Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Ketika Cinta Harus Mengalah


__ADS_3

Di depan ruang operasi, Ricky dan Lika berdiri tak jauh dari ambang pintu, di bangku panjang duduk mbok Narti, Nando yang tertidur di pangkuannya, juga Kezia yang duduk di sebelahnya.


Operasi berlangsung selama 5 jam, setelah cukup lelah menunggu, Lika duduk di Selasar koridor depan ruangan itu, kakinya dia selonjorkan untuk mengurangi rasa pegal yang melandanya.


Ricky nampak masih berdiri di depan pintu, terkadang dia berjalan kesana kemari. Hatinya kelihatan begitu gelisah.


"Duduk saja dulu pak Ricky...kumpulkan tenagamu..." Kata Lika, kemudian Ricky menyusulnya duduk di sebelahnya, punggungnya dia sandarkan di tembok.


"Lama sekali...kapan semuanya selesai?" Tanya Ricky gamang.


"Sabar dulu pak...matamu merah sekali...pasti kau sangat lelah dan mengantuk...walau bagaimana kesehatanmu juga penting..." Ucap Lika.


"Lika...aku mau rebahan...bolehkah aku pinjam pangkuanmu? Aku mau tidur di pangkuanmu sekarang..." Pinta Ricky. Lika tertegun memandang pria yang duduk di sebelahnya.


"Kau kan bisa tidur di mobil sebentar, itu akan lebih nyaman pak...kalo disini...lantai ini keras...punggungmu akan sakit..." Kilah Lika.


"Aku hanya mau tidur di pangkuanmu Lika, sebentar saja..." Mohon Ricky sambil menatap sendu wajah Lika. Lika selalu tidak tahan kala wajah pria itu menatapnya, akhirnya dia Menganggukan kepalanya.


Ricky menggeser posisi duduknya, kepalanya dia letakan di pangkuan Lika yang duduk berselonjor, kemudian dia langsung memejamkan matanya.


"Ya sudah...tidurlah sebentar..." Ucap Lika.


Lika memandang wajah yang kini ada di pangkuannya, wajah rupawan yang begitu tampan, padahal sudah punya dua anak, tapi kalau orang tidak tau, pasti akan berpikir Ricky pria single, karena wajahnya yang menawan dan masih muda. Wajah inilah yang selalu menggetarkan hati Lika.


Perlahan Lika membelai lembut rambut Ricky, kemudian mengusap wajah itu, menelusuri setiap bagian wajah itu, menyentuh bibirnya yang agak kering, karena mungkin kurang minum.


Dada Lika bergemuruh, perasaan yang belum pernah dia alami selama ini, walaupun dulu dia pernah punya tunangan, tapi perasan yang sekarang begitu bergelora.


Tiba-tiba tangan Ricky menangkap tangan Lika, di arahkan tangan Lika ke dadanya, kemudian perlahan Ricky membuka matanya. Lika terperangah.


"Bukannya kau tidur ya..."


Ricky tersenyum, dia mencium tangan Lika.


"Apa kau merasakan sesuatu di dadaku Lika?" Tanya Ricky. Lika menggeleng.

__ADS_1


"Coba sekali lagi ya..." Kemudian Ricky menggenggam tangan Lika, dan kembali meletakan tangan itu di dadanya.


Benar juga, Lika merasa di dada Ricky ada debaran jantung yang berdetak cukup cepat dan di rasakan Lika, perlahan Lika menarik tangannya.


"Sudah cukup pak..."


"Kau tau sekarang, di dada ini, di hati ini...hanya ada Lika seorang, yang mampu membuat jantungku berdebar-debar...jadi...ku mohon...jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku..." Ungkap Ricky sambil menatap lembut wajah Lika.


Lika terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Sepertinya Ricky tau Lika berniat akan pergi meninggalkannya.


Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan itu. Lika perlahan mendorong tubuh Ricky yang masih ada di pangkuannya, kemudian dia berdiri dan menghampiri dokter itu.


"Bagaimana dokter?" Tanya Lika.


"Operasinya lancar...pasien masih belum sadar, sebentar lagi akan di pindahkan keruangan perawatan..." Jelas dokter itu, kemudian segera berlalu meninggalkan tempat itu.


