Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Selamat Tinggal Nando


__ADS_3

Malam itu dengan tangan gemetar, Ricky memencet sebuah nomor telepon yang di berikan Martin padanya, nada sambung mulai terdengar, jantung Ricky pun mulai bergemuruh.


"Halo Martin..."


"Halo Ricky...ada kabar apa?"


"Nando....dia sudah mau ikut denganmu...."


"Ah..syukurlah, besok pagi aku akan menjemputnya..."


"Martin...aku mohon kau jaga baik-baik Nando...dia...dia...sangat berharga untukku..." Ucap Ricky lirih. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Ya Ricky...aku mengerti perasaanmu...jangan khawatir....aku akan menyayangi dia dengan sepenuh hatiku..." Jawab Martin.


"Baiklah...aku mempercayaimu..."


Saat telepon di tutup, Ricky menangis dan bersimpuh di bawah meja telepon, entah mengapa hatinya begitu hancur, dia akan kehilangan Nando, Lika yang sejak tadi ada di belakangnya memeluk tubuh suaminya itu sambil mengusap air matanya.


"Pa...jangan seperti ini...kasihan Nando...kita harus ikhlas..." Ucap Lika.


"Sayang....ini lebih sakit dari pada aku kehilangan harta...aku...aku sangat menyayangi Nando..." Ricky kelihatan begitu rapuh.


"Sabar Pa...aku paham...aku pun turut merasakan itu...." Ucap Lika.


Nenek dan Lia, juga Mbok Narti masih berdiri terpaku di tempatnya, mereka juga sangat merasa kehilangan. Nenek sedari tadi sudah mengusap air matanya yang terus berjatuhan, Lia mengusap punggung neneknya itu.


"Papa...Ibu...malam ini aku mau tidur dengan kalian...boleh kan?" Tanya Nando tiba-tiba. Lika langsung menoleh kearah nando dan menghampiri anak itu.


"Tentu sayang...tidurlah bersama kami...sama Given juga...." Jawab Lika sambil membelai lembut rambut Nando.


"Aku juga Bu...!" Seru Kezia tiba-tiba.


"Ya...malam ini kita akan tidur bersama-sama ya....Nando...apa Nando sudah siap pergi dengan Ayah Martin besok?" Tanya Lika. Nando menganggukkan kepalanya mantap.


"Siap Bu...biar bagaimana...dia adalah ayahku...kata ibu, anak yang baik itu harus berbakti sama orang tuanya..." Ucap Nando.


"Bagus...anak Ibu sudah besar...Nando pintar membuat keputusan...ibu bangga padamu sayang..." Lika memeluk Nando sambil mengelus kepala anak itu.

__ADS_1


"Itu semua karena Ibu dan Papa yang mendidik ku...." Sahut Nando.


Akhirnya malam itu, mereka tidur bersama dalam satu kamar, Lika membantu Nando membereskan pakaian dan barang-barangnya lalu di masukkan ke dalam koper. Ricky hanya duduk sambil memandang sedih putranya yang besok akan pergi itu, hatinya benar-benar tidak sanggup. Ini lebih perih dari pada di selingkuhi.


"Nando...pokoknya Nando harus sering-sering telepon kakak....kalau tidak...kakak akan benar-benar marah padamu..." Celetuk Kezia.


"Iya Kak..." Sahut Nando.


"Nanti Ibu dan Papa akan sering-sering menjenguk mu sayang..." Kata Lika.


"Ibu...lalu bagaimana dengan sekolahku?" Tanya Nando.


"Nanti ibu bicarakan hal ini sama ayahmu ya...besok kan hari Sabtu...untuk urusan sekolah, biar ibu yang urus...lagi pula sebentar lagi kenaikan kelas..." Jelas Lika. Nando menganggukkan kepalanya.


"Ibu...aku mau tidur di samping Ibu dan Papa..." Kata Nando.


"Iya sayang...ayo kita tidur sekarang...hari sudah larut malam...Ibu akan peluk dan belai rambut Nando....Nando tidur yang nyenyak ya..." Lika mulai mengusap rambut Nando yang berbaring di sampingnya.


"Papa...." Panggil Nando. Ricky menoleh sekilas, tidak berani memandang wajah nando.


"Terima kasih ya...sudah rawat dan urus aku dari kecil....Papa Ricky adalah Papa yang paling baik..." Ucap Nando. Ricky terenyuh tak dapat berkata apapun. Dia hanya memeluk Nando dalam tidur dengan erat.


