Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Pembantu Baru


__ADS_3

Pagi itu matahari mulai masuk menelusup di sela-sela jendela kamar Lika, perlahan dia bangun dari tidurnya, menengok jam yang ada di dinding, waktu sudah menunjukkan jam 6.30 pagi.


Lika melirik Nando yang masih tidur dengan nyenyak nya di tengah ranjang, sedangkan Ricky juga masih nyenyak tertidur dengan selimut yang berantakan karena semalam tidur larut karena menahan hasrat yang terpaksa tertunda.


Perlahan Lika menyelimuti tubuh Ricky yang masih polos itu, di kecupinya kening suaminya itu. Kemudian dia beranjak keluar kamar. Dilihatnya Nenek dan kedua orang tua Ricky sedang terlibat perbincangan. Melihat Lika yang masih di atas, Nenek langsung memanggilnya.


"Lika...ayo sini turun...sarapan lah..." Panggil Nenek. Kemudian Lika segera menuruni tangga dan ikut bergabung dengan mereka, Lia nampak asyik bermain laptop bersama Kezia.


"Kalau suasana rumah ramai begini...cucuku pasti bahagia..." Ungkap Nyonya Mei.


"Ehm...Papa dan Mama jadi berangkat jam berapa?" Tanya Lika.


"Sebenarnya jam 10 sudah harus sampai di bandara...tapi sepertinya Ricky masih belum bangun..." Kata Tuan Hans.


"Oh...dia masih tidur sama Nando..." Jawab Lika


"Hah...tidur sama Nando? Kok bisa?" Tanya Nyonya Mei terbelalak.


"Yaah....gak jadi malam pertama dong...!" Celetuk Lia.


"I...itu...semalam Nando mimpi buruk...makanya dia ke kamar dan minta di temani tidur..." Jelas Lika.


"Oalaa....tau gitu Nando tidur sama Nenek saja..." Ujar Nenek.


Tiba-tiba Nando muncul turun dari tangga sambil mengucek matanya.


"Nando cucu Opa....sini sayang..." Panggil Tuan Hans. Dengan manja Nando bergelayut di pangkuan opanya itu, Nyonya Mei juga langsung menghujani Nando ciuman di pipinya yang bulat.


"Nando....Papa belum bangun?" Tanya Lika.


"Belum Bu...papa masih ngorok..." Ujar Nando. Kemudian Lika bergegas ke atas untuk membangunkan suaminya itu.


Di dalam kamarnya Ricky masih nampak nyaman dengan dengkurannya, perlahan Lika mengguncang tubuh Ricky hendak membangunkan tidurnya.


"Pa...bangun...Mama dan Papa sudah menunggumu...ayo cepat....jam 10 mereka sudah harus tiba di bandara..." Ucap Lika. Ricky tak bergeming, dia tetap memejamkan matanya.


"Ayo bangun!" Lika menarik selimut yang di pakai Ricky, alhasil tubuh polos Ricky terlihat dengan pemandangan yang mengerikan bagi Lika. Lika memalingkan wajahnya. Perlahan Ricky membuka matanya.


"Kau tau betapa tersiksanya aku tadi malam?" Kata Ricky.

__ADS_1


"Sudahlah...lebih baik kau cepat mandi dan berpakaian...kasihan Orangtuamu menunggumu..." Sergah Lika.


"Tidak...kau kemarilah...sebentar saja...ayo..." Pinta Ricky. Lalu Lika perlahan mendekati suaminya itu yang kini dalam posisi duduk. Dalam sekejap Lika sudah ada dalam pelukan Ricky yang begitu erat.


"Aku sangat menginginkannya....sangat..." Ucap Ricky bergetar di telinga Lika. Entah mengapa seluruh tubuh Lika jadi merinding.


"Ja...Jangan sekarang..." Kilah Lika. Namun Ricky tidak ingin gagal lagi, dia mencium lembut bibir Lika, tangannya mulai merambah kemana-mana.


"Sayang....aku tidak ingin lama-lama...sebentar saja...yang penting bisa keluar..." Bisik Ricky.


Dengan cepat Ricky menanggalkan seluruh pakaian Lika, tanpa buang waktu dia langsung menerkam Lika. Lika menjerit tertahan, ada sesuatu yang menyakitkan tubuhnya, tapi apa daya semuanya sudah terjadi. Lika hanya dapat menggigit bibirnya menahan sakit yang tak terkira.


"Maaf sayang...aku janji yang berikut tidak akan membuat kau sakit lagi...justru kau akan sangat menikmatinya..." Bisik Ricky dengan napas terengah-engah.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu kembali mengagetkan mereka. Namun kali ini Ricky tetap memainkan aksinya.


