Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir
Sentuhan


__ADS_3

Lika berbaring di ranjang pasien, Dokter dan beberapa perawat nampak sedang memasang infus di tangan Lika.


"Dokter...kenapa saya di infus? Apakah saya akan melahirkan sekarang? Bukankah HPL saya masih dua Minggu lagi??" Tanya Lika beruntun.


Dokter wanita yang bernama Dokter Dira itu memandang heran ke arah Lika.


"Ibu sepertinya belum memeriksakan kehamilan beberapa waktu lamanya...ini memang sudah waktunya lahir Bu ..." Kata Dokter.


"Tapi saya tidak mules dokter, bahkan saya masih sempat jalan ke jakarta..." Sergah Lika.


"Nah...itu dia Bu...karena terlalu banyak beraktifitas yang melampaui batas saat hamil tua, air ketuban ibu pecah...dan mau tidak mau bayi ibu harus lahir hari ini juga...." Jelas Dokter.


"Tapi bagaimana caranya Dokter? Saya tidak merasa mules saat ini...."


"Kami akan melakukan induksi....tapi kalau induksi tidak dapat membantu, proses pembukaan berjalan lambat, mau tidak mau ibu harus di operasi untuk mengeluarkan bayinya .."


"Apa?? Di operasi Dok? Tidak...tidak...saya mau melahirkan normal saja...!" Cetus Lika.


"Ya Makanya saat ini ibu sedang di induksi, untuk merangsang kontraksi agar bayinya cepat keluar....oya, dimana suami ibu?"


"Suami saya sedang koma Dokter, hampir dua Minggu...saya mau melahirkan di sampingnya....biasakan ranjang ini di pindahkan keruangan suami saya??" Tanya Lika. Wajahnya memelas penuh harap.


"Ya tidak bisa dong Bu....ini kan ruang bersalin...masa melahirkan di ruang yang lain..." Sahut dokter.


"Saya mohon Dokter...masa saya melahirkan sendirian...walau suami saya belum sadar, siapa tau saat saya melahirkan dia bisa sadar...." Mohon Lika.


"Ya sudah...nanti biar perawat yang aturkan...pokoknya ibu jangan beranjak dari ranjang...sebentar lagi induksinya akan bereaksi..." Ujar Dokter.


"Terimakasih Dokter..."


Kemudian dua orang perawat mendorong ranjang Lika dan dipindahkan keruangan Ricky di rawat. Di luar ruangan sudah menunggu Nenek, Lia dan kedua anaknya. Wajah mereka nampak cemas.


"Lika....berjuanglah sayang....kau pasti kuat....!!" Seru Nenek sambil berderai air mata. Lia yang mendorong Nenek juga terlihat sangat cemas.


"Ibuu... dedek mau lahir ya...." Kata Nando.

__ADS_1


"Iya sayang....Nando mandiri ya sekarang....kan sudah punya dedek...." Sahut Lika dari atas ranjang yang di dorong oleh suster.


"Ibu yang kuat ya... kita selalu doain ibu..." Kata Kezia. Lika tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


Akhirnya Lika sampai di kamar Ricky, posisi ranjang sengaja di rapatkan, obat induksi sudah mulai bekerja, Lika merasa perutnya mulai terasa mulas, dari durasi lambat,makin lama makin cepat.


Dokter menyuruh Nenek, dan keluarga yang lain menunggu di luar, termasuk mbok Narti. Di ruangan itu hanya ada Lika, Ricky, Dokter dan dua orang perawat.


"Bu Lika...ini prosesnya bisa lama...apalagi anak pertama...atur nafas dalam-dalam ya....makanlah yang banyak untuk menambah tenaga....ingat, jangan stress..." Kata Dokter Dira.


"Iya Dokter...."


"Baiklah...saya tinggal dulu...nanti beberapa jam saya kontrol lagi...keluarga boleh menjenguk satu-satu, asal jangan bergerombol...." Pesan Dokter yang kemudian berlalu dari tempat itu.


Lika menoleh ke arah Ricky yang masih terbaring, sambil sesekali menahan rasa mules yang mulai melandanya.


"Papa Ricky...anakmu sudah mau lahir Pa....masa kau belum bangun-bangun juga...ayo bangun! Bukankah kau dulu janji mau terus menemaniku saat melahirkan, memberikan semangat dan terus memeluk aku....ingat kan?? Tapi kenapa sekarang kau ingkari janjimu?? Ayo bangun Pa....!" Seru Lika. Air matanya mulai mengalir, selain menahan sakit yang mulai menderanya, hatinya juga menahan kesedihan.


