Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Hari


__ADS_3

Pukul tujuh lewat lima belas menit, aku sudah menunggu di depan gang rumah kontrakan Kalila.


Beberapa kali aku mematut diri di kaca spion motor dan merapikan rambut. Ketika merasa sudah oke aku lantas duduk manis di atas jok motor sambil bersiul. Aku pernah mendengar tentang perasaan yang bahagia bisa membuat segala sesuatunya berjalan dengan lancar.


Kalila keluar lima menit kemudian. Hari ini dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Aku berdehem. Segera melompat turun dan berdiri di samping motor.


"Pagi Kal," sapaku tersenyum.


"Pa-pagi Kie," jawabnya dengan raut heran. "Kamu nunggu siapa?" tanya Kalila seraya menoleh ke belakang seolah di belakang ada orang lain yang tengah aku tunggu.


Aku terkekeh. "Kamu!"


Dia tampak bingung, dan itu membuatnya terlihat menggemaskan. Aku baru tahu ada kakak-kakak yang gemesin kayak ini.


Aku menggangguk. Kusodorkan helm bogo bermotif panda kepadanya. "Yuk," kataku. Lantas memakai helmku sendiri.

__ADS_1


"Ta-tapi, Kie. Aku.... "


"Udah janji mau pergi bareng Sesil?" tanyaku memotong.


Kalila mengangguk samar. Sebenarnya dia tampak nggak yakin dengan hal itu.


"Sesil malah udah nyampe kantor. Aku barusan telepon dia," kataku enteng. "Mungkin dia lupa jemput kamu," sambungku lagi.


Kalila tampak berpikir. Namun akhirnya dia luluh dan naik ke atas motor juga. Seandainya hatinya juga luluh secepat ini.


Di atas motor aku bersiul. Sesekali bernyanyi pelan. Ada rasa bahagia membayangkan Kalila menjadi pacarku. Masih ngebayangin aja udah segininya aku. Apalagi kalau beneran?


Ketika lagu hampir habis dan lampu mulai menyala kuning, aku buru-buru merogoh saku dan mengeluarkan satu lembar uang gocengan untuk kuberikan kepadanya. Adik kecil itu lantas mengucapkan terima kasih kemudian berlari ketika lampu merah menyala dan kendaraan saling menyalakan klakson.


Sesampainya di kantor Kalila berterima kasih setelah menyerahkan helm yang tadi dia kenakan. Tanpa banyak bicara dia masuk ke gedung kantor.

__ADS_1


Aku tersenyum dengan sikapnya. Dalam hati berkata ini hanya sementara. Kalila pasti akan menyukaiku.


Setelah meletakkan motor diparkiran, aku melangkah masuk ke dalam kantor dengan senyum yang mengembang. Dari jauh Sesil memanggil, ketika jarak kami sudah dekat dia mencebikkan bibirnya seraya berkata, "Tanggung jawab kamu, Kalila ngambek sama aku."


Aku terkekeh. "Tenang, aku punya tiket gratis dua jam koro-koro," kataku melambaikan tiket ke depan wajah Sesil yang langsung berbinar detik itu juga.


"Wah, keren!" serunya merebut tiketnya, tapi buru-buru kujauhkan. "Ntar pulang kerja kita pergi ya, Sil. Ajak Kalila juga."


Sesil kembali mencebikkan bibirnya. "Ada maunya memang nih, kampret," ungkapnya kesal.


Aku kembali terkekeh. "Mau nggak? Lagian kan ini usaha, Sil. Masa kamu tega biarin sobat kamu terpuruk terus-menerus kayak gitu," kataku menjelaskan.


Sesil tampak tercenung. "Iya sih," katanya. "Tapi kamu janji nggak bakal mainin Kalila kayak Erga, ya? Awas kalau kamu sama aja kayak abang sepupumu yang brengsek itu," lanjutnya mengancam.


"Sumpah. Aku bakal bahagiain Kalila, Sil. Aku janji." Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Sesil tampak tersenyum lalu berkata, "Aku percaya sama kamu, dasar Bucin."


Kami berdua tertawa. Beberapa orang sampai menatap dengan pandangan aneh kepada kami. Aku lantas buru-buru pamit dan melangkah ke meja kerjaku.


__ADS_2