Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
[POV Ricky] Ibu Guru yang Manis


__ADS_3

Proyek perumahan baru di Bandung yang di tangani oleh Bayu membuahkan hasil, pembangunan sudah mulai di laksanakan, perijinan sudah keluar dan brosur sudah mulai disebarkan.


Aku lega mendengarnya, setidaknya aku bisa fokus di proyek yang ada di daerah lain.


Sudah satu Minggu lebih tidak ada panggilan dari Sekolah, biasanya hampir tiap Minggu ada saja panggilan mengenai kasus anak-anakku, entah yang pelajarannya terlambat, pakaiannya tidak rapi atau perkelahian dengan teman. Kezia dan Nando nampaknya begitu enjoy sejak mereka naik kelas.


Apalagi Nando, entah mengapa akhir-akhir ini dia sering bercerita tentang guru barunya yang perhatian, yang baik, yang sabar, entah apa lagi celotehannya yang hampir setiap hari aku dengar.


Dalam hati aku bersyukur juga Nando bisa berubah jadi lebih ceria dan percaya diri.


Siang itu, saat aku menjemput anak-anak di sekolah, ternyata hanya Nando yang menungguku, padahal wanti-wanti selalu aku ingatkan, mereka harus menungguku bersama-sama.


"Di mana kakakmu??" Tanyaku pada Nando yang duduk sendirian menungguku di lobby sekolah.


"Tidak tau Pa...kata satpam kakak pulang duluan..." Sahut Nando.


"Pulang duluan? Kok bisa pulang duluan?" Tanyaku khawatir. Nando hanya menggelengkan kepalanya.


Aku menarik tangan Nando keluar dari lobby, langsung menuju pos security untuk menanyakan Kezia.


"Pak....tadi katanya Kezia pulang duluan? Pulang sama siapa?" Tanyaku pada seorang security.


"Oh...tadi di antar sama Bu Lika Pak..." Jawabnya.


"Bu Lika?"


"Itu ibu guru aku Pa...!" Celetuk Nando.


Aku langsung mengajak Nando naik ke mobil dan aku lajukan mobilku dengan cepat menuju kerumah.


Benar saja, di depan rumahku sudah terparkir sebuah motor yang ku duga milik ibu guru itu, aku mulai geram, enak saja dia mengantar Kezia pulang tanpa seijinku.


Aku langsung masuk kedalam rumahku dengan wajah tegang, baru kali ini ada orang yang berani-beraninya masuk ke dalam rumahku tanpa seijinku.

__ADS_1


Saat aku masuk kedalam rumah, Kezia nampak sedang berbincang dengan ibu Guru itu, melihat kedatanganku dia langsung berdiri, dan Nando melepas pegangan tanganku dan berlari kearahnya.


Mataku langsung menatap tajam ke arahnya. Namun, kenapa aku melihat sepasang mata itu begitu teduh? Penampilannya sederhana, namun wajahnya begitu manis, kulitnya berwarna coklat, sangat berbeda jenis denganku.


"Selamat siang Pak...mohon maaf, tadi saya mengantar Kezia pulang lebih awal karena... dia baru dapat datang bulan..." Ucapnya lembut, aku sedikit tertegun namun ku tepis semuanya itu.


"Iya, trima kasih Bu guru..." Sahutku datar.


"Maaf Pak...apakah bapak tidak berniat untuk mencari seorang pembantu? Atau pengasuh? Kelihatannya anak-anak membutuhkannya Pak...mohon di pertimbangkan..." Kata Bu Guru itu.


Berani-beraninya dia berkata seperti itu padaku, dia pikir dia siapa bisa mengatur hidupku seenaknya.


"Aku rasa tidak perlu, mereka anak-anakku, aku yang akan menjaga dan mengawasi mereka...mereka adalah tanggung jawabku!" Sahutku ketus.


"Tapi kan Bapak tidak tau bagaimana mereka di sekolah, terutama Nando...dia sangat ketinggalan sekali pak...apakah bapak tidak mau mencarikan guru les buat mereka?" Sergahnya tak mau kalah.


