Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Pulang ke Jogja


__ADS_3

Setelah selesai membereskan pakaian dan di masukkan kedalam koper, Lika melirik ke arah kamar mandi, Ricky masih mandi, kemudian Lika mengambil ponselnya di balas, dan dia mulai menelepon mbok Narti.


"Halo..."


"Halo mbok Narti...apa kabar? Aku kangen lho sama mbok Narti..."


"Kabar baik mbak Lika...maaf nih...mbok nggak bisa ikut pada saat mbak Lika menikah...soalnya anak mbok minta mbok jangan pergi jauh....maklum mbak...anak cuma semata wayang..."


"Mbok Narti...kok tau kita lagi butuh asisten rumah tangga? Ada yang mau kerja sama aku mbok...katanya rekomendasi dari mbok Narti..."


"Siapa mbak?"


"Sri..."


"Sri? Sri yang mana ya..."


"Sri...yang kerja di tempatku mbok...dia bilang dia kenal sama mbok Narti..."


"Maaf mbak Lika...mbok nggak pernah rekomendasi siapa-siapa...mbak Lika hati-hati ya...jangan sembarangan bertindak..."


"Jadi beneran mbok Narti nggak kenal sama Sri?" Tanya Lika meyakinkan.


"Iya...mbok nggak pernah kenal yang namanya Sri..."


"Baiklah mbok...Trimakasih..." Kemudian Lika menutup ponselnya.


Lika terduduk di tepi tempat tidurnya, ada sebersit kekuatiran dalam hatinya. Hingga Ricky sudah keluar dari kamar mandi.


"Sayang...kau kenapa?" Tanya Ricky sambil mengelus rambut Lika.


"Pa...Aku barusan telepon mbok Narti...katanya dia tidak pernah kenal dengan Sri...ini aneh Pa..."


"Hmm...Kenapa kau bingung...tinggal pecat saja..." Ujar Ricky.


"Kita harus cari tau apa modusnya...jangan langsung pecat begitu saja..." Cetus Lika.


"Lalu...apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Ricky sambil sesekali mencium pipi Lika.


"Kita harus waspada...lalu menyelidikinya...setelah itu baru bertindak..." Sahut Lika. Tiba-tiba Ricky tertawa.

__ADS_1


"Kau mirip seperti seorang detektif...tapi aku suka caramu...kau memang istriku yang paling pintar...!" Seru Ricky sambil tertawa kemudian menciumi wajah Lika dengan gemas.


"Huh...di saat seperti ini kau malah bercanda...ayo bersiaplah...kita harus cepat pulang dan sampai di Jogja..." Ujar Lika yang langsung berdiri dan mengambil tasnya.


**********


Setelah mereka sampai di bandara, ternyata penerbangan delay selama 1 jam, hal itu membuat Lika kesal dan akhirnya menumpahkan kekesalan itu pada suaminya.


"Dasar tidak profesional! Bisanya merugikan banyak orang!!" Sungut Lika.


"Sabar sayang..."


"Sabar...sabar...tidak tau apa orang lagi buru-buru...mau jadi apa negri ini dengan semua keterlambatan yang dianggap biasa saja! Tidak bisa dibiarkan!" Ketus Lika. Ricky yang duduk disampingnya hanya senyum-senyum mendengarkan ocehan istrinya itu.


"Sayang...akhir-akhir ini kau tampak emosian sekali..." Kata Ricky sambil terus menggenggam tangan istrinya.


"Bukan begitu...aku hanya tidak sabar ingin bertemu dengan Sri...aku harus introgasi dia!"


"Lho... katanya kau akan menyelidikinya diam-diam...kalau introgasi itu namanya terang-terangan sayang..."


"Huh...tau ah...pokoknya aku kesal...!!" Sungut Lika. Ricky hanya merengkuh bahu istrinya itu dan menciumi rambutnya dengan lembut.


"Nanti setelah sampai...kita ke dokter ya..." Ucap Ricky.


"Sepertinya adik Kezia dan Nando sudah ada di perutmu.." Ucap Ricky. Lika langsung memegang perutnya.


"Tidak mungkin...kita baru menikah belum sebulan...jangan bercanda!" Sahut Lika.


"Ya sudah...kalau kau tak percaya...kita lihat saja nanti..."


"Dasar sok tau...memangnya kau dokter?"


