
Malam itu Kezia dan Nando kembali menginap di tempat Lika. Lika kembali harus berpikir bagaimana caranya anak-anak ini tidak tergantung lagi padanya.
Nenek masih sibuk menjahit di ruang tamu, Lika perlahan mendekati Nenek dan duduk disebelahnya.
"Nek...waktu di rumah yang lama ada teman nenek yang janda itu, siapa namanya ya nek...aku lupa, yang waktu itu sedang mencari kerja..." Kata Lika.
"Oh...itu mbok Narti...kenapa memangnya?" Tanya Nenek heran.
"Aku ada kerjaan buat dia, bisakah aku ketemu dengan dia Nek malam ini?" Ujar Lika.
"Ya bisa saja...inget kan rumahnya yang diujung deretan rumah kita..."
"Inget Nek...aku titip anak-anak sebentar ya Nek..." Kata Lika sambil mengambil jaket dan helmnya.
Lika melajukan motornya menembus dinginnya malam itu, tidak berapa lama kemudian dia sudah berada di depan sebuah rumah tua.
Rumah itu adalah rumah mbok Narti, tetangga mereka dulu, seorang janda dan mempunyai seorang anak laki-laki yang masih bujangan yang bekerja sebagai ojek online. Rumah mbok Narti tidak kena gusur karena letaknya tidak terlalu dekat dengan jalan raya.
Perlahan Lika membuka pagar bambu rumah itu lalu mengetuknya.
Seorang wanita baya berusia kira-kira 50 tahunan membuka pintu rumahnya, melihat kedatangan Lika dia tersenyum.
"Slamat malam mbok Narti...masih ingat saya...?" Sapa Lika.
"Eh...ini Lika kan...cucunya nenek Darmi...ayo masuk..." Kata mbok Narti sambil mempersilahkan masuk.
"Trimakasih Mbok...."
"Ada apa nih tumben malam-malam kemari...?" Tanya mbok Narti ketika mereka sudah duduk.
"Begini mbok...waktu itu saya dengar dari nenek...mbok lagi butuh kerjaan...kebetulan ada teman saya yang butuh pengasuh untuk menjaga anaknya...apakah nenek bersedia...?" Ucap Lika.
"Boleh saja...mbok senang mengasuh anak...dari pada nganggur...lagi pula...si Burhan anak mbok juga sudah mandiri..." Jawab Nenek. Lika tersenyum senang.
"Trimakasih mbok..."
"Kapan dimulainya?"
"Besok sudah bisa dimulai mbok...ada dua anak yang satu baru masuk SMP, sedangkan adiknya baru naik kelas 3 SD, dan aku akan menyimpan nomor telepon mbok ya untuk komunikasi..." Jelas Lika.
"Iya Lika..."
"Kalo begitu aku pamit dulu mbok..." Ujar Lika sambil berdiri dan berjalan meninggalkan rumah itu.
**************
Suara ponsel Lika berdering mengagetkan Lika yang sedang berbaring, perlahan dia meraih ponselnya yang ada di atas meja kamarnya. Ternyata Ricky yang meneleponnya.
"Halo..."
"Halo Lika...bagaimana kondisi anak-anak...mereka baik-baik saja kan...?" Tanya Ricky.
"Iya pak...mereka baik... oya, aku sudah menemukan pengasuh yang tepat buat Kezia dan Nando...jadi kau tak perlu mengkhawatirkan mereka lagi...dia orang yang bisa di percaya..."
"Apakah anak-anak begitu merepotkan mu Lika?" Tanya Ricky.
"Tidak seperti itu pak...tapi biar bagaimana mereka memerlukannya...oya, bagaimana kondisi mbak Sarah?"
"Besok dia akan menjalani operasi... "
__ADS_1
"Kau harus selalu ada di sisinya pak...untuk memberinya semangat..."
"Aku lelah Lika...entah kenapa..."
"Harus pak...demi anak-anak dan kesembuhannya...walau bagaimanapun dulu kau pernah sangat mencintainya bukan?"
"Dulu...tapi kini...entah mengapa hatiku begitu hambar...bahkan sedikitpun aku sudah tidak memiliki perasaan apapun...hanya belas kasihan..." Keluh Ricky.
