
Tok....tok....tok....
Lika mengetuk kamar Lia, malam ini sudah jam 10 lewat, Kezia dan Nando sudah tidur, Ricky juga sudah tertidur karena kelelahan dengan aktifitasnya barusan, suasana rumah sudah sepi. Lika terus kepikiran dengan Lia, karena itu dia mencoba turun untuk bicara dengan adiknya itu.
Lia keluar dari kamarnya, nampaknya dia belum lama pulang, karena terlihat belum mengganti bajunya.
"Masuk Kak...." Kata Lia sambil berjalan kemudian mereka duduk di tepi ranjang Lia.
"Kamu baru pulang?" Tanya Lika.
"Iya Kak...tadi macet..." Sahut Lia.
"Dengan Burhan?"
"Iya Kak...kenapa tiba-tiba kakak menanyakan itu?" Tanya Lia mulai risih.
"Sudah berapa kali kamu di antar jemput oleh Burhan?" Lika balik bertanya. Matanya menatap tajam kearah adiknya itu.
"Kenapa sih Kak? Kepo aja deh ah...aku kan juga punya privasi...aku bukan anak kecil lagi kak yang harus di awasi...." Tukas Lia.
"Lia...bukankah selama ini kita menjaga kejujuran? Kalau kau ada apa-apa atau ingin apa-apa...bisa kan cerita sama kakak atau Nenek? Bukankah kita keluarga?" Tanya Lika sambil memegang pundak Lia menghadap kearahnya.
"Kakak mau aku jujur dalam hal apa?"
"Hubunganmu dengan Burhan....kata Nenek, beberapa kali dia memergokimu sering berduaan dengan Burhan...Lia...kakak mohon kau bisa menjaga sikapmu..."
"Ooh....Kakak begitu sewotnya denganku karena Burhan itu anaknya Mbok Narti kan? Kakak malu? Waktu aku dengan Leo, kakak tidak sesewot ini...iya kan....kakak Malu karena Burhan anak Mbok Narti...seorang asisten rumah tangga! Betul kan...!!" Seru Lia. Matanya mulai terlihat merah.
Plakk!!!
Lika menampar keras pipi Lia, gadis itu meringis memegangi pipinya yang merah.
"Lia...! Kau dengan kakak baik-baik....! kakak tidak pernah mempersalahkan kau menyukai siapa...setiap orang punya hak untuk mencintai dan di cintai...tapi kau harus ingat...Burhan adalah pria beristri...mereka belum cerai...apa kau mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang??!" Tanya Lika dengan nada tingginya. Lia terdiam.
"Kata Mas Burhan....sebentar lagi dia akan menceraikan istrinya..." Gumam Lia pelan.
"Lia...kau masih sangat muda...jalan mu masih panjang...aku tidak ingin kau terjerumus ke hal-hal yang jauh....lebih baik jujur dari sekarang...kalau kalian saling menyukai...aku mau bilang apa??" Ucap Lika.
"Kak...maafkan aku...sebenarnya aku dan Mas Burhan saling menyukai...kami menutupi ini karena takut...Mas Burhan tidak percaya diri...karena dia sadar, dia hanya anak seorang asisten rumah tangga...dia malu...tapi aku berani bersumpah...aku tidak pernah melakukan hal-hal yang negatif...kami hanya sekedar jalan bersama...hanya itu..." Ungkap Lia. Air matanya mulai mengalir. Lika memeluk tubuh adiknya itu yang mulai terisak.
__ADS_1
"Lia...jodoh itu tidak akan kemana...kau ingat...kita juga bukan orang kaya...aku hanyalah seorang guru yang dengan gajiku bisa menghidupi kau dan Nenek, dengan gajiku yang pas-pasan aku juga berusaha untuk bisa menyekolahkan mu...sekarang kamu ada kesempatan kuliah...pergunakan kesempatan itu untuk meraih mimpimu..." Ucap Lika sambil mengusap rambut Lia.
"Lalu...bagaimana dengan Mas Burhan?"
"Kau tentu boleh berhubungan dengan dia...asal masih dalam batas wajar...Suamiku berencana akan menguliahkan Burhan...supaya Burhan punya pendidikan tinggi, dan Mbok Narti juga akan bangga padanya..." Jawab Lika.
"Oh...baik sekali Pak Ricky...padahal kalau di lihat...kita semua menumpang hidup darinya...aku jadi malu...seharusnya aku tidak membuat ulah karena kebodohanku..." Sesal Lia.
"Sudahlah Lia...belum terlambat kalau kau ingin memperbaiki diri...katakanlah jujur pada Nenek...dia selalu memikirkan mu..."
'Iya Kak...besok aku akan cerita sama Nenek...trimakasih Kak..."
"Lia...maafin kakak yang sudah menamparmu...sekarang kau istirahatlah..." Ucap Lika sambil membalikan tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar Lia.
