
Sejak kehadiran Sarah dengan kondisinya yang seperti itu, aku merasa Lika kekasihku berusaha untuk menjauhiku, kecuali urusan anak-anak.
Aku tau dia sudah banyak berkorban, korban waktu, korban tenaga, juga korban perasaan.
Aku seperti terjebak dalam situasi ini, di sisi lain anak-anakku yang masih memandang Sarah sebagai ibu mereka, sehingga aku tidak bisa begitu saja meninggalkannya, namun di lain Sisi, aku sudah menjalin hubungan dengan Lika, yang kini telah menjadi kekasih hatiku dan aku sangat mencintainya.
Saat hatiku begitu galau dan dilema, Lika datang menyejukkan hatiku dengan perkataannya yang lembut.
Sepertinya Sarah begitu mengharapkan aku kembali padanya, itu tidak mungkin, walaupun dengan alasan anak-anak. Dalam hatiku sudah tidak ada lagi cinta untuknya.
Mungkin Lika tau Sarah megharapkan diriku kembali padanya, makanya beberapa kali dia membujukku untuk rujuk dengan Sarah, hal yang paling tidak mungkin aku lakukan, dulu dengan seenaknya dia meninggalkan kami, sekarang saat dia terpuruk dia mau kembali padaku. Tidak!
Hari itu, hari di mana Sarah menjalani operasi pengangkatan rahim, Lika juga ikut menunggunya. Entah mengapa hati ini tidak ingin jauh darinya.
Aku memintanya untuk tidur di pangkuannya, aku ingin di sayang dan di belai, menunjukkan padanya kalau di dalam hati ini hanya ada namanya seorang, dan hanya dia satu-satunya yang kucintai saat ini.
Lika melakukan apa yang aku pinta, dia membelai rambutku saat aku berbaring di pangkuannya, bahkan dia menelusuri setiap lekuk wajahku dengan jemarinya, seakan mengagumi ketampanan ku. Hatiku nyaman dan menghangat, dia kelihatan sangat mencintaiku.
Namun ternyata, itu adalah belaian yang terakhir, firasat ku kuat, sepertinya dia akan pergi meninggalkan aku dan anak-anak. Aku mencoba menepis firasat buruk itu. Tidak sanggup rasanya jika aku harus kehilangan dia, orang yang benar-benar aku cintai dan aku yakin juga mencintaiku.
Setelah operasi Sarah berhasil, Lika mendekatiku dan memintaku untuk mebawanya pulang ke rumahku, karena dia yakin Sarah akan sembuh, dan anak-anak pasti akan senang.
"Tidak...dia bukan siapa-siapa aku..." Kilahku berusaha menolak permintaannya.
"Kau lupa? Dia Mama dari anak-anakmu...belajarlah untuk menerimanya kembali Pak..." Ujar Lika berusaha meyakinkan aku.
"Aku tidak bisa..."
"Harus Bisa...kau harapan Mbak Sarah saat ini..." Lika melepaskan genggaman tanganku.
"Lika..."
Aku berusaha menahannya, sungguh aku sangat takut kehilangannya, namun saat Lika mendorongku mendekati Sarah, Sarah mulai membuka matanya. Aku bertekad besok aku akan menemuinya, keputusanku sudah bulat, aku akan memulangkan Sarah pada orang tuanya dan cepat menikahi Lika.
Sarah memohon padaku untuk tinggal denganku dan anak-anak, dia ingin kembali padaku. Aku sudah mengatakan pada Sarah, di hatiku sudah tidak ada lagi dirinya, namun sepertinya dia tidak perduli perasaanku, dia hanya perduli dirinya sendiri.
__ADS_1
Sarah telah membuat aku dan Lika terluka, karena kehadirannya yang seperti duri dalam daging dalam hubunganku dengan guru manisku itu
Malam itu, aku menitipkan Sarah pada Mbok Narti, seorang asisten rumah tangga pilihan Lika, untuk menjaga Sarah. Aku tidak sanggup terus menerus berhadapan dengan Sarah yang menurutku sangat egois.
Sarah menangis saat aku akan meninggalkannya dengan anak-anak. Namun aku tidak perduli, aku sudah cukup berkorban banyak selama ini.
**********
Pagi itu aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku mau memasak nasi goreng untuk anak-anakku juga untuk Lika kekasihku, hari ini aku berniat akan kerumahnya, meminta restu Nenek dan melamar gadis pujaan ku itu.
Anak-anak juga terlihat antusias, aku merasa mereka menyayangi gurunya lebih dari sekedar murid ke guru, namun sayang anak terhadap ibunya, anak-anakku sudah mulai menganggap Lika sebagai ibu mereka.