"Sabar ya pak...badai pasti berlalu...mbak Sarah pasti akan sembuh..."
"Bagaimana dengan dirimu Lika?" Tanya Ricky. Lika terdiam mendengar pertanyaan Ricky yang tak mampu dia jawab.
"Aku? Tidak ada apa-apa denganku..." Jawab Lika beralasan.
"Tapi aku mencintaimu Lika... rasanya begitu manis dan bahagia saat kau ada di dekatku, apalagi saat kau mencium bibirku...sungguh aku tak bisa melupakan itu..." Ucap Ricky. Lika kembali teringat akan kebodohannya itu, dia malu.
"Lupakan saja pak... anggap tidak pernah terjadi..." Sahut Lika lirih.
"Tapi sudah terjadi...saat aku benar-benar ingin menikahimu...tapi..."
"Sudah jangan bicara lagi...besok mbak Sarah akan operasi, kita fokus itu saja..."
"Lika...besok datanglah bersama anak-anak...Sarah yang memintanya..." Ucap Ricky.
"Baik pak...besok akan ku antarkan anak-anak padamu...sekarang aku mengantuk mau tidur..." Ujar Lika sambil mematikan ponselnya.
'Ah...pak Ricky ...sebenarnya aku juga mencintaimu...belum pernah ada rasa ini sebelumnya...tapi aku harus mengalah demi keutuhan keluargamu...maafkan aku pak Ricky...' Gumam Lika dalam hati sebelum memejamkan matanya.
**********
Taksi online yang di pesan Lika pagi itu sudah menunggu di depan rumahnya.
"Kezia...Nando...ayo cepat sedikit Nak...kita kan mau jenguk Mama...tuh taksinya juga sudah datang...!" Seru Lika memanggil Kezia dan Nando.
Sebelum sampai di rumah sakit, mereka mampir dulu ke rumah mbok Narti. Seperti pembicaraannya semalam, mbok Narti nampak sudah siap, tidak lama kemudian mereka sudah naik ke mobil.
"Kezia...Nando...ini mbok Narti, dia pengganti mbak Marni yang akan selalu menemani dan menjaga kalian..." Ucap Lika.
"Lho...memangnya Bu Lika mau kemana?" Tanya Kezia.
"Pokoknya Bu Lika jangan tinggalin kita..." Tambah Nando. Lika memandang sendu kepada kedua anak itu.
"Sayang....hari ini kan Mama mau di operasi...nanti kalo Mama sudah sembuh, kalian bisa berkumpul lagi... dan mbok Narti yang akan membantu pekerjaan Mama di rumah...kalian mengerti kan..." Jelas Lika. Kedua anak itu mengangguk patuh.
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera turun dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan naik ke lantai 3 ke ruangan Sarah.
Di depan ruangan, Ricky nampak sedang berdiri menunggu kedatangan mereka, wajahnya agak kusut. Melihat Papanya, Kezia dan Nando segera menghambur ke arah Ricky dan memeluknya.
"Papa...aku kangen sama papa..." Gelayut manja Nando.
"Pa...mama mana?" Tanya Kezia. Ricky melirik kearah Lika, disebelahnya berdiri mbok Narti.
"Pak Ricky...ini mbok Narti yang akan membantu mengasuh Kezia dan Nando nantinya..." Kata Lika memperkenalkan mbok Narti. Ricky hanya tersenyum mengangguk ke arah mbok Narti.
Suara pintu kamar Sarah di buka, Sarah di dorong keluar dengan beberapa suster lengkap dengan pakaian operasi, selang infus dan oksigen terpasang di tubuh Sarah.
Lika mendekati ranjang Sarah, Kezia dan Nando mengikutinya, Ricky hanya diam mematung di tempatnya.
"Mbak Sarah...ini anak-anakmu...lihatlah mereka...mbak pasti akan sembuh..." Ucap Lika di dekat telinga Sarah.
__ADS_1
Lika menoleh ke arah Ricky, dengan matanya dia mengisyaratkan agar Ricky mendekat, kemudian Ricky pun berjalan mendekati mereka.
"Katakan sesuatu padanya..." Kata Lika sambil menepuk bahu Ricky.
