
Nenek dan mbok Narti datang tergopoh-gopoh mendapati Lika yang terduduk lemas dilantai. Kezia dan Nando juga berlarian dari arah kamarnya.
"Bu...ibu kenapa??" Tanya Kezia panik.
"Lika...! Ada apa denganmu??" Teriak Nenek. Mbok Narti segera ke belakang mengambilkan air minum kemudian langsung meminumkannya ke mulut Lika.
Lika membuka matanya, dia hampir saja pingsan mendengar kabar yang mengejutkan.
"Nenek....aku harus ke Semarang sekarang juga...aku harus kerumah sakit Surya Medika....Papa Ricky kecelakaan....aku harus kesana sekarang!" Pekik Lika sambil menangis. Mbok Narti mengusap punggung Nina untuk menenangkannya.
"Sabar Lika...kau tenanglah dulu..." Ujar Nenek.
"Papa kecelakaan Bu? Papaaa....huuuuu...." Nando langsung menangis. Lika memeluk tubuh putranya itu.
"Nando....kalian di sini dulu ya....ibu mau tengok Papa....Kezia...jaga adikmu...kalian jangan cemas...ibu yang akan menjaga Papa nanti...." Ucap Lika.
"Mbak Lika mau ke Semarang sekarang juga??" Tanya mbok Narti.
"Iya mbok....Papa Ricky pasti membutuhkan aku saat ini...tolong bantu siapkan pakaianku mbok...mungkin aku akan menginap beberapa hari di sana...." Kata Lika yang sudah bisa menguasai dirinya. Kemudian perlahan dia bangun dari duduknya di bantu Kezia. Lalu berpindah duduk di sofa.
"Lika...kau yakin akan pergi ke Semarang sekarang? Siapa yang akan menemanimu? Ingat Lika...perutmu sudah besar...sebentar lagi kau akan melahirkan..." Sergah Nenek.
"Tapi suamiku membutuhkan aku sekarang Nek...nanti aku minta mas Jun yang akan mengantarku..." Jawab Lika.
"Ibu....aku ikut ya lihat Papa..." Cetus Nando tiba-tiba.
"Iya Bu....aku juga mau ikut..." Tambah Kezia. Lika merangkul kedua anaknya itu.
"Jangan sayang... kalian kan harus sekolah...nanti biar mbok Narti yang mengurus kalian sementara ya...sekolah mas Jun yang akan antar jemput kalian...di sini ada Nenek juga Tante Lia...biar ibu dan dedek saja yang temani Papa...oke?" Ujar Lika. Kezia dan Nando mengangguk bersamaan.
Tidak lama mbok Narti sudah turun dengan membawa sebuah tas besar.
"Ini mbak pakaian dan barang-barang yang mbak Lika butuhkan....semua sudah lengkap..." Kata Mbok Narti.
__ADS_1
"Trimakasih mbok....tolong panggilkan mas Jun...aku akan berangkat sekarang juga..." Ujar Lika. Kemudian mbok Narti berlari kecil mencari Jun.
"Lika...pokoknya kau harus menghubungi kami setiap saat...jangan lupa kau bawa terus ponselmu..." Kata Nenek memperingatkan.
"Iya Nek...ini ponselku juga ponsel suamiku sudah aku bawa semua..." Sahut Lika.
Setelah semua siap, Lika langsung berangkat di antar oleh Jun.
*************
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Lika sampai di sebuah rumah sakit besar, rumah sakit Surya Medika. Lika langsung berjalan menyusuri lorong mencari ruang UGD, akhirnya Lika sampai di depan ruang UGD. Wajahnya berpaling ke arah Jun yang sejak tadi mengikutinya.
"Mas Jun...kau boleh kembali ke Jogja...besok pagi kau sudah harus mengantarkan anak-anakku kesekolah..." Kata Lika.
"Tapi Bu Lika tidak apa-apa sendirian?" Tanya Jun.
"Aku tidak apa-apa Mas Jun...pulanglah..." Jawab Lika.
"Ya sudah...saya pamit ya Bu...kalau butuh bantuan hubungi saya saja..." Ujar Jun yang kemudian segera membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Lika.
"Maaf Bu...pasien jangan di peluk dulu...kondisinya membahayakan...ada beberapa tulang rusuknya yang patah...!" Seru Dokter. Lika langsung melepaskan pelukannya.
"Bagaiman kondisi suami saya?" Tanya Lika. Dia mulai menangis melihat Ricky yang terbaring mengenaskan, banyak perban dan darah yang mengalir, juga selang yang di tempelkan di beberapa bagian tubuhnya.
