
Lika, Kezia dan Nando buru-buru naik ke atas taksi yang di pesan Lika lewat online, kemudian mereka segera meluncur ke rumah Ricky.
Berkali-kali Lika menengok jam tangannya, hatinya ketar-ketir takut terlambat ikut sesi 2 seminar, kalau sampai terlambat, entah apa yang akan di lakukan pak Ferry terhadapnya, bisa jadi Lika akan mendapat surat peringatan lagi seperti dulu.
Akhirnya mereka hampir tiba di depan rumah Ricky, kemudian Lika mengambil ponselnya dan menelepon mbok Narti.
"Halo..."
"Halo mbok Narti...ini Lika...sebentar lagi taksi ku sampai kerumah...tolong jemput anak-anak ya, karena aku harus segera kembali ke hotel..." Kata Lika.
"Baik mbak Lika..."
"Terimakasih mbok..."
Kemudian taksi yang mereka tumpangi sudah tiba di depan rumah Ricky, Mbok Narti nampak sedang menunggu di depan gerbang.
"Kezia...Nando...baik-baiklah kalian jaga diri...belajar yang pintar...ibu pamit ya Nak...ibu harus pergi..." Ucap Lika sambil membuka pintu taksi.
"Bu...aku ingin ikut ibu saja..." Rajuk Nando.
"Iya Bu...menginap di tempat ibu seperti dulu..." Tambah Kezia.
"Tidak bisa sayang...ibu harus pergi...ibu harus kembali ke hotel, ibu sudah ditunggu disana....kalian mengerti ya...nanti ibu akan hubungi kalian lagi...ibu sayang kalian..." Ucap Lika sambil memeluk dan mencium Kezia dan Nando bergantian.
Akhirnya mereka berdua turun dengan di temani mbok Narti yang sudah menjemput ke mobil. Tak lama taksi yang ditumpangi Lika bergerak melaju meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di hotel, dengan napas terengah-engah, Lika berlari-lari menaiki lift menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Waktu tersisa tinggal 10 menit lagi, Lika sudah harus sampai di ruang seminar. Sebelum sampai di kamarnya, Wati sudah berpakaian rapi baru keluar dari kamar.
"Ya ampun Bu Lika...akhirnya kau muncul juga....dari tadi Pak Ferry menanyakan mu...Aku sampai bingung mau alasan apa lagi...ayo cepat ganti baju...aku tunggu di luar..." Ujar Wati.
"Oke bu....siap...!" Kemudian Lika dengan cepat masuk ke kamar dan berganti pakaian, tak lama dia sudah muncul lagi. Merekapun berjalan bersama menuju ke ballroom tempat seminar diadakan.
__ADS_1
Sepanjang acara seminar, karena terlalu lelah dengan aktifitas seharian tadi, Lika mengantuk sekali, matanya merah, duduknya gelisah. Di sebelah kirinya, Wati nampak fokus mengikuti sesi itu, sedangkan Pak Ferry yang duduk di sebelah kanan Lika, memperhatikan Lika yang nampak kelelahan dan mengantuk.
"Bu Lika kenapa? Apa kurang enak badan? Mau ku ambilkan sesuatu?" Tanya Pak Ferry perhatian.
"Tidak pak...aku hanya mengantuk...aku capek sekali..." Ujar Lika yang memang sudah terlihat payah.
"Kalau begitu Bu Lika kembalilah ke kamar...istirahatlah...biar aku dan Bu Wati yang ikut sesi ini...masih ada sesi berikutnya nanti malam..." Kata Pak Ferry.
"Mana boleh begitu pak? Ini kan seminar aku harusnya, Bu Wati hanya menemaniku..." Sergah Lika.
"Sudahlah ...dari pada kau malah jatuh sakit...nanti malah merepotkan semua orang..." Ujar Pak Ferry.
"Baiklah...tapi aku jangan di beri surat peringatan ya pak...karena tidak mengikuti keseluruhan acara..." Kata Lika.
"Tenang aja sih Bu...di sini kan aku yang kepala sekolah..."
Akhirnya setelah pamit dengan Wati, Lika kembali ke kamarnya, dia menghempaskan tubuhnya yang amat letih, lalu tak lama kemudian dia sudah tertidur dengan nyenyak.
