Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Kota Kenangan


__ADS_3

Baju dan perlengkapan selama dua hari sudah rampung di masukkan ke dalam tas, Lika menuju ke meja makan, mulai bergabung dengan Nenek dan Lia sarapan bersama.


"Maafin kakak ya Lia...aku titip Nenek...mungkin nanti siang perawat untuk Nenek sudah datang..." Kata Lika sambil mengambil makanannya.


"Iya kak...hati-hati di sana ya...titip salam buat Kezia dan Nando...tapi apa kakak serius mau ketemuan sama mereka?" Tanya Lia.


"Aku juga gak tau Lia...nanti lihat sikon saja, aku takut mbak Sarah tau...aku kan sudah janji mau pergi dari mereka...tapi rindu ini gak bisa di bohongin..." Sahut Lika.


"Halah...kakak alasan saja...bilang saja rindu sama pak Ricky..." Ledek Lia.


"Aku gak janjian lho sama pak Ricky...aku hanya minta tolong mbok Narti buat ketemuan sama anak-anak sebentar...itu aja kok...jangan nuduh sembarangan...!" Cetus Lika dengan wajah merahnya.


"Lika...kamu jaga diri baik-baik ya...jangan sampai melakukan hal yang aneh...kamu ada teman sesama wanita kan?" Ujar Nenek yang kini duduk di kursi roda.


"Ada dong Nek...Bu Wati akan bersamaku, kalau cuma sama pak Ferry...mana mau aku ikut..." Jawab Lika.


Tin...tin...tin...


Suara klakson mengagetkan mereka, mobil pak Ferry sudah terparkir dengan manis di depan rumah.


"Tuh kak sudah di jemput...!" Seru Lia. Mereka beranjak keluar dari dalam.


"Sudah siap Bu...ayo kita langsung ke bandara...!" Teriak pak Ferry dari dalam mobil.


Lika segera mengambil tasnya dan pamit dengan Nenek dan Lia, kemudian naik ke mobil Pak Ferry, ternyata Bu Wati sudah ada di dalam mobil itu.


"Titip cucuku ya pak...!" Seru Nenek.


"Siap Nek...cucu mu akan aman bersama kami..." Sahut pak Ferry, kemudian mobil itu segera bergerak melaju meninggalkan tempat itu.


*************


Bandung

__ADS_1


Kezia dan Nando baru berangkat sekolah, Ricky di kamar bersiap-siap akan ke kantor, sementara mbok Narti sibuk mencuci piring. Tiba-tiba Sarah keluar kamar dengan kursi rodanya di bantu oleh susternya, dia menuju kamar Ricky, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Sarah masuk ke kamar mantan suaminya itu.


Ricky yang sedang berpakaian terkejut melihat kehadiran Sarah yang tiba-tiba ada di kamarnya.


"Mau apa kau kemari?!" Pekik Ricky sambil buru-buru menyelesaikan aktifitasnya. Sarah hanya tersenyum kepadanya.


"Mengapa kau jadi sesungkan itu terhadapku...? Bukankah dulu kita sering seperti ini?" Tanya Sarah dengan santainya.


"Tidak...diantara kita tidak ada hubungan apapun...lebih baik kau keluar dari kamarku...kau tidak berhak ada disini...!" Hardik Ricky.


Sarah tidak bergeming, bukannya mundur dia malah maju perlahan mendekati Ricky. Matanya menatap tajam ke arah laki-laki dihadapannya itu.


"Tidakkah kau kasihan melihat keadaanku seperti ini? Apa kau lupa aku adalah ibu dari anak-anakmu?" Ujar Sarah.


"Aku tidak lupa kau ibu kandung dari anak-anakku...tapi aku lupa kau pernah jadi istriku...kalau saat ini kondisimu begitu menyedihkan...anggap saja itu adalah karma dari apa yang pernah kau perbuat pada kami...sekarang menyingkirlah...aku mau lewat...!" Ucap Ricky.


Sarah tetap tak bergeming, sampai Ricky habis kesabaran dan segera mendorong kursi roda itu keluar dari kamarnya. Sarah menangis dan memegang tangan Ricky dengan sangat erat, Ricky menepisnya hingga membuat Sarah terjatuh dari kursi rodanya.


