruangannya, Lika masih kepikiran soal pengunduran diri pak Ferry yang mendadak itu, sampai ia tidak menyadari seseorang sudah berdiri di dekatnya.
"Bu Lika melamun ya!" Lika mendongak melihat siapa yang ada di depannya, ternyata Alex sudah berdiri di depannya.
"Alex? Kamu sudah lama di sini?" Tanya Lika kaget.
"Belum kok Bu...pasti ibu juga sedih ya pak Ferry mengundurkan diri...anak-anak juga Bu...pak Ferry itu orangnya asyik, gaul, lucu...jarang ada kepsek kayak dia..." Ungkap Alex. Tiba-tiba Lika jadi merasa bersalah, andai saja malam itu dia tidak se emosi itu, ternyata pak Ferry memiliki hati yang lembut dan sensitif, makanya dia langsung mengambil keputusan begitu.
"Sudahlah Alex...mungkin itu memang sudah jalannya...Bu Wati juga asyik kok orangnya..." Ucap Lika sambil tersenyum.
***********
Tin...tin...tin...
Suara klakson mobil di depan rumah kontrakan Lika, Lika membuka tirai jendela, kemudian dia bergegas membuka pintu rumahnya dan menghampiri mobil yang sudah terparkir di depan kontrakannya itu.
__ADS_1
"Kezia! Nando....ayo sini ibu kangen...!" Panggil Lika setelah melihat dua anak itu turun dari mobilnya.
"Ibu guruu...akhirnya kita bisa ketemu lagi ya...aku juga kangen!" Seru Nando sambil berlari menghambur ke pelukan Lika. Sementara Kezia nampak keberatan menenteng dua tas yang salah satunya milik Nando.
"Sini sayang ibu bantu..." Kata Lika sambil mengangkat tas mereka.
"Bu...itu papa masih di mobil..." Tunjuk Kezia ke arah mobil yang mesinnya masih menyala.
"Ya sudah...kalian masuk ya...ada Nenek dan Tante Lia yang sudah kangen dan menunggu kalian sejak tadi..." Ucap Lika. Kedua anak itu masuk kedalam dengan antusias, Lika menaruh tas di bangku teras, kemudian menghampiri Ricky yang masih di mobil.
"Hey...bayi tua ganteng! Kenapa cemberut di situ?" Tanya Lika ketika dilihatnya Ricky duduk di depan kemudi sambil bertopang dagu.
"Huh.. kau hanya menyambut kedua anak itu...sedangkan aku dicuekin..." Cetus Ricky. Lika tertawa geli melihat tingkah laku pria di depannya itu.
"Masa kau iri dengan anakmu sendiri? Ayo masuklah...aku tak kuat menggendongmu..." Ledak Lika. Kemudian Ricky mematikan mesin mobilnya lalu keluar dari dalam mobil.
"Masa kau tidak memelukku? Apakah tidak kangen?" Lagi-lagi Ricky bersikap manja.
"Sabar sayang...ini di pinggir jalan...ayo lah masuk..." Ajak Lika sambil mengandeng tangan Ricky masuk kedalam rumah.
Mereka makan bersama dengan duduk melingkar di karpet ruang tamu. Kezia dan Nando terlihat sangat antusias.
"Waah....masakan Nenek buyut luar biasa enaaak...." Ujar Kezia sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Ah...kenapa memanggil nenek buyut?" Tanya Nenek.
"Papa bilang, Nenek Bu Lika adalah nenek buyut kami, karena sebentar lagi ibu guru akan jadi ibu kami beneran..." Sambung Nando.
Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar celotehan kedua anak itu, wajah Lika memerah seketika.
"Nenek jadi berasa semakin tua saja...ayolah cepat Ricky...tidak usah pake acara basa basi...kapan kau akan menikahi cucuku?" Tanya Nenek.
"Secepatnya Nek....kalau perlu besok...tapi orang tuaku di luar negri, aku anak tunggal, kalau aku menikah mereka akan datang...terserah Lika saja..kapan dia siap aku pasti siap..." Jelas Ricky.
