
Lika mondar mandir didepan ruangan Sarah, waktu menunjukan pukul 4 dini hari, kondisi Sarah sedang kritis, kesadarannya menurun, di dalam ada dokter dan perawat yang menanganinya.
Di ujung lorong, Ricky berjalan gontai menghampiri Lika yang sedang gelisah, mata pria itu merah seperti masih menahan kantuknya.
"Pak Ricky...syukurlah kau datang...aku takut, tanpamu sepertinya mbak Sarah kelihatan begitu down..." Kata Lika.
"Lika...mengapa kau terlalu dalam hadir dalam hidupku...bukan hanya terhadap anak-anakku, bahkan dengan Sarah pun kau begitu peduli...kenapa aku begitu terlambat mengenalmu..." Ricky langsung memeluk Lika, dia menangis, meluapkan segala emosinya. Lika sesak berada dalam pelukan Ricky yang begitu erat memeluknya, seolah tidak mau dilepaskan lagi.
"Pak Ricky...jangan seperti ini ku mohon..." Lirih Lika. Air mata gadis itu juga menetes perlahan.
"Aku tak sanggup...aku sudah gak kuat lagi mengalami hal ini... kenapa semua ini harus terjadi di saat aku baru menemukanmu?" Ucap Ricky. Tubuhnya gemetar.
Lika melepaskan pelukan Ricky perlahan, dia mengusap air mata laki-laki itu dengan kedua tangannya. Ricky menangkap kedua tangan Lika kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Trimakasih..." Bisik Ricky.
"Kau harus kuat pak...demi anak-anakmu...juga mantan istrimu yang saat ini sangat membutuhkanmu..." Sahut Lika dengan tersenyum.
Pintu ruangan terbuka, seorang dokter menghampiri mereka.
"Apakah kalian keluarga pasien?" Tanya dokter itu. Dokter yang kelihatan senior, berumur sekitar 45 tahun, bernama dokter Adam.
"Iya dok...saya mantan suaminya..." Jawab Ricky.
"Bagaimana kondisi mbak Sarah Dok..?" Tanya Lika menimpali.
"Harus dilakukan operasi secepatnya...kondisi pasien sangat tidak stabil sampai saat ini, bahkan sel kankernya sudah mulai menjalar kebagian tubuh yang lain, sehingga dia sering merasa kesakitan...." Jelas dokter Adam.
"Apakah dia bisa sembuh?" Tanya Lika lagi.
"Kesembuhan dan mujizat akan selalu ada, kondisi psikis pasien juga sangat mempengaruhi...kalau pasien bahagia, senang atau gembira, aura positif akan selalu ada, dan itu sangat menunjang kesehatannya..." Tambah dokter Adam.
"Bolehkah kami masuk sekarang dok?" Tanya Ricky.
"Silahkan...bicaralah pelan-pelan...saya permisi dulu..." Ucap dokter Adam sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ricky dan Lika membuka pintu ruangan itu dan masuk, suster sudah selesai dengan tugasnya, dan setelah suster keluar, Lika mendekati Sarah.
"Mbak Sarah...sesuai janjiku...pak Ricky sudah datang...bukalah matamu..." Bisik Lika dekat telinga Sarah.
Sarah tetap memejamkan matanya, selang oksigen menutupi sebagian wajahnya.
"Pak Ricky...ayo mendekatlah...bicaralah sesuatu padanya...dia menunggumu..." Kata Lika sambil menarik tangan Ricky mendekati Sarah.
Ricky perlahan memegang tangan Sarah, mengusap rambutnya dan menatap wajahnya.
"Sarah...bukalah matamu..." Kata Ricky.
Perlahan Sarah membuka matanya, nampak ada kerinduan di mata itu, sebuah senyum tersungging dari bibirnya yang masih terpasang oksigen. Kemudian tangannya berusaha untuk melepaskannya, Sarah ingin berbicara.
"Aku di sini Sarah..." Ucap Ricky. Seorang suster masuk untuk memeriksanya.
"Wah...kesadarannya sudah muncul...tidak apa-apa di lepas selang oksigennya, supaya bisa berkomunikasi..." Kata suster itu sambil membantu melepaskan oksigen yang terpasang di wajah Sarah.
Sarah menatap lekat wajah laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Ya...aku tak akan meninggalkanmu...sekarang istirahatlah..." Jawab Ricky. Sekilas dia melirik Lika yang berdiri mematung di pojok ruangan.
