Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
[POV Ricky] Mulai Membuka Hati


__ADS_3

Sejak kehadiran guru baru itu, hidup anak-anakku berubah, mereka tidak lagi menjadi pribadi yang murung dan kurang percaya diri, di tambah lagi prestasi mereka yang terlihat semakin meningkat.


Hal itu sedikit aku manfaatkan untuk memperluas jaringan Bisnisku, aku mulai melebarkan sayap ke beberapa daerah di Indonesia.


Hingga aku mendapat predikat sebagai developer muda tersukses di tahun itu, hal itu menambah semangat aku untuk terus berkarya, yang kelak akan ku wariskan untuk kedua anakku.


Hingga ada seorang investor yang menawarkan aku untuk membuka lahan properti di daerah Papua, ini adalah daerah terjauh proyekku selama ini, tapi aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


Pagi itu sambil mengantar anak-anak kesekolah, aku ijin akan keluar kota, karena besok hari Sabtu, anak-anak libur.


Aku sengaja menyimpan banyak stok makanan di rumah, mulai dari makanan ringan, susu kemasan dan masih banyak lagi camilan. Untuk makanan pokok aku akan kirim lewat aplikasi online, sehingga dari jarak jauh pun aku bisa memberi mereka makan.


"Papa pulangnya jangan lama-lama ya..." Kata Nando.


"Tidak...siang ini setelah kalian pulang sekolah Papa berangkat, besok siang sudah kembali lagi...cepat bukan..." Ucapku berusaha menghibur mereka.


"Janji ya....masa yang lain liburan weekend ke mall sama keluarganya...kita malah berdua di rumah..." Sungut Nando lagi.


"Tenang sayang...nanti Papa akan bawakan banyak oleh-oleh...Kezia...jaga adikmu selama Papa tidak ada ya..." Ucapku sambil menoleh kearah putriku yang sejak tadi diam saja.


"Iya Pa..." Sahutnya patuh.


Tak lama mereka sudah tiba di sekolah dengan tepat waktu.


***********


Setelah menjemput anak-anak dari sekolah, lalu memastikan mereka aman di rumah, aku langsung bergegas pergi ke Bandara, ku titipkan mobilku di parkiran bandara.


Tidak butuh waktu yang lama aku sudah sampai di Papua. Ternyata di sana aku banyak bertemu orang-orang penting, kami mengadakan meeting di sebuah hotel dari sore sampai malam, aku tidak sadar ponselku tertinggal di dalam tas ku yang ku simpan di kamar hotel.


Karena terlalu seru membicarakan mengenai proyek baru, aku baru beranjak masuk kamar hotel hampir jam 12 malam.


Aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas, betapa terkejutnya aku saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari ponselku, telepon dari rumah berkali-kali namun aku tak meresponnya, aku mengutuki diriku sendiri. Aku langsung menghubungi balik ke rumah. Namun sepertinya teleponku juga tidak diangkat-angkat, aku mulai frustasi.

__ADS_1


Akhirnya karena kelelahan dengan segala aktifitas pekerjaan, aku ketiduran, sampai hari menjelang pagi aku kembali mencoba menelepon ke ponsel Kezia, kali ini ada nada tersambung, mudah-mudahan teleponku di angkat, aku begitu khawatir.


"Halo...Kezia...apa yang terjadi di rumah Nak?" Tanyaku cemas.


"Semalam Nando sakit Pa...badannya panas sekali..." Sahut Kezia.


"Ya Tuhan...maafkan Papa Nak...sekarang bagaimana kondisi Nando? Papa janji akan pulang secepatnya..." Ujarku.


"Sudah ada ibu guru di sini Pa...semalam aku meneleponnya...habisnya aku telepon Papa tidak diangkat-angkat...Bu guru sudah membawa Nando ke dokter...dan Nando sudah di beri obat..." Cerita Kezia.


Aku terkesiap mendengarnya, itu pasti guru baru itu, mengapa dia bisa melakukan hal itu pada anak-anakku?


"Kezia...ibu gurunya sudah pulang kan?" Tanyaku.


"Belum Pa...Nando dan aku mencegahnya pulang...kami mau ibu guru menginap saja...Papa jangan marah ya..."


"Hah? Jadi ibu gurumu menginap di rumah kita?"


"Iya Pa...tidak apa-apa kan?"


