Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Perasaan Khawatir


__ADS_3

Sebuah kotak berukuran besar, membuat Lika, Ricky, Nenek dan Mbok Narti terkejut dan bergidik ngeri. Bagaimana tidak, di dalam kotak itu berisi seekor kucing mati dengan leher tergorok. Darah mengalir memenuhi kardus itu yang dilapisi oleh sebuah plastik.


Lika terkulai lemas dalam pelukan Ricky. Nenek memalingkan wajahnya, tidak tahan melihat pemandangan di depannya.


"Mbok Narti! Kubur itu di tanah kebun belakang...!!" Perintah Ricky. Dengan sigap Mbok Narti segera mengambil kardus itu dan membawanya kebelakang untuk di kubur.


Kemudian Ricky mengangkat tubuh Lika yang lemas dan membaringkannya di sofa, wajah wanita itu kelihatan sangat pucat, karena bungkusan itu ditujukkan untuk dia, untuk Lika.


"Sayang...tenanglah....ada aku disini..." Bisik Ricky sambil mengusap wajah Lika yang berkeringat dan mencium keningnya.


"Ricky...! Kau ambilkan air putih untuk istrimu...jangan kau peluk-peluk terus...!" Cetus Nenek. Lalu Ricky segera beranjak mengambil segelas air putih untuk Lika. Kemudian dia menyodorkan air putih itu ke mulut Lika.


"Sayang....gendong ya ke atas...ke kamar...." Kata Ricky dengan wajah yang nampak cemas. Lika menggelengkan kepalanya perlahan.


"Papa....aku takut...ini seperti ancaman buatku..." Kata Lika lirih.


"Sayangku...ada aku di sampingmu...ayolah...kasihan dedeknya ikut tegang jadinya....uuuuhhh....kacian anak Papa...." Kata Ricky sambil mengelus dan menciumi perut Lika. Ada gerakan yang merespon di dalam perut Lika, seolah mendengar perkataan Ricky.


"Papa...kira-kira siapa ya yang mengirim bungkusan itu?" Tanya Lika.


"Entahlah....aku juga tidak tau...siapapun orangnya ku pastikan hidupnya tidak tenang di kejar dosa...!" Sahut Ricky.


"Papa....nanti jangan telat ya jemput anak-anak....aku takut...takut sekali..." Tambah Lika.


"Iya sayang...nanti kau dirumah saja sama Nenek...biar aku sendiri yang jemput mereka...kau istirahatlah di kamar...jangan lupa kalau tidak ada aku kau harus selalu mengunci pintunya oke..." Jelas Ricky. Lika menganggukan kepalanya.


Kemudian Nenek muncul dari arah dapur dengan mbok Narti sambil membawa segelas jus alpukat.


"Mbak Lika diminum dulu jusnya...biar segar..." Kata Mbok Narti.


"Trimakasih mbok..." Sahut Lika sambil menyeruput jus itu.


"Sudahlah Lika...kau jangan terlalu kepikiran...itu hanya kerjaan orang iseng...biasalah...jaman sekarang banyak orang iri melihat kesuksesan orang lain..." Ucap Nenek.


"Tapi aku sukses apaan Nek...bahkan sekarang aku sudah tidak bekerja lagi..." Sergah Lika.

__ADS_1


"Yah...mungkin sukses mendapat suami tampan dan kaya..." Jawab Nenek. Mendadak wajah Ricky berubah merah.


"Jangan begitu Nek...aku kan jadi tersanjung..." Ucap Ricky tersipu.


"Ooh...jadi kau merasa tampan dan kaya?" Ledek Nenek.


"Bukan begitu...tapi memang banyak yang mengakui aku tampan kok Nek...bahkan anakku sendiri bilang aku tampan...kalau aku tidak tampan....mana mau Bu Guru cantik ini jadi istriku...kalau kaya....di dunia ini juga banyak orang yang kaya..." Ujar Ricky sambil tersenyum, seolah melupakan kejadian tadi.


"Sudah....sudah...aku mau ke kamar..." Potong Lika sambil mulai berdiri. Dengan sigap Ricky langsung mengangkat tubuh Lika.


"Ya...ya...aku akan mengantarmu ke kamar..." Ricky langsung berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Hei Ricky.. hati-hati! Kau sedang menggendong dua orang...kau ini dikit-dikit gendong....dasar anak muda jaman now...!" Teriak Nenek. Ricky menoleh sambil tersenyum.


"Bilang saja Nenek ingat masa muda...jadi iri kan sama aku dan cucumu hahaha..." Ledek Ricky.


