Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Pasang Iklan


__ADS_3

Sore itu seperti biasa, Nenek, Lia, Kezia, Nando juga si kecil Given sedang bermain di ruang keluarga, mereka asyik mengerumuni Given yang dalam pangkuan Nenek.


Sementara Lika dan Mbok Narti masih sibuk di dapur mempersiapkan masakan untuk makan malam.


"Mbok...buat nanti malam masaknya agak banyakan ya...Pak Andi mau datang...." Kata Lika.


"Oh...iya...ini bahannya juga banyak....Bapak kemana ya Mbak...apa masih di atas?" Tanya Mbok Narti.


"Iya Mbok....masih online mengamati proyeknya...."


"Hebat si Bapak proyeknya banyak betul...tak heran kalau sukses di usia muda..." Puji Mbok Narti.


"Kalau kerja jujur apapun bidangnya ya pasti sukses Mbok...asal tekun saja..." Sahut Lika.


"Untung pak Ricky menikah dengan Mbak Lika....kalau saat ini masih ada ibu Sarah....aduh ...mbok tidak bisa bayangin deh..." Kata Mbok Narti, Lika tiba-tiba menghentikan aktifitasnya.


"Mbok...kok aku jadi kepikiran ya sama Mbak Sarah...di mana ya dia sekarang?" Gumam Lika.


"Entahlah Mbak....terakhir setelah dia di rawat di rumah sakit, sebelum menghilang masih sempat cerita sama Mbok..."


"Hah...cerita apa Mbok?" Lika penasaran.


"Dia curhat sedikit...katanya hidupnya kesepian, mengharapkan di cintai lagi oleh Pak Ricky...namun semua usahanya sia-sia...dia nyaris putus asa..." Ungkap Mbok Narti.


"Kasihan Mbak Sarah...semoga sekarang dia dalam keadaan baik dan sehat ya Mbok..."


"Amin...eh....sudah hampir matang semua ini...mbok siapkan tempatnya dulu ya..." Mbok Narti mengambil beberapa piring saji.


Tiba-tiba Kezia masuk ke dapur bersama Nando.


"Bu...harum masakannya sampai ke depan...kita lapar...sudah matang belum ya..?" Tanya Nando.


"Iya Bu...sepertinya masakan malam ini enak..." Sambung Kezia.


"Wah...kalian sudah lapar rupanya...ayo duduk di meja makan...Kezia, panggil Papa di atas ya..." Kata Lika.


"Siap Bu..." Kezia bergegas menaiki tangga menuju ke atas. Sementara Nando sudah duduk manis di depan meja makan.

__ADS_1


Tak lama kemudian Ricky sudah turun bersama dengan Kezia, pakaiannya sudah rapi.


"Jangan makan dulu kalian...sebentar lagi Pak Andi datang, kita makan sama-sama dengan Pak Andi...!" Seru Ricky. Wajah Nando berubah masam, karena dia sudah menunggu dari tadi.


"Huh Papa nih....orang laper dari tadi juga..!" Cetus Nando cemberut.


"Eh...kakak Nando sabar dong....nanti ya bareng dedek Given makannya..." Lika menghampiri Nando sambil menggendong Given.


"Memangnya dedek makan Bu?" Tanya Nando.


"Ibu yang makan, dedek juga makan apa yang ibu makan...kan dedek minum susu ibu..." Jelas Lika.


"Ooh....begitu...berarti ibu jangan makan sambel ya nanti dedek kepedesan..." Celetuk Kezia.


"Iya...ibu gak makan sambel...kasihan kan dedek..." Sahut Lika.


Ting....tong....Ting....tong...


Suara bel rumah berbunyi, Ricky segera bergegas ke depan membukakan pintu rumah.


"Wah...Pak Andi rupanya...ayo silakan masuk Pak..." Sapa Ricky mempersilahkan, Pak Andi segera masuk dan duduk di ruang tamu.


"Oh Bu Lika...maaf waktu melahirkan saya belum sempat menjenguk, ternyata setelah dari Jakarta bayinya segera lahir...hebat Bu Lika...dalam kondisi hamil tua masih bisa berjuang untuk menyelamatkan proyek suaminya..." Puji Pak Andi.


"Sayang...kok kau tidak cerita hal detail seperti ini? Aku cuma dengar kau ke Jakarta dengan Pak Andi...bahkan aku belum sempat memikirkan proyek yang di Jakarta itu .. " Sahut Ricky.