"Kalau Papa sudah tua nanti...aku akan mengurus papa...juga ibu..."


"Iya sayang...." lirih Ricky.


"Aku juga akan mengurus ayah Martin...."


"Iya sayang...." Lika diam-diam menangis di balik selimutnya.


Malam itu terasa panjang untuk mereka lewati, hingga akhirnya sang fajar muncul dari tempat peraduannya.


Martin sudah sedari tadi menjemput Nando di bawah, wajah laki-laki itu nampak berbinar. Lika dan Ricky, juga Kezia menuntun Nando turun dari lantai atas, mereka saling menatap dengan perasaan yang sulit untuk di gambarkan.


Melihat Nando yang sudah turun ke bawah, Martin langsung mendekatinya, kemudian dia segera memeluk anak itu, nando juga memeluk Martin, mereka saling berpelukan dan bertangisan.


"Nando...maafin ayah ya...ayah bersalah sama Nando...sekarang ijinkan ayah menebus semua kesalahan ayah....ayah akan menjaga dan menyayangi Nando dengan sepenuh hati...hanya kita sayang..." Ucap Martin sambil menangis.

__ADS_1


"Iya Ayah..." Sahut Nando singkat.


"Seandainya Mama mu masih ada...kita juga akan hidup bersama..." Tambah Martin. Nando mengurai pelukannya pada Martin, dia menoleh ke belakang ke arah Lika dan Ricky yang menatapnya sendu.


"Papa...Ibu...terima kasih...jangan sedih lagi....aku akan sedih kalau Papa dan Ibu berat melepaskan aku...aku akan baik-baik saja dengan Ayah Martin...." Ucap Nando. Mereka akhirnya saling berpelukan.


"Nando...ingatlah...kamu selalu menjadi kesayangan di sini...rumah ini adalah rumah Nando juga...keluarga ini adalah keluarga Nando...." Kata Ricky yang terlihat mulai tegar.


"Iya Papa..." Jawab Nando.


Mereka kemudian mengantar Nando sampai di garasi depan, Nenek dan Mbok Narti tak berhenti meneteskan air matanya. Di situ juga ada Burhan yang hanya bisa menatap momen itu dengan pandangan haru.


"Martin...jaga anakku baik-baik...berikan padaku videonya setiap hari....ingat, sampai membuatnya sedih atau menderita...ke ujung bumi manapun akan ku kejar kau...!" Ujar Ricky.


"Kau tenang saja Ricky ...aku akan sering membawanya kemari....Nando nanti akan tinggal bersamaku di Jakarta...tidak jauh kan..." Jawab Martin.


"Tetap saja...itu jauh bagiku..." Keluh Ricky.


"Pak Martin...sebentar lagi Nando akan kenaikan kelas, jadi mohon kau tinggal dulu di Jogja selama beberapa bulan saja..." Usul Lika.


"Baik...akan ku pertimbangkan...nanti aku akan mengabari kalian....pokoknya kalian tenang saja..." Martin mulai menaiki mobilnya. Lika membantu Nando membukakan pintu mobil di bagian depan.


"Pak Martin...secepatnya aku akan mencari tau keberadaan Mbak Sarah...nanti aku akan segera mengabari mu...!" Seru Lika sebelum Martin menyalakan mesin mobilnya.


"Terima kasih Bu Lika...kau banyak membantuku...aku tunggu informasi darimu...aku sangat ingin tau kabarnya saat ini, baik hidup atau mati ..." Jawab Martin. Kemudian dia mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Nandoo....jangan lupain kakak ya....kakak sayang sama Nando...!" Teriak Kezia sambil menangis.


"Iya Kak...kakak Tenang saja...!" Sahut Nando dari dalam mobil yang mulai bergerak meninggalkan rumah itu.


Nenek yang tidak tahan melihat pemandangan itu menangis sesenggukan, Lia berusaha menenangkannya.


"Nandooo!!!!" Jerit Lika saat mobil yang di tumpangi Martin dan Nando perlahan menghilang di balik tikungan jalan raya. wanita ini baru mulai menangis. Ricky merengkuh bahu Lika dan memeluknya dengan erat.


"Selamat Tinggal Nando...." Ucap Ricky lirih.


**************

__ADS_1


__ADS_2