"Dengan tingkat emosional mu yang tinggi...dan...nafsu makan mu yang sering kali tak terkontrol...sepertinya memang itu gejala kehamilan...makanya aku ajak ke dokter untuk meyakinkan..." Kata Ricky.


"Tapi kan aku tidak mual-mual seperti kebanyakan orang..."


"Tidak semua orang hamil harus mual juga...sudah deh...yang penting aku makin sayang padamu Bu guru cantik...kalau benar kau hamil anakku...tidak ku biarkan kau mengajar di sekolah lagi...lebih baik kau buka les-lesan saja di rumah..."


"Tapi..."

__ADS_1


"Sudah...jangan membantah permintaan suami...kau harus dirumah...kalau kau suka mengajar...panggil murid-murid datang kerumah...biar sekalian ramai rumah kita..."


Setelah menunggu selama hampir satu jam, akhirnya mereka terbang juga menuju ke Jogja.


Setelah tiba di Jogja, Ricky mengambil mobil di parkiran bandara dan mulai melajukan nya ke arah rumahnya. Tidak sampai setengah jam, Ricky dan Lika sudah tiba di depan rumahnya, Kezia dan Nando nampak berdiri menunggu mereka, senyum cerah menghiasi wajah kedua anak itu.


"Papa! Ibu..! Akhirnya pulang juga...mana oleh-olehnya..." Todong Nando antusias.


"Ada tuh di mobil...ambil saja ya...Papa mau antar ibu ke kamar dulu...lihat tuh ibu kecapean...apalagi tadi pesawatnya telat..." Jawab Ricky yang langsung memapah Lika menuju kamarnya di atas, Lika memang terlihat pucat.


"Sri! Ambil barang-barang di mobil...setelah itu bereskan!" Panggil Nenek. Sri tergopoh datang dari dapur, sekilas Lika melihat Sri, mereka bertatapan sesaat sebelum Lika naik ke tangga atas. Banyak hal yang ingin Lika tanyakan, namun karena kepalanya agak pusing, dia memilih untuk menundanya. Kezia mengikuti mereka berjalan di belakangnya, sepertinya gadis kecil itu sangat rindu pada mereka.


"Papa...ibu kenapa?" Tanya Kezia.


"Ibu pusing...mabok udara!" Jawab Ricky singkat.


"Aku pijitin ibu ya...aku temani ibu ya.." Pinta Kezia.


"Kezia...biar Papa yang urus ibu...itu di bawah banyak hadiah buat Kezia dan Nando...tadi Papa juga beli makanan banyak...ibu cuma perlu istirahat sayang..." Kata Ricky. Wajah Kezia nampak kecewa.


"Pa...itu Kezia lagi kangen...kok malah Papa suruh turun...ayo sayang...sini peluk ibu..." Lika merentangkan tangannya. Kezia segera menghampiri Lika dan langsung memeluknya.


"Kezia...kalian baik-baik aja kan saat Papa dan Ibu tidak si rumah?" Kezia Menganggukan kepalanya.


"Tante Lia dimana? Kok dari tadi ibu gak lihat dia..." Gumam Lika.


"Tante Lia kuliah Bu...tadi berangkat sama temannya..." Sahut Kezia.


"Ooh...oke deh...Ibu mau istirahat dulu...Kezia mau temenin Ibu atau turun ke bawah?" Tanya Lika.


"Ehmm...turun deh Bu...nanti papa marah kalau aku di kamar sama ibu...kan Papa pernah bilang kalau lagi di kamar, Kezia dan Nando jangan ganggu ..." Sahut Kezia.


"Nah...tuh pinter anak Papa..." Cetus Ricky tiba-tiba sambil merangkul pinggang Lika. Kezia tersenyum lalu segera turun ke bawah.


Setelah sampai di kamar, Lika langsung merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk, kepalanya agak pusing seharian ini, dia lebih memilih memejamkan matanya. Ricky mendekati istrinya yang agak pucat itu, di belainya rambut Lika dengan lembut.


"Sepertinya sore ini kita memang harus konsultasi ke dokter sayang..." Bisik Ricky.


"Tidak...jangan sekarang...aku capek mau tidur...kapan-kapan saja ke dokternya..."

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik sayang....ayolah...sekarang kau istirahat dulu...aku tidak sabar mendengar dokter bilang ada bayi di dalam perutmu...karena aku akan bahagia..." Bisik Ricky sambil mencium lembut perut Lika.


*************


__ADS_2