
Aku merasa hidupku sudah cukup aman dan bahagia di kota ini, aku sudah bisa melupakan masa laluku yang pahit, aku sudah bisa bangkit lagi dalam keterpurukan hidupku. Anak-anak juga terlihat sangat berubah, aku memiliki harapan di kota ini.
Kehadiran Ibu Lika seolah seperti air yang melegakan jiwaku, seperti matahari yang menerangi hidupku, aku berniat akan terus mengejarnya untuk mendapatkannya, dia seperti emas yang tak ternilai harganya.
Siang itu dengan penuh semangat aku menjemput anak-anakku di sekolah, berharap akan bertemu guru manis itu, sekalian mengajaknya makan siang bersama.
Aku hanya terlambat 15 menit dari biasanya, suasana di sekolah masih terlihat cukup ramai.
Namun setelah aku menunggu, mereka yang biasanya selalu menunggu di lobby, tidak terlihat sama sekali, guru piket sudah mencarinya keseluruh penjuru sekolah, namun mereka tetap tidak di temukan.
Hatiku mulai di liputi perasaan khawatir, tiba-tiba aku teringat akan perkataan Sarah dalam suratnya, dia akan datang lagi menjumpai anak-anakku. Tidak, hal itu tidak boleh terjadi.
Aku mengamuk di depan sekolah, ku caci maki semua Security yang ada di sana, aku sudah tidak dapat lagi menahan gejolak dan amarah dalam hatiku.
"Kalau terjadi sesuatu dengan mereka, aku tak akan mengampuni kalian!!" Bentakku.
Orang-orang di sekitarku nampak ketakutan.
Guru-guru mulai berdatangan saat mendengar keributan dari luar, seorang guru laki-laki yang ku ketahui sebagai guru olah raga itu nampak mencoba menenangkanku.
Ku dengar dari anak-anakku, guru olah raga ini selalu mendekati Lika guru manisku itu, aku memandang sinis terhadapnya.
"Pak Ricky...ayo duduk dulu, tenangkan hatimu..." Lika menarik tanganku untuk duduk, dia memberikan aku sebotol air mineral, untuk beberapa saat hatiku menghangat. Aku sangat butuh dia saat ini.
"Akan aku laporkan perkara ini ke polisi!!" Ancam ku. Ku lihat beberapa guru ketakutan, karena ini menyangkut reputasi sekolah.
"Tapi ini kan belum 24 jam Pak..." Celetuk salah satu guru. Aku melotot kearahnya. Dia mundur, takut melihat kemarahan ku.
Mereka tidak tau, betapa berharganya anak-anak dalam hidupku, bahkan aku rela menyerahkan semua milikku asalkan mereka kembali kepadaku.
__ADS_1
Tiba-tiba aku menarik tangan Bu Lika, dan langsung masuk kedalam mobilku, beberapa guru nampak terkejut, namun aku tidak perduli, cuma Lika yang bisa menenangkan aku saat ini.
Ku lajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, ku lihat guru manisku itu nampak ngeri, beberapa kali dia memejamkan matanya, tapi aneh, dia tidak memintaku untuk mengurangi kecepatan mobil, mungkin dia membiarkan aku menumpahkan semua emosiku.
Setelah aku sampai di rumah, ku gandeng tangannya masuk kedalam rumahku, sampai pengasuh anak-anakku heran melihatku yang membawa seorang perempuan masuk rumah tanpa anak-anakku.
Lika menyuruhku untuk menghubungi semua saudara dan kerabat ku, aku tak yakin mereka melakukan penculikan terhadap anak-anakku, apa modusnya?
Yang paling mungkin melakukannya hanyalah Sarah, tapi aku tidak mungkin mengatakan itu di depan Lika, Sarah sudah pergi jauh, dia tak mungkin menemukan kami.
Aku geram dan marah saat itu, sampai aku memukul tembok dengan keras melampiaskan perasaan emosiku, tangan ku berdarah dan Luka.
Lika mendekatiku, sikapnya yang lembut dan tenang sedikit menghangatkan hatiku.
