
Melihat Nando yang sudah berdiri di hadapannya, Lika spontan memeluk anak itu dengan erat, Ricky juga memeluk Nando.
"Nando sayang....anak kesayangan ibu sama Papa....jangan sedih lagi ya sayang..." Ucap Lika. Kemudian Lika dan Ricky menuntun Nando untuk duduk di tempat tidur Nando.
"Papa...apa benar Nando bukan anak Papa??" Tanya Nando sambil menatap Ricky. Hati Ricky pedih mendapat pertanyaan seperti itu dari anak yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung sendiri.
"Nando tetap anak Papa..." Jawab Ricky sambil membelai rambut Nando.
"Papa bohong! Tadi Om itu bilang kalau aku bukan anak kandung Papa....aku anak kandung Om itu...betul begitu kan Pa??" Nando bertanya lagi dengan mata menyelidik.
"Nando...secara biologis Nando memang anak Om Martin dan Mama Sarah...tapi Papa Ricky tetap Papa yang merawat Nando selama ini dengan kasih sayang..." Jawab Ricky. Ia berusaha berbicara dengan bahasa yang mudah dicerna oleh anak seusia Nando.
"Jadi benar ya...Papa Ricky bukan Papa Nando...huu....huuuu....aku anak yang di buang....huuuu...." Nando menangis dengan suara keras. Lika berusaha menenangkannya.
"Nando...Jangan sedih sayang....di sini semua orang sayang sama Nando..." Ucap Lika.
"Tidak....aku anak yang di buang....Huuuu....aku benciiii....huuu...." Nando menangis. Ricky memeluk erat anak itu, matanya juga merah menahan air matanya.
"Nando....itu cuma masa lalu sayang...walaupun Papa bukan Papa kandung Nando...tapi Nando tetap anak Papa..." Jelas Ricky meyakinkan.
"Tidak...pasti Papa akan memberikan aku sama Om Martin...karena Om itu sudah bilang kalau mau bawa aku...huuuu....aku benciiii Om Martin...huuuuu.....dia jahat sudah buang aku....jahaaaaat....!!!!" Tangis Nando semakin keras.
"Nando tetap anak Papa! Kau dengar itu Nak? tidak perduli orang lain mau bilang apa...Nando tetap anak kesayangan Papa!" Sentak Ricky sambil berdiri dan bergegas keluar dari kamar itu.
Lika masih memeluk Nando sambil menghapus air mata anak itu, berusaha untuk membuatnya tenang.
Tak lama kemudian Ricky sudah kembali sambil menggendong Given dan membawa selembar kertas yang di laminating. Dengan cepat Lika mengambil Given dari gendongan Ricky, kemudian mulai menyusui Given karena bayi itu menangis.
"Nando lihat ini..." Ricky menunjukkan selembar kertas itu pada Nando.
"Ini adalah Kartu keluarga...coba Nando baca, apakah ada nama Nando disitu?" Tanya Ricky. Nando menganggukkan kepalanya.
"Sekarang Nando percaya kalau Nando itu adalah anak Papa Ricky? Kalau Nando adalah bagian dari keluarga ini?" Tanya Ricky lagi. Nando menganggukkan kepalanya.
"Sekarang jangan kau ragukan lagi sayang Papa ke Nando...sayang Papa ke Nando sama dengan sayang Papa ke Kak Kezia....juga ke Given...." Jelas Ricky.
__ADS_1
"Tapi Pa...bagaimana kalau Om itu datang lagi??" Tanya Nando.
"Nando jangan takut...hadapi saja..." Jawab Ricky.
"Kalau dia mau ajak pergi aku??" Tanya Nando lagi.
Ricky terdiam, dia bingung harus mengatakan apa. Sesungguhnya Martin juga ada hak untuk mengasuh Nando, karena dia adalah ayah kandung Nando.
"Nando...Ayah kandung Nando itu kan Ayah Martin...dia ada hak untuk sayang Nando juga, untuk mengasuh Nando...kalau Nando belum siap tidak apa-apa...tapi Nando harus sadar, kalau banyak orang yang sayang sama Nando..." Jelas Lika.
"Tapi aku tidak mau berpisah dengan Papa dan Ibu....huuuu.....huuuu...." Nando kembali menangis. Ricky langsung memeluk anak itu dalam dekapannya.
