
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung membopong istriku ke ruang bersalin, dia langsung di tangani secara intensif oleh dokter dan beberapa perawat.
Selama beberapa jam menjalani proses persalinan, dan aku pun mulai frustasi karena Sarah yang terus menerus berteriak menahan sakitnya, andai aku bisa menukar rasa sakit itu...
Ketika dokter mulai memeriksa kembali bagian dalam, ternyata tulang panggul Sarah terlalu kecil untuk di lalui bayi yang beratnya sekitar 3,9 kilogram.
Akhirnya dokter memutuskan untuk segera di lakukan operasi, karena melihat kondisi Sarah yang begitu lemah karena kehabisan tenaga.
Operasi berjalan sekitar 1 jam, sampai aku mendengar suara tangis bayi kami untuk pertama kalinya, hatiku begitu hangat dan bahagia.
"Terimakasih sudah melahirkan untukku bayi yang cantik..." Bisik ku lembut pada Sarah sambil ku cium keningnya.
Kezia Putri Gunadi, itu adalah nama pemberianku untuk putri pertama kami.
Nama Gunadi adalah nama keluarga Papaku, Hans Gunadi, karena Papaku campuran Indonesia Taiwan. Sedangkan Mamaku asli dari Taiwan.
*********
Kezia tumbuh menjadi bayi mungil yang sehat, dia sangat kuat menyusu, hingga usia Kezia 3 bulan, tiba-tiba Sarah memutuskan untuk berhenti menyusui Kezia.
"Bukankah ASI eksklusif itu minimal 6 bulan? Mengapa baru 3 bulan kau mau berhenti menyusui Kezia?" Tanyaku suatu hari.
"Aku mulai bosan di rumah terus...aku juga butuh refreshing...jalan-jalan dan kumpul dengan teman-temanku....kalau aku masih menyusui Kezia, itu akan sangat merepotkan..." Jawab Sarah.
"Ya...ya ...aku paham, aku bisa mengajakmu jalan-jalan kemanapun yang kamu mau...tanpa harus meninggalkan Kezia bukan?"
"Tapi aku capek Ricky....apa kau tau aku tak sempat memikirkan diriku sendiri karena terlalu sibuk mengurus Kezia? Mohon kau mengertilah..."
Aku terdiam mendengar alasannya, alasan yang masuk akal menurutku, Sarah memang perlu refreshing, terlalu kelelahan juga bisa membuatnya stress.
"Baiklah...besok akan ku carikan baby sitter untuk meringankan beban mu...."
Ku lihat Sarah tersenyum senang, dia langsung memelukku dengan manja.
"Nah...gitu dong...tapi aku tetap akan berhenti menyusui Kezia...banyak susu formula yang bagus untuknya...jadi siapapun bisa memberinya tanpa harus menungguku..." Ucap Sarah.
Aku tak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaannya, tidak apa-apa Kezia minum susu formula, yang penting anakku sehat dan aku harus mencari susu formula yang terbaik untuk Kezia.
Sarah kembali mempercantik dirinya, dia ke salon, dan mulai sering janjian lagi dengan teman-teman sosialitanya.
Melihat istriku yang kembali cantik dan menarik, pria mana yang tak akan senang, aku tidak munafik, jujur aku sangat suka melihat penampilannya yang menawan, yang membuat jiwa kelaki-lakianku bergelora.
__ADS_1
Dalam hal permainan di ranjang, Sarah itu piawai dan enerjik, bahkan dia mampu memuaskan ku hingga berkali-kali lipat, luar biasa istriku yang satu ini.
Hingga suatu malam, saat aku masih di kantor, meeting mengenai market plan proyekku, tiba-tiba baby sitter di rumah meneleponku.
"Halo Sus...ada apa meneleponku?" Tanyaku.
"Pak...Kezia demam...ibu belum pulang...gimana Pak...rewel terus anaknya...saya jadi bingung..ibu di hubungi tapi belum menjawab..."
"Kau jaga anakku baik-baik...aku akan segera pulang..."
Mendengar Kezia demam hatiku jadi tidak tenang, ku tinggalkan meeting begitu saja demi melihat putriku.
Sesampainya di rumah, aku langsung menggendong dan memeluk Kezia, tubuhnya sangat panas, aku langsung membawanya ke dokter terdekat di temani baby sitter ku, tak memperdulikan Sarah sudah pulang atau belum.
Setelah di tangani dokter dan di beri obat, Kezia di ijinkan untuk kembali di bawa pulang, suhu tubuhnya sudah agak turun, namun dia masih terus rewel, padahal suster sudah membuatkannya susu.