"Tenang Bu....ibu jangan sterss..." Ujar seorang suster.


Lika meraih tangan Ricky yang di sebelahnya, di genggamnya dengan sangat kuat, rasa sakit makin sering di alami Lika, durasinya semakin cepat.


"Lika...tarik napas sayang...." Kata Nenek sambil mengelus punggung Nina.


"Neneek....perutku sakit sekali....malah semakin menjadi-jadi...." Keluh Lika.


"Ricky! Bangun kau! Istrimu berjuang sendirian melahirkan....kau malah enak-enak tidur!! Sampai kapan kau seperti ini Ricky?!! Kau ini benar-benar...!! Tunjukkan kalau kau mencintai cucuku!!" Teriak Nenek. Namun Ricky tetap tak bergeming.


"Nek....sudahlah....jangan marah-marah...perutku sakit sekali...aku mau minum...." Ujar Lika sambil mulai duduk dari tidurnya. Lalu mbok Narti dengan sigap mengambilkan teh hangat yang memang sudah tersedia di meja. Tak lama kemudian Dokter Dira masuk.


"Bagaimana Bu Lika....apakah mulesnya sudah semakin sering?" Tanya Dokter Dira.


"Iya Dok....sakit....nyeri sampai ke punggung...." Jawab Lika dengan nafas yang tersengal-sengal.


Kemudian Dokter Dira mulai memeriksa Lika, di bantu oleh suster.

__ADS_1


"Wah.. ini baru pembukaan dua...padahal air ketuban sudah semakin menipis karena terlalu banyak yang keluar...." Jelas Dokter.


"Jadi bagaimana dengan cucu saya Dok? Tolong diambil tindakan cepat...kasihan dia Dokter....suaminya juga tidak bisa berbuat apa-apa sekarang untuk menyemangatinya...." Ujar Nenek kuatir sambil mulai meneteskan air matanya.


"Kalau pembukaannya lambat....mau tidak mau harus di ambil jalan operasi...itu pilihan terakhir demi keselamatan bayinya..." Kata Dokter.


"Ya sudah....operasi ya operasi saja....yang penting cicit ku selamat...!" Seru Nenek.


Lika berpaling kearah Ricky, tangannya kembali menggenggam tangan Ricky.


"Pa...kamu mau bayi kita lahir di operasi atau lahir normal??" Tanya Lika lirih. Tenaganya sudah mulai habis.


Tiba-tiba ada gerakan halus dari tangan Ricky, gerakan yang berubah menjadi sebuah genggaman. Lika terkesiap sampai melupakan sakit yang melanda perutnya. Matanya berbinar melihat Ricky mulai mengerjapkan matanya.


"Papa....Papa Ricky....Dokter!! Suamiku bergerak...! Nenek....lihatlah....suamiku bisa bergerak...." Teriak Lika.


"Suster...segera panggilkan Dokter Dimas...pasien sudah mulai sadar....ayo cepat!" Perintah Dokter Dira. Bergegas suster segera berlari memanggil Dokter Dimas.


Dengan tergopoh-gopoh Dokter Dimas masuk keruangan itu, lalu dia mulai memeriksa Ricky yang mulai membuka matanya.


"Syukurlah...pak Ricky sudah melewati masa kritisnya....akhirnya dia tersadar dari koma selama hampir dua Minggu...!" Seru Dokter Dimas antusias.


"Aaaahhh....!" Jerit Lika. Mereka semua langsung berpaling kepada Lika yang mulai merasa sakit yang amat sangat.


"Ayo Bu Lika...tarik nafas....hembuskan....ayo....lagi...." Dokter Dira memberi panduan. Kemudian dia segera memeriksa bagian dalam Lika kembali.


"Wah....luar biasa....sekarang sudah pembukaan enam....sebentar lagi Bu Lika ayo berjuanglah...." Ucap Dokter Dira antusias.


Tangan Lika masih menggenggam tangan Ricky, Ricky yang baru sadar menoleh perlahan kearah Lika di sampingnya yang sedang berjuang melahirkan bayinya.


"Sayang....kamu pasti bisa....sayang....aku disini...genggam lah kuat-kuat tanganku....sayang....berjuanglah....aku mencintaimu...." Ucap Ricky lirih.


Tak berapa lama kemudian.


Oweeeek...! Oweeeek! Oweeeek....!

__ADS_1


"Waduh....bayinya sudah keluar....cepat sekali....ini keajaiban...!" Seru Dokter Dira yang melihat bayi Lika langsung keluar dengan cepatnya.


*************


__ADS_2