Mbok Narti dan suster yang melihat kejadian itu langsung menghampiri mereka dan membantu Sarah yang terjatuh.


"Kalau kau masih mau tetap tinggal disini...jangan berani-berani masuk ke kamarku! Apalagi menyentuhku! Ingat itu...!!!" Bentak Ricky. Kemudian pria itu mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Sarah tetap menangis di tempatnya, mbok Narti dan suster membantu wanita itu untuk duduk kembali di kursi rodanya.


*************


Di sebuah hotel bintang lima di kota Bandung, Lika dan Wati berjalan menuju kamarnya, disebelahnya adalah kamar pak Ferry. Sebelum masuk ke kamar untuk beristirahat sejenak, pak Ferry memberi pengarahan.


"Sesi pertama nanti di mulai jam 10, setelah itu istirahat siang, kemudian sesi kedua mulai lagi jam 4 sore, malam jam 7 ada acara ramah tamah dengan para guru BK se- Jawa dan Bali...lalu istirahat malam, besok pagi kita berangkat pulang ke Jogja..." Jelas Pak Ferry.


"Baik pak...ternyata jadwalnya sepadat itu ya pak..." Kata Lika.


"Iya...karena ini seminar eksklusif yang diadakan Mentri pendidikan...kita beruntung bisa bergabung di dalamnya..." Ujar Pak Ferry.

__ADS_1


"Apa kita tidak bisa keluar hanya untuk sekedar jalan-jalan Pak?" Tanya Bu Wati.


"Jalan-jalannya besok pagi...interen kita saja...sudah...sekarang kalian istirahatlah..." Kata pak Ferry yang segera masuk ke kamarnya.


Di dalam kama hotel itu, Lika menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, hatinya agak gundah, memikirkan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Kezia dan Nando.


"Bu Lika kelihatannya dari tadi gelisah...ada apa sih Bu?" Tanya Wati yang sedang membereskan barang-barangnya.


"Bu Wati...sebenarnya selain ikut seminar...aku ada tujuan lain datang kesini..." Sahut Lika.


"Oya...apa Bu? Apa Pak Ferry tau?" Tanya Wati lagi.


"Dia tidak tau...untuk apa dia tau...yang penting aku turuti permintaannya untuk mewakili sekolah kita..." Ujar Lika.


"Lalu? Apa rencanamu...?"


"Entahlah...rasanya pikiranku jadi buntu...padahal aku hanya ingin bertemu dengan mantan muridku...tapi kelihatannya waktunya susah..." Ucap Lika putus asa.


"Tenang Bu Lika...aku akan membantumu...masa sudah jauh-jauh datang tidak jadi bertemu..."


Tiba-tiba Lika meloncat dari tempat tidurnya, ada terbersit sesuatu di pikirannya.


"Aha...Aku Ada ide...Bu...jam 2 siang anak-anak itu pulang sekolah...aku akan menemuinya di sekolah mereka...nanti sebelum jam 4 aku sudah kembali..." Kata Lika berbinar.


"Hmm...apa kau tidak takut terlambat Bu...jaraknya jauh tidak?" Tanya Wati.


"Tidak jauh...di jalan Sadewa..."


"Sepertinya murid mu itu begitu spesial...sampai kau begitu antusias untuk bertemu..."


"Karena mereka bukan murid biasa...murid yang selalu ada di hatiku...murid yang mengajariku tentang cinta sejati..." Ungkap Lika.


"Hah? Cinta sejati? Apa maksudmu Bu Lika...kau nampak seperti orang yang jatuh cinta saja...padahal hanya bertemu murid..." Tanya Wati keheranan.

__ADS_1


"Ya...aku memang jatuh cinta...dengan Papa dari muridku itu...dia sangat tampan dan baik...wajahnya begitu rupawan, membuat aku selalu bermimpi tentangnya setiap malam...hati ini begitu rindu hanya untuk melihat wajahnya..." Ungkap Lika sambil memejamkan matanya.


"Ya Tuhan...Bu Lika...kamu benar-benar sedang jatuh cinta...!" Pekik Wati sambil membulatkan matanya.


__ADS_2