Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Kemunculan Pak Andi


__ADS_3

Lika membersihkan dan menyeka tubuh Ricky, seperti yang lalu, Ricky tetap tak bergeming dalam tidur panjangnya, semua selang masih terpasang di tubuhnya, hati Lika begitu perih setiap kali menyeka tubuh suaminya itu, yang sama sekali tidak merespon setiap sentuhannya.


"Lihatlah Mbok...suamiku nampak seperti mayat hidup...entah kapan dia akan sadar...padahal sebentar lagi bayinya akan lahir..." Keluh Lika sambil terus menyeka wajah dan tubuh Ricky, kemudian dia memberikan bedak bayi di sekujur tubuh suaminya itu untuk memberi rasa nyaman, membalurkan minyak kayu putih di tiap bagian tubuhnya. Kemudian Lika menutupi tubuh Ricky dengan selimut.


"Yang sabar ya mbak...ini cobaan dari yang kuasa...mbok Narti juga sedih melihat kalian seperti ini...tapi mbak Lika tenang saja....mbok Narti akan selalu menemani mbak Lika menjaga Bapak..." Ucap Mbok Narti sambil mengelus pelan punggung Lika.


"Trimakasih Mbok..." Sahut Lika lirih.


Tok...tok...tok...


Suara pintu di ketuk, Mbok Narti bergegas membukakan pintu, nampak seorang perawat dan seorang pria yang berusia kira-kira 40 tahun.


"Ini ada yang mau bertemu dengan Ibu Lika..." Kata Suster, kemudian Suster segera keluar meninggalkan ruangan itu.


"Selamat Pagi Ibu Malika...perkenalkan, saya Andi....asisten Pak Ricky..." Kata pria itu sambil mengulurkan tangannya. Lalu mereka berjabat tangan.


"Oh...ya...ya..suamiku pernah menceritakan tentang anda Pak Andi...silahkan duduk..." Lika menunjuk ke arah sofa yang ada di sudut ruangan.


"Terimakasih...saya turut prihatin atas musibah yang menimpa Pak Ricky..." Ucap Pak Andi.


"Iya Pak....sampai saat ini saya juga belum tau apa yang menyebabkan suami saya kecelakaan, sekarang saya hanya fokus pada kesembuhannya dulu..." Kata Lika. Mbok Narti kemudian datang membawa dua botol air mineral.


"Maksud kedatangan saya kesini, selain untuk menjenguk Pak Ricky juga mau menyampaikan beberapa hal mengenai proyek pak Ricky kepada Bu Lika selaku istrinya..." Kata Pak Andi.


"Oh...iya Pak...bagaimana mengenai proyek suami saya di Jogja?"


"Untuk proyek yang di Jogja berjalan dengan lancar Bu...rumah inden sudah banyak yang terbangun, gedung sekolah juga sudah rampung....tahun ajaran baru sudah bisa di mulai untuk membuka pendaftaran siswa baru dan merekrut para guru...saya sendiri yang dipercayakan pak Ricky untuk menangani proyek di Jogja..." Jelas Pak Andi.


"Syukurlah kalau begitu...saya mohon Pak Andi mengawasi proyek tersebut, karena waktu saya tersita untuk mengurus suami saya, di tambah sebentar lagi mungkin saya akan melahirkan..." Ujar Lika.


"Tentu saja Bu...tidak usah kuatir, Pak Ricky memang mempercayakan saya untuk mengelola proyeknya di Jogja...hanya saja..."


"Ada apa Pak Andi?" Tanya Lika cemas.


"Untuk proyek yang di Jakarta...saya baru saja mendapat informasi, kalau proyek di sana mengalami banyak kendala...di tambah lagi kondisi pak Ricky yang saat ini tidak sadar...kami membutuhkan tanda tangan beliau..." Jelas Pak Andi. Lika nampak berpikir.


"Kendala yang seperti apa Pak?"


