
Pagi ini Lika dan Ricky sudah rapi berpakaian, mereka hendak mengantar Kezia dan Nando ke sekolah, setelah itu mereka akan ke sekolah baru Lika, hari ini rencana Lika akan menemui Bella dan bicara serius dengannya. Kezia dan Nando nampak sudah siap menunggu di bawah.
"Kezia dan Nando sudah sarapan?" Tanya Lika.
"Sudah Bu..." Jawab mereka singkat.
"Sudah siap berangkat kita?" Tanya Lika lagi. Mereka menganggukkan kepalanya.
"Bu..." Kezia menghentikan ucapannya.
"Memangnya benar ya...Nanti Nando akan ikut sama Om yang kemarin itu?" Tanya Kezia. Nando yang di sampingnya hanya menundukkan wajahnya.
"Siapa yang bilang Nak...?"
"Nando yang cerita Bu..." Jawab Kezia.
"Ya Tuhan sayang....kita ini adalah keluarga....dari dulu kita keluarga dan saling sayang....Ibu dan Papa tidak menginginkan siapapun pergi meninggalkan kami termasuk Nando....sudah, sekarang kita berangkat saja yuk...tetap semangat dan rajin belajar ya sayang..." Lika mengelus kepala Kezia dan Nando.
Ricky sudah menunggu di dalam mobil, pria itu sengaja menunggu di mobil, tidak ikut mengobrol dengan anak-anak, hatinya teriris setiap dia melihat wajah Nando.
"Oya Nando...di meja belajar Nando ada Laptop baru, itu pemberian dari ayah Martin saat Nando ulang tahun..." Kata Lika. Nando tidak menjawab, namun wajahnya jelas memancarkan kesedihan, Lika merengkuh tubuh Nando.
"Nando....kuatkan hatimu sayang..." Ucap Lika lirih.
"Do...kakak tetap sayang Nando...tapi Nando jangan sedih terus dong..." Tambah Kezia. Sementara Ricky yang sedang menyetir tidak dapat menahan perasaannya, matanya sudah tergenang air, namun dia berusaha menahannya agar air itu tidak tumpah.
Tak lama mereka sudah sampai di sekolah, mereka belum pindah ke sekolah Lika yang baru karena tanggung, sebentar lagi kenaikan kelas. Setelah pamit, Ricky malajukan mobilnya cepat ke sekolah baru, Mercy School.
Setelah mereka sampai, seperti biasa, Ricky akan menggendong Given, sementara Lika memantau kinerja para guru dan staff, dia juga berusaha mencari Bella, sepertinya Bella agak susah di ajak bicara empat mata, wanita itu selalu saja datang dan pergi seenaknya.
"Papa mau tunggu di lobby atau di ruanganku?" Tanya Lika, Ricky sibuk menimang Given yang mulai bisa di ajak bercanda, bayi itu tertawa dengan riang berada di buaian Papa nya.
"Di lobby saja, supaya Given bisa melihat banyak orang, kalau di ruangan begitu sepi..." Jawab Ricky.
"Baiklah...kemarikan wajahmu papa..." Ricky mencondongkan wajahnya saat Lika memintanya.
Cup...
__ADS_1
Sebuah kecupan manis mendarat sekilas di bibir Ricky, Lika tau saat ini suaminya ini sedang membutuhkan cinta yang berlebih untuk menutupi kesedihannya.
"Terima kasih..." Ucap Ricky, wajahnya mulai berbinar.
"Iya Papa...kalau kau membutuhkan lagi, bilang saja padaku...aku akan dengan senang hati memberikannya padamu...." Kata Lika. Ricky tersenyum, aura ketampanannya mulai bersinar.
"Selamat pagi...!" Seru seseorang dari arah belakang mereka, Lika dan Ricky menoleh bersamaan.
"Miss Bella??" Lika terkesiap melihat bella yang datang dengan seseorang, seseorang yang dulu pernah sangat familiar. Lika dan Ricky membulatkan matanya.
"Pak Alan...!!! Oh my God...Pak Alan ....!!" Seru Lika saat melihat orang yang ada di samping Bella, Ricky juga tak kalah kagetnya.
"Kenapa kau bisa ada di sini Pak Alan? Bukankah kau ada di luar negri?" Tanya Ricky sambil memicingkan matanya seolah tak percaya.
"Sebelumnya aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian...yang bahkan sekarang sudah ada baby di antara kalian...wow...amazing....!" Sahut Alan ramah sambil menjabat tangan Lika dan Ricky bergantian.
