
Beberapa bulan kehilangan Lika membuatku sangat sedih dan terpukul, dampaknya adalah banyak proyek yang mengalami kegagalan.
Ada beberapa kolegaku yang menelepon mengatakan bahwa proyek sedang di manipulasi, bahkan banyak para debitur yang mengalami kredit macet, usahaku semakin tersendat.
Aku belum menyelidiki dalang di balik semua kekacauan ini, pikiranku masih bercabang. Apalagi Sarah yang bersikeras mau tinggal dengan kami di rumah kami.
Sebagai ibu kandung dari anak-anakku, tidak pantas rasanya jika aku harus mengusirnya dengan tidak hormat. Apalagi kondisinya yang duduk di kursi roda. Lagi-lagi aku mengalah.
Hampir setiap malam aku sulit untuk memejamkan mataku, dan hampir setiap malam juga Mbok Narti selalu membuatkan aku susu hangat. Aku mulai curiga.
Hingga pada siang itu aku jemput anak-anak di sekolah, kini Kezia sudah SMP dan sekolah di tempat yang berbeda dengan Nando.
Namun anak-anakku tidak ada di sekolah, kata pak Alan ada acara Outing Class, namun ku tanya orang tua yang lain tidak ada, hatiku mulai was was.
Di sekolah Kezia juga sama, Kata gurunya Kezia di jemput dengan tantenya, Tante siapa? Bukankah mereka tidak punya saudara di Indonesia?
Akhirnya tabir itu terkuak melalui mbok Narti, Anak-anakku bertemu dengan Lika, kenapa hanya anak-anakku? Apakah dia tidak sayang dan rindu padaku?
Aku juga baru tau kalau hampir setiap malam Lika menghubungi Mbok Narti hanya untuk sekedar menanyakan kabarku dan menyuruh Mbok Narti membuatkan aku susu hangat.
Ah, ternyata Lika masih sayang padaku. Malam itu juga aku langsung menyusul ke hotel dimana dia menginap.
__ADS_1
Aku tak ingin lagi kehilangannya, aku sangat rindu padanya, aku menunggunya selama hampir dua jam di depan kamarnya.
Akhirnya aku benar-benar menemukannya, wanita yang ku rindukan siang dan malam.
Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan, walaupun ini acara dari sekolah barunya. Aku langsung mengajaknya pergi untuk melepas rindu.
Aku sudah tidak tahan, rindu ini sangat menyiksaku. Aku menghentikan mobil yang ku kendarai.
Aku mulai memeluk dan menciumnya, menumpahkan segala rasa yang terpendam selama ini.
"Pak...jangan seperti ini...nanti ada setan lewat bagaimana?" Dia berusaha mengurai pelukanku.
Aku tidak perduli, rindu ini terlalu besar, aku kembali menarik Lika dalam pelukanku dan aku mulai menciumnya dengan dalam, nampaknya dia juga amat rindu padaku, dia membalas ciuman bibirku, aku tau dia begitu menikmatinya, aku bisa merasakannya.
Kebetulan Sarah kabur dari rumah sakit, disisi lain aku senang karena bisa lepas dari dia, namun di sisi lain aku khawatir kalau dia akan meneror keluargaku, apalagi dia tau aku kini sangat mencintai Lika.
Aku ada proyek perumahan premium di Jogja, aku tidak mau menunggu lama, rumah contoh yang aku bangun aku jadikan rumah pribadi kami, aku, Lika dan keluarganya.
Aku akan membangun bahtera rumah tanggaku di Jogja, aku dan anak-anakku akan pindah kesana. Cinta ini membawaku ke kota Jogja.
Aku tau Lika calon istriku sangat suka mengajar, sebagai seorang guru dia juga cukup berkompeten, aku persembahkan tanah ku sekian hektar untuk di bangun sekolahan sesuai dengan impiannya, dan dia terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Sekolah itu adalah hadiah cintaku untuk Lika, orang yang amat aku cintai melebihi siapapun.
Hingga akhirnya hari bahagia itu tiba, aku benar-benar bisa menikahi Lika dan mengambil dia menjadi istriku, kedua orang tuaku datang dari Taiwan, mereka senang akhirnya aku dapat menemukan pelabuhan terakhir cintaku. Ini benar-benar terakhir, sampai maut memisahkan.
Aku sangat bahagia, akhirnya Lika sudah benar-benar menjadi istriku, statusnya kini adalah nyonya Ricky Gunadi, ibu dari anak-anakku Kezia dan Nando.
Namun aku sedikit terkendala dengan malam pertama, tak ku sangka dia begitu polos. Aku tau dia masih perawan, masih murni dan lugu, sangat berbeda dengan Sarah dulu. Aku sangat beruntung bahwa aku yang tidak perjaka ini bisa merasakan juga gadis perawan seperti Lika.
Dia terlihat begitu menggemaskan, bodoh dalam hal melakukan percintaan, bahkan malam pertama mengenakan pakaian tidur yang rapat, membuat aku tidak sabar ingin menerkamnya.
Dan dia menjerit saat melihat milikku yang sudah tegang, lucu sekali ekspresinya, seperti tidak pernah melihat saja. Aku kan jadi mati kutu dan mati gaya.
Akhirnya setelah mengalami perjuangan yang lumayan sulit, aku dapat juga merasakan keperawanan Lika. Rasanya luar biasa dan tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata. Begitu nikmat dan Indah.
Setiap hari aku selalu ingin merasakannya lagi dan lagi, rasa yang seumur hidup jarang ku nikmati.
Lika menjadi istri yang baik dan ibu yang baik buat anak-anakku.
Aku selalu berharap bisa hidup bersamanya dengan anak-anakku kelak sampai menutup mata.
Namun sayangnya, kehidupan rumah tangga baruku tidak semulus apa yang ku bayangkan, satu-satu mulai terkuak suatu kejahatan yang terselubung dan tragedi yang menimpaku sampai aku harus mengalami koma hampir dua Minggu.
__ADS_1
**********