Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Detik-Detik Terakhir


__ADS_3

Martin menangis di sisi pembaringan Sarah, laki-laki itu nampak rapuh, punggungnya berguncang menahan gejolak yang ada di dalam dadanya.


Sementara Nando ikut menangis di samping Martin, Ricky yang melihatnya langsung mendekati Nando dan memeluk anak itu, memberikan ketenangan dan kekuatan batin.


"Sarah....kau bisa mendengarkan aku?? Maafkan aku...maafkan aku....seharusnya aku tidak meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini...maafkan aku...huuu....huuu..." Tangis Martin menggema di ruangan itu.


"Martin...tenangkan dirimu...!" Ujar Ricky sambil menepuk bahu Martin yang masih bersimpuh di samping Sarah.


Sementara Sarah tetap tak bergeming, namun dari sudut matanya, nampak cairan bening yang menetes.


"Bu...Mama kenapa?" Tanya Kezia yang masih berdiri di samping Lika.


Lika terdiam, tidak mampu untuk berkata-kata, matanya juga sudah menggenang air sejak tadi, dia mendekap erat Given yang masih tertidur dalam gendongannya.


Perlahan Lika mendekati Sarah yang masih terbaring lemah.


"Mbak Sarah....kalau ada yang mau di ucapkan...ucapkanlah...kami akan mendengarkanmu...mungkin tubuhmu tidak bisa bergerak...tapi hatimu masih dapat merasakan dan matamu masih dapat melihat kan..." Ucap Lika.


"Sarah...aku tidak mau kau menderita...kalau kau mau pergi....pergilah...aku merelakan mu....pergilah bersama cintaku...aku berjanji akan membesarkan Nando...buah cinta kita yang terlarang..." Tambah Martin sambil menyeka wajahnya.


Tiba-tiba mulut Sarah megap-megap, seperti orang yang sesak nafas. Kemudian Bu Ratih maju menghampirinya.


Ada dua orang perawat yang masuk keruangan itu.


"Tolong buka ventilator nya, sepertinya dia hendak berbicara..." Kata Bu Ratih.


Dua orang perawat itu langsung membuka selang ventilator yang menutupi mulut Sarah.


Wajah itu nampak pucat dan kasihan, matanya sayu dan sendu, kulitnya kebiruan dan tubuhnya hanya tinggal tulang terbalut kulit, sementara rambutnya sudah nyaris botak, kondisinya sangat memprihatinkan.


"Ri...Ricky..." Ucap Sarah Lirih, nyaris tak terdengar.


Martin menghentikan tangisnya, Sarah memanggil Ricky, bukan Martin.


Ricky menoleh kearah Lika, Lika menganggukkan kepalanya, kemudian Ricky perlahan mendekati Sarah.


"Sarah..." Panggil Ricky.


Sarah menatap wajah Ricky, tatapan itu sangat dalam dan pilu. Ada yang mengalir di sudut matanya.


"Ma...maafkan...a...ku...kau...su...suami yang baik...maaf...maaf..."

__ADS_1


Dengan susah payah Sarah membuka mulutnya, hingga akhirnya dia menarik nafasnya dalam dan wajah pucat itu sudah terkulai.


"Sarah!" Seru Ricky.


"Sarah...Sarah....!! Jangan kau tinggalkan aku Sarah...!!" Jerit Martin yang langsung mendekat dan mengguncang tubuh Sarah.


Bu Ratih dan kedua perawatnya langsung memeriksa tubuh Sarah.


"Sarah Sudah meninggal...nafasnya sudah tidak ada..." Kata Bu Ratih.


"Tidak! Saraaah...." Teriak Martin sambil memeluk tubuh Sarah.


"Mamaa..." Kezia dan Nando juga menghambur memeluk tubuh Sarah.


Ricky hanya terpaku berdiri memandang tubuh itu, tubuh yang kini sudah tak bernyawa.


Sementara Lika menangis melihat pemandangan pilu yang ada di hadapannya. Ricky langsung memeluk erat tubuh Lika.


"Jangan menangis sayang...dia sudah pergi..." Bisik Ricky.


"Papa...aku bahkan belum sempat minta maaf...aku belum sempat minta maaf..." Tangis Lika di dada Ricky.


"Kau tidak salah sayang...Sarah tidak lagi membencimu...percayalah padaku..." Ucap Ricky sambil membelai rambut Lika.


