
Lika mengetuk perlahan pintu kamar rumah sakit yang ada di hadapannya. Tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamar tersebut, akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu itu.
Sarah, sang penghuni kamar nampak sedang tertidur dengan lemahnya, di kedua tangannya masih menempel jarum infus, matanya kelihatan cekung, tubuhnya nampak kurus dan terlihat beberapa tulang yang menonjol.
Lika mendekatinya perlahan, tidak ada seorangpun di sini, dia sakit dalam kesendirian. Lika memandang wajah itu dengan penuh belas kasihan. Patutkah Lika cemburu dengan Sarah dalam kondisi seperti ini? Lika merasa bersalah atas apa yang telah dirasakannya selama ini.
Perlahan mata yang tertutup itu mulai terbuka, Sarah mengerjapkan matanya memperjelas siapa yang ada di hadapannya.
"Ternyata Kau Bu Lika...aku pikir siapa..." Ucap Sarah lirih. Sepertinya dia mengharapkan kehadiran orang lain.
"Bagaimana keadaanmu mbak Sarah...ini aku bawakan buah-buahan untukmu..." Kata Lika sambil meletakan sekantong buah-buahan di meja.
"Yah...seperti yang kau lihat...aku hanya begini-begini saja...terkadang aku sangat bosan berada di ruangan ini..." Keluh Sarah. Matanya menerawang.
"Mbak...apakah kau tidak punya saudara atau kerabat di kota ini?" Tanya Lika.
"Orang tuaku berada jauh di luar negri...sejak dulu hubungan kami memang tidak baik...sedangkan saudara juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing...Bella pun sekarang sudah pergi, saat ini hanya anak-anakku yang terdekat denganku..." Cerita Sarah. Lika mendengarkan dengan seksama.
"Aku akan menemanimu selama aku bisa...mbak Sarah jangan kuatir..." Hibur Lika.
"Oya, dimana Ricky?" Tanya Sarah dengan mata penuh pengharapan.
"Ricky bersama dengan anak-anak di rumah, katanya dia sangat lelah..." Jawab Lika. Nampak dari sorot mata Sarah ada sedikit kekecewaan.
"Bu Lika...bisakah kau membawaku berjalan-jalan di taman rumah sakit ini? Aku ingin mencari udara segar..." Kata Sarah. Lika Menganggukan kepalanya.
Kemudian Lika membantu Sarah menaiki kursi roda yang ada di kamar itu, setelah meminta ijin pada suster, Lika mulai membawa Sarah turun ke bawah dan berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit.
"Kemarin Ricky juga membawaku jalan-jalan di sini...entah kenapa aku merasa bahagia, ternyata dia pria yang berhati lembut, bahkan dia juga menyuapiku...andaikan waktu dapat di putar...aku tak akan pernah meninggalkannya waktu itu...ah...aku benar-benar menyesal..." Ungkap Sarah.
"Iya mbak...belum terlambat jika ingin kembali..." Kata Lika.
"Tau kah kau Bu Lika...sekarang setiap hari aku selalu berharap akan terus bersamanya...rasanya sakitku berkurang jika ada dia di sampingku..." Sambung Sarah. Lika hanya mendengarkan semua cerita Sarah, sesekali dia menimpali.
"Dulu saat kami belum berpisah...dia begitu romantis, setiap malam selalu memberikan bunga dengan ucapan I love u...Kemudian dia akan menggendongku menuju ke kamar...tapi, ketika mantan kekasihku datang...semua berubah...aku juga tidak tau mengapa aku begitu tega meninggalkannya..." Lanjut Sarah.
"Seharusnya mbak Sarah jangan pergi...kasihan kan pak Ricky dan anak-anak..." Ujar Lika. Dadanya mulai bergemuruh.
"Kau benar Bu Lika... makanya aku sangat menyesal... sangat-sangat menyesal...menyia-nyiakan suami seperti Ricky..." Ucap Sarah. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah mbak Sarah...semuanya sudah terjadi..."
__ADS_1
"Bu Lika...mau kah kau membantuku...persatuan kembali aku dengan keluargaku...aku sangat butuh mereka saat ini..." Mohon Sarah sambil menatap wajah Lika.
"I...iya mbak...aku akan membantumu...mbak Sarah tenang saja jangan banyak pikiran...aku janji..." Kata Lika sambil tersenyum.
"Trimakasih Bu Lika... baru sekarang aku sadar bahwa sebenarnya aku sangat mencintai Ricky...aku bahagia berada
di dekatnya...kemarin bahkan dia tertidur di sisi ranjangku... masihkah ada namaku di hatinya?" Tanya Sarah.
