Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Minggu


__ADS_3

Jam pulang kantor aku berdiri di lobi bersama David. Kami menunggu Sesil dan Kalila untuk karaokean sesuai janjiku tadi pagi. Sekitar dua menit kemudian Sesil datang dengan Kalila di belakangnya.


Dalam hati kembali aku bersorak.


"Vid, kamu boncengin aku ya," pinta Sesil. Aku girang banget sama sikap Sesil. Bisa aja dia bikin aku sama Kalila berduaan.


David manggut-manggut setuju dan Kalila mengekor di belakangku yang melangkah ke parkiran.


Meski jarak kantor dan tempat karaokean nggak terlalu jauh, aku sangat menikmati moment berdua Kalila dengan jarak sedekat ini. Rem dikit nempel. Rem dikit nempel. *****. Berasa menang banyak. Selow, pembaca. Ini cuma naluri lelaki terhadap cewek yang ditaksir aja kok. hehehe


Nggak berapa lama kami sudah sampai di parkiran depan gedung karaoke. Kalila langsung turun. Aku membantunya melepas kaitan helm ketika kulihat dia kesulitan meski awalnya dia agak terkejut.


"Makasih, Kie," katanya lembut.


Aku meleleh lagi.


David menepuk pundakku. "Bengong aja, Kie. Ayo masuk," ajaknya ketika aku terdiam memandangi punggung Kalila.


Sebucin ini aku!


Setelah menyerahkan tiket dan membayar biaya satu jam agar tiket gratisnya dapat digunakan, kami masuk ke room yang telah ditentukan.


"Jadi koro-koronya tiga jam, nih?" tanya Sesil ke mbak-mbak yang melayani kami.


Si mbak menjawab, "Iya." Kemudian menyerahkan beberapa menu makanan dan minuman sebelum dia pergi.


Sesil buru-buru mengambil posisi diujung sofa dan disusul Kalila. Sebelum David sempat duduk di samping Kalila, aku buru-buru duduk di sana mendahuluinya. Kemudian kutampilkan senyum manis ke arah David yang melihat tingkahku dengan wajah heran.


Bodo amat!


Setengah jam pertama mikrofon dipegang oleh Sesil yang berduet dengan David. Kemudian Sesil istirahat dan mikrofon diberikan kepada Kalila.

__ADS_1


Aku berdiam dan hanya mendengarkan ketika Kalila bernyanyi sendiri. Juga ketika Kalila berduet dengan David. Aku hanya tersenyum melihat Kalila sungguh menikmati ini. Sesuatu yang aku rencanakan.


"Kamu nggak mau nyanyi, Kie?" tanya David seraya menyerahkan mikrofon kepadaku. David meraih minumannya dan menyenderkan kepala seketika.


"Mau lah," jawabku cepat meraih mikrofon yang diulurkan David. Aku sengaja memang nggak mau nyanyi di awal-awal.


Sekarang aku dan Kalila yang memegang mikrofon. "Mau duet?" tanyaku.


Kalila menggeleng. Dia meletakkan mikrofonnya dan meringis penuh penyesalan. "Capek," katanya.


Aku tersenyum miris.


Aku memilih salah satu lagu dan musik mulai mengalun dengan indah.


Cinta mengapa kau sengsara benci ku melihatnya.


Oh oh dia itu siapa bisa membuatmu merana


Oh oh dia itu siapa aku ini lebih baik darinya


Aku menatap Kalila dan tersenyum beberapa detik. Kemudian lanjut,


Jauh dalam hatimu aku tahu


Engkau ingin ada orang yang selalu


Mencinta dan memelukmu setiap waktu


Kalau dia tak mampu pilih saja aku


Dari ekor mata kulirik Kalila tersipu detik itu juga. Wajahnya memerah seketika. Dalam hatiku kembali bersorak. Aku makin bersemangat bernyanyi. Setidaknya ini adalah ungkapan rasa yang selama ini tidak pernah bisa aku ungkapkan karena jarak yang diciptakan Kalila.

__ADS_1


*Cinta apa kau tak bahagia sini denganku saja


Oh oh dia itu siapa aku ini lebih baik darinya


Jauh dalam hatimu aku tahu


Engkau ingin ada orang yang selalu


Mencinta dan memelukmu setiap waktu


Kalau dia tak mampu pilih saja aku*


Entah keberanian dari mana aku memegang tangan Kalila. Gadis itu terkejut dan menatapku beberapa saat.


*Ini hatiku untukmu


Percayalah padaku sayangku


Jauh dalam hatimu aku tahu


Engkau ingin ada orang yang selalu


Mencinta dan memelukmu setiap waktu


Kalau dia tak mampu pilih saja aku*


Musik mengalun pelan dan hilang. Sesil berdecak kagum. Aku masih menggenggam tangan mungil Kalila. Gadis itu masih menunduk malu.


"Kal, aku sayang sama kamu. Mau jadi pacarku, ya," pintaku.


 

__ADS_1


__ADS_2