"Eeh... kau ini berani bicara begitu sama orang tua...! Awas kau ya...!" Sahut Nenek sewot.


"Maaf Nek...becanda...biar gak tegang..." Ucap Ricky terkekeh. Tak lama dia sudah menghilang di balik tembok atas.


"Huffh...kamu berat juga ya sayang...." Kata Ricky sambil ngos-ngosan.


"Suruh siapa main gendong saja....kayak aku tidak punya kaki saja...rasain kan, capek..." Sahut Lika.


"Tapi aku senang melakukannya...." Ucap Ricky menerawang.


"Papa...lusa kau jadi ke Jakarta?" Tanya Lika.


"Hmm....melihat kondisimu sepertinya aku batalkan saja...." Sahut Ricky.


"Papa....aku memang takut dan khawatir...dengan teror yang tadi....tapi, masa proyek sebesar itu batal hanya karena kau lebih memilih menemaniku..." Sergah Lika.


"Bukan batal...mungkin hanya menundanya..." Jawab Ricky.


"Tidak....kau pergi saja ke Jakarta...aku tidak apa-apa...itu kan hanya sebuah teror...untuk apa ditakuti...waspada boleh, takut jangan...walaupun aku shock...sekarang aku jauh lebih tenang...." Jelas Lika. Dia memiringkan tubuhnya dan memandang wajah suaminya yang masih menerawang ke atas.

__ADS_1


"Baiklah...ada baiknya menuruti saran istriku...tapi kau harus memastikan ponselmu selalu aktif, kirim kabar sesering mungkin...kalau telepon selalu video call....supaya aku selalu bisa melihat wajahmu..." Ujar Ricky.


"Hmm....terlalu berlebihan...."


"Tidak...itu wajar kok..."


"Sudahlah Pa...coba kau tengok sekarang sudah jam berapa...anak-anak perlu di jemput cepat...." Kilah Lika.


"Kau yang berlebihan....orang sekarang baru jam 12...anak-anak pulang jam 2 siang...masih lama sayang....lebih baik kita makan siang dulu...apa perlu ku suruh mbok Narti mengantarkan makananmu ke kamar?" Tanya Ricky yang mulai membalikan tubuhnya ke arah Lika, kini wajah mereka saling berhadapan.


Entah mengapa ada suasana yang melow diantara mereka. Lika mengusap pipi Ricky dengan telapak tangannya, jarinya menelusuri lekuk wajah suaminya itu, dari dahi, kelopak mata, hidung, hingga ke bibir, ada getaran aneh yang dirasakan oleh keduanya.


"Sayang....trimakasih sudah mencintaiku...." Ucap Ricky dengan wajah melownya, pria itu memang perasa sekali.


"Trimakasih sudah mencintai anak-anakku...trimakasih sudah memberikan hidupmu untukku...trimakasih sudah memberikan sisa umurmu untukku....kau adalah mutiara berharga dalam hatiku...aku bersyukur telah menemukanmu...pertama-tama kau menyelamatkan hidup anak-anakku...memberikan mereka pengharapan, lalu kau juga menyelamatkan aku dari keputus asaan...kembali memberikan aku semangat hidup...sehingga kini hidupku lebih berwarna...." Ungkap Ricky. Tangannya membalas belaian Lika, kemudian beralih ke perut Lika yang besar, ada gerakan-gerakan halus yang merespon setiap usapannya.


"Kamu puitis amat Pa....aku sampai terharu...ini lihat bayi kita sampai tertawa melihat kelakuan Papanya yang melankolis..." Ujar Lika.


"Dari mana kau tau kalau dia tertawa....!" Cetus Ricky.


"Memang kau tidak merasa dari tadi dia bergerak-gerak..."


"Iya sih...lucu ya bayi kita...nanti dia mirip siapa ya kira-kira?" Tanya Ricky.


"Ya mirip ibunya lah...Kezia dan Nando kan sudah mirip Papanya..." Sahut Lika.


"Kita sudah lama nih di sini...makan yuk...aku sudah lapar..." Kata Ricky yang langsung duduk di tepi tempat tidurnya.


"Ya...makanlah...aku masih mau disini istirahat..."


"Ya sudah...aku ambilkan kesini ya makanannya..." Tawar Ricky.


"Boleh...jangan lupa setelah makan jemput anak-anak ya...."


"Siapp....!" Ricky segera melompat dari tempat tidurnya dan segera menuju kebawah mengambil makanan.

__ADS_1


*************


__ADS_2