Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Misteri Yang Masih Terselubung


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam ketika Lika membawa Kezia dan Nando keluar dari rumah sakit, di tepi jalan raya yang cukup padat, mereka menunggu orderan taksi online.


Tidak berapa lama, taksi online yang dipesan sudah ada di depan mereka, lalu mereka pun menaikinya. Wajah Kezia dan Nando kelihatan sangat lelah, sampai Nando tertidur dengan menyandarkan kepalanya di bahu Lika.


"Kezia...kalau Papamu tanya...bilang saja kita habis jalan-jalan ke mall..." Bisik Lika.


"Kenapa kita harus berbohong Bu...bukanlah tadi kita habis bertemu Mama?" Tanya Kezia.


Lika terkesiap mendengar perkataan Kezia, sebagai seorang guru, tidak seharusnya dia mengajari muridnya untuk berbohong, namun perasaan takut lebih menguasainya, Lika takut Ricky akan marah besar, hal yang berkaitan dengan anak-anak dan mantan istrinya selalu membuat Ricky marah.


"Kezia...maafkan ibu ya...Kezia kan tau Papa akan sangat marah kalo tau kalian bertemu Mama...nah...kita harus jaga hati Papa supaya tidak marah, sementara mungkin tidak ada salahnya Kezia jangan bilang Papa dulu...nanti kalo waktunya sudah tepat...baru kita bilang pelan-pelan..." Kata Lika dengan bijak.


"Oke bu...aku juga takut sama Papa kalo marah..." Sahut Kezia. Tak lama mobil itu sudah sampai didepan rumah Ricky. Kemudian setelah membayar merekapun turun dan Lika menggendong Nando yang masih tertidur.


Kezia memencet bel di gerbang rumahnya, lalu tak lama Ricky muncul membukakan gerbang itu.


"Kok sampai malam jalan-jalannya? Dari tadi Papa nungguin tau..." Cetus Ricky dengan wajah cemberut.


"Tadi seru banget sih pa..." Tukas Kezia.


"Maaf pak Ricky..."


"Oh...tidak apa-apa Bu guru...sini Nando biar aku bawa ke kamar..." Kata Ricky yang langsung mengambil alih Nando dari gendongan Lika.


"Kalo begitu aku pamit ya pak..."


"Tunggu....tunggu sebentar...nanti ku antar..." Cegah Ricky yang cepat-cepat masuk untuk menaruh Nando di kamar. Lika terpaksa menunggu laki-laki itu. Sementara Kezia sudah masuk kedalam karena gadis kecil itu nampak letih sekali.


Tak berapa lama Ricky kembali muncul dengan pakaian rapi, dan membawa sebuah kunci mobil.


"Ayo Bu guru...aku akan mengantarmu..." Kata Ricky sambil membukakan pintu mobilnya untuk dinaiki Lika.


"Trimakasih..."


Sepanjang perjalanan Lika lebih banyak diam, pikirannya kembali teringat akan Sarah yang tengah berjuang melawan penyakitnya.

__ADS_1


"Bu guru...sudah makan belum...?" Tanya Ricky. Lika nampak kaget.


"Eh...iya...sudah pak tadi di jalan..." Ucap Lika gugup.


"Bu guru kenapa hari ini kelihatan aneh...?"


"Tidak apa-apa kok pak..."


"Oya Bu...dalam waktu dekat ini aku berniat akan ke rumahmu..." Ujar Ricky.


"Hmm....dalam rangka apa pak?"


"Aku akan melamarmu..."


"Hah...?!" Lika membulatkan matanya, rasanya hatinya tidak siap mendengar perkataan itu, bukan karena ia tidak mencintai Ricky, namun bayangan Sarah saat ini terus mengusik pikirannya.


"Ada apa Bu...bukankah waktu itu aku sudah mengungkapkan semuanya? Aku sangat mencintaimu, bukan karena kau menyayangi anak-anakku, tapi murni dari lubuk hatiku yang terdalam..." Ungkap Ricky sambil berusaha menggenggam tangan Lika. Perlahan Lika menarik tangannya.


"Pak Ricky...maaf, aku belum siap...beri aku waktu..." Sergah Lika. Ricky menarik napas panjang.


"Baiklah...aku akan terus menunggumu bu guru..."


*************


"Kakak dari tadi ngelamun terus, ada apa sih kak?"


"Gak tau nih Lia...aku juga bingung..." Sahut Lika datar.


"Ayolah kak...cerita sama aku...biasanya dari kecil kita selalu saling terbuka kan..." Ucap Lia.


"Lia, kamu tau gak tadi aku ketemu dengan siapa?" Lia menggelengkan kepalanya.


"Aku ketemu mbak Sarah, mantan istrinya pak Ricky, Mama kandung dari Kezia dan Nando..." Jelas Lika.


"Yang benar kak? Kok bisa? Berarti selama ini yang meneror kakak dia dong...dia yang sudah kirim pesan ke kakak?" Tanya Lia beruntun.

__ADS_1


"Aku tidak yakin kalo dia pelakunya...kamu tau Lia..dia mengidap kanker rahim stadium tiga, tidak mungkin dia sempat mengetik di ponsel, sedangkan dia tidak memegang ponsel, badannya sangat kurus dan lemah...dengan tangan terinfus, dan dengan bantuan pernapasan...bukan dia pelakunya!" Jelas Lika yakin.


"Kalau bukan dia siapa dong kak...karena hanya dia yang punya alasan kuat..."


"Entahlah Lia...ini masih jadi misteri...sudahlah, aku capek mau tidur..." Kata Lika sambil berdiri dan melangkah masuk menuju ke kamarnya.


Setelah membersihkan tubuh dan berganti pakaian, Lika segera merebahkan dirinya di tempat tidurnya.


Drrt....drrrrt.....drrrrt....


Suara ponsel yang bergetar mengagetkan Lika, kemudian dia meraih ponselnya itu disampingnya, lalu mengusapnya dan menekan tombol hijau.


"Halo..." Sapa Lika malas.


"Halo Bu Lika...ini Alan Bu.."


"Oh...pak Alan...ada apa pak telepon malam-malam...maaf aku sudah mengantuk nih..." Ucap Lika sambil menguap menahan kantuk.


"Sebentar Bu Lika...besok ada hal penting yang akan kubicarakan...penting Bu...jam istirahat siang datang ke mejaku ya..." Kata Alan. Lika langsung terduduk dari tidurnya.


"Ada apa sih Pak...bikin penasaran aja...udah ngomong aja..." Desak Lika.


"Besok saja Bu...gak enak bicara di telepon...apalagi kamu mengantuk, nanti gak konsen lagi...."


"Ya terserah lah..." Cetus Lika jutek.


"Oke...sampe ketemu besok ya Bu..." Lalu teleponpun terputus.


****************


Hai readers...mampir yuk ke karyaku yang lain:


- 'Menggapai Impian'


- 'My Heaven'

__ADS_1


Cerita cinta dan inspirasi yang penuh konflik dan mengundang emosi.


Ditunggu like, vote and comment nya ya .... Trimakasih....


__ADS_2