
Setelah perjuangan mendapatkan donor darah, Nando bisa diselamatkan. Beberapa hari dia di rawat di rumah sakit, ketika keadaannya membaik, aku membawanya pulang kerumah.
Aku tau Nando bukan darah daging ku, namun anak ini tidak salah, dia lahir tanpa dosa, dan aku menyayanginya, sama seperti aku menyayangi Kezia.
Sejak terkuaknya masalah Nando yang bukan anakku, sikap Sarah semakin meraja Lela, kini dia sudah berani pergi tanpa seijin ku, dan sering pulang malam dalam keadaan mabuk.
Aku tau dia frustasi, Martin yang dia cintai pergi meninggalkannya, kini Sarah benar-benar rusak, dan aku tidak bisa begitu saja menceraikannya, karena aku kasihan terhadap anak-anakku yang masih sangat membutuhkan kasih sayang Mamanya.
Hingga pada akhirnya saat Kezia sudah kelas 4 SD, sedangkan Nando Masih TK, Badai besar itu datang, Martin kembali datang lagi, kali ini dia terang-terangan datang ke rumahku, saat anak-anak di sekolah.
Sarah terlihat bahagia melihat kedatangan Martin, aku langsung murka, dan saat itu juga aku mengusirnya keluar dari rumahku...
Ku pikir dia tidak akan pergi, karena anak-anaknya masih di sini, di rumah ini. Ternyata aku salah, Sarah memutuskan pergi dengan Martin, meninggalkan aku dan kedua anakku.
Hatiku hancur sehancur hancurnya. Kemudian aku langsung menceraikannya dan diapun menyetujuinya. Kami resmi bercerai, dan dengan ikhlas ku biarkan Sarah pergi dengan Martin.
"Papa....Mama di mana? Kenapa tidak pulang-pulang?" Kata Kezia suatu hari.
"Mama sudah pergi sayang...jangan pikirkan Mama lagi...masih ada Papa yang sayang dengan kalian...Papa juga bisa menjadi Mama..." Ujar ku menghibur mereka.
"Papa bisa berubah jadi Mama?" Tanya Nando polos.
"Iya sayang...Papa bisa memasak...bisa cuci piring dan cuci baju...mulai sekarang kita hanya akan hidup bertiga..." Aku merengkuh kedua anakku.
Karena pekerjaanku, juga proyek yang semakin meluas, aku sangat keteteran mengurus anak-anakku, hingga saat aku harus meninjau satu proyek di luar kota, dengan terpaksa aku menitipkan Kezia dan Nando dengan baby sitter ku.
Namun baru satu hari ku tinggalkan mereka, Kezia meneleponku.
"Papa...aku dan Nando lapar...kami tidak di beri makan...huuu....huuu.." Tangis Kezia. Aku sangat panik.
"Kenapa kalian lapar? Mana suster? Mana Bibi?" Tanyaku cemas.
"Suster pergi dengan Bibi....sampai sekarang tidak pulang-pulang...huuu....huuu" Tangis Kezia makin kencang.
Aku langsung balik saat itu juga tanpa memperdulikan Bisnisku dan proyek baruku, pikiranku benar-benar kacau.
__ADS_1
Saat aku sampai di rumah, pemandangan yang memilukan hati ada di depan mataku.
Kezia makan makanan sisa kemarin, Nando juga minum susu kemasan yang sudah basi. Mereka sangat memprihatinkan.
Setelah aku selidiki, Baby sitter dan asisten rumah tanggaku bekerja sama untuk merampok rumahku, semua barang berhargaku ludes, bahkan pakaian Sarah yang masih tertinggal juga raib. Untungnya mereka tidak menculik anak-anakku.
Sejak saat itu, aku tidak mempercayai siapapun, aku begitu trauma mengingat anak-anak yang jadi korbannya. Ku peluk kedua anakku dengan erat.
"Kezia....Nando....mulai sekarang Papa yang akan menjaga dan melindungi kalian...jangan percaya pada siapapun di dunia ini selain Papa..." Ucapku lirih.
"Iya Pa..." Jawab mereka bersamaan.
"Hanya kalian harta yang Papa miliki saat ini..." Bisik ku sambil mencium kedua anakku itu.
