Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Selamat Hari Guru


__ADS_3

Mbok Narti sudah selesai berkemas, Dokter juga sudah mengijinkan Ricky pulang kerumah dan rawat jalan di rumah sakit di Jogja, Lika juga terlihat sangat sehat setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, bayi Given sudah sangat siap untuk di ajak pulang kerumah.


Rombongan Nenek sudah siap di parkiran, rencana mereka akan pulang ke Jogja hari ini juga. Mobil Ricky yang di bengkel juga sudah di perbaiki, namun karena bekas kecelakaan Lika menyuruh Ricky menjual mobilnya. Akhirnya mereka memilih naik taksi online saja.


Ketika Lika menggendong bayinya keluar dari kamar perawatan, di sepanjang koridor ada beberapa karangan bunga yang bertuliskan 'Selamat Hari Guru' Lika terkesiap melihatnya.


"Pa...ini karangan bunga dari siapa?" Tanya Lika pada suaminya yang berjalan perlahan di sampingnya.


"Kalau yang ini dari Pak Andi nih...ada tulisan namanya..." Jawab Ricky sambil menunjuk karangan bunga yang paling pojok.


"Tapi yang ini tidak ada namanya Pa...cuma ada tulisan 'Selamat Hari Guru untuk Seseorang yang berjiwa Besar' Kira-kira siapa ya Pa...?" Tanya Lika penasaran.


"Entahlah.. aku tidak bisa menebak...sudahlah sayang, Nenek dan anak-anak telah lama menunggu...kasihan mereka kelamaan..." Ujar Ricky.


"Sebentar Pa...itu ada satu lagi karangan bunga...wah...dari Alex dan kawan-kawan...dari sekolah di Jogja....kok mereka tau ya aku ada di sini..." Gumam Lika. Kemudian dia menyerahkan bayinya untuk Ricky gendong. Lika mengambil ponsel dan memfoto beberapa karangan bunga tersebut untuk kenang-kenangan.


"Sayang....sudah selesai belum? Kau ini cuma karangan bunga saja kok....berlebihan sekali...aku juga bisa memberikanmu 10 karangan bunga....!" Seru Ricky yang mulai gelisah tak sabar mau pulang.


"Papa...kamu jangan begitu...hari ini memang adalah hari guru...bukan masalah karangan bunganya Pa...tapi makna di balik itu semua....tanpa guru kau bukan apa-apa sekarang!" Cetus Lika sambil berjalan mendahului Ricky menuju ke parkiran. Ricky yang sedang menggendong Given nampak kikuk mengejar Lika.


"Sayang....Bu Guru...! Jangan ngambek dong....iya...iya....aku minta maaf...!" Teriak Ricky. Lika terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit sampai ke lobby hingga sampai di parkiran.


"Lika...mana mobilnya?" Tanya Nenek.


"Iya Nek...sebentar aku order...tapi dari tadi aku tidak melihat mbok Narti nih...dimana sih dia...terakhir aku melihatnya sedang mengemasi barang-barang..." Jawab Lika.


"Papa....ayo dong kita pulang...katanya kita mau pulang beriringan konvoi gitu..." Kata Kezia.


"Iya...ini kita lagi nungguin mbok Narti sebentar..." Sahut Ricky dengan nafas yang ngos-ngosan setelah mengejar Lika, Given masih ada dalam gendongannya, bayi itu mulai merasa tidak nyaman. Akhirnya menangis lah dia.


Oweeek.....owweeeekkk....!!


Ricky panik dan langsung menyerahkan bayinya ke Lika yang masih cemberut.

__ADS_1


"Sayang...dia lapar kali...susuin dong..." Kata Ricky. Lika meraih bayinya dan kembali lagi ke lobby untuk menenangkannya.


"Ricky...bagaimana kalau kita pulang duluan, Nenek merasa sangat lelah...."Kata Nenek yang sudah siap duduk di samping kemudi.


"Ya sudah Nek....pulanglah kalian duluan...lagi pula aku masih mau mampir ke satu tempat...Mas Jun, hati-hati kau bawa mobil ya...!"


"Mau mampir kemana lagi kau? Badan baru pulih, istri baru melahirkan...suka nya ya kok jalan-jalan!" Sungut Nenek.


"Tenang Nek....tidak lama kok...janji...." Sahut Ricky.


"Yaah....gak jadi deh kita konvoi...!" Keluh Kezia.


"Iya nih...pasti Papa sama Ibu mau acting lagi...sebel deh!" Tambah Nando.


