
Selama hampir dua Minggu Nenek di rawat intensif di rumah sakit, walau kondisinya membaik dan dia sudah dapat bicara, namun kakinya masih belum dapat di gerakan, Nenek kembali harus duduk di kursi roda. Dokter memberi persetujuan untuk rawat jalan dan terapi seminggu dua kali ke rumah sakit.
Pagi itu seperti biasa, Lika memasak dan menyiapkan bekal untuk Kezia dan Nando, Ricky masih nampak menelepon koleganya dan dia lebih banyak menghabiskan waktu dirumah sejak menikah, Ricky mulai jarang ke proyek, semua dikerjakan oleh asisten dan anak buahnya, dia hanya mengontrolnya dari rumah.
"Ibu...ayo berangkat...itu waktunya tinggal 15 menit lagi....nanti kita terlambat...!" Ajak Kezia yang mulai gelisah karena masih menunggu Papanya selesai telepon.
"Sabar sayang....Papa masih telepon...ibu tidak bisa menyetir mobil...tunggu lima menit lagi ya...." Hibur Lika. Kemudian tak lama Ricky menyudahi teleponnya karena melihat anak-anaknya cemberut.
"Ayo..ayo...masuk mobil semua....Papa sudah selesai..." Cetus Ricky sambil menutup teleponnya. Kemudian dia bergegas masuk dan menyalakan mobilnya.
"Lia...!! Titip Nenek....aku antar anak-anak sekolah dulu...!!" Teriak Lika dari luar rumah.
"Iya kak....tenang saja...!!" Sahut Lia dari dalam.
Kemudian mobil itu berjalan agak ngebut. Tak sampai 10 menit mereka sudah tiba di gerbang sekolah.
"Nah...sudah sampai....tidak terlambat kan...ayo salam ibu sama Papa...." Kata Lika. Mereka pun menyalami kedua orang tuanya dan pamit.
"Ibu...2 hari lagi di sekolah ada acara pentas seni...Ibu sama Papa datang ya..." Kata Nando.
"Nando mau lomba baca puisi Bu..." Celetuk Kezia.
"O ya...pasti Ibu Dateng kok Nak sama Papa...sudah sana...sebentar lagi masuk kelas..." Sahut Lika. Anak-anak itu segera berlarian masuk ke gerbang sekolah.
"Sayang....sebelum pulang aku mau menunjukkan sesuatu padamu..." Kata Ricky.
"Apa itu?"
"Sudah ikut saja..." Ricky kembali menyalakan mobilnya dan bergerak perlahan meninggalkan sekolah anak-anak.
Hingga mereka tiba di sebuah lokasi yang cukup luas tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
"Apaan ini Pa...?" Tanya Lika.
"Ini calon lokasi sekolahmu sayang....bagaimana? Kau suka dengan desainnya? Itu ada gambarnya di baliho besar..." Jelas Ricky sambil menunjukkan sebuah baliho besar yang menggambarkan sekolah yang akan dibangunnya.
"Wah Papa...sekolah ini besar sekali...siapa yang mendesain begini indah dan artistik?" Tanya Lika sambil berdecak kagum.
"Aku pakai arsitek terbaik di negri ini...sekolah ini dari KB, TK, SD, SMP, dan SMA...lengkap dengan fasilitas yang baik...sekarang mungkin masih tanah dan pondasi, tapi kau lihat nanti setelah anak kita lahir...ku pastikan sekolah ini sudah berdiri megah..." Jelas Ricky.
"Papa...aku sampai tidak bisa berkata apa-apa selain ucapan syukur dan trimakasih...." Gumam Lika. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Ricky.
__ADS_1
"Asal kau mencintaiku dengan segenap hatimu...itu sudah cukup bagiku..." Ujar Ricky sambil mengelus pipi Lika.
"Iya Pa...masa kau tidak percaya aku mencintaimu dengan segenap hatiku...aku sudah singkirkan Bayu dalam hatiku, aku sudah tolak Pak Alan, bahkan Pak Ferry aku juga sudah menamparnya, aku memilihmu si duda beranak dua yang sudah tidak perjaka lagi...apa itu masih kurang?" Lika tersenyum sambil menatap mata suaminya itu. Ricky memeluk Lika dengan erat sambil mengecup keningnya.
"Trimakasih sayang....aku percaya....trimakasih ya...sudah memilihku walaupun aku duda beranak dua yang sudah tak perjaka lagi..." Ucap Ricky.
"Sudah...sudah..lebih baik kita pulang kerumah...sebentar lagi Lia mau berangkat kuliah...kasihan Nenek sendirian...." Sergah Lika sambil melepaskan pelukan Ricky.
Kemudian Ricky kembali melanjutkan perjalanannya menuju kerumah.
Ketika mobil mereka tiba di rumah, mereka terkejut melihat ada seorang wanita didepan rumah mereka memakai kerudung dan selendang. Ricky dan Lika saling berpandangan hingga akhirnya mereka turun dari mobil dan mendekati wanita itu.
"Permisi....mencari siapa Bu?" Tanya Lika hati-hati. Kemudian wanita berkerudung itu menoleh.