"Sekarang...aku benar-benar sudah tidak punya Mama..." Isak Nando.


"Siapa bilang ...bukankah Bu Lika adalah Ibumu...?" Tanya Ricky.


"Iya Pa...sekarang kita hanya punya ibu...hanya punya ibu..." Sahut Kezia sambil mengusap air matanya.


Sementara Martin masih terpekur di sisi Sarah yang tubuhnya kini sudah di tutup oleh kain putih. Wajah Martin penuh kesedihan dan penyesalan, penyesalan yang datang terlambat.


********


Disini, di pemakaman yang bertabur banyak bunga, beberapa orang pelayat sudah pulang.


Martin masih bersimpuh di samping makam yang terlihat merah dan basah, air matanya tak berhenti mengalir, meratapi kepergian Sarah untuk selamanya.


"Sudahlah Martin...ikhlaskan dia pergi dengan tenang...ingat kau masih punya Nando yang membutuhkan kasih sayangmu...!" Kata Ricky sambil menepuk punggung Martin.


Martin menoleh, di lihatnya Nando yang berdiri di samping Ricky. Kemudian Martin berdiri dan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Nando...Mamamu sudah pergi...Ayah juga sudah tidak punya harapan lagi...sekarang terserah Nando...kalau Nando mau...kau bisa tinggal lagi dengan Papa Ricky...di sana kau akan mendapatkan banyak kasih sayang..." Ucap Martin.


"Tidak ayah...aku akan temani ayah...ayah tidak akan sendirian..." Sergah Nando yang langsung memeluk Martin.


"Trimakasih Nak...Ayahmu bukan ayah yang sempurna seperti Papa Ricky...tapi kau mau memberikan kesempatan untuk ayah...menebus semua dosa-dosa ayah..." Ujar Martin sambil memeluk erat Nando.


"Aku akan ikut kemanapun ayah pergi..." Jawab Nando.


Lika yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari tempat itu, berjalan mendekati mereka sambil menggendong Given. Ricky langsung mengambil Given dari gendongan Lika.


"Given sini sama Papa ya..." Ucap Ricky sambil mencium pipi Given yang mulai gembul.


Lika langsung mendekati Nando dan membelai rambut anak itu.


"Ibu bangga sama Nando...kau benar-benar anak hebat dan berbakti...kelak kalau kau dewasa, kau akan jadi laki-laki yang baik dan bertanggung jawab..." Ujar Lika.


"Trima kasih Bu...aku juga bangga punya ibu seperti Bu Lika...aku masih boleh kan sesekali telepon ibu kalau kangen...?" Tanya Nando.


"Tentu saja boleh sayang...ibu akan selalu menunggu telepon dari Nando..." Jawab Lika.


"Kau juga jangan lupakan kakak Do....kau harus sering mengirim foto terbarumu di ponsel Kakak...!" Celetuk Kezia yang sejak tadi berdiri di situ.


"Iya Kak...Ibu tetap ibu aku, Kak Kezia tetap kakakku..." Sahut Nando.


"Dan Given tetap jadi adik Nando..." Tambah Ricky sambil ikut membelai rambut Nando.


Tiba-tiba Bu Ratih datang ke pemakaman Sarah, wanita itu memakai baju serba hitam dan kerudung hitam, dia berjalan mendekati mereka.


"Maaf...kami menemukan sebuah buku harian di kamar Sarah...ternyata selama di panti, Sarah menulis buku harian ini...barangkali ini penting buat kalian..." Kata Bu Ratih sambil menyerahkan sebuah buku ke arah Ricky.


"Kenapa ibu memberikan buku ini ke saya? Bukan ke Martin?" Tanya Ricky.


"Maaf, saya sempat membaca sekilas...di dalam buku ini banyak sekali nama....Ricky...bukan Martin...mungkin Pak Ricky yang lebih berhak untuk membacanya....mungkin ini kenangan terakhir dari beliau..." Ucap Bu Ratih.


Ricky menerima buku itu, kemudian dia menyimpan di dalam tas bayi Given.


"Terimakasih Bu..." Ucap Ricky sambil menganggukkan kepalanya.


***********


Hi Guys....besok sudah episode terakhir ya...

__ADS_1


Tapi author akan menyisipkan bonus chapter...namun mungkin tidak bisa up tiap hari...


Trimakasih....🙏🙏🤗❤️


__ADS_2