
Seharian ini kegiatan di sekolah menyita waktu dan pikiran Lika, di tambah lagi dengan sikap Bella yang aneh dan acuh tak acuh, seolah menyimpan berjuta rahasia. Lika berfikir harus dengan cara halus untuk menghadapi Bella. Dari dulu wanita ini agak misterius dan banyak menyimpan rahasia.
"Sudahlah...jangan terlalu kau pikirkan sikap Bella padamu...kau sendiri yang menerimanya untuk menjadi guru di sekolahmu..." Kata Ricky saat mereka mampir minum di sebuah cafe dekat sekolah.
"Aku menerima dia bukan tanpa maksud...ada hal yang memang harus ku ketahui tentang dia....terutama maksud dan tujuannya bergabung disekolah ini..." Jelas Lika.
"Hmm...pusing kepalaku bergelut dalam hal misterius lagi..." Gumam Ricky.
"Aku juga pusing....tapi kan harus dihadapi...bukan dihindari..."
"Apa lagi? Yang penting kita sudah menikah dan punya anak dan bahagia...sudah cukup buatku...aku pikir semua masalah selesai..." Jelas Ricky.
"Aku juga maunya begitu Pa...tapi ..."
"Sudahlah sayang.... jalani saja kehidupan yang sekarang dan yang akan datang, lupakan bayang-bayang masa lalu...Aku sudah sangat bahagia hidup dengan satu istri dan tiga anak....eh...nanti akan tambah lagi..."
"Mau tambah berapa lagi sayang...mengurus tiga anak sudah cukup menguras tenaga...Given juga sekarang harus terus di bawa kemana-mana...selama dia masih menyusu...apa Papa tega saat Given masih menyusui perutku besar karena hamil lagi??" Tanya Lika. Ricky menggelengkan kepalanya.
"Kalau Given sudah besar maksudku...kalau sekarang ya aku tidak tega lah...hehe...lucu kali ya...kau mengajar sambil menggendong bayi dengan perut besar..." Ricky terkekeh. Lika mencubit keras tangan Ricky hingga meringis.
"Sembarangan!! Sudah deh yuk....kita pulang..." Lika segera berdiri dari duduknya. Ricky ikut berdiri kemudian membayar makanan mereka lalu mereka pulang.
Sesampainya di rumah, orang-orang yang ada di rumah berebutan ingin menggendong Given, bayi mungil itu seperti piala bergilir yang di perebutkan banyak orang.
"Seharian ini aku belum gendong dedek lho Bu..." Kata Kezia yang sudah sangat ingin menggendong adiknya.
"Sama....aku juga..." Tambah Nando.
"Nenek buyut apalagi..." Sambung Nenek.
"Tante Lia juga..." Sahut Lia.
"Apalagi Mbok Narti....!" Teriak Mbok Narti dari arah dapur.
"Berhubung banyak yang antri...Given bobo di karpet saja ya...capek seharian di gendong..." Kata Lika.
"Setuju..! Kalian pandangin saja Given....colek boleh, gendong jangan...ajak main boleh...tapi jangan digodain..." Ujar Ricky menambahkan.
"Asyiiikk....ayo...ayo Bu taro karpet dedek Given nya...." Seru Nando antusias.
Saat Lika meletakan bayi mungil itu di karpet beralas kasur bayi, mereka semua berkerumun ingin bermain dengan Given.
Ricky dan Lika saling tersenyum dan memandang. Lalu Ricky menggenggam tangan Lika dan mereka beranjak dari situ dan segera naik ke atas.
"Ini waktu kita untuk berdua sayang..." Bisik Ricky dengan tatapan penuh maksud.
"Heh...aku mau tidur...awas ya kau jangan ganggu...!" Cetus Lika.
__ADS_1
"Yah....mumpung Given main sayang...mau ya..." Bujuk Ricky.
"Tidak Pa...capek..."
"Sebentar deh...."
"Bohong..."
"Janji...kalau lama kau boleh cabut..."
"Cabut apa? Cabut singkong?!"
Ricky segera menarik Lika kepelukannya dan langsung mengangkatnya, Lika terkejut dan berteriak.
"Aaaaaahhhhh......!!!"
Penghuni rumah yang asyik mengerumuni Given kaget mendengar Lika berteriak, mereka menoleh kearah tangga.
"Ibu kenapa ya??" Tanya Nando.