"Salah satu lokasi pemukiman kumuh yang akan di bangun apartemen...ada beberapa keluarga yang menolak menandatangani pembebasan lahan...bahkan diantara mereka ada yang melakukan demo, padahal pembangunan apartemen itu adalah untuk membantu mereka keluar dari kondisi mereka saat ini...pak Ricky merencanakan akan membuat apartemen khusus untuk warga yang tinggal di lokasi pemukiman kumuh itu...tapi banyak warga yang salah mengerti..." Tambah Pak Andi.

__ADS_1


"Jadi...apa yang bisa saya bantu Pak? Saya hanya seorang guru...saya kurang paham masalah begituan..." Ujar Lika.


"Kalau Bu Lika tidak segera turun tangan, maka proyek tersebut akan si ambil alih oleh rival pak Ricky...yang memang telah lama mengincar lahan tersebut...tapi bukan untuk di jadikan apartemen, melainkan sebuah mall..." Jelas Pak Andi.


"Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu berjalannya proyek itu Pak??" Tanya Lika.


"Bu Lika ikut saya ke Jakarta, bagaimana caranya untuk minta persetujuan warga mengenai pembangunan apartemen, sekaligus menandatangani surat ijin mendirikan bangunan dan kerjasama terhadap kontraktor..." Tambah Pak Andi.


"Aduh Pak...saya jadi tambah pusing...saya tidak mungkin meninggalkan suami saya sendirian di sini..." Jawab Lika.


"Kalau itu memang hal yang penting...mbok Narti saja yang menjaga Bapak...tapi .. mbak Lika kan sedang hamil...ya terserah hati nurani mbak Lika saja..." Ujar mbok Narti yang tiba-tiba membuka suaranya.


"Hmm....baiklah Pak Andi, saya akan ikut Bapak ke Jakarta...pagi ini berangkat, sore saya sudah harus kembali...bagaimana?"


"Baik Bu...saya sudah memesan dua tiket penerbangan pagi ini jam 9...."


"Oke...Pak Andi tunggulah di luar, saya akan bersiap-siap dulu..."


"Baik..." Pak Andi segera bergegas keluar meninggalkan ruangan itu.


"Papa sayang... aku pergi sebentar ya.. demi menyelamatkan proyekmu di Jakarta...aku akan cepat kembali..." Bisik Lika sambil mengecup kening suaminya itu. Kemudian dia segera keluar ruangan.


*********


Penerbangan dari Semarang ke Jakarta memang sangat cepat, tak berapa lama Lika sudah sampai di Jakarta. Pak Andi langsung membawa Lika ke lokasi yang dimaksud, sebuah pemukiman kumuh yang tersambung ke bantaran kali, yang hampir setiap tahun mengalami banjir.


"Pak Andi...untuk warga yang mendemo dan tidak setuju tanda tangan pembebasan lahan, bisa tidak di kumpulkan di lapangan?" Kata Lika saat mereka tiba di Lokasi.


"Bisa Bu...anak buah pak Ricky yang lain sudah mengatur hal itu..."


"Bagus..."


"Jikalau ibu mau berbicara dengan mereka, kami juga sudah menyiapkan pengeras suara..."


"Hmm....baiklah..."


Siang itu beberapa warga sudah berkerumun, mereka bersuara riuh menyuarakan ketidaksetujuan atas di bangunnya apartemen, Lika menciut, sebenarnya dalam hati dia takut, apalagi dia tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Beberapa anak buah Ricky sudah membagikan makanan dan air mineral atas perintah Lika.


"Ehm...selamat siang bapak dan ibu...saya Lika....saya istri dari Pak Ricky pemilik proyek apartemen yang akan di bangun di tempat ini..."

__ADS_1


"Huuuu.....huuuu...." Suara riuh orang-orang yang menyorakinya.


"Kalian merampas hak kami....!!" Teriak salah satu warga.