"Sudahlah Pa...yang penting semua baik dan berjalan lancar.. ayo deh langsung ke meja makan.. kita makan malam sama-sama ya Pak Andi..." Kata Lika yang mendahului ke ruang makan, di sana sudah menunggu Nando dan Kezia. Sementara Mbok Narti dan Lia sedang menata meja makan, Nenek istirahat di kamarnya.


"Wah Pak Ricky....keluarga anda ternyata keluarga besar ya...senang sekali tiap hari dengan suasana ramai begini..." Ucap Pak Andi kagum.


"Iya Pak...sejak saya menikah dengan istri saya, hidup saya jadi berubah....anak-anak juga berubah...saya seperti mendapat anugrah yang luar biasa..." Jawab Ricky.


"Ayo Pak Andi silahkan di nikmati..." Lika mulai membuka tutup piring saji, mereka lalu makan bersama, anak-anak terlihat antusias.


"Bagaimana Pak Andi mengenai progres sekolah kita?" Tanya Ricky sambil menikmati santapannya.


"Semua sudah ready Pak...kita sudah bisa mulai merekrut guru untuk tahun ajaran baru ini...semua fasilitas bahkan sudah lengkap..." Jawab Pak Andi.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu....aku senang mendengarnya..." Sahut Ricky.


"Pak Andi, bisakah merekrut guru dan staf dalam waktu beberapa bulan ini? Saya sudah sangat ingin mulai mengajar lagi..." Tambah Lika.


"Sangat bisa Bu...nanti saya bantu untuk iklan merekrut guru lewat media sosial...nanti Ibu Lika sendiri yang menyeleksinya, sesuai dengan kriteria yang Ibu Lika tetapkan..." Jelas Pak Andi.


"Wah...bagus pak...saya mau memilih guru-guru yang terbaik...bukan hanya pintar di akademik, namun harus memiliki integritas yang tinggi dan jiwa melayani yang tinggi..." Kata Lika antusias.


"Kalau sudah di tangani Bu Lika saya percaya...pasti sekolah ini akan jadi sekolah terbaik di kota ini...meskipun masih baru..." Ucap Pak Andi yakin.


"Sayang.. kau jangan semangat mengajar dulu....kau memantau saja...Given masih kecil..." Colek Ricky.


"Ih si Papa....aku juga tau...tapi kan mengajar itu impianku...Given bisa ku bawa..."


"Berarti aku harus mencarikan baby sitter untuk Given..."


"Aku bisa mengurusnya sendiri..."


"Mana mungkin kau melakukan dua pekerjaan sekaligus..." Lika terdiam, perkataan suaminya itu ada benarnya juga.


"Benar kata Pak Ricky Bu...pengasuh untuk bayi bukan berarti kita tidak mengurusnya, tapi membantu pekerjaan kita, ibu bisa memantau anak langsung sekaligus bisa mengajar..." Ujar Pak Andi.


"Baiklah....nanti aku akan diskusi dulu dengan suamiku ini...makannya di tambah Pak..." Tawar Lika yang melihat mereka sudah hampir selesai makan.


"Cukup Bu...trimakasih..." Pak Andi meneguk gelas minumannya dan mengelap mulutnya dengan tissue.


"Kapan-kapan ajak istri dan anaknya kemari dong Pak..." Kata Lika.


"Iya Bu...rencana saya dan istri juga mau kemari, sekalian menengok si baby...siapa tau bisa menular ke istri saya..." Ucap Pak Andi.


"Lho...ternyata Pak Andi belum ada anak?" Tanya Lika.


"Betul Bu...kami menikah sudah hampir 15 tahun tapi belum di karuniai anak...kadang kami mulai putus asa mencoba berbagai macam cara dan metode...tapi sampai hari ini Tuhan masih belum mempercayakan itu buat kami..." Wajah Pak Andi berubah mendung.


"Tenang Pak Andi...bawalah istrimu kemari...siapa tau saat melihat Given istri anda bisa segera hamil dan melahirkan..." Hibur Ricky.


"Tapi kan kami sudah berumur Pak...sudah tidak muda lagi..." Kilah Pak Andi.

__ADS_1


"Tidak ada yang mustahil di dunia ini Pak..." Jawab Ricky sambil menepuk-nepuk pundak Pak Andi.


**********


__ADS_2