"Pa...tolong cabut dulu...itu ada yang ketuk pintu..."


"Siapa di luar?!!!" Teriak Ricky kencang dari dalam kamar.


"Ini Kezia Pa..Oma dan Opa sudah menunggu di bawah!!!" Balas Kezia juga dengan suara kencang.


"Tanggung apa pa???!!!"


"Bilang saja begitu...mengerti?!!!


Lika memukul dada Ricky dengan keras. Sementara Ricky masih melanjutkan aktifitasnya.


"Kau keterlaluan Pa...buat aku malu saja!!" Ketus Lika.


"Dari pada kepalaku jadi pusing...lebih baik aku menumpahkan hasratku sekarang..." Sahut Ricky.


Akhirnya Ricky berhasil menyalurkan hasratnya yang sempat tertunda...dia tergeletak di ranjang dengan napas terengah-engah. Sementara Lika tertatih-tatih berjalan menuju kamar mandi, ada darah yang menetes di lantai.


Setelah hampir satu jam Lika dan Ricky di kamar, merekapun keluar dan perlahan menuruni tangga. Wajah Lika memerah menahan malu, apalagi dia berjalan agak tertatih. Semua keluarga sudah menunggunya di meja makan besar. Sebuah meja makan yang khusus di desain untuk keluarga besar.


"Kau lama sekali Ricky! Dari tadi kami menunggumu...kata Kezia kau sedang tanggung....tanggung apa??" Tanya Tuan Hans. Ricky hanya menunduk menahan malu.

__ADS_1


"Sudahlah Pa...namanya juga pengantin baru...ya wajar saja..." Ujar Nyonya Mei.


Akhirnya mereka menikmati sarapan bersama walaupun sudah agak siang karena menunggu Ricky.


Ting...tong....


Suara bel rumah berbunyi, dengan sigap Lika segera bangkit dari duduknya dan beranjak ke pintu depan, namun dia lupa tubuhnya masih nyeri, sehingga langkahnya agak tertahan. Ricky bergegas menyusulnya.


"Biar aku yang membuka pintunya sayang..." Sergah Ricky dan berjalan mendahului menuju pintu kemudian membukanya.


Di depan pintu berdiri seorang gadis muda berusia kira-kira 20 tahunan, di tangannya dia menjinjing sebuah tas besar.


"Selamat pagi Pak...Bu....saya Sri...saya ingin bekerja di sini sebagai pembantu rumah tangga..." Kata Wanita yang bernama Sri itu.


"Tapi kau tau dari mana rumah ini membutuhkan pembantu?" Tanya Ricky.


"Saya dapat informasi dari Mbok Narti Pak..."


"Mbok Narti?" Lika nampak berpikir. Mbok Narti masih ada di Bandung, dia tidak bisa ikut pindah ke Jogja karena anaknya ada di Bandung, tapi seingatnya, Lika tidak pernah meminta mbok Narti mencarikannya pembantu.


"Kalau kau kenal dengan mbok Narti...aku percaya padamu...masuklah...kau bisa bekerja disini melayani istriku dan anak-anakku serta keluarga yang lain..." Kata Ricky.


Sri nampak tersenyum sambil berjalan masuk mengikuti Ricky ke dalam rumah, entah mengapa perasaan Lika tidak enak, tapi dia tidak menemukan penyebabnya.


"Ricky....sepertinya kami sudah siap berangkat..." Kata Tuan Hans.


"Ya Pa...aku akan mengantarmu..." Jawab Ricky sambil mengangkat koper orang tuanya dan memasukannya ke mobil.


"Papa Ricky....aku boleh ya ikut mengantar...?" Tanya Lika.


"Sayang...aku tau tubuhmu masih nyeri...kau istirahatlah dirumah ya...aku tidak lama...aku segera kembali..." Sahut Ricky sambil mengecup bibir Lika sekilas. Lika tidak dapat membantah perkataan suaminya itu, akhirnya dia mengangguk mematuhinya.


Setelah mereka semua saling berpamitan, Ricky segera mengantar kedua orang tuanya ke Bandara.


Sementara di rumah, Kezia dan Nando masih asyik menonton film kartun di TV, Lia berangkat kerumah temannya untuk tugas kelompok, sementara Nenek nampak sedang menjahit syal.


"Ini kamarmu Sri...." Kata Lika kepada Sri sambil menunjuk sebuah kamar di dekat dapur. Sri menganggukan kepalanya.


"Taruhlah tas mu di dalam...setelah itu kau boleh mulai bekerja..."

__ADS_1


"Baik Bu..."


*************


__ADS_2