"Mbok Narti!!!" Pekik Lika dan Ricky bersamaan. Ternyata wanita itu adalah mbok Narti. Kemudian Lika langsung memeluk mbok Narti.
"Apa kabar Mbok...aku kangen sama mbok Narti..." Ujar Lika.
"Baik Mbak...anak mbok si Burhan sudah menikah, dan sekarang mereka tinggal bersama...jadi mbok memutuskan untuk mencari kalian...mbok boleh kan kerja lagi dengan kalian?" Tanya mbok Narti dengan wajah penuh harap.
"Tentu saja boleh mbok....kami pasti senang....anak-anak juga senang...apalagi Nenek...secara kan kalian pernah bertetangga dulu...ayo masuk mbok..." Ajak Lika sambil menuntun tangan Mbok Narti masuk kedalam rumah.
"Nek...Nenek....ada mbok Narti Nek...!" Panggil Lika. Nenek muncul dari dalam kamarnya dengan kursi rodanya.
"Narti! Akhirnya kau kesini...ayo temani aku...disini semua anak muda...hanya aku yang tua...!" Cetus Nenek. Kemudian mereka larut dalam pelukan.
********
Hari ini Nando kelihatan rapi, dia akan mengikuti lomba puisi dalam acara pentas seni SD di sekolahnya. Lika dan Nando juga sudah rapi berpakaian, ingin mendampingi Nando kesekolah. Sementara Kezia sudah sejak pagi tadi berangkat sekolah.
"Memangnya Nando sudah buat puisinya?" Tanya Lika sambil menyisir rambut Nando.
"Sudah dong Bu..." Sahutnya.
"Kok tidak bilang ibu...supaya ibu bisa membantu Nando, biar puisinya lebih bagus..."
"Rahasia dong Bu...nanti Ibu lihat saja..." Kata Nando dengan percaya dirinya.
"Hmm....Anak Ibu sudah besar rupanya...sudah pintar punya rahasia..." Ujar Lika sambil mencubit lembut dagu Nando.
"Sudah...ayo berangkat...!" Seru Ricky yang baru turun dari tangga. Kemudian Lika dan Nando mengikutinya.
__ADS_1
Di sekolah, di sebuah lapangan yang besar, sudah ada tenda dan panggung yang terpasang disana, para orang tua murid sudah berdatangan, Lika dan Ricky juga sudah duduk dengan manis di deretan tengah, karena bagian depan sudah penuh. Banyak sekali acara yang di tampilkan hari ini. Hingga tiba giliran lomba puisi.
Nando mendapat urutan nomor 20 dari 30 peserta, karena lomba ini tidak wajib, dan banyak juga aneka lomba yang lain. Para peserta lomba duduk di bagian depan panggung. Dengan beberapa juri yang sudah siap untuk menilai penampilan setiap peserta.
Peserta lomba puisi sudah naik ke panggung menunjukkan aksinya masing-masing, tibalah giliran nomor Nando yang di sebut, Nando berdiri dan sebelum naik keatas panggung dia menoleh kearah Lika dan Ricky. Lika tersenyum Menganggukan kepalanya memberikan semangat.
Nando sudah berdiri di atas panggung, namun tampaknya ia mulai grogi, dia belum membuka suaranya. Hingga pembawa acara mendekatinya.
"Ayo Nando...bacakan puisi mu..." Kata sang pembawa acara. Namun Nando masih terdiam.
"Apa judul puisi mu Nando?" Tanya pembawa acara lagi.
"Ibu..." Jawabnya Lirih.
"Ayo...bacakan puisi mu...agar ibumu senang..."
Penonton menunggu dengan berdebar-debar. Hingga akhirnya Nando mulai membuka suaranya.
"Ibu...dalam hatiku hanya ada nama ibu...
Saat aku tak dapat membaca selalu ada ibu....
Saat aku kesepian ada ibu yang menghiburku....
Saat aku kelaparan, ibu yang selalu memberikan aku makan...
Saat aku di bully teman hanya ibu yang membelaku...
Saat aku sakit, ibu yang menggendongku...
Ibu....walaupun ibu tidak pernah melahirkan aku....tapi ibu adalah surga buat aku....
Aku sayang ibu....kemarin hari ini dan selamanya....
Semua penonton terkesiap mendengar puisi yang dibacakan bocah kelas 3 SD itu, itu seperti bukan sebuah puisi tapi mampu membuat semua orang terpukau, ada beberapa diantara mereka yang meneteskan air mata.
Lika merasa dadanya begitu sesak, dia langsung berdiri dan berlari keatas panggung, memeluk Nando sambil menangis.
"Trimakasih Nak...Ibu juga sayang sama Nando.. " Bisiknya lirih. Kemudian semua penonton spontan berdiri dan memberi tepuk tangan yang meriah. Ricky juga berdiri sambil menyeka air matanya yang sempat menetes.
*********
__ADS_1
Ayo dukung author dengan like, vote, comment and share....
Authornya tidak pandai promosi hehehehe....🙏🤗❤️✨