"Ssst....biasanya Ibu sedang sama Papa...kata Papa jangan ganggu...." Bisik Kezia.
"Hush....sudah...sudah...jangan pedulikan Ibu dan Papamu...biarkan mereka bersenang-senang..." Ucap Nenek sambil mengelus kepala given.
Ting....tong....Ting....tong....
Suara bell rumah tiba-tiba berbunyi, dengan antusias Nando membukakan pintu, Mbok Narti masih memasak untuk makan malam.
"Om siapa? Mau cari siapa?" Tanya Nando.
"Papa Ricky ada?" Tanya pria itu.
"Papa sedang sama ibu...tidak boleh di ganggu..." Jawab Nando.
"Siapa di luar Nando??" Tanya Lia yang berjalan kedepan menyusul Nando.
"Ehm...malam dek...Pak Ricky ada?" Tanya pria itu lagi.
"Oh...bapak siapa ya?" Lia balik tanya. Pria itu tidak menjawab, hanya tersenyum menanggapi.
"Om masuk dulu aja..." Ajak Nando. Pria itu mengikuti Nando kemudian duduk di ruang tamu.
"Nando sudah kelas berapa?" Tanya Pria itu.
"Kelas tiga om...sebentar lagi naik kelas empat..." Jawab Nando.
"Sebentar Pak...saya panggil pak Ricky dulu..." Kata Lia sambil bergegas naik ke atas.
__ADS_1
"Nando...ini om bawakan kue dan coklat buat Nando...Nando suka?" Tanya Pria itu sambil menyodorkan sebuah bungkusan.
"Suka om...tapi kata Papa...aku tidak boleh makan terlalu banyak...aku kan sudah gemuk..." Sahut Nando.
Pria itu tertawa sambil mengelus rambut Nando.
"Nando...Nando....kau sangat menggemaskan..." Pria itu mencubit gemas pipi Nando.
"Terimakasih ya Om...makanannya..." Ucap Nando.
"Iya sayang...Nando suka apa? Nanti aku akan membelikan apa yang Nando suka..."
"Aku suka ayam goreng buatan ibu...rasanya enak deh Om...." Jawab Nando.
Sementara di atas, Lia masih mengetuk pintu beberapa kali, tapi belum ada sahutan, gadis itu jadi kesal.
"Pak Ricky! Ada tamu untukmu...!" Teriak Lia.
Akhirnya pintu kamarku di buka, Ricky nampak tiduran berselimut di ranjang, sementara Lika sudah berpakaian rapi.
"Ada apa Lia...tadi suamiku membungkam mulutku, jadi aku tidak bisa menyahut..." Kata Lika.
"Huh Kakak....sebenarnya aku malas kemari...tapi di bawah ada tamu yang mencari Pak Ricky...." Ujar Lia agak sewot.
"Kau duluan turun, sebentar aku dan Papa Ricky menyusul...minta mbok Narti untuk membuatkan minuman..." Jawab Lika sambil kembali masuk ke kamarnya untuk membangunkan Ricky.
Lia kembali turun ke bawah, pria itu masih terlibat percakapan dengan Nando, namun kini sudah di temani oleh Kezia dan Nenek.
"Dimana Ricky?" Tanya Nenek sambil memangku Given.
"Sebentar lagi turun Nek..." Jawab Lia yang kemudian mengambil tempat duduk di samping Kezia.
"Om siapa sih namanya? Dari tadi aku tanya diam saja..." Kata Nando.
"Aku Martin...Papamu sangat mengenal aku..."
"Oooo...." Mereka semua membulatkan mulutnya.
Tak lama kemudian Lika dan Ricky turun dan berjalan menuju ke ruang tamu.
"Selamat malam Pak Ricky...lama kita tidak berjumpa...." Sapa Pria itu.
Wajah Ricky mendadak pucat, dia menghentikan langkahnya matanya menyorot tajam kearah pria di depannya.
"Martin! Mau apa kau kemari?" Tanya Ricky dengan suara gemetar. Lika mengusap punggung suaminya itu berusaha menenangkannya.
Pria itu tersenyum ke arah Ricky yang mulai berkeringat. Kemudian dia segera berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Sayang...tolong kau bawa anak-anak ke kamarnya, juga Nenek dan Lia. Aku ada urusan dengan orang ini...." Bisik Ricky. Lia mengangguk patuh, lalu segera membawa anak-anak dan yang lainnya menyingkir dari tempat itu.
**********