Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
[POV Ricky] Kencan Pertama


__ADS_3

Perkataan Ibu guru itu terus terngiang-ngiang di kepalaku,sampai aku tidak bisa tidur. Kata-katanya seperti mengandung hipnotis, yang mendorong aku untuk melakukan keinginannya, yaitu mencarikan pengasuh untuk anak-anakku.


Akhirnya aku mulai mencari yayasan penyalur asisten rumah tangga, dengan jasa penyalur itu aku bisa mendapatkan pengasuh yang berkompeten karena sudah dididik sedemikian rupa di dalam yayasan.


Pagi-pagi saat sarapan, aku memberitahu niatku pada anak-anakku.


"Kezia...Nando...mulai sekarang, Papa sudah Carikan pengasuh untuk kalian...mungkin hari ini dia datang.." Kataku.


"Beneran Pa?" Tanya Kezia.


"Tumben Papa percaya sama orang..." Tambah Nando.


"Pasti nih gara-gara ibu guru marahin Papa waktu itu...sukurin...Papa sih sok galak sama ibu guru...!" Cetus Kezia.


"Mungkin memang gara-gara ibu guru kalian..." Jawabku dengan entengnya.


"Iih...Papa aneh...jadi berubah gini..." Sahut Nando. Aku hanya senyum-senyum yang entah apa yang membuatku jadi senyum-senyum sendiri.


"Hei...Papa boleh tidak minta nomor ponsel ibu guru kalian?" Tanyaku. Kezia dan Nando saling berpandangan.


"Boleh kok Pa..." Kezia langsung berlari mengambil sebuah kartu nama. Lalu menyodorkan kartu nama itu padaku, aku menerimanya dengan sangat antusias.


"Wah...trimakasih Nak...!" Seruku senang.


Ku pandangi kartu nama itu, di situ tertera sebuah nama yang membuat dadaku bergetar, Malika.


"Pa...ayo berangkat, nanti kita terlambat lagi...!!" Seru Nando membuyarkan lamunanku.


"Eh...iya Nak...ayo kita berangkat..."


************

__ADS_1


Siang itu ku beranikan diri untuk mencoba menelepon Bu Lika, guru manis itu, ah.. kenapa kini aku seperti anak ABG yang grogi memencet nomor telepon seorang wanita, ini seperti bukan diriku yang sesungguhnya, aku yang adalah seorang developer tegas dan cuek bisa segrogi ini berbicara dengan si guru itu.


"Halo Bu Guru...ini Ricky Papanya Kezia dan Nando.."


Bu Guru itu tidak langsung menjawab ku, apakah dia shock mendengar aku meneleponnya tiba-tiba.


"Ha...halo Pak Ricky...dari mana Bapak tau nomor saya?" Tanya Bu guru itu gugup.


Ah, kenapa dia juga gugup.sama sepertiku? Apa mungkin dia juga grogi menghadapi ku.


Aku mengucapkan trima kasih pada guru itu, sekaligus memberitahu bahwa aku akan memberikan anak-anakku seorang pengasuh untuk mereka, guru itu kelihatan sangat senang.


Sebagai ucapan trimakasih, aku mengajaknya makan malam berdua, mulanya dia diam saja, tidak memberikan respon apapun, namun setelah ku tanya lagi, ternyata dia bersedia makan malam denganku. Hatiku sangat senang sekali, ku tinggalkan pekerjaan yang menumpuk di kantor. Aku langsung melesat pulang saat itu juga.


Kebetulan pengasuh anak-anak sudah datang, jadi aku tidak terlalu khawatir meninggalkan Kezia dan Nando saat makan malam nanti.


Malam itu, aku bersiap-siap akan menjemput ibu guru itu, sebelumnya aku sudah mengirim pesan, supaya dia bersiap-siap ku jemput jam 7 malam. Dan dengan mudahnya dia menerima ajakan ku.


"Ssst....Nando di rumah saja dengan Kakak...kan sudah ada Mbak Marni sekarang...Papa ada urusan..." Jawabku sambil mengelus rambut Nando.


