
Malam itu setelah pertemuannya dengan Alan, Lika tidak dapat tidur. Pikirannya terus teringat setiap perkataan Alan, benarkah tindakan Lika adalah suatu kebodohan? Apakah Lika membohongi perasaannya sendiri?
Lika bangkit dari tidurnya, meraih ponselnya dan mulai menekan tombol nomor mbok Narti, ya, hanya mbok Narti yang saat ini masih bisa dia hubungi.
"Halo..."
"Halo mbok Narti...ini Lika, pakai nomor baru...mbok Narti sehat?"
"Sehat mbak Lika..."
"Mbok...anak-anak sehat kan? Gimana belajar mereka? Apa mereka mengalami kesulitan belajar?" Tanya Lika beruntun.
"Anak-anak sehat mbak....hanya saja sekarang kelihatan agak pendiam...sejak Mamanya pulang dari rumah sakit..." Jelas Mbok Narti.
"Ooo....jadi Mamanya sudah kembali ya mbok...syukurlah...aku ikut senang...akhirnya mereka bisa bersatu..." Kata Lika Lirih, hatinya mulai pedih.
Sebenarnya mbok Narti ini karena orang baru, jadi tidak tau duduk permasalahan mereka, dia hanya menyampaikan sesuai dengan sudut pandangnya.
"Tapi...ibu Sarah tidur di kamar tamu mbak..."
"Ya itu kan sekarang...nanti kan bisa berubah...mbok...tolong jaga anak-anak ya...aku titip mereka sama mbok..."
"Iya mbak...mbak Lika juga ya...sampaikan salam mbok sama nenekmu..."
"Baik mbok...trimakasih..."
Entah mengapa malam ini hati Lika menjadi sedih, dia senang Sarah kembali ke keluarganya, tapi di sisi lain, hatinya seperti teriris sembilu. Apakah dia cemburu? Buru-buru dia menepis perasaan itu.
'Ternyata mereka sudah bersatu menjadi satu keluarga lagi... semoga kau menemukan kebahagiaanmu pak Ricky...' Gumam Lika dalam hati.
************
Dari kaca jendela ruangannya, lagi-lagi Lika melihat anak itu di hukum berjemur di tengah lapangan, dia adalah Alex murid kelas 11, Alex memang di kenal nakal dan sering berbuat onar di sekolah, bahkan guru-guru juga seringkali menghukumnya, namun sepertinya hukuman tidak membuatnya jera.
Perlahan Lika membuka pintu ruangannya, dan berjalan mendekati Alex yang masih berdiri di tempatnya.
"Hai Alex...apa kamu tidak bosan hampir setiap hari di jemur disini?" Tanya Lika. Alex menatap Lika tajam, seolah tidak suka ditanyai.
"Sudah biasa Bu...baru tau ya? Karena ibu guru baru?" Alex balik bertanya.
"Sudah tau kok...banyak guru yang menceritakanmu..." Sahut Lika.
"Ya sudah...mengapa ibu peduli padaku...semua guru senang aku di hukum...jadi mereka ada kerjaan..." Kata Alex.
"Tapi ibu tidak suka kau dihukum terus...tadi pagi pak Ferry bilang kamu berkelahi dengan Anton, teman kelasmu...kenapa?"
"Mulutnya usil..."
__ADS_1
"Usil kenapa?"
"Dia bilang aku anak haram...hanya karena ibuku tak punya suami..."
Lika terdiam, tiba-tiba dia teringat Nando yang dulu juga pernah berkelahi karena di bully oleh teman kelasnya.
"Alex...ikut ibu sebentar..."
"Kemana Bu? Aku sedang di hukum...kalau ikut campur nanti ibu kena masalah..." Jawab Alex.
"Tidak akan...kau lupa ibu adalah guru BK di sekolah ini? Jadi ibu juga ada otoritas untuk mengatur murid disini...sekarang cepat ikut ibu...!" Tegas Lika. Kemudian Alek mengikuti Lika ke ruangannya.
"Sekarang duduk lah..ini ada air mineral, minumlah dulu..supaya pikiranmu tenang..." Kata Lika.
"Trimakasih Bu..."
"Sekarang beritahu ibu dimana rumahmu..."
"Untuk apa Bu...?"
"Ya ibu mau main saja...kenalan dengan ibumu..apa tidak boleh?" Tanya Lika.
"Bo...boleh bu..."
"Oke...siang ini...kita pulang bareng ya..."
"Iya Bu..."
"Tapi Bu...aku belum selesai di hukum...nanti aku dimarahi pak Agus..."
"Masuklah...ibu yang tanggung jawab kalau kau di marahi..."
Dengan ragu-ragu Alex melangkah pergi menuju ke kelasnya.
Lika menarik napas panjang, Entah mengapa melihatnAlex yang seperti itu, dia begitu kasihan.
Tidak berapa lama kemudian, pintu ruangan Lika terbuka, Pak Agus sudah berdiri di hadapannya.