Benar-benar berani guru baru itu, belum pernah ada orang yang berani menyanggah ku begitu, dia pikir dia lebih pintar dalam mendidik anak, padahal punya anak saja belum pernah.


"Maaf, sepertinya Bu guru sudah terlalu dalam ikut campur dengan keluargaku...kalau tidak ada lagi kepentingan sebaiknya ibu pulang, aku mau mengajak anak-anakku makan di luar...ayo Kezia, Nando, siap-siap kalian!"


Setelah aku keluar dari kamar dan berganti pakaian, ibu guru itu sudah pergi, baguslah...sudah tidak ada lagi orang yang sok ngatur itu.


Sepanjang perjalanan wajah kedua anakku sangat masam, mereka tidak berbicara sedikitpun, padahal biasanya sangat cerewet mereka.


"Papa jahat!!" Seru Kezia tiba-tiba.


"Lho...kenapa? Kok Kezia bilang begitu?" Tanyaku.


"Papa kenapa begitu sama ibu Lika? Padahal dia sudah membantu aku saat aku bingung kenapa aku bisa...berdarah..." Kezia menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Aku langsung menghentikan mobilku, aku tersadar saat ini Kezia pasti malu terhadapku, karena dia baru dapat haid, ku akui dia butuh sosok wanita yang mengerti tentang itu.


Lagi-lagi aku gagal menjadi Papa yang baik, aku turun dari mobil dan membuka pintu samping tepat di mana Kezia duduk, aku langsung memeluk anakku dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan Papa...maaf...Papa kurang memperhatikan pertumbuhan mu...anak Papa sudah beranjak remaja..." Ucapku lembut. Kezia masih nampak menangis.


"Papa jangan galak-galak dong sama ibu guru...aku kan sudah diajarin membaca...!" Cetus Nando tiba-tiba.


Aku menoleh ke arah Nando, ku elus kepalanya dengan lembut.


"Iya deh...Papa janji tidak akan galak lagi...tapi kalian jangan sedih begini...nanti Papa jadi ikut sedih..." Ucapku.


Memang keterlaluan guru baru itu, dia sudah merebut hati anak-anakku. Kini anak-anakku malah menyalahkan aku. Dia harus bertanggung jawab.


Aku kembali melajukan mobilku, sebelum kami makan siang, aku mampir ke minimarket, aku membelikan Kezia beberapa mini set dan pembalut. Ah, anakku memang sudah beranjak remaja.


"Kezia...kau pakailah ini...Papa tidak mengerti ukurannya atau modelnya...kau boleh tanya pada ibu guru mengenai ini...maafin Papa ya Nak..." Kezia Menganggukan kepalanya.


"Pa...kapan kita makan? Aku sudah lapar!" Seru Nando.


"Sabar Nak sebentar lagi..." Sahutku sambil kembali melajukan mobilku.


**********


kini sudah satu bulan aku tidak lagi mendapat surat panggilan dari sekolah, apakah prestasi anak-anakku sudah meningkat?


Aku hanya mendapat catatan kecil di buku agenda Nando, bahwa Nando ada remedial pelajaran bahasa Inggris. Biasanya dia sangat ribut jika ada remedial, tapi kenapa sekarang dia tenang-tenang saja? Aku makin heran di buatnya.


Akhirnya saat aku pulang cepat, aku melihat motor milik guru itu terparkir di depan rumahku, aku tau jawabannya.


Jadi tiap sore dia datang kerumahku untuk mengajari anak-anakku, berani sekali dia, padahal setahuku, sekolah tidak memperkenankan guru sekolah mengajar les di luar, kenapa guru itu melanggarnya?


Aku sengaja tidak menanyakan ini pada Kezia dan Nando, aku takut mereka akan kembali menyalahkan aku.


Untuk sementara, aku diamkan saja guru itu mengajar di rumahku, toh anak-anakku juga berubah jadi semangat sejak kehadirannya.


Bu guru manis itu tidak tau, kalau tiap sore aku selalu mengintainya dari jauh, selalu menunggunya sampai dia keluar dari rumahku. Ah, kenapa kini aku jadi punya kebiasaan yang aneh...

__ADS_1


*********


__ADS_2