__ADS_1
"Nah Kak...ayo...kapan nih...kalau kalian sama-sama siap mau tunggu apa lagi? Supaya tambah rame rumah kita..." Goda Lia.
"Ah..aku terserah pak Ricky saja...tapi jangan besoklah...Minggu depan saja...supaya bisa ada persiapan..." Sahut Lika malu-malu.
"Yeeeeah!!!!" Seru Keiza dan Nando serempak.
"Secepatnya pindah lah dari sini...aku sudah menyiapkan rumah untuk kalian...untuk kita..." Kata Ricky.
"Lho...setelah kalian menikah, memangnya tidak mau tinggal sendiri?" Tanya Nenek.
"Tidak Nek...kita akan tinggal bersama sebagai satu keluarga...Lika menginginkan itu...apapun keinginannya pasti akan ku penuhi..." Tambah Ricky.
Mereka makan lalu beristirahat sejenak, Lia mengajak anak-anak jalan-jalan di sekitar rumah, Nenek istirahat di kamarnya, sedangkan Ricky mengajak Lika pergi ke luar.
*************
Ricky menyewa sebuah mobil selama ia tinggal di Jogja, siang itu dia mengajak Lika untuk meninjau lokasi proyek perumahan yang akan di bangun Ricky.
Mereka sampai di sebuah lahan yang luas, di pinggiran kota Jogja, beberapa konstruksi bangunan sudah di buat, Ricky memarkirkan mobilnya dan membimbing Lika turun menuju ke sebuah rumah pertama yang hampir rampung di bangun.
"Ini calon rumah kita...apa kau suka sayang?" Ucap Ricky sambil menggenggam hangat tangan Lika. Kemudian mereka masuk kedalam rumah besar dengan desain modern itu.
"Ini terlalu besar dan mewah...kapan kau membangun rumah ini?" Tanya Lika terkesima.
"Sebenarnya rumah ini akan di jadikan rumah contoh, tapi berhubung aku ingin cepat-cepat menikahimu, aku batalkan rumah contohnya...biar dibangun ditempat lain saja..." Jawab Ricky.
"Kau yakin akan tinggal bersamaku dan keluargaku di Jogja? Bagaimana pekerjaanmu? Sekolah anak-anak?" Lika menatap dalam wajah Ricky.
"Itu hal yang mudah...kau tau aku tidak menetap di satu kantor...proyekku banyak dimana-mana di seluruh Indonesia...kau lupa aku adalah seorang developer? Soal anak sekolah...mereka bisa pindah sekolah disini...yang penting...aku tidak ingin lagi kehilanganmu...kau lah pelabuhan terakhir dalam hidupku...yang akan terus menemaniku sampai aku menutup mata..." Ucap Ricky. Lika begitu terharu sampai ia meletakan kepalanya di dada pria itu, air matanya menetes perlahan.
"Terimakasih Pak...kenapa aku begitu berharga di matamu? Aku hanyalah seorang guru yang kadang di pandang sebelah mata oleh orang lain...dulu aku pernah bertunangan...lalu hanya karena profesi ku guru...pertunangan ku batal...kini kau yang memiliki segalanya...begitu sungguh-sungguh...mencintaiku..." Isak Lika di pelukan Ricky, punggung wanita itu berguncang menahan tangis.
"Tidak...tidak...guru adalah profesi yang mulia...karena guru anak-anakku memiliki harapan...karena guru aku bisa banyak belajar tentang kehidupan...dan karena guru...aku mengenal cinta yang sesungguhnya...teruslah berkarya sebagai guru...di lahan seluas 5 ribu hektar ini...aku akan membangun sekolah...mohon kau nanti yang akan mengelolanya...didiklah para guru sesuai dengan visi misi yang baik...sehingga banyak anak-anak didik yang memiliki pengharapan akan masa depan...seperti Kezia dan Nando...." Ucap Ricky sambil mengecup rambut Lika.
__ADS_1
Ricky menangkup wajah Lika dengan kedua tangannya, menatap matanya dalam, menghapus air mata yang masih saja mengalir dengan jarinya.
"I love you ibu guru..." Bisik nya lembut.