Dengan penuh semangat ku lakukan mobilku menuju ke rumahnya.
Rumah itu kelihatan sangat sepi, aku memarkirkan mobilku dan mulai masuk ke halaman rumah itu, suasana sangat sepi, aku buka pintu depan, pintu itu tidak terkunci.
Alangkah terkejutnya aku saat melihat rumah itu, semuanya kosong, hanya barang-barang besar yang masih tertinggal, bahkan motor Lika juga sudah tidak ada lagi.
Aku memanggil namanya keras, aku belum siap kehilangan dia, aku merasa separuh jiwaku pergi bersamanya. Aku lemas tanpa tenaga. Lika kekasihku meninggalkan aku.
"Papa....di mana Bu Lika?" Tanya Nando.
Aku tak sanggup menjawab pertanyaannya. Hatiku benar-benar hancur.
"Papa...kenapa rumah ini jadi kosong? Bu Lika pergi kemana?" Tanya Kezia yang juga ikut menangis.
"Ayo kita cari Bu Lika Pa...." Rajuk Kezia.
Aku paham anak-anakku sangat sayang padanya, mereka sama seperti aku yang kehilangan sosoknya, namun semua sudah terlambat, kekasihku sudah pergi entah kemana, kedua kali aku di tinggal pergi oleh wanita.
Namun yang aku yakin, Lika meninggalkan aku bukan karena pria lain, dia hanya mengorbankan dirinya dan cintanya yang mendalam terhadapku. Tapi dia tidak sadar, dengan kepergiannya malah membuat aku dan anak-anakku terluka.
"Ayo cari Bu Lika Pa ...katanya Papa sayang sama Bu Lika..." Cetus Kezia sambil menarik tanganku agar aku segera bangkit.
"Papa sayang sama Bu Lika, Papa mencintai Bu Lika....tapi....Papa tau saat ini Bu Lika sedang ingin jauh dari kita..." Ucapku sambil mengusap mataku.
__ADS_1
Akhirnya aku kembali kerumah dengan perasaan yang hancur, apa artinya hidup ini tanpa kehadiran guru manis itu?
Di depan gerbang, aku melihat ada motor Bayu yang terparkir, tumben sekali dia datang kerumahku, biasanya dia hanya bekerja di lapangan atau memantau proyek saja.
"Siang Pak Ricky...ternyata Pak Ricky baru pulang...ku pikir ada di rumah..." Sapa Bayu.
"Ada apa kau mencariku?" Tanyaku datar padanya. Aku tidak ingin kesedihanku diketahui olehnya.
"Aku mau mengembalikan kunci rumah ini, seseorang telah memulangkannya kemarin...katanya kau meminjamkan rumahmu....kau baik sekali Pak Ricky...bahkan orang yang tak punya rumah kau rela meminjamkannya..." Seloroh Bayu.
"Tutup mulutmu!!" Seruku sambil mengambil serangkai kunci rumah itu dari tangan Bayu.
Bayu menatapku heran, mungkin saat itu aku sedang emosi. Akhirnya dia pamit pulang meninggalkan aku.
Seharian itu aku tidak nafsu makan, aku mengurung diri di kamar. Anak-anak aku serahkan pada Mbok Narti yang baru pulang dari rumah sakit, aku memintanya untuk mengurus anak-anakku.
Di kamar aku hanya merenung dan menangis, mungkin aku adalah pria yang cengeng, cengeng karena telah kehilangan cinta, kehilangan kekasih.
Sampai malam hari aku tidak kunjung keluar kamar, aku menolak setiap kali Mbok Narti membawakan aku makanan, aku memang tidak mengunci pintu kamarku, supaya anak-anakku tidak mengkhawatirkan aku.
Malam itu sudah larut, anak-anak mungkin sudah tidur, aku masih belum dapat memejamkan mataku, bayangan Lika seolah menguasai hati dan pikiranku.
Ku dengar ada suara langkah kaki, aku menoleh, ternyata Mbok Narti datang dengan membawa segelas susu hangat.
Susu hangat? Selama ini hanya Lika yang selalu memberikan aku susu hangat saat aku tidak nyaman.
"Susu hangatnya di minum dulu Pak...supaya Bapak tenang..." Ucap Mbok Narti. Persis seperti perkataan Lika.
"Mbok...katakan siapa yang menyuruhmu membuat susu hangat untukku?" Tanyaku.
"Tidak ada Pak...saya membuatnya sendiri..." Jawab Mbok Narti. Aku menarik nafas kecewa.
Setelah Mbok Narti keluar dari kamarku, aku langsung mengambil susu hangat itu dan meneguknya sampai habis.
**********
__ADS_1