Tidak lama kemudian, beberapa suster mendorong ranjang Sarah, Sarah masih dalam pengaruh obat bius. Lika dan Ricky mengikutinya. Sebelum jauh Lika menghampiri mbok Narti yang masih sama anak-anak.


"Mbok...ajak anak-anak makan di kantin dulu ya...mbok juga makan...nanti nyusul ke ruangan mbak Sarah ya..." Kata Lika.


"Iya..." Sahut mbok Narti yang langsung membawa anak-anak pergi.


"Iya sayang...doakan Mama cepat pulih ya.." Sahut Lika sambil membelai rambut Kezia.


"Ayo...kita makan dulu..." Kata mbok Narti sambil menggandeng tangan keduanya. Kemudian Lika segera berbalik menyusul Ricky.


Di kamar itu, di ranjangnya, Sarah masih terpejam dan belum sadar, Ricky nampak duduk disebelahnya. Perlahan Lika mendekatinya.


"Syukurlah operasinya berhasil...dia akan sembuh Pak...setelah sembuh...bawalah dia pulang kerumahmu...anak-anak pasti akan senang.." Ucap Lika. Ricky menggenggam tangan Lika erat.


"Tidak...dia bukan siapa-siapa aku..." Kilah Ricky.


"Kau lupa? Dia Mama dari anak-anakmu...belajarlah untuk kembali menerimanya pak... " Ujar Lika.


"Aku tidak bisa..."

__ADS_1


"Harus bisa...Kaulah harapan mbak Sarah saat ini..." Perlahan Lika melepaskan tangan Ricky.


"Lika..."


"Aku pulang ya pak...anak-anak ada bersama mbok Narti...kau pasti kuat pak Ricky..."


Tiba-tiba mata Sarah perlahan terbuka, Lika mendorong tubuh Ricky ke arah Sarah, lalu dengan cepat Lika melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Lika terus berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit, turun ke lantai 1 dan melewati lobby, di sana dia mendapati Mbok Narti bersama dengan Kezia dan Nando sedang makan di kantin yang ada di sebelah lobby. Nando yang melihat kearah Lika memanggilnya.


"Bu Lika!"


Lika menghentikan langkahnya, perlahan dia mendekati mereka.


"Bu Lika mau kemana?" Tanya Kezia.


"Ibu mau pulang sayang..."


"Kenapa gak sama Papa?" Tanya Nando.


"Papa kan sedang menemani Mama...kalian baik-baik ya sama mbok Narti...jangan nakal!" Ucap Lika.


"Ini anak-anak sampai kapan disini?" Tanya mbok Narti.


"Mbok...setelah makan, ajak mereka melihat mamanya, lalu mintalah pak Ricky untuk memesan taksi, dan ajaklah anak-anak pulang ke rumah...mereka harus beristirahat..." Jelas Lika. Mbok Narti menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Bu Lika...besok kita ketemu lagi kan?" Tanya Kezia.


"Kezia...jaga adikmu ya...besok Bu Lika gak janji...tapi nanti kalian harus menemani Mama terus kalo sudah sembuh...oke..." Lika merengkuh kedua anak itu kemudian segera berlalu meninggalkan mereka.


Lika terus berjalan sampai ke luar gerbang rumah sakit, semakin lama dia berada di sini, semakin berat dirinya untuk meninggalkan mereka, orang-orang yang dia sayangi.


Lika lama berdiri di tepi jalan raya itu, dia juga tidak memesan taksi untuk pulang, banyak hal yang berkecamuk di dalam pikirannya.


Hingga ketika ada sebuah mobil angkutan umum berhenti di depannya, Lika segera naik. Dia pun duduk sambil memandang ke arah rumah sakit yang lama-lama menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


'Maafkan aku pak Ricky....Kezia...Nando....aku memang harus meninggalkan kalian...mungkin ini jalan yang terbaik, mbak Sarah sudah ada di tengah kalian...dia pasti akan segera sembuh....pak Ricky...aku mencintaimu...akan ku bawa cinta ini kemanapun aku pergi...akan ku simpan namamu di sudut hatiku yang paling dalam...'


Air mata Lika menetes membasahi pipinya, segera dia mengusapnya dengan kedua tangannya.


__ADS_2