
7 Bulan Kemudian
Lika menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga, rasanya pagi ini begitu letih, semalam Ricky mengajak begadang sampai larut, subuh ia sudah harus bangun, memasak dan menyiapkan bekal untuk Kezia dan Nando, di tambah perutnya yang kian membesar sehingga membatasi ruang geraknya.
"Ibu capek ya...kalau capek biar Papa saja yang mengantar kami kesekolah..." Kata Kezia sambil memijit kaki Lika yang diselonjorkan di atas sofa.
"Tidak capek kok...ibu cuma istirahat sebentar...kalian sudah siap? Dimana Papa?" Tanya Lika yang langsung berdiri dan mengambil tas tangannya.
"Papa biasa Bu...lagi telepon..." Sahut Lika. Tak lama kemudian Ricky muncul dan langsung membawa kunci mobil, Nando berjalan di belakangnya.
"Mbok Narti...tolong jaga Nenek ya...kami berangkat dulu..." Pamit Ricky. Kemudian dia segera menyalakan mesin mobilnya dan kemudian melaju menuju ke sekolah anak-anak.
"Nanti kalau sekolah ibu sudah jadi kami bakal pindah lagi dong...." Kata Kezia.
"Ya tidak harus pindah...kalau kalian masih betah di tempat kalian yang sekarang tidak apa-apa kok diteruskan..." Jawab Lika.
"Asyik...nanti Ibu ngajar aku lagi...!" Seru Nando.
"Hush...Ibu itu owner-nya....masa ngajar?" Cetus Ricky.
"Memangnya owner tidak boleh mengajar ya..." Sahut Lika tak mau kalah.
"Silahkan saja mengajar sambil gendong bayi..." Balas Ricky.
"Iiih....Papa nyebelin banget...!" Dengus Lika.
"Papa sama Ibu lucu berantemnya....udah dong....tuh kita sudah sampe di sekolah..." Sergah Kezia. Kemudian Ricky segera menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah. Setelah anak-anak pamit, Ricky kembali melajukan mobilnya meninggalkan sekolah itu.
"Sayang...yuk kita liat progress sekolah kita...." Ajak Ricky.
"Iya Pa..." Tak lama mereka kembali berada di lokasi tempat sekolah berdiri.
Bangunan itu nampak besar dan megah, namun masih setengah jadi, Gedung sekolah berlantai 5 itu kelihatan sangat mewah, apalagi lokasinya di tengah perumahan elit.
"Pa...nama sekolahnya apa ya nanti?" Tanya Lika.
"Terserah ibu guru saja...ini kan milikmu..." Jawab Ricky sambil tersenyum.
"Namanya Mercy School saja ya Pa...supaya nanti sekolah ini jadi sekolah yang mempunyai belas kasih terhadap murid-murid...nanti bayaran sekolahnya jangan disama ratakan...tergantung kemampuan orang tua...ya...semacam subsidi silang gitu...gimana, Papa setuju tidak?" Tanya Lika lagi.
__ADS_1
"Apapun yang menjadi impianmu aku akan mendukung...terserah kau mau buat konsep seperti apa...ini semua adalah milikmu sayang..." Ucap Ricky sambil mengecup kening Lika.
"Aduh ..." Lika memegang perutnya.
"Kenapa sayang..." Kata Ricky kuatir.
"Ini...si dedek menendang kencang sekali...akhir-akhir ini dia semakin lincah saja...gerakannya begitu aktif..." Jelas Lika. Ricky langsung mengusap lembut perut Lika, dia merasa ada gerakan halus yang meresponnya.
"Hei...jagoan Papa suka main bola ya...sabar sayang....nanti Papa dan Kakak Nando yang akan jadi lawanmu...jangan tendang perut ibumu lagi..." Bisik Ricky di perut Lika berkomunikasi dengan bayinya. Lika membelai lembut rambut Ricky yang masih bersandar di perutnya yang besar.
"Iya Papa..." Sahut Lika sambil cekikikan. Ia merasa geli perutnya di bisiki oleh Ricky.
"Ehm...aku suka sekali memegang perutmu...entah kenapa..." Ucap Ricky.
"Huh...dulu apa kau juga suka memegangi perut mantan istrimu waktu hamil Kezia dan Nando?" Tanya Lika. Ricky tiba-tiba terdiam.
"Ku mohon jangan menyebutnya lagi..." Ucap Ricky lirih.
"Maaf...."
