
Sepulangnya aku dari Kalimantan, Sikap Lika makin aneh padaku, dia seolah menjauhiku, setelah ku desak, ternyata dia mengakui kalau dirinya mendapat teror dari seseorang, teror itulah yang telah merusak segalanya.
Tiba-tiba ada perasaan takut yang menggerayangi ku, takut kalau aku akan kehilangan guru manis itu, aku sangat takut.
Apalagi Lika sudah memberikan aku saran untuk kembali pada mantan istriku. Hal yang sangat tidak mungkin aku lakukan, mengapa dia bisa berpikiran aku akan kembali pada mantan istriku yang sudah mengkhianatiku itu?
Siang itu, aku sedang bersama dengan anak-anakku di rumah. Tiba-tiba guru manis itu datang kerumahku dengan adiknya, anak-anakku begitu gembira melihat kedatangannya.
Namun Guru itu tetap berdiri di depan rumahku, sambil menatapku dengan tatapan yang menyorot tajam penuh dengan kemarahan.
"Apa maksud Pak Ricky membayar rumahku? Apa aku terlihat begitu miskinnya sehingga timbul belas kasihmu terhadap keluargaku???" Ucap Lika dengan suara yang bergetar.
Aku sadar, waktu itu aku memang menyuruh marketingku untuk membuat status lunas pada rumah yang di tempati Lika, karena memang aku developer yang menguasai seluruh perumahan itu, jadi tidak susah hanya memberikan satu rumah saja untuknya.
Tapi aku tidak menyangka responnya akan seperti ini, dia begitu marah padaku, bahkan menganggap aku meremehkannya.
"Maafkan aku Bu guru...aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung mu...aku benar-benar tulus membayar rumah itu...." Jawabku mencoba memberikan dia pengertian.
Lika tidak sadar bahwa aku yang membangun semua rumah di komplek itu, bukan hanya di situ, tapi di banyak kota seluruh Indonesia, Lika tidak tau kalau aku ini adalah seorang developer besar.
Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca, aku benar-benar merasa bersalah, dia bukan seperti wanita kebanyakan yang menilai sesuatu dengan uang.
"Maaf Bu...aku sadar kita belum memiliki ikatan apapun...tak seharusnya aku bertindak seolah-olah kamu sudah jadi milikku...maafkan aku..." Ucapku menyesal.
Tak ku sangka, Lika maju mendekatiku dan menggenggam tanganku, aku tertegun saat mata itu menatapku dengan lembut dan dalam.
"Aku juga minta maaf Pak...aku hanya bingung bagaimana bersikap terhadapmu..." Ujar nya.
Aku sudah tidak tahan lagi, aku langsung menarik tubuhnya dalam pelukanku, ya, aku memeluknya, rasanya begitu hangat. Anehnya, Lika sama sekali tidak menolak pelukanku, sepertinya dia juga merasa sangat nyaman.
"Bu Guru...aku mencintaimu...tulus dari lubuk hati yang paling dalam...ijinkan aku mengambil mu untuk menemaniku di sisa hidupku ini...aku hanya ingin bersama mu dan anak-anak..." Bisik ku di telinga Lika. Gadis itu menangis.
__ADS_1
Akhirnya terungkap juga kata-kata cinta untuknya yang selama ini aku tahan.
"Aku takut Pak..aku takut...apalagi mengingat teror itu...aku belum siap...terlebih sekarang aku berhutang padamu mengenai rumah itu....aku harus bagaimana??" Tangisnya dalam pelukanku. Aku membelai lembut rambutnya.
"Jangan takut Bu Guru...berikan saja hatimu padaku, itu sudah cukup...setelah itu kita hadapi segala masalah bersama-sama...." Ucapku tulus.
"Iya Pak...aku percaya padamu.." Jawabnya. Oh, bahagianya hatiku.
"Jadi...bersediakah kau menjadi istriku Bu guru Lika?" Tanyaku dengan menatap dalam matanya. Aku melihat di matanya juga ada cinta untukku, tapi tidak terucap.
Dia mengangkat wajahnya ke arahku, kemudian perlahan menganggukkan kepalanya.
Saat itu rasanya aku terbang ke langit ke tujuh, perasaan bahagia yang belum pernah aku rasakan sebesar ini, walaupun dengan Sarah. Lika adalah cinta sejati ku yang bisa memberikan aku kebahagiaan seutuhnya, aku tidak salah melabuhkan cintaku yang terakhir kepadanya, dia sangat layak menerima cinta dariku.
"Trima kasih Bu Guru...aku mencintaimu...!" Seru ku kegirangan. Rasanya aku ingin teriak memberitahu semua orang kalau aku sangat mencintainya.
