Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
[POV Ricky] Masalah di Sekolah


__ADS_3

Aku pikir, dengan menyekolahkan anak-anakku di tempat yang bagus dan bergengsi bisa membuat mereka gembira dan berprestasi.


Tetapi justru berkebalikan, mereka ternyata keteteran mengikuti pelajaran sekolah, bahkan berkali-kali aku harus menghadap Pak Johan, kepala sekolah, hanya masalah nilai yang buruk dan kondisi pergaulan mereka yang kini cenderung tertutup di tambah dengan masalah keterlambatan sekolah yang sering terjadi, karena aku begitu sibuk sampai kesulitan mengatur waktu untuk mengantar jemput mereka..


Kezia dan Nando menjadi pribadi yang pemurung, mereka kerap sering mendapat perlakuan yang kurang baik dari teman-temannya, dan parahnya lagi, Nando terancam tidak naik kelas karena mendapat urutan terakhir di kelasnya.


Sampai pada hari itu saat pembagian raport kenaikan kelas, lagi-lagi aku mendapat panggilan khusus dari wali kelas dan kepala sekolah.


"Apa sekolah ini tidak bisa membantu anak-anak saya??" Tanyaku pada Pak Johan.


"Bukan seperti itu Pak...mereka hanya butuh penanganan khusus....mereka kesulitan menerima pelajaran di sekolah ini...terutama Nando, yang sampai saat ini masih belum bisa menghafal huruf..." Jelas Pak Johan.


Ku akui, akhir-akhir ini aku memang sangat sibuk mengurus proyekku, sehingga banyak sekali menyita waktuku, terutama waktu belajar anak-anakku.


"Jadi bagaimana sekarang? Apa harus aku pindahkan saja mereka ke sekolah lain yang lebih cocok untuk mereka??" Tanyaku lagi.


"Tenang Pak Ricky...karena Nando baru kelas 1, kami akan tetap menaikan dia ke kelas 2, kebetulan di tahun ajaran baru ini akan ada guru baru yang akan menjadi wali kelas 2...semoga Nando ada perkembangan dan cocok dengan guru baru ini..." Jelas Pak Johan.


"Siapapun gurunya aku tidak perduli...yang penting anakku di perhatikan...percuma aku bayar mahal-mahal uang sekolah kalau hasilnya tidak memuaskan!!" Sungut ku.


Saat selesai mengambil hasil belajar anak-anak, aku tumpahkan kekesalanku pada Kezia dan Nando. Pikiranku benar-benar kacau.


"Kezia...Nando...!"


"Iya Pa..." Sahut mereka bersamaan.


"Kalian pikir Papa tidak capek bolak balik kesekolah hanya karena ulah kalian???!!!" Kataku keras. Mereka menunduk.


"Maaf Pa..." Ucap Kezia lirih.


"Apa susahnya kalian belajar yang baik supaya hasil belajarnya tidak seburuk ini? Papa malu tau!!" Hardik ku. Mereka mulai menangis.


"Itu Pa...aku sering di katain sama teman-teman..." Ucap Nando lirih.


"Di katain apa?"

__ADS_1


"Kata mereka aku anak bodoh...dan..."


"Dan apa?" Potongku cepat.


"Dan Tidak punya Mama..." Jawabnya lagi sambil menangis.


"Benar Pa...aku juga suka di katain....katanya aku bodoh dan selalu terlambat sekolah gara-gara tidak punya Mama..." Tambah Kezia.


"Ya Tuhan....Mama lagi....Mama lagi...apa begitu penting ada Mama diantara kalian?? Tidak kan??"


Mereka diam tanpa berani membantah lagi. Sebagai seorang Papa, saat itu aku merasa sangat tidak berguna, aku gagal membahagiakan kedua anakku.


Akhirnya akupun ikut menangis, sangat berat untuk menjadi seorang single parent, tapi hatiku juga sudah tertutup dengan siapapun, ini lah konsekuensi dari sebuah perceraian.


**********


Untuk menebus rasa bersalahku terhadap kedua anakku, saat liburan kenaikan kelas aku mengajak mereka pergi liburan ke puncak.


Aku berharap dengan begitu aku dan anak-anakku bisa sejenak melupakan masalah kami.


"Pa...sampai kapan kita akan menginap disini?" Tanya Kezia.


"Sampai kalian bosan...." Jawabku.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaan Papa??"


"Papa sudah cuti beberapa hari....kalian tenang saja..."


Sesaat kami terdiam dengan pikiran masing-masing, Nando masih nampak asyik menonton film kartun kesayangannya.


"Pa..." Ucap Kezia lirih.


"Iya Nak..."


"Kalau Papa sudah tidak sayang Mama Sarah lagi...tidak apa-apa kok kalau Papa mencari Mama baru...Papa boleh kok menikah lagi..." Kata Kezia.

__ADS_1


Sesaat aku tertegun mendengar perkataan putriku ini, terlintas di pikiran saja tidak pernah untuk menikah lagi, hatiku sudah benar-benar tertutup.


"Kezia....memangnya Kezia tidak takut sama Mama tiri?" Tanyaku.


"Tidak Pa...asal Papa bahagia..."


"Tidak sayang...Papa tidak akan menikah lagi...cinta Papa cuma buat Kezia dan Nando saja..." Jawabku.


***********


Hingga pada saat liburan telah hampir usai, masih ada beberapa hari anak-anakku masuk sekolah. Hal itu aku manfaatkan untuk mengurus proyekku yang sempat terlantar, aku mulai pergi keluar kota, meninjau dan mulai membuka lahan baru lagi, sementara lahan yang di Bandung, aku percayakan sementara pada Bayu.


Namun karena kesibukan dan jadwal yang padat, di tambah lagi aku harus menyelesaikan pekerjaan rumah, yang membuat aku tidur terlalu larut, lagi-lagi aku terlambat mengantar anak-anakku masuk sekolah.


Entah bagaimana rupa mereka yang terburu-buru dan nyaris kesiangan.


Ah, baru hari pertama di semester ini sudah seperti ini.


Namun ada yang aneh di wajah Nando saat ku jemput dia dan kakaknya pada saat pulang sekolah sekolah. Wajah yang dulu murung dan pendiam mendadak cerah dan penuh senyum.


"Pa...tau gak sih...tadi tuh ada ibu guru baru...orangnya baik deh Pa....waktu aku di ketawain karna terlambat, dan teman-teman nyorakin aku...aku di bela lho sama ibu guru..." Cerita Nando senang.


"Oya?"


"Iya Pa...aku jadi semangat belajar deh..." Sambung Nando.


"Orangnya gimana Do?" Tanya Kezia penasaran.


"Hehehe...cantikan Mama sih...tapi Bu Guru ini juga cantik kok..." Sahut Nando.


"Hmm....siapa namanya Nando? Sepertinya Papa harus berterimakasih padanya karena sudah membuat anak Papa senang hari ini..." Tanyaku.


"Namanya ibu Lika Pa...." Sahut Nando antusias.


**********

__ADS_1


__ADS_2