"Kalian pikir uang dari mana untuk menyewa apartemen?? Orang kaya hanya ingin meraup keuntungan dari rakyak kecil...!!!!" Jerit seorang ibu.


"Bapak-bapak dan ibu-ibu....apa yang menyebabkan kemiskinan bertambah pesat di negri ini?? Karena minim pengetahuan!! Dari mana orang dapat pengetahuan?? Dari sekolah!! Apakah kalian tidak merasa beruntung ? Selain hidup layak, tidak diremehkan orang, anak-anak bisa bersekolah setinggi mungkin...bisa mengangkat perekonomian keluarga....apa kalian tidak bangga??"


"Sekolah?? Sekolah negri sangat padat, swasta mahal....kami tidak mampu!! Jangan berikan kami impian palsu!!!" Teriak salah satu bapak.


"Bapak dan ibu sendiri yang menentukan impian itu palsu atau tidak...selain di bangun apartemen untuk tempat kalian yang bergengsi, di tempat ini juga akan di bangun sekolah untuk anak-anak kalian... kalian hanya cukup bayar listrik dan sewa saja....sekolah gratis!! Buku gratis!! Seragam gratiss!! Apa kalian tidak kasihan melihat generasi kalian, anak cucu kalian tiap tahun berkubang dalam banjir dan kemiskinan....sehingga hidup kalian jadi mulia di mata orang lain...saya adalah seorang guru...saya tau setiap orang berhak punya kesempatan untuk meraih pendidikan, selain sekolah formal, di sini akan ada sekolah non formal untuk paket A, B, Dan C....jadi....tahun-tahun kedepan tidak ada lagi yang namanya pengangguran atau anak jalanan...tapi semua saya kembalikan kepada kalian...hidup adalah pilihan....terimakasih..." Lika menyudahi pembicaraannya, kerongkongannya terasa kering, setelah duduk, pak Andi langsung menyodorkan sebotol air mineral, Lika langsung meneguknya habis.


"Pak Andi....berkas mana lagi yang harus saya tanda tangani? Sore ini saya harus kembali ke Semarang..." Ujar Lika. Wajahnya nampak lelah.


"Saya sudah memesan tiket untuk ibu di jam 4 sore, nanti saya yg akan mengantar ibu ke bandara...Oya, ini berkas-berkas yang harus ibu tanda tangani mewakili pak Ricky..." Pak Andi menyodorkan beberapa bundel kertas. Dengan cepat Lika segera menandatanganinya.


"Sudah selesai..." Ujar Lika.


"Oya Bu...sepertinya rencana membangun sekolah formal dan non formal tidak ada dalam proposal..." Kata Pak Andi.


"Ada pak...tinggal di tambahkan saja...kita juga harus memikirkan mereka dalam aspek sosial...orang-orang seperti mereka membutuhkan itu...bukan hanya tempat tinggal..." Jelas Lika.


"Tidak menyangka ide Bu Lika sangat masuk ke mereka..." Puji Pak Andi.


"Sebenarnya saya juga takut pak...saya hanya bicara berdasarkan pengalaman sebagai guru..." Kata Lika merendah.


Tiba-tiba, salah satu dari anak buah Ricky mendekati mereka.


"Pak Andi...Bu Lika...mereka semua mau menandatangani surat pembebasan lahan...bahkan mereka sudah mendaftarkan anak-anak mereka kesekolah yang belum di bangun..." Serunya antusias.


"Benarkah?" Tanya Pak Andi tak percaya.


"Betul Pak...masa saya bohong..." Sahut anak buah itu.


"Pak Andi....prioritas utama adalah membangun sekolah dulu....setelah itu apartemen atau serentak juga tidak apa-apa kalau kontraktornya sanggup..." Senyum Lika.


"Bu Lika....terimakasih atas bantuannya..." Ucap Pak Andi sambil menjabat tangan Lika.


*************

__ADS_1


__ADS_2