
Melihat pemandangan yang menyakitkan di depan mataku, tanpa basa basi aku langsung menarik tangan Sarah pergi dari tempat itu, tak ku perduli kan teriakan Martin yang memanggil-manggil Sarah.
Aku melewati kerumunan teman-temannya yang memandang heran kepada kami, Sarah berusaha melepaskan diri dari cengkraman tanganku, namun tentu tenagaku lebih kuat darinya.
Setelah membuka pintu mobil, ku hempas kan tubuhnya di jok mobil, kemudian aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi.
Sarah ketakutan melihat ekspresi kemarahan ku, bahkan aku nyaris seperti pembalap yang melaju sangat kencang, dalam emosi yang meluap-luap.
"Ricky...dengar dulu penjelasan ku... jangan seperti ini..." Rengeknya.
"Diam kau! Wanita murahan...menyesal aku mengantarmu ketempat itu!!" Bentakku.
"Ricky...dengar aku dulu...Martin itu..."
"Diam!! Aku tak mau lagi dengar penjelasan apapun....sudah terbukti kau ada main di belakangku...! Dasar pengkhianat...!!"
Kemarahan yang meluap-luap menguasai hati dan pikiranku, hingga mobil yang kami tumpangi sudah sampai di rumah.
"Papaa....."
Melihatku pulang, Kezia berlari-lari menghampiriku dan langsung memeluk kakiku, aku menggendongnya dengan tangan kiri ku, sementara tangan kananku tetap menarik tangan Sarah.
Setelah kami sampai di kamar, aku hempas kan tubuhnya di ranjang, Sarah nampak menangis sesenggukkan. Kezia juga nampak ketakutan.
Aku hendak menampar Sarah, namun tanganku tertahan di udara, melihat wajah Kezia yang tanpa dosa, apa jadinya dia melihat aku menampar ibunya di depan matanya? Pasti akan menimbulkan trauma pada hatinya.
"Ricky....maafkan aku..." Isak Sarah.
"Kalau bukan karena Kezia...aku sudah menamparmu dari tadi...kenapa kau begitu tega mengkhianatiku? Apa aku kurang memperhatikanmu? Jawab!!" Bentakku.
"Ricky...aku minta maaf....aku...aku..."
"Sudahlah...mulai sekarang aku akan tidur dengan Kezia...sampai kau benar-benar berubah...kalau bukan karena Kezia...mungkin aku sudah menceraikan mu!" Cetusku yang langsung keluar dari kamar sambil menggendong Kezia.
Kezia menangis melihat aku yang begitu marah, aku langsung memeluk tubuh mungilnya.
__ADS_1
"Papa...kenapa malah cama Mama?" Tanya Kezia.
"Papa cuma mendidik Mama supaya Mama jadi Mama yang baik buat Kezia...Kezia jangan sedih ya...ada Papa di sini buat Kezia..." Ucapku berusaha menenangkannya.
*************
Sejak kejadian itu, Sikapku berubah dingin pada Sarah, entah mengapa aku merasa Sarah tak pernah sungguh-sungguh mencintaiku.
Kami pisah ranjang selama beberapa bulan, namun aku tetap memperhatikan dan merawatnya selama masa kehamilannya, aku temani dia konsultasi ke dokter, memberikan dia nutrisi yang cukup, bahkan memperlakukan dia nyaris seperti ratu, tidak melakukan apapun, hanya istirahat dan makan.
Sampai usia kandungannya hampir 9 bulan, saat itu Kezia juga akan mulai sekolah TK A, pikiranku terbagi, selain mengawasi proyek dan pekerjaan kantor. Aku juga harus mengantar jemput Kezia sekolah, dia tidak mau sekolah kalau bukan aku yang mengantarnya.
Pagi itu Sarah berteriak dari kamar, rupanya air ketubannya sudah pecah dan mengalir deras melalui sela-sela kakinya. Aku panik, langsung kubawa dia kerumah sakit, sementara Kezia terpaksa aku titipkan pada baby sitternya.
Untuk yang kedua kalinya dia di operasi untuk mengeluarkan bayinya, Sorang bayi laki-laki yang tampan, dan aku memberi nama bayiku Fernando Putra Gunadi.
"Sekarang Kezia sudah punya adik...adik Nando namanya...nanti kalian saling menyayangi ya..." Bisik ku pada Kezia saat melihat Nando di box kaca di rumah sakit.
Setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, Sarah dan Nando si perbolehkan pulang ke rumah.
"Ricky....terima kasih..." Ucap Sarah saat aku membawanya pulang dari rumah sakit ke rumahku.
Nando tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat, keluarga kecil kami pelan-pelan sudah mulai di pulihkan, aku mulai membuka diri lagi pada Sarah, dan berusaha melupakan masa lalu.
"Sarah...anak-anak kan sudah mulai besar...aku mau mengajak kalian jalan-jalan...sudah lama kita tidak pergi liburan..." Ajakku pada Sarah.
"Horeeee...." Anak-anakku nampak antusias.
Sementara Sarah terlihat kurang menyukai momen itu, sekali lagi, semua yang kulakukan ini adalah demi anak-anak, ya...hanya demi Kezia dan Nando.
"Aku tidak mau...aku mau di rumah saja..." Kata Sarah menolak ajakan ku.
"Masa kau tak mau ikut...lihatlah mereka...mereka sangat antusias...mereka akan sedih kalau liburannya batal..." Kilahku.
"Siapa yang bilang batal...kalian kan bisa pergi bertiga...aku malas jalan-jalan..." Sergah Sarah.
__ADS_1
"Hmm....baiklah..."
Akhirnya aku membawa Kezia dan Nando jalan-jalan ke Ancol, sengaja cari yang dekat supaya sehari bisa pulang, aku juga sudah tidak percaya dengan Sarah lagi sejak kejadian waktu itu, bisa saja saat aku tak ada dia janjian lagi dengan mantannya itu.
Anak-anakku begitu senang dan semangat bermain di wahana yang menurut mereka sangat menyenangkan, aku tetap mengawasi mereka, tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata itu adalah telepon dari kepala proyek yang mengabarkan tentang masalah di lapangan, aku begitu serius sampai lupa mengawasi anak-anakku.
Tiba-tiba Kezia menghampiriku sambil menangis.
"Papa...Nando jatuh dari tangga....kepalanya berdarah...huuuu....huuu..."
Aku kaget dan spontan menarik tangan Kezia, orang-orang sudah berkerumun, Nando tergeletak dengan kepala yang berlumuran darah.
Tanpa menunggu aku segera menggendong Nando dan membawanya kerumah sakit terdekat. Beberapa ibu-ibu terdengar bisik-bisik.
"Aduh...itu kasian amat Papanya mengurus dua anak....kemana Mamanya ya...aku mau deh jadi Mamanya...." Aku hanya menatap tak suka pada orang-orang yang suka bergosip itu.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter mengatakan kalau Nando butuh transfusi darah, aku benar-benar shock, aku mengabari Sarah, Sarah panik dan langsung menyusul kami ke rumah sakit.
Aku orang pertama yang mau mendonorkan darahku untuk Nando, namun ternyata darahku dan Nando tidak cocok, aku membujuk Sarah untuk mendonorkan darahnya, Nando dalam keadaan kritis.
Namun aku sangat kaget saat Dokter mengatakan darah Sarah juga tidak cocok, lalu Nando anak siapa?
"Katakan padaku....Nando itu bukan anakku kan??!" Teriakku di rumah sakit, aku tak perduli orang-orang yang menatapku aneh.
"Ricky maaf....maaf...Nando memang bukan anakmu...dia anak Martin....maaf...kau boleh menghukum ku sekarang!!" Ujar Sarah penuh emosi.
"Kurang ajar kau! Kau benar-benar wanita murahan...tunggu saja...aku pasti menceraikan mu!!" Cetusku yang segera berlari mencari darah yang di butuhkan, namun usahaku sia-sia, darah yang di butuhkan Nando benar-benar kosong.
"Sarah...aku mohon kau panggil Martin kemari...donorkan darahnya untuk Nando!" Pintaku pada Sarah.
"Tidak....Martin sudah tidak di Jakarta lagi...dia sudah pergi..." Ucap Sarah menunduk. Aku langsung emosi.
"Kalian benar-benar biadab....binatang saja tau bagaimana cara menyayangi anak!!"
Dengan segenap kekuatan, aku pergi ke kantor PMI, untung ya di sana tersedia darah yang Nando butuhkan.
__ADS_1
"Nando....sebentar lagi kau akan sembuh sayang....Papa sudah mendapatkan darah untuk Nando....bertahanlah..." Bisik ku dalam hati.
***********