"Papa...Mama kemana??"
Lagi-lagi pertanyaan itu yang selalu di lontarkan anak-anakku. Aku sampai bingung sendiri menjawabnya. Kasihan mereka jadi korban perceraian orang tua.
***********
Aku hanya tinggal bertiga dengan anak-anakku, aku tak bisa lagi meninggalkan mereka begitu saja, aku harus mencari orang yang ku percaya menjadi tangan kananku.
Mulai saat itu, ku serahkan semua proyekku untuk dia tangani, aku hanya mengontrolnya dari jauh, karena dia bekerja denganku, nampak kemajuan yang signifikan dalam hidupnya, aku terbantu, dia juga maju dalam hal ekonomi.
"Terimakasih Pak Ricky atas kepercayaannya padaku...aku akan bekerja dengan sebaik-baiknya..." Ucap Bayu pada saat aku menyerahkan proyek yang di Sumatra untuk dia tangani.
"Kau tenang saja...tunjukan saja apa yang mampu kau kerjakan untuk kemajuan proyekku..." Sahutku.
"Tenang Pak...aku bisa di andalkan..." Katanya dengan percaya diri.
"Bagus...saat ini aku mau fokus dulu dengan kedua anakku.." Ucapku.
"Tenang Pak....percayakan semua padaku..."
"Bayu...apa kau sudah menikah?" Tanyaku.
__ADS_1
"Sebenarnya....aku sudah bertunangan dengan seorang guru, tapi sepertinya ketika ekonomi ku mulai maju, orang tuaku malah menjodohkan aku dengan gadis lain...ah...aku jadi dilema..." Ungkap Bayu, aku tertawa mendengarnya.
"Hahaha....Bayu....Bayu...aku ingatkan kau, jangan sekali-kali kau mempermainkan hati wanita, apapun profesinya...nanti kau akan kena karmanya..." Ujarku menasehati.
"Yah...sebenarnya aku mencintai gadis itu, tapi yah...mungkin profesinya yang tidak sesuai...sekarang malah aku di jodohkan dengan seorang sekertaris di sebuah perusahaan besar, entah kenapa orang tuaku bangga memiliki calon menantu seorang sekertaris..." Lanjut Bayu.
Aku menepuk bahunya lembut, Bayu masih sangat muda, dalam hal percintaan pun dia kelihatan begitu labil, tidak bisa tegas mengambil keputusan. Tapi memutuskan hubungan hanya karena masalah profesi, itu hal yang aneh bagiku.
Sejak proyekku di tangani Bayu, aku sedikit bisa bernafas lega, anak itu bisa diandalkan.
**********
Sebagai single parent, jujur aku sangat kerepotan mengurus dua anakku yang masih kecil-kecil.
"Papa....aku mau di kepang dua seperti Cika temanku...tolong dong Pa..." Kata Kezia sambil membawa sisir dan karet rambut.
Aku bingung bagaimana cara mengepang rambut, kalau dulu ada Sarah yang selalu mengepang rambut Kezia yang panjang.
"Kezia...rambutnya di kuncir satu saja ya...Papa belum bisa kepang rambut Kezia..." Jawabku.
"Huh...papa bohong dong...katanya Papa bisa jadi Mama....masa tidak bisa mengepang rambutku..." Sungut Kezia.
Akhirnya aku berusaha mengepang rambutnya meskipun berkali-kali gagal.
Karena sibuk berusaha mengepang rambut Kezia, aku tak sadar telur yang aku goreng sudah gosong, ada bau gosong yang tercium di hidung kami.
"Papa...bau apa ini??" Kata Nando yang berusaha memakai sepatunya sendiri.
Aku langsung lari ke dapur, benar saja, seluruh penggorengan gosong tanpa sisa. Untung tidak kebakaran.
"Yah...terus kita makan apa dong..." Keluh Nando.
"Tenang sayang...nanti kita beli roti yang paling enak di toko roti...sekalian bekal buat kalian sekolah..."
"Papa kepangannya tidak bagus!!" Cetus Kezia.
__ADS_1
"Iya sayang maaf...besok ya Papa belajar lagi...sekarang kita berangkat yuk...nanti kalian telat..." Ucapku sambil mencium kedua anakku.
**********