
Aku mulai mengemasi barang-barang sedikit demi sedikit, namun aku juga tidak bisa langsung pindah, sebentar lagi pembagian raport semester ganjil, aku harus sabar menunggunya.
Bisnisku yang mulai berkembang sampai keluar daerah membuat aku sangat keteteran mengurusi dua anakku, aku hanya mampu memasak, mengantar jemput dan membereskan pekerjaan rumah tangga.
Namun dalam hal pelajaran sekolah, aku tidak sanggup lagi menanganinya, tenagaku sudah benar-benar terkuras, aku nyaris tak ada waktu untuk menyetrika baju, mau tidak mau aku sering menitipkan cucian di laundry.
Pagi itu Kezia dan Nando nampak tidak semangat pergi ke sekolah, padahal di sekolah sedang ada acara pentas seni sekaligus pembagian raport. Perlahan aku mendekati mereka yang masih memakai piyama di meja makan.
"Kezia...Nando...kenapa kalian belum bersiap-siap? Sudah jam berapa ini?" Tanyaku sambil menunjuk ke arah jam dinding.
"Aku malas ah kesekolah...Papa saja yang ambil raport ku...!" Cetus Kezia.
"Kenapa? Katanya di sekolah banyak acara? Biasanya kalian paling suka kalau banyak kegiatan..." Tanyaku heran.
"Papa tau gak sih....hari ini tuh hari ibu...semua anak yang datang kesekolah harus datang dengan ibunya masing-masing habis itu di foto....dan foto yang paling bagus akan mendapat hadiah..." Jelas Kezia.
"Oooo....." Aku membulatkan mulutku mendengar penuturannya.
"Aku kan tidak punya ibu lagi...jadi untuk apa aku datang?" Tambah Kezia.
"Bukankah itu tidak wajib Nak..." Jawabku mencoba menghiburnya.
"Ya memang tidak wajib....tapi kan aku malu..." Sahut Kezia.
"Papa saja yang jadi ibu....katanya kan Papa bisa jadi ibu...." Celetuk Nando tiba-tiba.
Aha....Aku mendapat ide dari celetukan Nando..
Aku segera naik keatas, membongkar lemari bekas Sarah dulu, mengeluarkan pakaiannya yang masih tersisa, kemudian aku mencoba memakainya.
Ku buka laci lemari itu, ada peralatan make up bekas Sarah, aku mencoba memoles wajahku dengan make up, dan memulas bibirku dengan lipstik.
Hmm....Ternyata aku cantik juga kalau jadi wanita, aku menyambar wig yang tergantung di gantungan lemari, dulu Sarah suka memakai wig.
Saat aku turun, Kezia dan Nando terkesiap menatapku yang sudah berubah penampilan.
"Eh...kok Papa jadi tante-tante...?" Tanya Nando spontan.
"Nah...Papa sudah cocok belum jadi ibu?" Tanyaku.
"Cocok Pa!" Sahut Kezia.
__ADS_1
"Sekarang kalian ganti baju...kita kesekolah sama-sama..."
Kezia dan Nando langsung berlarian mengganti baju mereka. Aku sangat risih dengan penampilanku yang ku rasa sangat menjijikan, tapi demi anak-anakku, apa daya aku melakukannya.
Aku melihat di cermin, saat berdandan dan memakai wig, aku berubah, tidak tampak seperti laki-laki, gaun yang ku pakai juga pas di tubuhku, dadaku aku sumpal dengan sapu tangan.
Sesampainya di sekolah, semua mata memandangku tanpa berkedip, aku pasrah jika banyak orang yang mentertawakan penampilanku.
"Lho...Kezia...Papanya mana? Itu Kezia datang sama siapa? Calon Mama baru ya?" Tanya Bu Nuri kepala sekolah. Dia tidak mengenaliku.
Kemudian kami berfoto pada foto booth yang sudah di siapkan di sekolah.
Saat aku mengantri untuk memgambil raport Kezia, Mamanya Tasya mendekatiku.
"Papa Kezia...cantik juga kalau jadi wanita...aku hampir cemburu ku kira Papa Kezia calon Mama Kezia..." Bisik nya.
Wajahku memerah menahan malu, saat orang lain tidak menyadarinya, dia justru tau kalau aku hanya menyamar. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya.
Akhirnya saat tiba giliran ku mengambil raport Kezia, aku mengaku sama wali kelas Kezia.