"Jadi Ibu adalah istri pasien?" Tanya Dokter itu. Lika Menganggukan kepalanya.
"Iya...saya istrinya...."
"Jadi begini...suami ibu saat ini sedang mengalami masa kritis...sejak dia di bawa kemari banyak darah yang keluar, dia nyaris kehabisan darah...kepalanya mengalami benturan keras, ada beberapa tulangnya juga yang patah...ini butuh penanganan khusus....kami sudah memeriksanya, dan suami ibu juga harus secepatnya menjalani operasi, untuk perbaikan tulangnya yang patah...." Jelas dokter.
"Dokter... lakukanlah yang terbaik buat suami saya...." Ucap Lika sambil menangis.
"Baik Bu...kami akan berusaha semaksimal mungkin...pasien akan kami pindahkan ke ruangan khusus..." Jawab Dokter. Kemudian Dokter itu segera keluar meninggalkan Lika.
__ADS_1
"Pa...mengapa hal ini bisa terjadi padamu?? Ayo bukalah matamu...kenapa kau membuat aku menangis seperti ini...apa kau tidak kasihan padaku??" Tangis Lika. Dia hanya mampu mengusap tangan Ricky dan menggenggam tangan itu tanpa mampu untuk memeluknya karena takut akan menyakitinya.
Tak lama kemudian dua orang perawat datang hendak memindahkan Ricky keruangan yang lain.
"Maaf Bu...ibu nampaknya sedang hamil besar...apakah tidak ada anggota keluarga yang lain yang menunggunya?" Tanya salah satu perawat.
"Tidak suster...saya istrinya yang akan menjaga suami saya..." Jawab Lika.
"Tapi kondisi ibu seperti ini...apakah ibu tidak takut membahayakan ibu dan bayi ibu?" Tanya perawat itu lagi.
"Saya tau kondisi saya....dan saya cukup sehat untuk menjaga suami saya..." Tegas Lika.
"Baiklah..." Akhirnya kedua perawat itu membawa Ricky pindah keruangan lain. Lika mengikutinya dari belakang.
Kemudian sampailah mereka di sebuah ruangan tersendiri, ruangan khusus yang ada mesin monitornya. Kemudian Ricky di baringkan perlahan di sebuah ranjang pasien dengan selang infus yang masih menempel. Kedua perawat itu mulai memasang selang ke beberapa bagian tubuh Ricky dan memasang oksigen dan kabel yang terhubung ke layar monitor. Lika menangis melihat kondisi suaminya itu. Air matanya tidak berhenti mengalir.
Setelah melaksanakan tugasnya, kedua perawat itu segera meninggalkan ruangan itu. Lika bersimpuh di sisi Ricky sambil menciumi tangannya.
"Papa...apakah kau tidak mendengar aku? Papa...bangunlah....buka matamu...apa kau tidak kangen sama dedek? Papa...ayo buka matamu...jangan seperti ini terus please....bukankah kau bilang mau menemani aku saat melahirkan nanti...sebentar lagi anak kita lahir Pa...coba kau rasakan gerakannya....bukanlah kau selalu senang berbicara dengannya??" Tangis Lika pilu. Dia menarik perlahan tangan Ricky dan mengarahkan ke perutnya. Namun tangan itu tidak bergerak, beberapa kali Lika melakukan itu.
Lika membuka tasnya dan mengambil sapu tangan dari dalam tasnya itu, kemudian dia mengusap wajah Ricky yang berkeringat. Di kecupnya perlahan keningnya yang terbalut perban.
"Papa tenang saja....aku akan menemanimu dan menunggumu di sini...aku tidak akan meninggalkanmu..." Bisiknya di telinga Ricky.
Tok...tok...tok....
Suara pintu di ketuk, Lika segera menoleh ke arah pintu, muncul seorang perawat yang membawakan bungkusan makanan untuk Lika.
"Bu...ini ada makanan...makanlah...." Kata suster itu.
"Ini untuk aku suster?" Tanya Lika.
"Iya Bu...tadi ada seseorang yang menitipkan ini untuk ibu..." Kata suster itu.
__ADS_1
"Siapa?"
"Saya tidak tau Bu...dia memakai jaket dan masker...mungkin dia saudara ibu, karena sepertinya dia sangat mengenal kalian..." Ucap Suster itu sambil beranjak meninggalkan Lika yang masih berdiri dengan wajah bingung.