"Terima kasih Pak Alan...ayo duduk...kau juga Miss Bella...." Kata Lika sambil melirik ke arah Bella. Mereka kemudian duduk di kursi lobby.
"Ah...di sini kurang nyaman...lebih baik kita mengobrol di kantin saja...aku akan mentraktir kalian...." Kata Ricky yang langsung berdiri dan berjalan ke arah kantin yang letaknya tidak jauh dari lobby, Lika, Bella dan Alan mengikutinya dari belakang. Sebentar kemudian mereka sudah saling duduk berhadapan dengan minuman dingin di hadapan mereka masing-masing.
"Jadi ini yang ku maksud guru yang akan melamar Bu..." Kata Bella.
"Wah Bu Lika...aku jadi tersanjung...!" Seru Alan senang.
"Tapi... apa tidak salah Pak Alan mau menjadi guru di sini? Gaji di luar negri lebih besar lho pak..." Ujar Lika.
"Sebenarnya aku tidak benar-benar ke luar negri lho Bu...aku hanya mencari cara untuk melupakanmu...ah sudahlah lupakan....yang penting sekarang aku sudah menemukan pelabuhan terakhirku..." Ungkap Alan sambil melirik ke arah Bella. Bella terlihat menundukkan wajahnya dengan pipi yang merona merah.
"Apa? Jadi kalian...." Ricky menunjuk mereka bergantian.
"Iya Pak Ricky...aku kembali bertemu dengan Bella saat kami sama-sama resign dari sekolah di Bandung...mungkin ini yang di namakan jodoh...saat hatiku kosong, dia hadir untuk mengisi kekosongan hatiku..." Jelas Alan. Sesaat dia menggenggam tangan Bella hangat.
"Ah Pak Alan...kenapa tidak dari dulu saja....dulu Miss Bella mati-matian mengejar mu kan...dasar cowok tidak peka..." Ledek Lika.
"Bu Lika...please jangan terlalu terbuka pada Alan...nanti dia akan besar kepala..." Sahut Bella.
"Kalian memang cocok sejak dulu...oya, Miss Bella...kau berhutang penjelasan padaku..." Kata Lika mulai serius.
__ADS_1
"Penjelasan Apa?" tanya Bella.
Lika merogoh secarik kertas yang sudah lama dia simpan di dalam tasnya, lalu dia menunjukkannya pada Bella.
"Dari mana kau mendapatkan alamat ini??" Bella membulatkan matanya saat melihat alamat yang di tunjukkan Lika.
"Dari seorang kurir..." Sahut Lika.
"Aduh sayang....perutku mulas sekali...sepertinya aku perlu beli Usir angin....ayo antarkan aku...." Tiba-tiba Bella langsung menarik tangan Alan meninggalkan tempat itu.
"Miss Bella...kau mau kemana?!!" Panggil Lika, namun Bella tetap berjalan sampai tubuh mereka hilang di balik tembok kantin.
"Mau kemana sih orang itu? Aneh sekali..." Gumam Ricky.
"Itulah Pa...Miss Bella memang misterius...dia tertutup padaku, entah mengapa...tapi aku bahagia, akhirnya mereka bisa bersama..."
"Aku juga sayang...semakin sedikit sainganku...." Kata Ricky
"Iih...si papa mah...." Lika mencubit perut Ricky.
"Aaah....sakit....nih Given jadi bangun deh..." Given terlihat kaget mendengar Ricky berteriak. Buru-buru Lika mengambil Given dari gendongan Ricky.
************
Malam itu, Keluarga Ricky sedang terlibat makan malam bersama, mereka nampak hening menikmati makanannya masing-masing.
"Papa...Ibu...." Tiba-tiba Nando membuka suaranya. Semua orang beralih memandang anak itu.
"Ya sayang..." Sahut Ricky.
"Aku...aku mau ikut dan tinggal bersama ayah Martin..." Ucap Nando. Semua yang duduk di tempat itu, termasuk nenek dan Lia terkesiap mendengar ucapan Nando.
"Jangan Do! Kamu tetap disini saja...jangan pernah tinggalin kakak! Pokoknya Nando jangan pergi!!" Seru Kezia yang langsung menghentikan makannya.
"Tidak...kasihan ayah Martin sendirian tidak punya siapa-siapa...kalau disini kan sudah ada Papa, Ibu, nenek....tante Lia..." Ucap Nando terbata.
"Pokoknya Nando tidak boleh pergi!!" Jerit Kezia. Anak yang beranjak remaja itupun mulai menangis.
__ADS_1
*************