"Nando sayang....Papa juga sangat tidak ingin berpisah denganmu...Papa akan sekuat tenaga memperjuangkan Nando...Nando tetap anak kesayangan Papa...bahkan Papa rela mati buat Nando...kalau itu bisa membuat Nando bahagia..." Ucap Ricky. Nando langsung memeluk kencang Ricky.
"Papa....Aku sayang Papa...pokoknya papa Ricky adalah Papa yang terbaik buat aku...aku tidak mau Papa yang lain...tidak mau....!!!" Jerit Nando dalam pelukan Ricky. Lika juga ikut menangis melihat momen Papa dan anak itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, namun Lika dan Ricky masih berada di dalam kamar Nando, meyakinkan anak itu dan memberikannya penjelasan yang bisa di terimanya.
"Nando...kau belum makan sayang...kita turun makan yuk...di bawah kakakmu, Nenek dan Tante Lia sudah menunggu..." Kata Lika.
"Kalau Nando tidak mau makan...ibu juga tidak makan...kalau ibu tidak makan...dedek Given juga tidak makan..." Jawab Lika. Nando nampak berpikir.
"Makan Nando...Papa juga tidak mau makan kalau Nando tidak makan..." Tambah Ricky.
"Ya sudah..aku mau makan..." Sahut Nando akhirnya. Kemudian Lika dan Ricky segera membimbing Nando turun ke bawah.
Sementara di lantai bawah, di ruang makan, sudah duduk Nenek, Lia, dan Kezia. Mereka semua duduk menunggu dengan wajah sendu, melihat Nando turun mereka semua tersenyum.
"Ayo Do sini....duduk dekat Kakak!" Panggil Kezia sambil menepuk-nepuk kursi di sampingnya.
"Nando...nanti malam Tante Lia mau ceritain dongeng seru lho buat Nando...tunggu Tante ya..." Sambung Lia.
"Nando...besok mau Nenek masakin apa? Nenek mau masak ah...di temani Mbok Narti..." Ujar Nenek menimpali.
Lika dan Ricky tersenyum melihat perlakuan seisi rumahnya itu. Sementara Nando masih menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Mereka akhirnya makan malam bersama. Malam itu Nando terlihat kurang nafsu makan, biasanya anak ini paling lahap kalau hal makan.
"Nando makan yang banyak..apa perlu ibu suapi?" Tanya Lika. Nando menggelengkan kepalanya.
"Do...besok kita jalan-jalan yuk ke mall...di antar Om Burhan...kita main time zone sepuasnya..." Kata Kezia. Nando menggelengkan kepalanya. Biasanya Nando selalu antusias jika di ajak jalan ke mall.
Akhirnya makan malam berakhir dengan suasana hening, mereka tidak tau lagi bagaimana membuat Nando tertawa ceria seperti dulu.
Kriiinggg.....Kriiiing....Kriiiingggg
Suara telepon rumah mengagetkan keheningan mereka, dengan sigap Mbok Narti mengangkat telepon itu.
Mbok Narti nampak berbicara sebentar dengan si penelepon, lalu dia menoleh ke arah Ricky, memberikan kode kalau telepon itu ditujukkan untuknya. Lalu Ricky segera mendekat ke arah meja telepon yang letaknya tidak jauh dari ruang makan.
"Halo...."
"Hei...Ricky....besok aku akan datang lagi...bersiaplah...aku akan menjemput Nando..." Rupanya Martin yang menelepon.
"Diam kau...jangan ganggu keluargaku!" Seru Ricky hampir berbisik karena tidak ingin suaranya terdengar oleh orang rumah.
"Aku tidak akan mengganggu keluargamu....aku hanya ingin anakku, Nando!"
"Kenapa tiba-tiba kau datang ingin mengambilnya? Bukankah kau dulu membuangnya?" Tanya Ricky.
"Panjang ceritanya...!" Sahut Martin.
"Baik...sebelum kau kemari...aku mau kita bertemu, bicara baik-baik denganmu..." Kata Ricky.
"Okay....no problem...di mana kita akan bertemu?"
"Di cafe dekat rumahku...aku akan membawa serta istriku..." Sahut Ricky.
"Kenapa kau harus mengajaknya?"
"Karena istriku juga adalah Ibu dari Nando!" Cetus Ricky, lalu dia menutup teleponnya.
__ADS_1
**************