
Pagi itu dengan gelisah Lika mondar mandir di dalam rumahnya, anak-anak baru selesai sarapan, mereka ribut hendak main diluar, sementara Lika kuatir mengenai pesan misterius itu semalam, Lika takut jika Kezia dan Nando main diluar, akan ada orang yang menculiknya seperti waktu itu. Karena itu dengan sekuat tenaga Lika menjaga anak-anak tetap tinggal dirumahnya.
"Kak...aku pergi ke tempat teman dulu ya...ada tugas kelompok yang harus dikerjakan..." Kata Lia mengagetkan Lika.
"Apa gak bisa kerjain dirumah aja Lia...bantu kakak jaga anak-anak dong..." Pinta Lika memohon.
"Yah gak bisa kak...kita udah janjian soalnya...ini aja aku telat datangnya..." Ujar Lia sambil melirik ke jam tangannya.
"Hmm, ya udah deh...tapi pulangnya jangan lama-lama ya..." Sahut Lika mengalah. Tak berapa lama Lia segera berlalu meninggalkan Lika.
Lika duduk di sofa memandang kepergian adiknya sampai hilang di balik gerbang pagar, tidak berapa lama Kezia dan Nando datang menghampirinya.
"Bu Lika...aku bosen nih di rumah terus...belajar udah, kerjain PR udah, nonton TV udah.. aku pengen jalan-jalan ke luar..." Kata Kezia sambil bergelayut manja pada Lika.
"Iya Bu...Nando juga bosen...ayo dong kita main di luar aja..." Ajak Nando sambil mulai menarik tangan Lika.
"Ayo main sama Bu Lika aja deh di rumah ya...Bu Lika punya mainan bagus lho...pasti kalian belum pernah main..gimana...mau gak?" Tanya Lika mengalihkan kedua anak itu.
"Main apa Bu...?" Kata Kezia penasaran.
"Aku mau aja deh Bu..." Sambung Nando.
"Oke...oke...tunggu sebentar ya...jangan kemana-mana..." Secepat kilat Lika berlari kearah gudang mencari sesuatu. Kemudian tak berapa lama Lika sudah kembali disambut oleh anak-anak.
"Mana Bu mainannya...?" Tanya Kezia antusias. Lalu Lika mengeluarkan sesuatu dari belakang tangannya yang dari tadi dia sembunyikan.
"Ini...." Tunjuk Lika. Kezia dan Nando saling berpandangan heran.
"Itu apaan Bu...?" Tanya Nando.
" Ini namanya.... congklak!'
"Hah...congklak?!" Sahut Keduanya bersamaan.
"Gimana mainnya Bu...ajarin dong..." Ujar Kezia.
__ADS_1
"Oke...yuk duduk dekat sini...perhatikan ya caranya...nanti Kezia dan Nando bisa gantian mainnya." Dengan cekatan Lika mengajarkan kepada mereka bagaimana bermain congklak. Untuk saat ini Lika masih bisa mengalihkan perhatian mereka untuk main di luar.
Lika memberikan banyak aktifitas kepada Kezia dan Nando, dia berusaha agar anak-anak tak mengajaknya ke luar lagi, menjelang siang setelah makan siang, Lika menyuruh anak-anak untuk tidur siang. Setelah anak-anak tidur, Lika menarik nafas lega.
"Ah syukurlah mereka bisa tidur siang...jadi tak ada rengekan sementara untuk bermain di luar..." Gumam Lika.
Lika memencet nomor ponselnya, dia hendak menghubungi Ricky, rasanya hatinya sudah ketar-ketir menghadapi anak-anak itu.
"Halo..."
"Halo pak Ricky...bapak kapan pulang ya..." Tanya Lika tanpa basa basi.
"Lho...ada apa Bu guru? Anak-anak baik-baik saja kan...?" Kata Ricky dengan nada sedikit kuatir.
"Anak-anak baik pak...sekarang mereka lagi tidur siang..." Sahut Lika.
"Oh...syukurlah...aku pulang besok pagi Bu...nanti aku langsung kesana sekalian jemput anak-anak...rasanya sudah kangen dengan mereka..." Ucap Ricky.
"Baiklah pak...aku berharap pak Ricky bisa cepat pulang..." Sahut Lika.
"Bukan begitu pak....tapi sudahlah....aku tunggu besok pagi ya pak..." Ujar Lika, dia tak ingin menceritakan kejadian pesan misterius semalam, takut mengganggu pikiran Ricky, karena Lika tau, segala sesuatu yang menyangkut anak-anaknya pasti Ricky akan cepat emosi.
Lika berpikir, dirinya juga butuh teman untuk mengungkapkan semua kegundahan hatinya, dia mau cerita ke Bu Ina, tapi ragu-ragu. Akhirnya dia memutuskan cerita dengan pak Alan, karena paling tidak pak Alan tau banyak tentang dirinya dan anak-anak, dan Alan juga pintar menjaga rahasia.