"Bu Lika.. mengapa kau ijinkan Alex untuk masuk ke kelas? Dia sedang saya hukum karena lagi-lagi berbuat ulah..." Tanya pak Agus dengan tatapan tajam.
"Kenapa bapak menghukumnya di jam pelajaran? Bukankah pendidikan itu salah satu dari hak murid?" Lika balik tanya.
"Ah...ibu tidak mengerti...ibu masih baru di sini...belum mengenal siapapun...ku beritahu...anak itu berbahaya, dia sering berkelahi, bahkan melukai teman..." Jelas pak Agus.
"Apa pak Agus tau alasannya...?"
"Aku tau...hanya karena sedikit di ganggu oleh temannya, kemarahannya bisa meledak-ledak..."
__ADS_1
"Sedikit di ganggu? Itu bully namanya pak...apakah kasus pembullyan di perkenankan di sekolah ini? Tidak melihat dari sudut pandang siswa yang di bully?" Tanya Lika.
"Ibu Lika terlalu idealis...maaf, saya harus kembali kekelas..." Kata Pak Agus yang langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan itu.
***********
Siang itu sepulang sekolah, Lika melangkah cepat menuju ke lobby sekolah, janjian dengan Alex untuk berkunjung kerumahnya.
Dari ujung lorong kelas, nampak Alex, yang berperawakan tinggi kurus itu berlari-lari menghampiri Lika.
"Sudah siap Lex...kamu naik apa? Bu Lika bawa sepeda..." Kata Lika yang berjalan di samping Alex, di tengah kerumunan para siswa yang baru pulang sekolah.
"Naik motor Bu...bareng aku saja Bu...nanti pulangnya aku antar..." Tawar Alex.
"Boleh juga...lagian ibu gak lama kok.."
Mereka segera menuju kediaman Alex yang ternyata tidak jauh dari sekolah. Rumah Alex nampak sederhana, di sebuah perumahan minimalis dengan tipe 45.
Seorang wanita yang berusia kira-kira 45 tahun, keluar dari balik pintu rumahnya.
"Sudah pulang kau Nak...?" Tanya Ibu Alex. Alex segera mencium tangan ibunya. Lika terkesiap, di kelas Alex di kenal suka berkelahi, tapi di rumah dia begitu sopan dengan orang tuanya.
"Ini Bu Lika, guru Alex Bu..." Kata Alex. Mereka segera masuk dan duduk diruang tamu rumah Alex.
"Wah...tumben nih ada guru yang berkunjung ke mari...sebelumnya tidak pernah lho...ibu Lika guru baru ya di sekolah?" Tanya ibu Alex.
"Iya Bu...saya guru baru...ingin kenal Alex lebih dalam saja...oya, apa kalian cuma tinggal berdua dirumah ini?" Lika balik tanya.
"Iya Bu.. saya merawat Alex sejak bayi sendirian...ayahnya Alex meninggal ketika Alex masih di dalam kandungan...kasihan Alex, belum pernah mengenal sosok ayahnya..." Cerita ibu Alex dengan mata berkaca-kaca. Alex hanya menunduk.
Lika tertegun, ternyata Alex bukanlah anak haram yang difitnahkan teman-temannya. Ayahnya meninggal saat Alex dalam kandungan.
"Bu...sekarang apa pekerjaan ibu?" Tanya Lika lagi.
"Saya usaha jual kue, sebagian saya titip di toko-toko, sebagian saya jual secara online...saya memang tidak pernah kerja di luar Bu...kasihan Alex kalo ditinggal ibunya bekerja..." Ungkap ibu Alek. Lika Menganggukan kepalanya.
"Baiklah Bu...saya kira cukup, saya mohon pamit...Alex...yuk..." Kata Lika sambil bangkit dari duduknya. Alex juga berdiri dan berjalan keluar rumah diikuti oleh ibunya.
"Bu...Alex antar Bu Lika ambil sepeda di sekolah ya..." Kata Alex. Ibunya hanya menganggukan kepalanya.
Kemudian Alex membonceng Lika naik motor menuju kembali kesekolah.
"Alex...ibumu sangat sayang padamu...kau jangan mengecewakan dia dengan ulah mu yang mudah emosian...apapun yang dikatakan temanmu...jangan kau ambil hati...itu akan merugikan dirimu sendiri..." Kata Lika di tengah perjalanan.
"Tapi Bu...aku tidak mau di hina..."
"Kau ingat pribahasa...anjing menggonggong kafilah berlalu? Kalau kau berubah sikap...orang lain juga akan menghargai mu...jadi ..jangan dengarkan segala ocehan orang lain yang negatif tentangmu...teruslah bersikap baik...maka orang lain juga akan sungkan terhadapmu...mengerti?"
__ADS_1
"Mengerti Bu...trimakasih...trimakasih Bu Lika..."
**********