Lika terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Sarah. Pikirannya menerawang, teringat lagi akan keinginannya untuk menjauh dari kehidupan Ricky dan anak-anaknya.
"Ehmm...mbak, sudah sore..sebaiknya kita ke kamar ya...kau juga perlu istirahat..." Kata Lika. Sarah Menganggukan kepalanya.
Kemudian Lika membawa Sarah kembali ke kamarnya, dia membantu membaringkan Sarah ke ranjangnya, kemudian Lika mengupas beberapa buah segar, lalu di potongnya dan di berikannya kepada Sarah.
"Malam ini aku yang akan menginap disini menjagamu mbak..." Kata Lika.
"Lho...apakah Ricky tidak datang?"
"Dia bilang sih tidak, mau istirahat dan menemani anak-anak..." Sahut Lika.
"Oh iya...memang dia perlu menemani anak-anak... baiklah...padahal aku merindukannya malam ini..." Kata Sarah lirih.
Sarah hanya mengangguk perlahan kemudian dia memejamkan matanya. Lika beringsut duduk di sofa yang ada di sudut kamar itu, ia menghela napas panjang, kemudian menyandarkan bahunya yang agak pegal.
Dia meraih ponselnya yang ada di dalam tasnya, ada beberapa panggilan tak terjawab, yang paling banyak adalah dari Ricky. Ada beberapa besan juga yang tertera di ponsel Lika.
"Lika...kau dimana? aku merindukanmu..."
"Lika...apakah kau sedang sibuk? kenapa tidak menjawab panggilanku?"
"Lika...trimakasih ya atas pelukan dan ciuman yang kau berikan untukku...aku selalu terbayang-bayang itu, dan membuat aku sangat bahagia...rasanya begitu manis..."
"Lika...tolong jawab teleponku...aku ingin dengar suaramu..."
Masih banyak lagi pesan yang lain, Lika segera menutup ponselnya, dadanya begitu sesak.
Lika menangis dalam hening ruangan itu, pikirannya benar-benar kacau. Dia mencintai Ricky, namun ada wanita lain yang lebih membutuhkan cinta itu.
Lika menatap wajah pucat dihadapannya itu, wajah yang entah sampai kapan bisa bertahan, akankah Lika tega merenggut harapan wanita itu? Lika harus mengambil keputusan cepat, dia harus mengalah, dia harus mundur perlahan. Itu yang ada di dalam pikiran Lika saat ini.
**********
__ADS_1
"Aaaaarrrrgggghhh....!!! Sakit...tolong aku!!" Suara jeritan Sarah di tengah malam itu mengagetkan Lika yang sedang tertidur. Spontan gadis itu berdiri, beberapa orang suster datang tergopoh-gopoh.
Sarah menjerit kesakitan sambil memegang perutnya, giginya sampai bergemeletuk menahan rasa sakit.
Kemudian masuklah seorang dokter dan langsung menangani Sarah, di beri suntikan dan obat penenang.
"Apa dia selalu seperti ini suster?" Tanya Lika panik pada salah satu suster.
"Iya mbak...kalo lagi kambuh memang seperti itu...tapi kalo hatinya lagi senang sepertinya dia baik-baik saja.. tetap beri dia semangat mbak..." Ucap suster itu.
Lika langsung merogoh tasnya dan mengambil ponselnya, lalu dia segera menelepon Ricky.
"Halo Lika...akhirnya kau telepon juga...aku..."
"Datanglah ke rumah sakit sekarang pak...kau harus menemani mbak Sarah...dia sangat membutuhkanmu..." Kata Lika.
"Tidak sekarang..."
"Sekarang...aku mohon padamu.."
"Ada apa? Jangan terlalu mengkhawatirkannya..." Ucap Ricky.
"Aku mohon...biar anak-anak aku yang menjaganya, asal kau bersama mbak Sarah pak..."
"Baiklah...aku datang...demi kamu Lika..." Kemudian Telepon dimatikan.
Sarah terlihat agak tenang, matanya sayu memandang kosong. Perlahan Lika mendekatinya.
"Mbak Sarah...Pak Ricky akan datang..." Bisik nya lirih di telinga Sarah.
"Benarkah?"
"Iya mbak...percayalah kepadaku...dia tidak akan meninggalkanmu.."
Sarah hanya tersenyum, ada harapan di dalam manik matanya.
***************
**Hi Readers... Mohon tinggalkan jejak melalui like, vote and comment ya...
Trimakasih atas dukungan untuk author..🙏🤗❤️**
__ADS_1