
Setahun telah berlalu, di Sekolah anak-anak, aku selalu terlihat mondar mandir mengantar dan menjemput anak-anakku, ketika anak-anakku di sekolah, aku baru bisa mengerjakan pekerjaan proyekku dan selalu terburu-buru melihat jam, takut anak-anak menunggu lama.
Siang itu jalanan sungguh macet, ternyata di depan sedang ada demo, aku terlambat menjemput Kezia dan Nando hampir satu jam, pikiranku kacau, aku begitu mengkhawatirkan mereka.
Setelah sampai di sekolah, keadaan sudah sangat sepi, semua anak-anak tidak ada satupun yang terlihat, setengah berlari aku masuk dan menemui kepala sekolah.
"Siang Bu Nuri....Apa Kezia dan Nando masih menunggu di sini?" Tanyaku cemas.
"Oh...Tadi Kezia dan Nando pulang bareng dengan Tasya, di ajak Mama Tasya...ini Pak saya kasih alamatnya..." Bu Nuri kepala sekolah mereka memberikan alamat Mama Tasya yang adalah teman sekelas Kezia.
Tanpa menunggu aku langsung melajukan ke alamat Tasya, aku sungguh tak habis pikir, mengapa anak-anak bisa ikut pulang dengan Tasya.
Ting Tong..
Ku pencet bell rumah itu, lalu muncul seorang wanita muda yang ku duga adalah Mama Tasya dari arah dalam.
"Oh...ini Papa Kezia ya...ayo masuk..." Sapa Mama Tasya.
Di Meja makan, nampak Kezia dan Nando sedang makan bersama dengan Tasya, hatiku mendadak panas.
"Kezia! Nando!" Panggilku.
Mereka menoleh dengan wajah terkejut dan takut, aku menghampiri mereka.
"Ayo kita pulang sekarang!" Perintahku. Mereka terlihat menunduk.
"Ehm...maaf Papa Kezia...tadi mereka menunggu lama...makanya aku ajak sekalian...kasihan mereka pasti lelah menunggu...tidak apa-apa kok kalau mereka di titipkan di sini..." Kata Mama Tasya mencoba menenangkan ku.
"Tidak usah...trimakasih atas tawarannya...tapi lain kali, jangan membawa mereka tanpa seijinku..." Sahutku.
"Tapi Papa Kezia kelihatan kerepotan sekali...aku hanya ingin membantu lho..." Kilah Mama Tasya.
"Maaf...anak-anakku tidak perlu bantuan siapapun...aku yang akan bertanggung jawab atas mereka...permisi...!"
Aku menarik tangan kedua anakku keluar dari rumah itu, rasanya hati ini begitu jengkel melihat anak-anakku ini. Aku langsung melajukan mobilku kencang.
"Pa...aku minta maaf...tadi Papa lama datangnya...aku dan Nando takut menunggu sendiri di sekolah..." Ucap Kezia dengan suara bergetar.
"Kan Papa sudah bilang...jangan kemana-mana sebelum Papa datang....apa kalian sudah tidak percaya Papa lagi??!!" Hardikku. Mereka mulai menangis.
"Maaf Pa...aku juga ingin seperti Tasya yang punya Mama...yang bisa masak dan menjemput setiap hari dengan tepat waktu..." Isak Kezia.
"Setiap hari Cika juga di bawakan bekal makanan yang enak-enak buatan Mamanya....rambut nya selalu cantik di kepang, pakai pita yang cantik...." Tambah Kezia lagi. Nando yang saat itu masih kecil, hanya mendengarkan sambil ikut menangis.
Aku terdiam, tanpa mampu lagi menyanggah perkataan anakku. Mereka benar, aku memang penuh keterbatasan. Tapi siapa lagi yang bertanggung jawab atas mereka kalau bukan aku?
Akhirnya pulang sekolah itu, ku ajak anak-anakku makan di sebuah restoran favorit mereka, padahal aku ada janji dengan kepala proyek untuk membahas pembukaan lahan properti di daerah Bandung.
__ADS_1
"Kezia...Nando....kalian pilih mau makan apa..."
"Aku mau makan ayam goreng dan spageti Pa...boleh ya..." Jawab Nando bersemangat.
"Tentu sayang...kalau Kezia mau makan apa?" Tanya ku sambil memandang putri sulung ku itu.
"Terserah Papa saja..." Kezia nampak murung.
"Lho...Kezia kenapa? Masih marah sama Papa? Maafkan Papa Nak...tadi di jalan macet sekali...padahal Papa sudah berusaha ngebut...tapi tetap saja, telat deh sampai sekolah..." Jelasku menyesal. Aku memang bukan Papa yang baik.
"Papa...." Panggil Kezia.
"Ya sayang..."
