
Mobil box besar sudah terparkir di dapan rumah, aku menurunkan 3 buah koper yang berisi pakaianku , Kezia dan Nando. Hari ini kami akan pindah ke Bandung.
Aku menoleh sekeliling rumah yang kini sudah kosong itu, banyak kenangan yang akan ku tinggalkan di rumah itu, kenangan manis juga pahit.
Rumah yang aku tempati sejak menikah dengan Sarah, ku kubur dalam-dalam kenangan itu, biarlah itu jadi bagian masa laluku yang kelam saja.
Aku harus menatap masa depan demi kedua anakku yang kini ada bersamaku, akan ku habiskan sisa hidupku untuk anak-anakku saja, aku tidak mau lagi terjebak dengan yang namanya wanita, apalagi cinta.
Cintaku hanya untuk anak-anakku saja, bukan untuk yang lain atau siapapun, hatiku sudah beku dengan trauma akan kegagalan masa lalu. Cukup satu kali aku merasakan sakit hati yang teramat dalam.
"Pa...aku boleh ya bawa foto Mama...?" Suara Nando membuyarkan lamunanku.
Nando menghampiriku sambil memeluk bingkai foto Sarah, entah dia menemukan di mana, padahal se ingatku aku sudah membuang semua foto-foton Sarah.
Dari kedua anakku, Nando yang paling kurang kasih sayang Mamanya, selain karena dia lahir dari perbuatan dosa Sarah dan Martin, Nando juga seringkali di tinggalkan Mamanya saat masih kecil.
Aku mengusap kepala Nando sambil menganggukkan kepala.
"Bawalah sayang...kalau itu akan membuatmu senang..." Ucapku.
"Terima kasih Papa...!" Seru Nando senang. Lalu Nando berlari dan menaruh bingkai foto itu di dalam tas besarnya.
Akhirnya kami benar-benar pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan kota itu, meninggalkan semua kepahitan dalam hidup.
Wajah Kezia nampak murung, dia lahir dan besar di rumah itu, wajar kalau dia agak berat untuk meninggalkan rumah kami.
"Kezia kenapa?" Tanyaku saat perjalanan menuju ke Bandung.
"Aku sedih Pa...akan kehilangan teman-temanku..." Sahutnya.
"Jangan kuatir sayang...nanti di sana kau akan dapat teman baru yang lebih banyak...Papa akan menyekolahkan kalian si sekolah Favorit yang paling bagus di kota itu..." Kataku berusaha menghibur Kezia.
"Pa...bagaimana kalau Mama datang mencari kita?" Tanya Kezia. Aku terkesiap mendengar pertanyaannya.
"Mama? Dia tidak akan datang...Mama sudah bahagia...biarkan saja..." Jawabku.
"Jadi...selamanya aku dan Nando tidak punya Mama dong..." Ujar Kezia.
"Kezia...Papa dan Mama sudah berpisah...kelak kalau kau dewasa kau pasti akan mengerti...cukup Papa saja yang akan melindungi dan menjaga kalian..."
Kezia terdiam, entah apa yang di pikirkan anakku itu. Sementara Nando nampak masih asyik menikmati camilannya, anak itu masih terlalu kecil untuk memahami semuanya.
Selamat tinggal Jakarta, kami akan menempuh hidup yang baru di kota yang baru, entah kapan akan ku injakan lagi kakiku di kota ini.
__ADS_1
************
Sebuah rumah yang besar dan asri sudah terpampang di hadapan kami, rumah ini adalah rumah yang ku pesan dari Bayu, Letaknya sangat strategis, di jalan utama perumahan elit di Bandung.
Saat memasuki rumah itu, kondisinya sangat baru dan bersih, beberapa orang mengangkat beberapa barang penting yang kubawa, sisanya aku tinggal semua di rumah lama.
"Pa...di bawah ada tiga kamar...di atas ada berapa?" Tanya Kezia.
"Di atas ada dua kamar lagi...tapi kita buat perpustakaan saja ya di atas...kita semua tidur di bawah..." Jawabku.
"Lho...kenapa Pa? Dulu kan kamar kita di atas..." Sahut Kezia.
"Sekarang kan kita cuma bertiga, kalau di atas nanti akan lama ke meja makan, kalau sekolah bisa terlambat deh..."
"Iya ya...Papa benar juga..."