Kemudian Lika menulis sebuah pesan di ponselnya, dia meminta Alan untuk datang kerumah sore ini, selain agar anak-anak senang dan melupakan keinginan untuk keluar, juga bisa sedikit menumpahkan uneg-unegnya.
************
Sore itu, ketika semua penghuni rumah sudah mandi, Lika duduk-duduk di teras sambil menunggu kedatangan Alan, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang aneh di balik pohon dekat pagar rumahnya, Lika fokus kepada pandangannya dan memperhatikan dengan seksama siapa yang ada di balik pohon tersebut, seperti sesosok orang, namun tidak jelas, orang itu memakai jaket dan topi, dari jarak yang cukup jauh Lika tidak tau apakan orang tersebut perempuan atau laki-laki.
Dada Lika mulai bergemuruh, dia merasa ada seseorang yang sedang mengintainya, perasaan cemas dan takut menghampirinya, kemudian dia masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintunya rapat. Kezia dan Nando nampak sedang menonton film kartun di temani oleh Lia yang belum lama pulang.
Tok...tok....tok....
Lika terperanjat mendengar suara ketukan pintu rumahnya, dia mengintip dari balik gorden, ternyata Alan sudah berdiri disana. Segera Lika membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
"Hai Bu Lika...kok kaget kayak lihat hantu aja..." Kata Alan sambil tersenyum. Lika menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Pak...kita ngobrol didepan dulu..." Sahut Lika sambil keluar menuju teras. Lika melihat di balik pohon itu sudah tidak ada sesuatu yang aneh lagi.
"Ada apa Bu Lika?" Tanya Alan penasaran.
"Pak Alan, apakah tadi bapak melihat sesuatu di balik pohon di depan itu?" Tanya Lika. Alan menggelengkan kepalanya.
"Apa yang terjadi Bu...katakanlah!" Sahut Alan makin penasaran. Kemudian Lika membuka ponselnya dan menunjukan pesan misterius yang ia terima semalam itu kepada Alan. Alan agak terperanjat.
"Ya ampun Bu...ini seperti sebuah teror..." Ujar Alan.
"Iya pak...malah tadi sebelum bapak datang, aku melihat seperti ada orang yang sedang mengamat-amati rumah ini...aku takut pak...takut ini berhubungan dengan anak-anak..." Jelas Lika dengan wajah yang penuh kekuatiran.
"Tenang dulu Bu...apa tidak sebaiknya ibu cerita sama pak Ricky?" Saran Alan. Dengan cepat Lika menggelengkan kepalanya.
"Tidak Pak, besok pagi pak Ricky sudah datang...aku takut kalau aku cerita sekarang dia akan syok dan terus kepikiran dengan anak-anaknya, sehingga akan mengganggu pekerjaannya..." Ujar Lika. Alan mendesah panjang.
"Hmm....Tak disangka Bu Lika perhatian sekali dengan pak Ricky..." Ucap Alan.
"Bukan begitu pak Alan...toh nanti kalau dia pulang aku juga pasti akan menceritakannya...untuk kasus ini kira-kira pak Alan tau gak siapa pelakunya?" Tanya Lika. Alan tampak berpikir.
"Kalo secara logika...yang paling mungkin melakukan itu adalah Mama kandung dari anak-anak...karena dia punya alasan yang jelas...oya...kenapa ibu tidak menghubungi nomor ponsel tersebut?" Alan balik bertanya.
"Sudah pak...tapi nomornya di telepon tidak aktif...pernah aktif tapi tidak diangkat...sepertinya nomor yang sekali pakai buang.. karena nomor itu berbeda dengan nomor yang pertama waktu Kezia dan Nando di bawa Mamanya..." Jelas Lika.
"Kalau betul yang melakukan Mamanya...kenapa dia tidak datang baik-baik meminta ijin untuk meminjam anak-anak...toh itu kan juga anaknya...tidak ada yang bisa memutuskan hubungan anak dengan Mama kandungnya..."
"Tapi pak Ricky tidak mengijinkan siapapun termasuk Mama kandung anak-anak untuk bertemu dengan anak-anak..."
"Coba nanti aku bantu menyelidiki kasus ini Bu...tenang saja Bu...aku suka sesuatu yang berbau misteri he he he..." Alan terkekeh. Tiba-tiba dari arah dalam rumah Kezia dan Nando sudah menghambur keluar.
"Pak Alan kok datang gak bilang-bilang?" Celetuk Nando.
"Kezia...Nando...ayok ajak pak Alan masuk ke dalam...sudah mau magrib...kita main didalam saja ya..." Sergah Lika sambil kembali menuntun anak-anak masuk ke dalam rumah, Alan hanya mengekor dibelakang mengikutinya. Kemudian pintu rumah di tutup dan di kunci.
__ADS_1