Dari sejak saat itu, aku menganggap Lika adalah kekasihku, calon ibu untuk anak-anakku, dan aku sangat bahagia.
Aku merencanakan secepatnya aku akan melamar guru manis itu, niatku benar-benar tulus, menjadikan dia istriku, permaisuri ku.
Sarah mengidap kanker rahim stadium lanjut, dia di rawat di salah satu rumah sakit di kota ini juga, entah ini kebetulan atau apa, kenapa dia harus muncul di saat aku sudah menemukan pelabuhan terakhirku? Kemana Martin? Bahkan dia menghilang di telan bumi pada saat kondisi Sarah seperti itu. Bukankah dulu mereka saling mencintai? Bahkan menusukku dari belakang.
Aku galau, aku bingung dan aku frustasi. Di tambah Lika yang sepertinya terus menjaga jarak denganku, saat dia tau mantan istriku sedang sakit.
Aku tak mungkin menyingkirkan Sarah dan meninggalkannya begitu saja, walau bagaimana dia adalah ibu kandung dari anak-anakku. Aku harus menjaga perasaan Kezia dan Nando.
Lagi-lagi aku berkorban demi anak-anak, nampaknya Kezia dan Nando sangat sedih dengan keadaan Sarah, mereka anak-anaknyang baik, walau ditinggal pergi ibunya, tidak ada dendam sedikitpun dalam hati mereka. Dalam hal ini aku berhasil mendidik mereka.
Walaupun saat itu di hatiku tidak ada Sarah, namun aku harus menemaninya selama beberapa lama di rawat di rumah sakit, sementara anak-anakku, Lika yang mengurusnya.
Lagi-lagi Lika ikut menjadi korban, dia ikut repot mengurus anak-anak dan aku, padahal dia punya keluarga sendiri, anak-anakku selalu tergantung padanya, kalau tidak ada dia, entah apa yang terjadi dengan kedua anakku.
__ADS_1
Sarah akan menjalani operasi pengangkatan rahim, aku makin frustasi dan berbeban berat, apalagi dia memintaku untuk kembali padanya, hal yang sangat tidak mungkin aku lakukan, aku sudah mencintai perempuan lain.
Setelah beberapa hari aku menemani Sarah di rumah sakit, aku memutuskan untuk pulang kerumah, aku sangat lelah, bukan saja lelah secara fisik, namun hati ini juga lelah. Kapan aku bisa bahagia bersama Lika kekasihku.
Saat aku pulang kerumah, aku terkejut ternyata Marni, pengasuh anak-anakku kabur dari rumah dengan membawa sebagian uangku, aku makin frustasi.
Saat aku kesal dan stress, Lika melayaniku dengan sepenuh hatinya. Menyediakan sarapan dan memberikan aku susu hangat, sehingga pikiranku menjadi tenang.
Saat dia akan pamit pulang untuk bergantian menjaga Sarah, aku mengejarnya. Rasa rindu ini belum terobati, masa dia mau cepat pergi dariku.
"Aku kangen sama Bu Lika...baru melihatmu masa kau akan pergi lagi..." Ucapku.
Lagi-lagi dia menghindari ku karena Sarah yang menjadi alasan utama, dia merasa berdosa atas kehadirannya, aku benar-benar tidak mengerti.
"Hmm....sekarang apa mau mu?" Tanya Lika setelah aku menghentikannya.
"Aku mau di peluk dan di cium olehmu...sekarang...karena aku butuh itu..." Jawabku sambil menatapnya penuh damba.
"Oh my God, Pak Ricky...kok jadi manja begini sih?" Sahutnya dengan raut wajah kesal.
Dia hendak menolak ku, tapi lagi-lagi aku menatapnya dalam dengan penuh kerinduan.
Akhirnya dia maju beberapa langkah, dia nampak ragu-ragu saat mendekat ke arahku.
Dia berdiri tepat di hadapanku, perlahan tangannya memeluk aku, kemudian dia mengangkat wajahnya, dengan sedikit berjinjit dia mengecup bibirku.
Aku kaget sekaligus bahagia, aku hendak membalas ciuman itu, namun dengan cepat dia melepaskan pelukannya dan membalikan tubuhnya kemudian berlari keluar tanpa menoleh lagi.
Hati ini sangat bahagia, Lika ternyata juga sangat mencintaiku dalam hatinya, walaupun tidak pernah terucap kata di bibirnya.
Gadis manis itu berani mencium bibirku, belum pernah dalam sejarah hidupku di cintai dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Aku merayakan kebahagiaanku dengan mengajak anak-anakku makan enak hari itu.
***********