Lika langsung berjalan menaiki tangga ke atas menuju ke kamarnya. Ricky masih nampak lelap tertidur. Given juga masih tertidur tenang di box bayinya.
Perlahan Lika mendekati suaminya itu dan mengecup lembut keningnya, Ricky menggeliat namun kembali tertidur lagi. Lika menyusul tidur di sampingnya.
**********
Pagi itu, setelah anak-anak berangkat kesekolah, Ricky dan Lika memanggil Burhan dan Mbok Narti, di situ ada Nenek dan juga Lia. Sepertinya Ricky hendak membicarakan sesuatu. Mereka semua duduk ruang tamu.
"Tidak Mbok...tenang saja...." Jawab Lika yang duduk di sebelah Mbok Narti.
Wajah Nenek kelihatan sedikit tenang, mungkin tadi pagi Lia sudah menceritakan semua pada Nenek. Burhan nampak duduk menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.
"Burhan...hari ini kau ikut bersama kami...kita akan mencari kampus yang terbaik untukmu...kau masih mau melanjutkan sekolahmu bukan?" Tanya Ricky dengan menatap Burhan. Burhan nampak terkejut.
"A...apa Pak? Kampus?" Burhan termangu tak percaya.
"Iya...kata Mbok Narti kau lulusan SMA...kalau kau kuliah dengan jurusan yang sesuai dengan bakat mu...kau akan dapat pekerjaan yang lebih baik...orang akan memandang segan padamu...apalagi kau juga akan membanggakan ibumu..." Jelas Ricky.
"Tapi Pak....biaya kuliah itu kan mahal..." Tukas Burhan.
"Kau jangan kuatir....aku yang akan membiayai mu...dengan syarat, kau bereskan masalahmu..." Kata Ricky.
"Mak...maksud Bapak?"
"Kau perjelas statusmu...kalau mau kembali dengan istrimu ya kembali...kalau tidak maka kau harus menceraikannya...jadi laki-laki harus tegas mengambil keputusan..." Tambah Ricky.
__ADS_1
"Baik Pak...saya memang salah terburu-buru menikah waktu itu...saya akan menceraikan istri saya secepatnya...saya mau fokus kuliah saja untuk masa depan saya...Trimakasih bapak memberikan saya kesempatan untuk hidup yang lebih baik dan layak..." Ucap Burhan sambil beringsut mencium tangan Ricky dan Lika bergantian. Mbok Narti nampak menitikkan air matanya.
"Ingat Burhan....kau hormati ibumu...berikan kebanggaan kepadanya...dan jangan sekali-kali kau mengecewakannya..." Tambah Ricky.
"Baik Pak..." Sahut Burhan.
"Pak Ricky....trimakasih..." Ucap Mbok Narti sambil menangis.
"Iya Mbok....aku ikhlas..." Jawab Ricky.
"Dan Kau Lia...kau juga harus fokus untuk pendidikan mu...jangan sia-siakan masa muda mu...aku tidak melarang kau bergaul dengan siapapun...tapi ingat, jangan ada yang kau sembunyikan dari Nenek dan Kakakmu...kau wajib menghargai mereka...kau paham?" Tanya Ricky yang menoleh ke arah Lia.
"Paham Pak...trimakasih..." Jawabnya.
"Bagus...sekarang bersiaplah...kita berangkat....Lia, sekalian kami akan mengantarmu ke kampus..." Ucap Ricky. Lalu mereka pun beranjak dari tempatnya masing-masing.
Ricky menaiki tangga ke atas menuju ke kamarnya, dia hendak mengambil laptopnya yang tertinggal, karena sehabis mengantar Burhan, dia akan ke sekolah Baru, dia ada janjian dengan beberapa kolega di sana. Lika bergegas mengikutinya dari belakang.
"Papa...!" Panggil Lika. Ricky menoleh, Lika sudah di hadapannya sambil menggendong Given.
"Ada apa sayang?" Tanya Ricky.
"Trimakasih ya...kau begitu bijaksana...ucapan mu begitu mengena...tanpa ada yang tersakiti...suami ku benar-benar idaman..." Ucap Lika.
"Hanya terimakasih?"
"Ya...memangnya apa lagi...?"
"Beri aku hadiah..."
"Hadiah apa?"
"Terserah... yang penting kau tau itu akan membuatku bahagia...." Lika nampak berpikir.
"Aku tau...dekatkan wajahmu..." Ricky mendekatkan wajahnya.
"Cup...pipi kiri untuk kebaikan hatimu...cup...pipi kanan untuk kebijaksanaan mu...muaach....bibir untuk cintamu..." Ricky tersenyum lebar mendapat banyak ciuman pagi ini. Benar-benar hadiah terindah.
**********
__ADS_1