Aku termenung beberapa saat lamanya, seandainya tidak ada guru itu, entah apa yang terjadi pada anak-anakku.


Saat itu pikiranku ada di rumah, memikirkan anak-anakku dan...guru baru itu...


Ah, kenapa wajah itu jadi menari-nari dalam pikiranku, padahal dia wanita biasa, wajahnya pun biasa saja, tapi kenapa mata teduh itu membuat hatiku merasa nyaman?


Aku langsung meraih ponselku dan memesan penerbangan yang tercepat. Langsung ku bereskan barang-barangku dan segera berlalu meninggalkan hotel itu.


Untungnya di bandara tidak ada penundaan penerbangan, sehingga perjalanan sedikit lebih lancar, aku bisa lebih cepat sampai di rumah.


Rasanya aku tidak sabar sampai dirumah, mudah-mudahan guru manis itu belum pulang. Ah, mengapa kini aku malah mengharapkannya, apa yang spesial dari dirinya, bahkan waktu itu aku sudah membuatnya kesal dengan sikapku.


Matahari sudah tinggi saat aku sampai di rumah, aku langsung memarkirkan mobilku dan bergegas turun dari mobil dan langsung masuk kedalam rumahku.

__ADS_1


Kezia nampak datang berlari kecil menyambut ku.


"Dimana Nando?" Tanyaku tidak sabar.


"Nando tidur di kamar Pa..semalam badannya panas, untung ada Bu Lika yang bawa Nando ke dokter, jadi bisa di kasih obat...Bu Lika juga masak buat kita tadi pagi...." Cerita Kezia.


Aku termenung memandang ke seluruh ruangan rumahku, semuanya sudah rapi dan bersih, bahkan lantai yang ku injak saat ini nampak berkilau karena habis di pel. Ku lihat di meja makan besar sudah terlihat banyak makanan yang aromanya tercium nikmat di hidungku. Rumahku yang dulu kusam kini nampak seperti surga, semuanya indah dan bersih, apakah ibu guru itu yang membersihkan rumah besar ku ini?


Aku langkahkan kakiku menuju kamar Nando, anak itu masih nampak tertidur, dan akupun langsung memeluknya dan mencium rambutnya.


"Nando anak Papa...kamu tidak apa-apa kan Nak?" Bisikku. Nando nampak mengerjapkan matanya.


"Iya Pa...tadi aku di masakin Bu Lika...terus di suapin obat, katanya aku harus banyak istirahat biar cepat sembuh..." Cerita Nando.


"Tadi Bu Lika yang bersihin rumah kita Pa...Papa liat kan rumah kita jadi rapi dan bersih...jadi Papa gak usah capek-capek bersihin rumah dan cuci baju..." Celetuk Kezia.


Aku tertegun mendengar cerita anak-anakku, bahkan mulutku terasa Kelu untuk mengatakan sesuatu.


"Pak Ricky...karena Bapak sudah pulang, saya mohon diri..." Pamit Guru itu yang sedikit membuat aku kaget.


Guru manis itu langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar Nando, aku langsung menyusul di belakangnya.


"Tunggu...!"


Ibu guru itu berhenti dan menoleh ke arahku.


"Aku percayakan anak-anakku pada Ibu guru...tolong...aku percaya pada ibu guru...jika ibu berkenan, aku akan dengan senang hati membuka rumahku untuk ibu guru, kapanpun anak-anak membutuhkan...aku sungguh tidak sanggup menjaga mereka, bahkan saat Nando sakit pun aku tidak bisa berada di sisinya...aku mohon Bu guru..." Ucapku sambil mengatupkan kedua tanganku di depan dadaku tanda permohonan.


Sial...mengapa aku begitu lemah di hadapannya, belum pernah aku memohon seperti ini pada orang lain.


Aku pasrah jika guru ini akan menolak permohonan ku, aku sudah siap mental, mengingat waktu itu aku juga sudah bersikap sangat jutek terhadapnya.


Namun ternyata pikiranku salah, mata teduh itu menatapku dengan tatapan hangat menyimpan kedamaian. Entah mengapa jantungku berdebar dengan sangat cepat, hal yang jarang sekali terjadi pada diriku.

__ADS_1


Dengan senyum manisnya dia Menganggukan kepalanya.


***********


__ADS_2