"Pak, lebih baik ganti baju dulu, mandi dan makanlah, supaya bapak ada tenaga dan pikiran sedikit tenang..." Ucapnya lembut.
Dia mendekatiku, mengusap lembut luka di tanganku, membersihkannya dengan kain basah, lalu mengobatinya dan memberinya perban. Dia sungguh-sungguh perhatian denganku, aku sangat nyaman berada di sisinya.
Lika membimbingku masuk kedalam kamarku, dia membantuku duduk di tepi ranjang ku, lalu dia berjongkok membuka sepatu dan kaus kakiku, setelah itu dia melepas dasiku yang masih melekat dari tadi, membuka kancing kemejaku supaya aku lebih nyaman.
Ah, andai dia menjadi istriku, tentu sangat bahagia hidupku. Ku tepis kan pikiran yang sempat hinggap itu, saat ini aku hanya mau anak-anakku kembali padaku.
Tiba-tiba aku menarik tangan Lika yang hendak keluar dari kamarku. Ku tatap matanya dalam.
"Bu guru...ijinkan aku memelukmu saat ini...aku sangat butuh pelukan darimu..." Pintaku penuh harap.
Dia menatapku lalu Menganggukan kepalanya, guru manis itu tidak menolak ku.
Ku peluk erat tubuhnya, ini pertama kali aku memeluknya setelah sekian lama.saling mengenal, dia juga nampaknya berusaha memelukku, bahkan mengusap rambutku, ada yang berdesir di sudut hatiku.
__ADS_1
Kami hanyut dalam pelukan beberapa saat lamanya, aku menangis dalam pelukannya, dia menghapus air mataku dengan kedua tangannya, lalu kembali memelukku.
"Kalau bapak mau menangis, menangis lah pak...supaya bapak tenang, aku akan menemanimu..." Bisiknya lembut.
"Terima kasih Bu Guru..." Sahutku lirih.
Aku merasa saat itu begitu nyaman bersamanya, Lika nampaknya juga sangat sayang padaku, belum pernah aku merasa di sayang dan diperhatikan seperti ini, apakah dia juga punya perasaan yang sama denganku?
Gadis itu menungguku sampai hari menjelang malam, namun masih belum ada kabar mengenai keberadaan Kezia dan Nando, hatiku mulai khawatir lagi, aku sungguh takut akan kehilangan kedua anakku, saat ini aku begitu lemah, aku hanya bisa terbaring di ranjang dengan pikiran yang kacau.
Aku memejamkan mata, namun pikiranku masih terjaga, saat itu Lika masuk kedalam kamar, dia menaruh segelas susu hangat di meja, lalu perlahan mendekatiku.
Mana bisa kau tidur dalam keadaan belum ada kabar dari anak-anakku.
Lika membetulkan selimutku, dia memandang wajahku, aku sedikit mengintip saat wajahnya menatap wajahku, yah, aku akui wajahku sangat tampan menurut kebanyakan orang, apakah dia terpesona akan ketampanan ku?
Perlahan dia mengusap wajahku, bahkan jarinya menelusuri setiap lekukan wajahku, hatiku berdebar keras, mengapa guru ini melakukan itu padaku, apakah diam-diam dia juga suka padaku? Tiba-tiba tubuhku kembali menegang. Aku menahan nafasku agar tak diketahui olehnya.
Namun seketika dia menghentikan semuanya, entah mengapa, dia langsung keluar kamar dan meninggalkan ku begitu saja.
Aku lirik susu yang ada di atas meja, secepat kita aku meminumnya sampai habis, kemudian aku kembali merebahkan diriku di ranjang ku. Berharap esok akan bisa melihat wajah anak-anakku lagi dan...wajah Lika.
Pagi-pagi guru itu muncul lagi, sebelum dia kesekolah dia menyempatkan diri untuk menjengukku, perhatian sekali.
Namun dia membawa kabar yang mengejutkan, ada yang mengirim ke ponselnya memberi tau kalau anak-anak ada bersama dengan si pemberi pesan itu.
Aku kembali marah dan tiba-tiba terlintas Sarah yang mengambil anak-anakku.
"Kurang ajar!!"
__ADS_1
*************