"Maaf Bu...saya Papanya Kezia...saya begini supaya....anak-anak senang, merasa punya Mama...." Kataku pelan. Wali kelas Kezia nampak terkejut.
"Ya Tuhan Pak...Bapak cantik sekali...nyaris sempurna..." Sahutnya melotot.
"Ayo Kezia...Nando...kita pulang...Papa sudah tidak tahan..." Bisik ku pada kedua anakku.
"Sebentar lagi pengumuman Pa...tunggu dulu.." Sergah Kezia.
"Nah...langsung saja kita umumkan untuk juara favorit lomba foto booth...karena hari sudah siang dan pastinya pada lapar..." Kata si pembawa acara tiba-tiba. Aku menoleh kearah panggung.
"Juara Favorit jatuh pada Kezia dan Nando beserta Mamanya....untuk juara satu dua dan tiga menyusul ya..."
Aku terkejut nama anakku di panggil, aku bertambah malu karena aku hanya ibu gadungan.
"Silahkan Kezia dan Nando juga Mamanya naik untuk menerima piala dan penghargaan"
Kezia dan Nando menarik tanganku naik ke atas panggung.
"Om...sebelum aku terima piala aku mau ngomong dulu boleh?" Pinta Kezia pada si pembawa acara. Pembawa acara Menganggukan kepalanya sambil menyerahkan mic pada Kezia.
"Buat semua ibu bapak guru dan om Tante semua...aku minta maaf...maaf karena ini bukan ibuku...tapi Papaku yang menyamar jadi Mama...aku tidak butuh piala atau hadiah...aku cuma butuh Papa yang bisa jadi Mama....Hari ini hari ibu...tapi Bagiku Papa lebih dari pada ibu...aku sayang Papa...!" Ucap Kezia sambil memelukku, Nando juga memelukku.
__ADS_1
Seketika seisi ruangan menjadi senyap, seolah semua manusia hilang di telan bumi, aku mengusap kepala anak-anakku dan langsung turun dari panggung, semua rasa sudah campur aduk, antara bangga, sedih, juga malu.
Ah, aku tak perduli, lagi pula ini adalah hari terakhir kami di sekolah ini sebelum kami pindah ke Bandung. Anggap saja menjadi kenangan yang terakhir.
"Papa Kezia...!" Bu Nuri memanggilku sebelum aku keluar dari ruangan aula itu, aku menoleh. Dia nampak membawa piala dan bungkusan hadiah.
"Ini terimalah Piala milik kalian...kalian berhak menerimanya...walaupun Papa Kezia bukan ibu sungguhan, tapi sudah membuat kami semua terinspirasi dengan cinta bapak buat anak-anak..." Ucap bu Nuri sambil menyerahkan piala dan hadiah itu.
"Terimakasih Bu..." Ucapku singkat, lalu aku beranjak melanjutkan langkahku pergi meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanan pulang, kami saling diam, biasanya anak-anak selalu banyak bercerita.
"Kezia....Nando....siang ini mau makan apa? Mau makan di restoran atau Papa yang masakin?" Tanyaku memecah kesunyian.
"Aku bosan makan di restoran...aku mau Papa saja yang masak..." Jawab Kezia.
"Iya...aku setuju...Papa saja yang masak..." Tambah Nando.
"Oke...kalian mau Papa masak apa?" Tanyaku lagi.
"Masak ayam goreng bisa Pa?" Tanya Nando balik.
"Bisa dong...tapi Papa nyontek dulu di internet ya resepnya..." Sahutku.
"Iih...Papa...kata bu Guru kan menyontek itu tidak baik...!" Celetuk Nando.
"Oh iya ya...tidak menyontek deh...tapi melihat..."
"Sama saja Papa!" Cetus Kezia.
"Tapi kan Papa tidak pintar masak...nanti tidak enak bagaimana?" Tanyaku.
"Asal Papa yang masak pasti enak....kita pasti makan..."
"Siap tuan dan putri....kita akan mampir ke supermarket dulu buat belanja bahannya...!"
"Asyiiik...." Seru keduanya senang.
"Tapi Papa yakin pakai baju yang ini...nanti Papa di sangka cewek beneran bagaimana?" Tanya Kezia.
"Tidak apa-apa sayang....kan hari ini hari ibu..." Jawabku.
__ADS_1
"Oh iya....selamat hari ibu Papa...." Ucap Kezia dan Nando bersamaan.
***********