"Hei...dengar kalian....ini mbok Narti belum ketemu, masa mau di tinggal?? Sudah.. patuhi saja perintah Papa..kalian pulanglah duluan, nanti kita juga menyusul kok!" Tegas Ricky. Akhirnya rombongan Nenek segera pulang ke Jogja duluan.


Setelah mobil mereka bergerak meninggalkan parkiran, Ricky bergegas menyusul Lika ke lobby. Nampak Lika sedang asyik menyusui bayi mungilnya.


"Sayang...masih ngambek nih sama aku...kan aku sudah minta maaf..."


"Mbok...dari mana saja? Kami cemas mencarimu..." Tanya Lika.


"Baru aku mau telepon...Mbok Narti memang panjang umur...langsung nongol deh..." Tambah Ricky sambil duduk di samping Lika.


"Maaf mbak Lika...tadi sehabis beres-beres, mbok lihat orang yang biasa mengantar makanan dan memberikan karangan bunga tadi pagi..." Kata Mbok Narti.


"Lalu??" Tanya Lika tak sabar.


"Ternyata dia itu hanya kurir bayaran saja...setelah mbok desak dia, dia hanya memberikan alamat ini...setelah itu dia kabur lagi..." Jelas Mbok Narti sambil menyodorkan secarik kertas.


Lika dan Ricky memperhatikan dengan seksama alamat yang tertera di kertas itu, sebuah alamat yang lokasinya ada di Jakarta. Lika mengernyitkan keningnya.


"Ini alamat siapa ya...kok aku tidak pernah mengenal orang yang beralamat di situ?" Gumam Lika.

__ADS_1


"Sama....aku juga tidak kenal alamat itu...sudah abaikan saja...paling kerjaan orang iseng!" Cetus Ricky sambil membuang kertas itu ke sembarangan arah.


"Yah...jangan di buang dong Pa...siapa tau ini petunjuk..." Ujar Lika. Kemudian dia memungut kertas itu dan memasukannya kedalam tas bayi.


"Sudahlah....lebih baik kita pulang sekarang, kita order taksi sekarang ya..." Ricky kembali meraih ponselnya dan mulai memesan taksi online.


"Yuk tunggu di depan lobby, lima menit lagi taksinya datang...." Ricky mengambil tas bayi dan tas besarnya kemudian segera melangkah menuju ke depan lobby.


Akhirnya mereka bisa bernafas lega, bisa segera pulang ke Jogja, kerumah mereka. Bayi Given nampak tertidur pulas setelah kenyang menyusu. Kini gantian mbok Narti yang menggendong bayi Given.


"Pak...nanti perempatan belok kiri sebentar ya...." Kata Ricky kepada supir taksi itu.


"Baik Pak..." Sahut Supir itu.


"Mau mampir kemana sih Pa?" Tanya Lika penasaran.


"Kau tenang saja istriku....nanti setelah sampai baru aku beri tahu..." Sahut Ricky.


Akhirnya mereka sampai ke sebuah lahan kosong yang sudah didirikan pondasi, ada beberapa rumah yang sudah jadi, rumah minimalis itu berada di pusat kota Semarang, dulunya lahan ini bekas rumah-rumah kaum PSK yang kini telah di gusur.


"Sayang...ayo kita keluar sebentar, biar mbok Narti dan Given tunggu di mobil saja...ada yang mau aku tunjukkan padamu..." Kata Ricky yang langsung membuka pintu mobil kemudian segera turun. Lika menyusulnya.


"Pa...apa yang mau kau tunjukkan padaku?" Tanya Lika tak sabar.


"Sayang...ini adalah proyek ku yang di Semarang, proyek ini adalah hadiah untukmu, sebagai bentuk penghormatan ku yang besar terhadap guru...semua rumah yang di bangun di lokasi ini adalah untuk para guru, biasanya profesi guru sulit untuk mengajukan KPR, mungkin karena penghasilannya kecil...tapi perumahan ini mempermudah para guru yang ingin memiliki rumah..." Jelas Ricky. Lika terkesiap tidak dapat berkata apa-apa lagi.


"Papa...maafkan aku tadi sempat berprasangka buruk padamu..." Ungkap Lika penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa sayang....aku tidak pernah marah padamu..."


"Ternyata bukan hanya karangan bunga yang bisa menggambarkan penghargaan terhadap sesuatu...kau bahkan dengan nyata memberikan bentuk penghargaan mu....terhadap para guru....terimakasih Papa..." Ucap Lika sambil memeluk tubuh suaminya itu.


"Iya sayang....selamat hari guru ya...." Bisik Ricky sambil mengecup kening Lika.

__ADS_1


*************


__ADS_2