Ditempat kediaman Ricky, Kezia dan Nando nampak sedang bermain di ruang tamu dengan mbok Narti, tiba-tiba Ricky masuk dengan wajah yang pucat.
"Kezia! Nando! Rupanya kalian sudah pulang... Kemana saja kalian? Pak Alan bilang Nando ada outing class...papa Tanya teman yang lain ternyata tidak ada...Kezia juga....kata guru piket sudah di jemput dengan Tante...Tante yang mana?!" Teriak Ricky. Kezia dan Nando nampak ketakutan.
Mbok Narti yang menyadari situasi langsung berbisik mendekati Ricky.
"Pak...ajak anak-anak bicara di kamar mereka saja...tidak enak nanti ibu Sarah mendengar..." Bisik Mbok Narti.
"Ada apa ini Mbok?" Tanya Ricky bingung.
Mbok Narti tidak menjawab, dia langsung membimbing anak-anak masuk ke kamar Kezia, Lalu Ricky mengikutinya dari belakang.
"Sekarang katakan....dari mana saja kalian?" Tanya Ricky mulai melembut setelah tiba di kamar Kezia yang tertutup.
"Maaf Pa...sebenarnya tadi kami...ketemuan sama Bu Lika..." Jawab Kezia agak gugup. Dia takut papanya akan marah besar.
__ADS_1
"Hah? Apa? Bu Lika? Dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak menemui papa?" Tanya Ricky beruntun sambil memegang kedua bahu Kezia.
"Sabar Pak Ricky...dengarkan anak-anak dulu..." Kata mbok Narti menenangkan.
"Bu Lika ada seminar di hotel Pa...dia kangen sama aku dan Nando..." Sahut Kezia.
"Hotel mana?" Tanya Ricky cepat.
"Hotel...mana ya...lupa Pa..." Jawab Kezia polos. Ricky menepuk jidatnya sendiri.
"Ya Tuhan...bagaimana mungkin aku jelajahi kota Bandung yang begitu luas ini...Lika...dimana aku harus mencarimu..." Ricky terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Maaf pak Ricky...bisa kita bicara tanpa anak-anak?" Mbok Narti perlahan mendekati Ricky. Ricky mengangkat kepalanya.
"Baik....Kezia, Nando...kalian keluarlah, bermainlah dulu di ruang tamu...Papa mau bicara dengan mbok Narti sebentar..." Lalu Kedua anak itu segera keluar dari kamar Kezia.
"Sekarang katakanlah mbok...apa yang hendak dibicarakan?" Tanya Ricky.
"Sebelumnya mbok minta maaf...selama ini...sebenarnya mbak Lika sering telepon mbok...menanyakan keadaan anak-anak, keadaan Bapak....juga keadaan ibu Sarah...mbak Lika selalu bilang mbok jangan beritahu siapa-siapa...tapi sekarang mbok terpaksa ngomong sama bapak...mbok kasihan sama anak-anak...sama bapak juga....sebenarnya, mbok selalu buatkan bapak susu hangat juga karena mbak Lika yang suruh...maafin mbok ya Pak..." Ucap mbok Narti sambil menunduk ke lantai.
"Tidak perlu merasa bersalah mbok....aku malah senang...dan berterimakasih sama mbok...sekarang, aku minta nomor ponsel Lika yang baru...aku sangat ingin bertemu dengannya..." Pinta Ricky. Mbok Narti terdiam.
"Pak...mbak Lika pasti kaget kalo bapak langsung menelepon, biar mbok yang hubungi dia dimana keberadaannya sekarang...nanti mbok akan sampaikan ke Bapak...dan bapak bisa mendatangi tempatnya...maaf ya pak...mbok sudah janji tidak memberikan nomor nya sama siapapun...termasuk bapak..." Ungkap mbok Narti.
"Kalau begitu cepat hubungi dia, dimana dia sekarang...mbok Narti tidak tau betapa rindu itu sangat berat...ayo mbok...aku sudah tidak sabar untuk melihat ibu guru kesayanganku itu..." Kata Ricky dengan wajah berbinar senang.
"Iya pak...saya akan meneleponnya sekarang..." Jawab Mbok Narti.
Kemudian mbok Narti memencet ponsel jadulnya dan menyambungkannya ke nomor ponsel Lika.
Tuut....tuut...tuut....
Telepon tersambung.
__ADS_1