"Sudahlah....jangan bandingkan dirimu dengannya...dulu saat Sarah hamil dia malah senang pergi keluar, makan di luar, dan shoping, capek aku menuruti kemauannya...bahkan aku belum pernah memegang perutnya saat hamil...dia pasti marah...pada saat dia hamil Nando...tragedi itu terjadi...dia ketahuan selingkuh dengan mantan pacarnya....dan disitu aku yakin kalau Nando bukanlah darah daging ku...tapi sudahlah....itu hanya masa lalu yang pahit...Nando saat ini adalah putraku...tidak perduli kebenarannya apa..." Kenang Ricky.
"Tenang saja....aku akan membuatmu bahagia...lupakan kepahitan masa lalu mu...kita punya impian yang lebih indah di depan sana...dengan kedua anak kita dan calon bayi kita..." Ucap Lika sambil kembali mengarahkan tangan Ricky ke perutnya.
Tiba-tiba ponsel Ricky bergetar, lalu dia segera merogoh ke saku kemejanya kemudian mengusap layar ponselnya.
"Halo...Oh...iya Pak....nanti saya hubungi lagi...." Kemudian Ricky segera mematikan ponselnya.
"Siapa Pa?" Tanya Lika.
"Oh...itu bagian management pengembang, aku akan ada proyek lagi di Jakarta...pemukiman kumuh yang akan di buat apartemen...mungkin kali ini aku akan ke luar kota lagi....kau tidak keberatan kan sayang?"
"Sejak kapan aku keberatan dengan pekerjaanmu...? Kau saja yang malas mengontrol proyek mu...sejak kita menikah kau nyaris jadi Bapak rumah tangga...!" Sergah Lika.
"Yah...maklum sudah ada istri yang perlu di peluk tiap saat...." Kilah Ricky.
"Tapi pekerjaanmu kan juga penting..."
"Ya...ya...siap nyonya...lusa aku akan ke Jakarta...paling lama 3 hari aku di sana...nanti aku panggil Mas Jun buat antar-antar kalian...." Kata Ricky.
__ADS_1
"Siapa Mas Jun?"
"Oh...itu supir proyek....sebentar lagi ku angkat jadi supir pribadi..."
"Pa...aku agak trauma dengan orang baru...masih ingat kan kasus Sri?" Tanya Lika.
"Kau tenang saja....Mas Jun kan sudah lama bekerja denganku...dari sejak aku masih di Bandung....dia bisa di percaya kok..." Sahut Ricky.
"Terserah kamu deh Pa...lihat tuh matahari sudah tinggi...kita pulang kerumah saja....perutku sudah engap...." Ujar Lika.
Tanpa menunggu lagi Ricky langsung meluncurkan mobilnya menuju ke rumahnya yang berjarak hanya 15 menit dari lokasi sekolah.
Mbok Narti nampak sedang menyapu taman depan, Nenek masih merajut kain di atas kursi rodanya di teras depan rumahnya.
"Wah...nenek kelihatan segar sekali...jangan lupa rajin terapi Nek di rumah sakit..." Kata Nina.
"Nanti siang juga Nenek ke rumah sakit di antar Narti...." Sahut Nenek.
"Lah...jangan di antar mbok Narti dong...sama Papa Ricky saja ya Nek...tenang saja....hari ini dia masih pengangguran kok..." Ujar Lika sambil melirik nakal ke arah Ricky.
"Iya Nek...nanti pasti ku antar..." Sahut Ricky.
Tiba-tiba mbok Narti datang dengan membawa sebuah bungkusan kotak yang cukup besar.
"Mbak Lika...tadi ada yang mengirim paket ini buat mbak Lika..." Kata Mbok Narti sambil menyerahkan kotak bungkusan itu.
"Dari siapa mbok?"
"Tidak tau mbak...tidak ada nama pengirim..."
Kemudian Lika segera masuk kedalam, kemudian membuka kertas pembungkus kotak itu.
"Aaaaaarrrrgggghhhhh.......!!!!" Jerit Lika. Tubuhnya hampir jatuh kalau Ricky tidak keburu menopang dengan tangannya. Mbok Narti mendorong kursi roda Nenek cepat dan segera menghampiri Lika.
"Ada apa Lika??" Tanya Nenek cemas. Dengan gemetar Lika menunjuk ke arah dalam kotak yang baru dia buka itu.
Ricky, Nenek dan mbok Narti segera mengarahkan mata mereka ke dalam kotak itu, dan mereka semua membulatkan matanya.
*************
__ADS_1