
Tin....tin....tin...
Sebuah taksi berhenti di depan rumah Ricky. Kemudian turunlah seorang remaja laki-laki yang sangat tampan dan berkulit putih.
Kezia yang sudah mengintip dari balik jendela kamarnya, langsung turun dan membuka pintu gerbang dengan penuh semangat.
"Nando!" Serunya dan langsung menghampiri sang cowok dan langsung memeluknya.
"Hai Kak Kezia...kau makin cantik saja, kalau bukan karna kau adalah kakakku, mungkin aku sudah mengejarmu!" Goda Nando.
"Kau juga sangat tampan Do...jangan bilang padaku kalau kau sudah punya pacar!" Cetus Kezia sambil menarik tangan Nando masuk ke dalam rumah.
"Huh...kakak ini, aku kan masih SMP...badanku saja yang tinggi...tapi umurku kan baru 14 tahun...!" Sahut Nando.
Lika dan Ricky yang baru turun dari kamarnya menyambut kedatangan Nando dengan gembira, mereka langsung memeluk Nando dengan hangat.
"Anak ibu mengapa jadi setinggi ini sekarang? Kau sudah mengalahkan tinggi Ibu Nak...!" Ucap Lika sambil mengusap kepala Nando yang sudah lebih tinggi darinya.
"Asal kau jangan mengalahkan tinggi Papa Nando...nanti Papa akan merasa tersaingi...!" Celetuk Ricky yang terus menepuk-nepuk punggung Nando.
"Papa tenang Saja...aku mana mungkin berani menyaingi Papa..." Sahut Nando.
"Eeh....ini kenapa ada orang ganteng di sini...perasaan dulu masih ingusan...mbok Narti yang sering mengelap ingus mu sayang..." Mbok Narti tiba-tiba muncul dari arah dapur.
"Ah...mbok Narti jangan buka-buka aibku dong..." Ujar Nando malu.
"Ayo makan...hari ini mbok masak makanan spesial lho...kesukaan Nando juga ada...pokoknya paket komplit..." Kata Mbok Narti sambil mengacungkan ibu jarinya.
Semua sudah siap di meja makan.
"Lho...nenek mana?" Tanya Nando.
"Nenek lagi istirahat di kamarnya Do...sekarang kan Nenek makannya makanan khusus...karena Nenek ada diabet....jadi makanannya beda sama kita..." Jelas Kezia.
"Oooo....ya sudah, aku mau Ketu Nenek dulu di kamarnya..."
Nando langsung beranjak ke kamar Nenek. Perlahan dia membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.
__ADS_1
Nenek masih nampak duduk di kursi rodanya sambil mendengarkan musik menggunakan earphone.
"Halo Nenek buyut! Apa kabar Nek....kangen sama aku tidak??" Sapa Nando sambil berjongkok di depan Nenek.
Sang Nenek nampak mengerutkan keningnya yang sudah berkerut.
"Siapa ya??" Tanya Nenek sambil membuka earphone nya.
"Ini Nando Nek...Nando!" Sahut Nando.
"Hah? Ke Manado? Siapa yang mau ke Manado? Nenek sudah tua tidak bisa jalan jauh... aku seperti mengenalmu...tapi kapan ya..." Nenek menaruh telunjuknya di keningnya seperti sedang berpikir.
"Yah Nenek...baru berapa tahun aku pergi Nenek sudah melupakan aku..." Ujar Nando sedih.
"Tunggu! Kau mirip seperti Nando cicitku...tapi cicitku dulu kecil dan pendek...tapi kenapa kau sebesar ini??" Tanya Nenek sambil meraba wajah Nando.
"Nah...betul Nek...aku kan sudah bilang dari tadi kalau aku Nando...Nenek buyut kok jadi muter-muter ngomongnya..." Jawab Nando.
"Nenek buyut sudah tua Nando...pendengaran dan penglihatannya sudah berkurang...jadi Nando maklum saja kalau Nenek susah mengenalimu...apalagi kau sudah sebesar ini..." Jelas Lika yang sudah berdiri di belakang Nando.
Kemudian Nando mendorong kursi roda Nenek keluar kamarnya.
Semua orang yang ada di situ saling berpandangan.
"Iya betul Nek...itu Nando! Tapi Nenek tau dari mana kalau Nando mirip artis Korea?" Tanya Kezia dengan suara keras.
"Kalau lihat yang bening-bening mata Nenek mendadak terang... Nando...ayo sini peluk Nenek!" Nenek merentangkan tangannya.
Kemudian Nenek dan Nando saling berpelukan.
"Hei...ayo cepatlah makan...makanan kita keburu dingin!" Seru Ricky yang sejak tadi sudah duduk di kursi makan.
Tak lama kemudian muncul Given dan Gavin yang sejak tadi menonton tv di kamar, Lika juga nampak menggendong Tasya yang mulai menangis.
"Hei...kenapa setelah aku pergi aku banyak mempunyai adik??" Tanya Nando.
"Kau tanyakan saja sama Papamu sayang..." Sahut Lika.
__ADS_1
"Nando...kalau hal yang seperti itu kau jangan tiru Papamu ya...!!" Cetus Nenek.
"Iri? Bilang Nek...!" Sahut Ricky.
"Huh! Siapa yang iri padamu? Aku hanya mengingatkanmu Ricky...usiamu sudah hampir setengah abad...harusnya kau sadar kalau kau sudah tua! Jangan membuat anak lagi!!" Sengit Nenek.
"Waduh...jangan fitnah Nek...umurku baru kepala 4, masa di bilang setengah abad? Nenek bisa hitung tidak??" Balas Ricky.
"Sudah...sudah...kalau begini terus kapan kita makan?? Ayo, kita mulai saja makannya...!" Sergah Lika.
"Aneh...kalau sedang berdebat sama Papa kenapa pendengaran Nenek jadi bagus?" Tanya Nando.
"Ya itulah Do...cuma Papa yang bisa buat Nenek mendengar dan melihat dengan terang..." Sahut Kezia.
Mereka akhirnya makan bersama di meja makan.
Ting...tong....
Bel rumah berbunyi. Kezia segera menaruh sendok dan garpunya di atas piring dan bergegas membukakan pintu.
"Ibu...Papa....lihat siapa yang datang...!" Seru Kezia.
"Wah...ada Tante Lia dan Om Burhan...!" Seru Nando.
"Halo Nando...katanya kamu mau liburan di sini ya...Tante sudah kangen lho sama Nando....makanya datang kemari..." Kata Lia.
"Kalian sudah datang....ayo sekalian gabung makan di sini...sayang nih makanannya banyak...!" Ajak Ricky.
"Iya Lia...sekalian kalian makan disini...rencana liburan kali ini Papa Ricky mau ajak kita pergi jalan-jalan ke ragunan..." Kata Lika.
"Ragunan??" Mereka saling berpandangan.
"Kayak nggak ada tempat lain aja sih!!" Celetuk Kezia.
"Kalian jangan begitu...kita harus banyak melihat keaneka ragaman hewan...supaya kita bisa menerima setiap keragaman orang lain yang unik...kita harus belajar banyak dari hewan..." Ucap Ricky.
Mendengar perkataan Ricky, mereka tidak ada yang berani lagi menyanggah perkataannya selain diam sambil menikmati makanan mereka masing-masing.
__ADS_1
**********