Seharian kami menata barang-barang kami, ini benar-benar permulaan yang baru, kami akan menata hidup kami di sini, di rumah ini, hanya aku, Kezia dan Nando. Bukan yang lain.
"Papa ada proyek di kota ini, jadi sementara Papa kerjanya dekat...kalian jangan khawatir..." Ucapku saat kami makan malam bersama.
"Lalu...kapan kami mulai masuk sekolah?" Tanya Kezia.
"Besok hari Senin...kalian sudah bisa masuk sekolah, Papa sudah mendaftarkan kalian lewat internet....sekalian besok Papa juga mau bayar uang sekolahnya..." Jelas ku.
"Tapi kalian harus ingat, sekolah kalian yang baru ini adalah sekolah yang paling bagus di kota ini, jadi standar pelajarannya juga lebih tinggi...kalian harus rajin belajar supaya bisa mengikuti semua pelajaran..." Ucapku.
"Memangnya kami tidak boleh ikut les bimbel?"
"Tidak...kalian cukup belajar di sekolah saja...Papa tidak mempercayai siapapun termasuk guru bimbel..."
Drrrt.....drrrrt.....drrrt...
Suara ponselku berbunyi, segera ku raih ponselku yang ada di atas meja si sampingku. Aku mengusap layar ponselku, ternyata Bayu yang menelepon.
"Halo..."
"Halo Pak Ricky? Bapak sudah sampai di Bandung?" Tanya Bayu.
"Iya, kenapa?"
"Proyek sudah mulai berjalan Pak di sini? Kapan Bapak sempat lihat?"
"Besok....saat anak-anakku kesekolah..."
__ADS_1
"Oya Pak...ada salah satu investor menawarkan lahan di Bogor untuk pembangunan villa dan resort...apa Pak Ricky tidak tertarik?"
"Kau tinjau dulu...nanti berikan padaku laporan prospeknya...setelah itu baru ku pertimbangkan..." Jelasku.
"Siap Pak....laksanakan...!"
Kemudian Bayu menutup teleponnya. Aku menarik nafas dalam, Bisnisku rupanya semakin maju, itu berarti aku akan semakin sibuk, bagaimana dengan kedua anakku ini?
"Kezia..."
"Iya Pa..."
"Mulai sekarang....Kezia harus belajar mandiri...kan Kezia sudah besar..." Ucapku.
"Maksudnya mandiri harus cuci piring sendiri, menyapu, mengepel menjemur pakaian? Begitu pa?" Tanya Kezia.
"Bukan itu sayang...untuk membersihkan rumah semuanya itu tugas Papa...memasak tugas Papa...cuci dan jemur baju juga tugas Papa..."
"Lalu tugasku dan Nando apa?"
"Kezia jaga Nando....saat Papa tidak ada di rumah...jangan lupa pintu selalu di kunci...nanti Papa akan kasih kunci duplikat rumah ini untuk Kezia..."
"Memangnya Papa mau pergi kemana?"
"Kezia...Papa tidak kemana-mana...tapi kan Kezia tau Papa harus kerja...Papa punya bisnis, proyek yang harus di kerjakan...kalau Papa di rumah terus, lama-lama kita akan jatuh miskin..." Jelas ku.
Kezia manggit-manggut tanda mengerti.
"Iya Pa..Kezia akan jaga Nando kalau Papa kerja..."
"Bagus....itu namanya baru anak Papa..."
"Lalu yang mengantar jemput kami sekolah nanti siapa Pa?" Tanyanya lagi.
"Papa yang akan mengantar jemput kalian...Papa akan atur saat ada proyek di luar kota, Papa akan pakai waktu di hari weekend..."
"Jadi saat weekend, aku hanya tinggal berdua dengan Nando di rumah ini?" Aku Menganggukan kepalaku.
"Iya sayang...tapi tidak setiap weekend juga...pokoknya kalian jangan percaya siapapun kecuali Papa...ingat itu..."
"Iya Pa...aku mau belajar mandiri...supaya Papa bisa tenang bekerja..." Sahut Kezia patuh.
Aku memeluk putri sulung ku itu dengan erat, sebenarnya dia masih kecil untuk belajar mandiri seperti yang aku jelaskan tadi, tapi sementara ini aku tak punya pilihan lain.
__ADS_1
***********