"Tumben Papa rapi amat...Papa mau kondangan ya..." Celetuk Kezia.


"Hush...memangnya Papa mirip kayak mau kondangan?" Tanyaku sambil memperhatikan penampilanku sendiri. Kezia dan Nando hanya tertawa cekikikan.


"Habisnya...tumben Papa lama sekali pakai bajunya...biasanya cuek kalo pake baju...trus rambutnya juga tumben pake gel segala...jadi rapi benget...biasanya lurus-lurus aja...dan Papa wangi sekali...pakai parfumnya banyak ya..." Seloroh Kezia. Aku jadi malu sendiri.


"Papa lagi janjian sama siapa sih?" Tanya Nando penasaran.


"Ada deh...rahasia..." Sahutku.


Setelah meladeni ocehan anak-anakku, aku segera meluncur ke rumah ibu guru itu dengan semangat.

__ADS_1


Setelah tiba di sana, ternyata dia sudah menungguku, Ibu guru manis itu menungguku, kenapa jantungku jadi tak karuan begini.


Setelah aku turun dari mobil, senyum manis tersungging dari bibir mungil Bu guru itu. Kemudian aku langsung pamit dengan orang rumahnya, di rumah itu ada nenek dan adiknya, mereka memandang dengan tatapan tak suka saat melihatku, mungkin karena aku bukan laki-laki pilihan mereka, tapi tidak masalah, asal Ibu guru itu tetap tersenyum dan ramah padaku, itu sudah cukup.


Dalam perjalanan, kami tidak banyak bicara, mungkin dia juga grogi jalan denganku, atau mungkin kurang nyaman.


"Maaf Pak...apa tidak sebaiknya kita mengajak anak-anak?" Tanyanya tiba-tiba.


Bisa-bisanya dia mengingat anak-anak, aku bahkan meninggalkan mereka agar tak menggangguku.


Ibu guru itu nampak canggung dan sungkan padaku, dia sendiri mengakuinya. Aku jadi makin penasaran dengannya. Dirinya benar-benar polos.


Saat di restoran, aku begitu senangnya sampai memesan begitu banyak makanan, dia sampai terheran-heran melihatku. Aku berdalih, kalau lagi stress aku memang seperti ini, dia menganggap serius perkataan ku, namun setelah aku mengatakan kalau sejak kehadirannya aku tidak stress lagi, wajahnya jadi berubah tenang, ada semburat merah di pipinya, Ibu guru itu tersipu malu.


Tanpa sadar, aku menceritakan tentang pahitnya kehidupan pernikahanku, dia mendengarkan aku dengan seksama, ada sorot mata yang tulus memandangku, entah itu kasihan atau apa, tetapi aku merasa sorot mata itu memberikan aku kedamaian.


"Bu guru...mau kah kita menjadi teman?" Pertanyaan yang meluncur begitu saja dari mulutku.


"Teman?"


"Ya...mungkin saat ini aku butuh teman..." Ucapku.


"Baiklah Pak...kita berteman..." Jawabnya sambil tersenyum.


Teman? Kenapa aku minta guru itu menjadi teman? Apakah aku memang menganggapnya teman?


Tidak, debaran jantung di dada ini bukan perasaan sebagai teman, aku menginginkan hubungan yang lebih dalam, tapi apakah secepat itu pesona ibu guru itu memikat ku sedemikian sehingga seakan aku begitu sesak untuk bernafas.


Saat aku mengantarnya pulang, seperti ada kehilangan dalam diriku, aku menginginkan lebih lama bersamanya, hanya bicara dan memandang wajahnya itu sudah lebih dari cukup, membuat aku merasa bahagia dan nyaman.


Setelah aku berpisah dengan Sarah sekian lama, aku merasa semua kebutuhan biologisku sudah hilang, aku hanya fokus untuk mengurus kedua anakku saja, namun kini, setelah bertemu dan menatap mata teduh itu, semua tubuhku dari atas sampai ke bawah menegang semua, entah apa yang terjadi denganku.

__ADS_1


**********


__ADS_2