"Maafin aku ya Pa...aku cuma kasihan lihat Papa...padahal Papa harus kerja...tapi malah repot antar jemput aku dan Nando...makanya tadi waktu Mama Tasya mengajak kami, kami mau ikut...soalnya setelah makan Mama Tasya mau antar kami pulang kerumah..." Jelas Kezia.
Aku langsung memeluk Kezia, aku sangat memahami perasaanya saat itu.
"Sayang...jangan pikirkan pekerjaan Papa...apapun akan Papa lakukan buat Kezia dan Nando...lain kali tunggu Papa yang jemput ya..."
"Iya Pa..."
"Sekarang Kezia mau makan apa?"
"Sama deh Pa seperti Nando..."
"Hei...anak cowok Papa sudah lapar rupanya..." Aku mencubit gemas pipi Nando yang gembul.
Drrrt..... drrrrt.....drrrrt
Suara ponselku tiba-tiba bergetar, ada telepon masuk, aku langsung mengangkat telepon yang ternyata dari Bayu itu.
"Halo Bayu...."
"Halo Pak Ricky...hari ini belum sempat meeting ya dengan kepala proyek yang di Bandung?" Tanya Bayu.
"Iya...aku menjemput anak-anakku....ada berita apa?"
"Tanah yang akan di garap sudah mendapat perijinan dari kepala daerah setempat...kebetulan hari ini aku langsung cek lokasi Pak..." Jelas Bayu.
"Bagus Bayu...kau memang bisa di andalkan...nanti aku akan tinjau lokasinya...tolong kau urus semuanya..."
"Siap Pak Ricky..."
Kemudian ponselku segera ku matikan, aku tersenyum senang, Bayu bisa cepat mengerjakan tugasnya dengan baik tanpa harus menunggu komando ku.
Setelah kami selesai makan di restoran, langsung ku ajak anak-anakku pulang kerumah, di mobil Kezia dan Nando nampak ketiduran, mungkin mereka kelelahan sekolah dari pagi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, aku langsung memarkir kan mobilku di garasi rumah, karena melihat anak-anak yang pulas tertidur, aku tak tega membangunkan mereka.
Akhirnya aku menggendong Kezia dan aku pindahkan ke kamarnya, setelah itu aku juga menggendong Nando dan aku pindahkan ke kamarnya supaya mereka lebih nyaman tidur. Kemudian aku merebahkan tubuhku yang sangat penat di sofa, lelah juga berperan ganda, menjadi Papa dan Mama sekaligus bagi mereka. Entah sampai kapan.
Ting tong...
Suara bell rumah mengagetkan aku yang hampir tertidur, aku berjalan menuju gerbang. Ada tukang pos yang sudah berdiri di sana.
"Permisi...ini benar alamat rumah Bapak Ricky Gunadi?" Tanya tukang pos itu sambil membaca tulisan di sebuah amplop.
"Ya Benar..." Sahutku.
"Ini ada surat Pak..." Pak Pos itu menyodorkan surat yang ia baca tadi.
"Oh...oke...terima kasih..." Kataku sambil kembali berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku membuka surat itu, ternyata surat itu dari Sarah, aku membaca tulisan dari wanita penghianat itu.
'Ricky....sebelumnya aku minta maaf...aku memang bukan istri yang baik...aku hanya ingin mengabarimu, sekarang aku sudah sangat jauh dari kalian....aku ikut Martin ke Luar negri...aku berharap aku bahagia saat hidup dengannya....orang yang aku cintai sejak dulu.
Ricky...maafkan aku...kau adalah suami yang baik...bahkan teramat sangat baik...aku yang merasa sangat tidak layak untukmu....aku salah....selalu menyakiti hatimu....
Aku titip Kezia dan Nando...aku tau kau Papa yang penyayang...kau menyayangi mereka melebihi dirimu sendiri....walaupun kau tau Nando bukan darah dagingmu...aku sangat terharu Ricky...terima kasih...
Suatu hari aku pasti akan kembali....menjenguk anak-anakku...
-Sarah-
Aku langsung merobek surat itu, lalu ku buang begitu saja, hatiku benar-benar geram. Enak saja dia mau kembali lagi bertemu dengan anak-anakku. Tidak! Aku tak akan membiarkannya!
Aku langsung mengambil ponselku dan menelepon Bayu.
"Halo Pak Ricky...ada kabar apa?"
"Bayu....secepatnya kau urus penjualan rumahku sekarang...aku akan pindah ke Bandung..."
"Apa? Pak Ricky akan pindah ke Bandung? Kapan Pak? Kok mendadak?" Tanya Bayu beruntun.
"Secepatnya aku akan pindah...anak-anakku juga akan pindah sekolah...tolong kau urus secepatnya!"
"Baik Pak..."
"Tolong kau cari rumah besar di kawasan elit di Bandung, yang letaknya paling strategis...aku mau pastikan anak-anakku nyaman di sana...nanti uangnya akan ku transfer padamu...surat-surat menyusul!"
"Siap Pak Ricky...!"
**********
__ADS_1