"Sarah...tetaplah berjuang..." Ucapnya lirih. Ada butiran air mata di sudut mata Sarah. Anak-anak juga nampak menangis di pelukan mbok Narti.
Setelah itu, ranjang itupun di dorong menuju ruang operasi.
"Mama...!" Teriak Kezia dan Nando hampir bersamaan. Lika tak kuasa lagi menahan air matanya. Direngkuhnya tubuh kedua anak itu yang menangis.
"Jangan sedih sayang....mama pasti akan sembuh...percayalah sama Bu Lika...Bu Lika kan gak pernah bohong..." Hibur Lika.
Ricky berjalan perlahan mendekati Lika dan kedua anaknya. Matanya melirik ke arah mbok Narti seakan minta untuk mengurusi mereka.
"Tolong ajak main anak-anakku dulu mbok...aku mau bicara dengan Lika..." Kata Ricky.
"Baik Pak..."
Dengan sigap mbok Narti mengambil alih Kezia dan Nando dari pelukan Lika.
"Yuk kita duduk disitu...mbok Narti punya dongeng lho...bagus deh...mau denger Ndak..?" Ujar mbok Narti yang kemudian langsung menggandeng mereka.
Sementara Lika masih berdiri ditempatnya. Ricky menggandeng tangan Lika, hangat.
"Temani aku Lika... sebentar saja..." Pinta Ricky. Matanya penuh harap.
"Pak Ricky mau kemana?" Tanya Lika.
"Aku lapar...mau makan di kantin rumah sakit...sejak kemarin aku belum makan..." Kata Ricky sambil menggandeng Lika berjalan meninggalkan tempat itu menyusuri koridor rumah sakit.
Mereka tiba di kantin rumah sakit di dekat lobby, Ricky duduk di kursi yang letaknya agak di sudut, Lika duduk di hadapannya.
"Wajah bapak kusut sekali... kelihatannya kau begitu lelah..." Kata Lika.
"Memang...bahkan aku juga hampir putus asa...ini rasanya begitu tidak adil bagiku...dulu aku di campakkan...kini setelah kembali dia malah menyusahkan ku..."
"Mbak Sarah maksud bapak... jangan seperti ini pak...kasihan anak-anak kalo papanya juga down....oya... mau makan apa pak? Sepertinya bubur ayam bagus untukmu..." Ujar Sarah. Ricky hanya mengangguk.
Kemudian Lika memesan semangkok bubur ayam dan teh panas, tidak berapa lama kemudian pelayan sudah membawakannya.
"Lika...ada perasaan yang aneh...Sarah yang menjalani operasi...mengapa aku malah takut kehilanganmu?" Gumam Ricky lirih.
"Jangan seperti ini pak...kumohon..." Sergah Lika.
"Aku sungguh-sungguh Lika...saat yang ada di hadapanku Sarah...pikiranku malah selalu terpaut padamu...Lika...aku takut kau pergi meninggalkan aku, juga anak-anak...tidak pernah setakut ini...bahkan saat Sarah dulu meninggalkanku...aku tidak pernah setakut ini..." Ricky menggenggam erat tangan Lika.
"Sudahlah pak...ini Buburnya di makan dulu...ayo..." Sahut Lika sambil menyodorkan mangkok bubur itu.
"Kenapa kau hanya menyodorkan mangkoknya...bukan sendoknya...aku mau kau menyuapiku..." Ucap Ricky. Sarah membulatkan matanya.
"Ya Tuhan...kenapa pak Ricky jadi manja begini...seperti anak kecil yang kurang kasih sayang..." Kata Lika.
"Aku memang kurang kasih sayang...aku butuh kasih sayang Bu guru sekarang... ayo suapi aku...atau aku mogok makan..." Ungkap Ricky dengan tatapan yang penuh kedambaan. Melihat Ricky yang seperti itu, Lika tiba-tiba menjadi lemah.
"Hmm...baiklah aku akan menyuapimu...sekarang buka mulutmu..."
************
Hi Readers ....promo karyaku terbaru ya, yang berjudul :
__ADS_1
"Cinta Selembut Awan"
Ditunggu Like, vote and share nya...🙏👌🤗🤗❤️