"Aku...ingin bertemu anak-anak kita...bawalah mereka kemari..."
"Ya...aku akan membawanya...tidurlah..."
"Tidak...kalau aku tidur kau akan hilang dariku...aku tak mau kehilanganmu lagi..." Ucap Sarah. Ricky terdiam. Sarah memegang tangan Ricky dengan segenap kekuatannya, Ricky hanya bisa membiarkannya, matanya sekali lagi melirik ke arah Lika yang mulai bejalan mendekatinya.
"Aku pamit pulang pak Ricky..." Kata Lika. Sementara tangan kanannya memegang tangan Sarah, tangan kirinya menahan tangan Lika.
"Jangan pergi..." Ucap Ricky lirih.
"Maaf...aku harus pulang...mbak Sarah cepat pulih ya...ada pak Ricky yang selalu ada di sisimu..." Ujar Lika sambil melepaskan tangan Ricky yang menahannya. Kemudian segera membalikan tubuhnya meninggalkan ruangan itu. Ricky hendak bangkit dan mengejar, namun tangan Sarah semakin erat menggenggamnya.
Lika berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit, hatinya begitu perih, namun sekuat tenaga ia menahannya, perasaan yang melanda hatinya saat ini membuat air mata yang terus menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
Di parkiran, dia mengambil motornya yang sudah 2 hari menginap di sini, dengan perlahan dia melajukan motornya berjalan menembus udara dingin pagi itu, bahkan mataharipun masih kelihatan enggan keluar dari peraduannya.
Setelah Lika sampai di rumahnya dan memarkirkan motornya, lalu dia perlahan membuka pintu rumahnya yang tak terkunci, Nenek nampak sedang duduk di sofa sambil menonton berita pagi di TV.
"Pagi Nek...tumben pagi-pagi udah nonton berita..." Sapa Lika sambil duduk di sebelah neneknya.
"Lho...pagi benar kau pulang...bukannya kau sedang menunggu temanmu yang di rawat itu?" Tanya Nenek.
"Iya Nek...sudah ada yang menggantikan ku...oya, Lia udah bangun Nek?" Tanya Lika.
"Ada apa cari aku?!" Seru Lia yang tiba-tiba muncul dari kamarnya, pakaiannya sudah rapi.
"Mau kemana pagi-pagi banget Lia...kakak baru pulang, mau ngobrol sama kamu..." Kata Lika.
"Aku kan sudah di terima di universitas di Jogja kak...sekarang aku janjian mau perpisahan sama beberapa teman SMU ku..." Jawab Lia.
"Oya...kamu cepet banget di terimanya...memangnya kamu sudah tes?"
"Sudah dong kak...tes online..." Sahut Lia.
"Pinter juga kamu ya...bangga kakak sama kamu..." Ucap Lika sambil mengelus rambut adiknya yang ikut duduk disampingnya.
"Oya kak...mungkin bulan depan aku harus sudah di Jogja kak...kakak jadi ikut aku? Kalo gak jadi aku mau cari kos aja..." Tanya Lia. Lika mendesah panjang.
"Jadi... Aku jadi pindah ke Jogja, sama kamu Lia, juga Nenek....nanti kita akan beli rumah sederhana di sana..." Kata Lika.
"Kakak serius?" Tanya Lia sambil membulatkan matanya.
"Kapan aku pernah gak serius? Bulan depan kita persiapan pindah dari sini, aku juga akan mengajukan surat pengunduran diri di sekolah..." Sahut Lika mantap.
"Kamu sudah berpikir panjang Lika? Jangan sampai keputusanmu karena emosi sesaat..." Ucap Nenek.
"Aku sangat berpikir panjang Nek... kita akan memulai hidup baru di sana..." Jawab Lika.
"Kak...apa kakak akan melupakan begitu saja Kezia dan Nando...juga pak Ricky?" Tanya Lia sambil menatap Lika.
__ADS_1
"Ya...aku akan belajar melupakan mereka...karena mereka akan bahagia di sini...Lia...ku mohon jangan beritahu siapapun tentang rencana kita yang akan pindah ke Jogja... biar ini jadi rahasia keluarga kita saja..." Pinta Lika. Lia Menganggukan kepalanya sambil memeluk kakaknya itu.