Sepanjang malam itu aku terus menimang Kezia, sesekali aku membuka gorden untuk menengok apakah Sarah sudah pulang, berkali-kali aku menghubunginya namun ponselnya tidak aktif.
Setelah Kezia mulai tenang dan sudah tertidur, aku membaringkannya perlahan di dalam boxnya.
Aku duduk di sofa ruang tamu menunggu Sarah pulang, sepertinya kesabaran ku sudah mulai habis.
Ceklek...!
Suara pintu di buka, Sarah selalu membawa kunci rumah cadangan saat pergi.
Aku berdiri, menatapnya dengan tatapan penuh amarah, Sarah terlihat terkejut dan langsung menundukkan wajahnya.
"Maaf..." Ucapnya lirih.
"Kau tau ini sudah jam berapa??" Tanyaku berusaha meredam emosi.
"Tadi ada pesta ulang tahun temanku...lagi pula pulangnya aku di antar..." Sahutnya beralasan.
"Bahkan berkali-kali ponselmu di hubungi kau tetap tak perduli...!"
"Ponselku habis baterai...nih kalau tak percaya..." Dia menyodorkan ponselnya yang memang kehabisan baterai.
"Tapi mengapa kau tidak menghubungi rumah? Kau tau hari ini Kezia demam...dia sangat rewel...kau malah mementingkan dirimu dari pada anakmu!!" Hardik ku.
Rasanya aku sangat ingin menamparnya, emosiku sudah memuncak, namun aku ingat dia adalah ibu dari Kezia. Tidak, aku tidak suka kasar, dia ibu dari anakku.
__ADS_1
"Maaf..."
"Kau bukan ABG lagi yang harus hidup dengan pesta pora...apa kau lupa kau ini seorang ibu...???!!!" Bentakku.
Sarah langsung memelukku, dia menangis dan terlihat sangat menyesal, bahkan dia mulai bersimpuh di kakiku, hatiku luluh.
"Sudah...Aku memaafkanmu...mohon kau jangan mengulanginya lagi..." Ucapku lembut.
Kemudian kami segera ke kamar Kezia, bayi cantik itu masih nampak tertidur nyenyak, mungkin karena kelelahan menangis dari sore.
Setelah kejadian itu, Sarah tidak lagi pulang malam, dia menepati janjinya, aku pun merasa senang. Hari-hari yang kami lalui begitu sangat membahagiakan, terlebih Kezia adalah anak yang pintar dan lucu.
Hingga saat Kezia berusia satu tahun, saat dia sedang belajar berjalan yang sesekali masih terjatuh, Sarah bergelayut manja sambil menyodorkan sepucuk surat undangan.
"Aku dapat undangan reuni sekolahku dulu...acaranya di ballroom hotel di Jakarta, dekat kan...aku boleh ikut?"
Aku terdiam belum bisa memberikan jawaban, kenapa pula undangan itu harus datang setelah keluarga kami kembali begitu harmonis?
"Apa acara itu begitu penting?" Tanyaku.
"Iya lah...kan aku kangen dengan teman sekolahku dulu...masa kau tak memberiku kesempatan...aku kan sudah melayani mu dengan sepenuh hati..." Rajuk Sarah sambil kembali membelai wajahku. Aku berusaha untuk tidak cepat luluh.
"Baik...kau boleh ikut reuni...tapi aku dan Kezia ikut bersamamu..." Ucapku.
"Hmm...oke, kalau kau tidak merasa bosan..."
**********
Aku duduk di pojok meja sambil memangku Kezia, sementara Sarah asyik mengobrol dengan teman-temannya, ku akui Sarah memang gaul dan friendly, itu juga salah satu yang membanggakan aku, istriku tidak kuper.
Hingga saat acara usai, Sarah masih terlihat mengobrol, namun kali ini dia mengobrol dengan seorang laki-laki. Beberapa temannya sudah pulang karena hari sudah malam.
Ku lirik Kezia nampak sudah tertidur setelah aku memberinya susu kesukaannya. Aku menidurkan Kezia di strollernya. Perlahan aku mendekati Sarah. Sarah terlihat kaget saat melihatku mendekatinya.
"Eh Ricky...ini kenalkan teman sekelas ku dulu..."
Aku mengulurkan tanganku hendak menjabat tangan. Pria itu yang berperawakan tinggi dan gagah, wajahnya sekilas mengingatkan aku pada sosok artis Andy Lau Saat masih muda, sangat oriental. Pria itupun mengulurkan tangannya padaku.
"Martin...." Ucapnya.
***********
__ADS_1